Tuesday, 9 February 2021

Akhirnya Lulus #30haribercerita!

Salah satu prestasi di bulan Januari kemarin adalah: lulus dari #30haribercerita. YEAY! Membawa perasaan positif untuk terus mencapai target-target di tahun 2021. 

Ikutan #30haribercerita itu udah cukup lama. Bahkan blog ini dibuat untuk jadi wadah nulis#30haribercerita. Jadi, dari jaman aktivitas rutin tahunan ini pakai twitter, saya sudah gabung. Cuma ya gitudeh, ga pernah tamat. Ada aja bolongnya dan ada aja alesannya. 

Di bulan Januari 2021 ini, di tengah segala kesirkusan kerjaan, anehnya kok malah tamat 30 postingan di instagram. Tidak semuanya bercerita panjang, karena memang tidak ada kewajiban untuk nulis panjang-panjang. Dan tentunya ada aja hari yang ngutang, tapi lalu langsung besok-besoknya dibayar. Ngutang tuh kadang karena idenya udah kepikiran, tapi lalu udah ngantuk ga kuat buat ngutek-ngutek lagi HP. Ditambah lagi, tahun ini #30haribercerita banyak amet temanya. Hanya hari-hari awal aja yang tema bebas, lalu beruntun tema setiap 2 hari sekali.

Kenapa bisa begitu? 
Saya juga gatau kenapa. Mungkin karena lagi kepengen. Dan targetan-targetan lain lagi banyak, jadi sekalian edankeun weh wkkw. 



Sambil kemudian saya amati lagi, sebenernya postingan apa aja sih saya dalam sebulan kemarin. Terlihat beberapa foto di awal diambil saat nginep di Majalaya. Ada aja bahan pidongengeun kalau pergi ke tempat atau suasana baru. Lalu beberapa ambil dari foto koleksi lama yang ada di HP. Karena jarang keluar rumah atau berkegiatan offline juga sejak pandemi. Dan yang terniat itu bongkar folder foto dari hardisk laptop lama karena tema nulisnya adalah hal yang terjadi di tahun 2016. Ada juga foto yang diambil saat jalan kaki di sekitar area rumah. Jalan kaki yang ceritanya olahraga, tapi sebenernya lebih pada ganti suasana aja, sambil hirup udara segar. Beberapa tentu saja ada foto makanan. Hal yang ga pernah keliwat buat didongengin. Dan foto yang terrrbanyak disukai para pemirsa, tentu dong foto yang ada akangnya. Heran, napa sih tiap posting foto dia tuh loba aja fensnya 😅

Banyak cerita yang bisa diceritakan sebenernya. Dan senang sekali karena berlatih lagi untuk menyampaikan pesan (dan curhatan) melalui medsos. Kemampuan framing tuh sesuatu yang perlu dilatihkan terus. Dan salah satunya dapat dilatih melalui #30haribercerita. 

Jadi, apakah instagram @anil_nw bakal aktif lagi setelah bulan Januari berlalu? 
Engga sih kayanya wkkw. Cuma dipake saat pengen dan perlu aja~



Friday, 25 December 2020

Ekskul Baru: (ke)Temuan Sore

Sejak mulai baca lagi buku yang didorong sama OWOB (One Week One Book), ga banyak sih buku yang sempat dibaca (dan akhirnya ketendang juga dari gera'an tsb karena berminggu-minggu pernah bolos). Tapi sekalinya baca buku yang menarik, selalu ga tahan untuk ceritain lagi ke orang lain. Nah salah satu "korban" cerita yang setia adalah Jessis. Apalagi jaman Ipusnas masih bisa screen shoot, sambil cerita, sambil bisa ngutip kalimat-kalimat yang dirasa penting pakai fasilitas itu dan dibumbui dengan temuan yang didapat. Ngadongengnya bisa nyambung ke mana-mana. Itu lewat chat. Sebagai yang katanya ekstrovert dan sanguin, keinginan untuk "berbagi" saya kadang kadarnya keterlaluan haha. 

Nah, di masa pendemi ini, melalui sebuah obrolan di chat juga, akhirnya sama dan Jessis menyepakati untuk bikin ekskul baru buat temen-temen kantor dan juga tim lapangan. Yang punya ide Jessis, karena dia ngerasanya: sayang amet ya kalo si temuan-temuan seru yang didapat dari aktivitas baca itu hanya diceritakan secara terbatas. Mending sekalian aja diacarain. Dia cuma bilang gitu. Tapi lalu saya langsung riweuh ngerancang acaranya, bikin form pendaftaran, meramaikan grup dengan isu tersebut supaya mulai banyak yang tertarik. Ke Jessis pesen dibuatin poster aja hahaha. Dorongan ingin bersosialisasi begitu besar, kebetulan nemu jalan. Belakangan ini, ekskul seru di kantor terbabat habis setelah badai corona melanda. Para staf didorong untuk bekerja dari rumah, jadi ekskul botram vakum berbulan-bulan. Botram itu bukan perkara makannya doang (walo emang demen makan sih), tapi menjadi sarana sosialiasasi sama temen-temen kantor juga. Toh hidup isinya bukan semata kerja aja pan. 

Lalu digagaslah acara perdana. Asalnya diundi untuk yang pertama jadi penampil, tapi yang menang undian ternyata pada ga bisa. Ahirnya balik lagi dong sama inisiator ekskul. Dan diputuskanlah Jessis yang tampil duluan, karena saya ambil peran jadi orang yang nanya-nanya. Bukan moderator, tapi lebih seperti semacem tuan rumah.



 

Jessis membahas buku yang menurutnya menarik yaitu buku Yang Belum Usai: Kenapa Manusia Punya Luka Batin, dan kita berdua sama-sama berharap, ada cukup banyak orang yang mulai gabung dan mendapat manfaat dari acara ini. Kalau gada yang gabung, yaudah ngobrol lagi weh dua-an.

Foto dari sini 


Dan tanpa diduga, yang ikutan banyak! Dan tanpa malu-malu pada berbagi. WIWWWWWW sungguh sore yang hangat bersama ekskul baru: (ke)Temuan Sore. Entah karena perdana ataukah karena tema yang dipilih memang nyambung dengan cukup banyak peserta sore itu, tapi sampai acara ditutup, obrolan di grup masih rame terossss. 

Saya sendiri baru baca bagian-bagian awal dari buku ini dan beberapa reviewnya, karena penasaran isinya dan juga tentu perlu paham gambaran besar bukunya karena akan ambil peran jadi tuan rumah tea. Melihat respon dari acara perdana tersebut, membuat makin tertarik untuk merutinkannya. Supaya makin banyak orang yang tertarik dengan aktivitas membaca buku dan terutama banget supaya budaya kumpul-kumpul (walo online sih zzz) dan saling berbagi makin hidup. 

Dan kemaren baru banget digelar acaranya keduanya dengan Jen yang cerita buku yang bertema tentang petualangan. Salah satu buku berkesan yang dibacanya saat SMP. Sudah sekitar 20 tahun yang lalu. Ada yang udah pernah baca? Saya sih baru berhasil baca setengahnya. 



Sesudah Jen bahas serunya petualangan Kang Robinson, lalu peserta yang lain gantian cerita tentang petualangan seru yang pernah dialami dalam hidupnya. Dan di pertemuan kedua ini mulai ada doorprize yang diberikan. Biar apaaa? Ya biar semangat dong ikutan kegiatannya. Semoga di tahun 2021, kegiatan ini bisa jalan rutin dan doorprizenya juga muncul sering-sering :) 


 

Monday, 16 November 2020

Aplikasi Baca Baru?

Awal bulan kemarin akhirnya menambah lagi 1 aplikasi di handphone!

Gituweh idup mah ya, pas coba pengalaman baru, rasanya seru. Kali ini saya menambahkan aplikasi Gramedia Digital. Sebelumnya saya sudah mencoba baca buku secara online menggunakan aplikasi Ipusnas (sempat beberapa buku dibaca, dan beberapa buku dalam status menanti kebagian peminjaman) dan sempat coba Ijak. Ijak yang belum tereksplor. Lupa bahkan, apakah sempat baca melalui aplikasi itu atau engga. 

Dulu pasang Ipusnas karena memang pengen baca rutin dan ikutan komunitasnya di instagram yaitu @gerakan_1week1book. Komunitas yang mulai saya kenal dari salah satu peserta @30haribercerita . Lalu karena pemalas alias banyak bolosnya, akhirnya terkick dengan sendirinya dari komunitas tersebut. Tapi baca buku digital masih dilakukan dan juga kadang masih nulis reviewnya. Eh bener ga ya, bentarrr, cek dulu. 

---

Setelah cek instagram dan blog, yampun, cuma 3 buku yang dibuat reviewnya setelah gaikut lagi OWOB. Cckckck. 

Nah, lalu di tengah segala kemalasan untuk membaca tersebut, ade cerita bahwa lagi langganan aplikasi Gramedia Digital dengan biaya yang murah. Paket langganannya tuh yang bisa baca segala macem (selama gratisan) hanya dengan berlangganan 18 rebu perorang perbulan. PEORANG? Iya, karena sebetulnya langganannya atas nama 1 email, tapi bisa digunakan di 5 device. Jadi ya, bisa dibilang, bisa diudunankeun alias patungan untuk maksimal 5 orang.

Apa emang bacaan di Ipusnas kurang banyak? Engga juga sih. Cuma emang pinjemnya antri (ada yang ga kebagian terus dari awal mau minjam, kayanya emang gada ato gatau lah gimana ceritanya buku yang dipengenin itu teh) dan juga ada batasan waktu. Kurang apal batas peminjaman waktunya selama apa. Dulu 3 hari dan terakhir pas baca itu udah naik dan jadi lebih dari 3 hari. Dan tentu ada buku-buku yang ada di Gramedia Digital tapi gada di Ipusnas. Intinya sih, sebagai manusia yang senang dengan segala hal baru, adanya 1 barang baru, bisa dijadikan pemicu semangat baru!

1 minggu pertama sudah terlalu dan akhirnya baca novel Kim Ji-yeong yang memang ga ada di Ipusnas. Menarik! Karena di dalamnya ada kritik sosial tentang gimana si perempuan di Korea diperlakukan. Belum nonton filmnya sih. Tapi biasanya emang lebih seru baca. Imajinasi lebih bebas. Kalau nonton enak juga buat jadi temen makan misalnya.

Foto dari sini

 

Di minggu kedua kemaren gagal menamatkan 1 buku, walau masih ngeureuyeuh dibaca. Kayanya bukan pengaruh ketebalan buku, tapi karena kali ini buku yang dibaca adalah salah satu buku pengembangan diri. Berasa belakangan hidup makin ga beraturan. Dulunya? Lebih teratur. Di sekolah dan kampus kan segala udah diaturin. Harus gini dan harus gitu. Apalagi saat tinggal di Cimahi. Semua rasanya udah ada jamnya dan udah ada aturannya. Sampe motong wortel aja harus gimana, masuk kamar mandi aja harus sambil nyalain air keran dll dkk. 

Saat membaca buku yang sekarang, mulai mempelajari: perlu mulai dari mana dan gimana supaya banyak terbentuk kebiasaan-kebiasan baik baru secara lebih efisien. Udah dibaca sekitar sepertiganya. Tadi malem baca juga, tapi kayanya berujung dengan merem wkkw. Kudu lebih serius mengalokasikan waktu untuk membaca. Minggu ini akhirnya mulai matiin aplikasi instagram biar hidup ga kebanyakan intip-intip feed dan igs orang. Semoga bacaan tamat dan kerjaan-kerjaan juga selesai satu-persatu. 


Foto dari sini


Kepikiran sih ikutan tantangan membaca untuk lebih memotivasi. Kalau banyak temennya, kan suka jadi lebih semangat tuh. Saat bulan ini,  @tanos.challenge meluncurkan tantangan membaca minimal 15 menit perhari mulai deh kabita pengen ikutan. Tapi dipikir-pikir, kayanya bakal males kalo perlu nulis caption setiap hari. Juga kepikiran pengen gabung lagi OWOB. Tapi besok lagi ajalah~

Lalu, buku apa yang kamu lagi baca? Ayo cerita-cerita dongg!



  


Thursday, 8 October 2020

Mensyukuri Nikmat Sehat

Sebagai manusia, tak luput lah saya dari kekurangan. Salah satunya adalah kekurangan bersyukur. 

Beberapa hari ini, kepala bagian belakang dan tengkuk rasanya sakit-kit berkepanjangan. Rasanya mirip sakit ketika jelang mens yang biasanya akan hilang saat memasuki masa mens. Dan anehnya, saya baru saja beres mens beberapa hari sebelumnya. 

Lalu karena rasanya badan lemes-lemes dan ga nyaman banget untuk ngapa-ngapain, saya akhirnya ke dokter. Sebelumnya coba googling dulu kira-kira tentang penyebab dari sakit yang terasa ini. Saya pikir mungkin kolesterol karena kalau perkara darah tinggi, emang cenderung tinggi melulu sih tiap cek mau donor pun. Selalu di atas 125. Atau takut juga diabetes karena lemes-lemes pan. Ya gitu aja, segala kemungkinan dipikirkan. 

Ketika cek ke dokter, untungnya pake BPJS kan, jadi gosah pusing harus keluar uang lagi, akhirnya saya minta coba cek kolesterol dulu. Karena beberapa tahun lalu, saat lagi hobi-hobinya eksperimen bikin kue dan masakan lainnya, saya sempet didiagnosa memasuki ambang batas aman untuk si kolesterol ini. Apalagi saat ini keluhannya adalah sakit tengkuk segala. Tes berjalan sangat cepat dan masih di klinik yang sama namun beda ruang. Hasilnya langsung keluar dan masih terhitung normal (162 dari batas maksimalnya adalah 200). 

Jadi sudah 2 dugaan gugur. Darah tinggi gugur. Kolesterol gugur. Dugaan yang ketiga adalah kurang istirahat. Ini lebih ga mungkin lagi, secara saya genk-selalu-tidur-cukup-kerja-mah-besok-lagi wkkw. Jadi salah satu dugaan lain adalah BANYAK PIKIRAN. 

HMM, mikirin apa cobaaaaa. Namanya manusia hidup pasti ada aja lah yang dipikirin. Dugaan saya, mikirin kerjaan yang ga kelar-kelar dan mikirin masa adaptasi kerjaan suami juga. Tapi saya sampai bolak-balik tanya ke dokternya, "Tapi masa sih bisa bikin sakit kepala ga kelar-kelar gitu dok?" dan dokternya bilang memang sangat mungkin karena bisa jadi alam bawah sadar yang bicara tentang kondisi tersebut sehingga menyerang tubuh. Aduh serem amet. 

Dugaan sementaranya itu, sehingga diberikanlah obat penghilang nyeri dan vitamin. (apakah saya terlihat kurang vitamin? wkwk). Sesungguhnya pas ke dokter itu sudah lebih seger sih dibanding hari sebelumnya yang tetep kerja tapi sambil golar-goler ga jelas. Masih rapat dan mikirrrr karena sudah terjadwal tapi rasanya ga nyaman banget untuk masak dan cuci baju. Apalagi jalan kaki rutin yang merupakan salah satu kegiatan yang ditunggu, gakan ternikmati prosesnya.  

Setelah kondisi membaik tersebut, cepet-cepet saya ambil kesempatan untuk jalan kaki rutin lagi. Mahal ternyata ya bisa berkesempatan olahraga ringan "saja". Butuh modal badan yang sedang fit sehingga bisa dinikmati prosesnya dan memberi kesempatan bagi tubuh untuk dipertahankan kebugarannya.



 

Jadi, saat sehat, yuk ambil selalu kesempatan untuk olahraga sebagai salah satu bentuk syukur akan nikmat sehat! Kalau udah sakit, walau "sesederhana" sakit kepala, boro-boro pengen olahraga pan!



Wednesday, 16 September 2020

TANOS!

Tanos alias Tantangan-Naon-Sih saya ikuti karena tertarik dengan targetnya yang relatif ringan (sepertinya). Jalan kaki minimal 20 menit selama 7 hari berturut-turut doang deh. Taunya WAKWAKKK!

Karena pada hari-hari akhir saya cukup riweuh ngurusin hajat ponakan. Hajat itu meliputi persiapan dan juga ini itu sampai orang-orang pada pulang, jadi bener-bener kudu nyisipin agenda jalan kaki ini biar ga bolos. 

#TanosWalkingChallenge itulah hastag yang selalu dipakai dalam postingan semua pesertanya. Saya ga ngetrack lewat hastag, tapi diantara beberapa peserta akhirnya saling tag sehingga bisa saling menyemangati. Pesertanya gak banyak-banyak, tapi rasanya hangat karena saling memberikan mengapresiasi, memberi semangat dan dukungan. Para peserta yang saling tag tersebut, ada yang memang sudah dikenal di darat sebelumnya, kenal di grup 1minggu1cerita sebelumnya, ataupun ada yang baru dikenal di TANOS. 

Seruseru banget cerita selama mengikuti tantangan ini. Walo yaaa, banyakan mengamati ini itu saat jalan, lalu mampir moto dulu bentar. Gitu aja terus. Jadi kalau dirata-rata, itungannya jalan kakinya lambat banget. Tapi kan emang mau lomba cepet-cepet-an ato banyak-banyak-an. Jadi dinikmati aja~ Dan juga saya seneng pas posting di instagram dan nulis-nulis captionnya. Udah lama ga aktif medsos soalnya. Seneng bisa berbagi cerita yang positif (PAMERRR aja dasar wwkwk)

H-1

Saya coba tes jarak dan waktu saat belanja ke pasar PP.

Hari 1

Hari pertama saya tertarik untuk mengamati berbagai profesi yang telah aktif sepagi itu. Selain yang dagang makanan, ternyata cukup banyak yang lain. Beberapa yang tadi teramati seperti tukang rongsok yang berharap ada warga yg punya barang-barang bekas bernilai ekonomis, penyapu jalan @pdkebersihanbdg, warga yang sasapu di area rumah atau tempat jualannya (langsung inget belum sasapu rumah sendiri wkeke), tukang tambal ban (yg gembos bannya dan mau berangkat kerja bisa pusing kalo gada mereka), security pabrik yg memudahkan akses bagi motor yg akan masuk.

27 menit | 2.37 KM



Hari 2

Acara terbanyak saat jalan kaki di hari kedua sepertinya diisi oleh banyak mengamati tukang dagang makanan. "Sarapan ini itu enak kayanya". Gitu aja teros tiap ada tukang dagang makanan. Laper apa doyan buuuw? Wkwk.

Sampe ahirnya kepikir: nanti pas perjalanan pulang mau beli ah di salah satu tukang dagang. Pas perjalanan pulang: JRENG JRENGGGG baru inget bahwa ga bawa duittt 😂. Ahirnya ga beli apa-apa. Sungguh godaan aneka tukang makanan itu bisa bkin lupa diri. Ngapain juga coba kepikiran jajan sarapan~ di saat stok makanan di rumah juga masih pada ada. Ckckck. 

30 menit | 2.3 KM



Hari 3

Hari ketiga rutenya diisi dengan muter-muterin alun-alun Ujungberung. Setelah hari kedua kabitaan sama macem-macem makanan, pagi ini malah udah niyat banget beli surabi. Udah nyiksik cengek + bawa endog dimistingan dan ditaskainan, etaunya mamangnya gada 😅. Asalnya pan tinggal titip mamang aja dan diambil pas pulang. Jadi weh ke alun-alun teh babawa tas kain. Trus biar ga riweuh, tas kain tsb disimpen weh di pinggir lapang. Tiap kuriling ngan molototan tas kain. Sieun ada yg ambil. Tau kan ya bahwa misting itu salah satu harta yg paling berharga dalam keluarga wkwk.

Di alun-alun track larinya bopeng-bopeng. Pantesan bapak dan aa-aa yg lari sebagian pada pake jalur rada tengah.

38 menit | 3.47 KM 



 Hari 4

Saat berjalan kaki, jadi lebih merhatiin lebih banyak detil. Dari mulai merhatiin poster-poster corona yg udah mulai dekil-dekil tapi jg makin longgar pelaksanaannya, nemu sejenis balong gede dengan angsa yg lagi berenang, nemu ada cukup banyak kos-kosan dan bikin inget jaman ngekos dulu, sampe nemu pedagang burung hantu dan lalu mikir: emang itu teh boleh ya dijual bebas 🙄.

Tapi yg nyessss banget di hati pagi ini, setidaknya ada 2 rumah hangat yg teramati. 1 rumah yang punya rumah pohon mini. Padahal rumahnya ga gede-gede amett. Enjoykeun! 1 rumah lagi, di satu sudut aki-akinya lagi sasapu. Satu sudut lagi nininya lagi sasapu bari ngasuh incu. Bahagia sampai tuwaa~ 2 cerita tsb tentu karangan saya. Kan ga pake pengamatan dan wawancara mendalam atuh. Moto aja dari jarak jauh. Semoga aja kisah bahagia emang beneran terjadi di 2 rumah tersebut dan juga DI RUMAH KITA SEMUA 😍.


40 menit | 3.44 KM


Hari 5

Hari kelima jadi jarak terjauh yang ditempuh selama tantangan dan juga lumayan capeee karena medannya naek turun tea. Pas pergi ga kerasa cape karena berangkat abis subuh dan "medan" belum terlihat jelas. Pulangnyaaaaa, walau disuguhi pemandangan kanan kiri yang sebagian sawah, sampe kepikiran: naek angkot aja gitu~

Bonus pagi ini, akhirnya bisa nangkring sejenak di atas jalan tol Cisumdawu yang belum kelar juga sekian lebaran.

64 menit | 5.02 KM 



Hari 6

Di hari ke 6 ini, saya mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari sodarasodari. Yang pada intinya mereka menatap dengan heran. Gimana ga dipandang aneh coba, abis magrib baru keluar rumah dan berjalan ke luar rumah. Kalo di kota pan orang biasa aja keluar rumah di atas magrib buat olahraga. Bahkan mau keluar uang segala buat udunan lapang futsal sampai bayar member gym.

Tapi ieu teh di lembur cuy! Nanaoan maneh sebagey awewe-sorangan-leuleumpangan-geus magrib-bari-teu-jelas-rek-ka-mana 🙈🙊🙉. Untung aja dari dulu udah biasa suka aneh-aneh, jadi digituin doang mah lempeng wehhhh, yang penting hari ini ga bolos jalan kaki!

33 menit | 2,28 KM



Hari 7

Sejujurnya perjalanan di hari ke 7 ini yang paling lelah~ Jaraknya tak terlalu jauh, tapi medannya naik turun. Pembelajaran penting: jangan dulu senang hati saat ada pudunan, karena biasanya akan ada tanjakan sesudahnya kwkw. Yang juga drama adalah karena jalan kakinya sambil bawa ransel. Ga berat-berat amat, tapi lumayan juga kalau dikombinasikan sama tanjakan. Cukup deh pokonya untuk membuat saya kriyep-kriyep ngantuk dan akhirnya tidur saat perjalanan pulang ke Bandung hahaha. 

40 menit | 4.16 KM




Alhamdulillah tamatttttt tantangan #TanosWalkingChallenge. Tak kan mungkin berjalan sejauh 21.71 KM dan serutin ini tanpa ditantang sama duo inisiator #tanos dan saling mendukung sesama tanoser!

Sampai jumpa lagi di edisi berikutnya!

Thursday, 3 September 2020

Gegar Budaya

Pas denger kata "gegar budaya" saya langsung kebayangnya cerita-cerita orang yang tinggal di luar negeri lalu pada bersusah payah beradaptasi di berbagai aspek kehidupan. Seru kalo baca cerita-cerita kaya gitu karena seneng aja menyimak kehidupan orang lain yang ga "biasa-biasa" aja.

Etapi akhirnya saya mengalami gegar budaya juga sejak gabung ke keluarga akang. Lupa lagi deh tepatnya karena udah 3 tahun lebih lah prosesnya. Tapi yang saya inget banget di akhir pekan kemaren adalah kebiasaan mereka (terutama yang cewe-cewe) pas ngobrol teh suka keras-keras dan kaya papacok-pacok kalo ayam mah. Saya di tengah mereka udah tak ada apa-apanya. Padahal biasanya di lingkar teman-temen kerja biasanya saya relatif yang paling brisik. Akhirnya saya suka menyimak aja pembicaraan mereka dan lama-lama terbiasa denger suara orang ngobrol yang keras-keras saat ke rumah Sumedang. 

Di akhir pekan kemarin, akhirnya saya melihat mereka yang gegar budaya (RASAKAN!). Ceritanya begini, kan ada ponakan yang mau nikah. Calon istrinya itu anak pejabat di salah satu instansi pemerintah dan bapaknya itu salah satu bagian dari satgas Covid di kota tersebut. Terus, layaknya nikahan jaman sekarang, diadakan di gedung (karena rumah kan kecil-kecil jaman sekarang, gakan bisa dipake hajatan) dan pakai WO (biar ga pala pusing ngurus perintilannya). 

Nah, budaya ini berkebalikan sama budaya sodara-sodaranya akang. Mereka biasa hajat dengan "budaya lembur" yang saya masih ga kuattt kalo dateng ke nikahan kaya gitu. Yang kebayang teh, musik selalu keras-keras, trus ada budaya joget yang pake sawer-sawer dan ga cuma bapabapak, ibuibu juga pada joged bahkan ada sesi malam. Belum lagi masak-masak tuh gada istilah katering. Biasanya ada pemimpin masaknya, yang bantu-bantu itu sodara dan pasti gakan merasa enak kalo ga ambil posisi dalam adegan saksak-siksik. Bela-belain begadanggg itu teh. 

Sabtu kemaren itu lalu perwakilan keluarga diajak untuk pertemuan dengan WO. Saya ga dicantum sebagai panitia maka yaudah tinggal dateng aja hari H, beres pan. Akang sih jadi bagian dari panitia. Saat udah santai-santai aja gosah ikutan briefing, etaunya dijemput sama ponakan itu teh. Yaudah berangkat deh. 

Sampai di TKP, saya dengarkan dengan serius si acaranya, biar jelas kan sebenernya apa yang perlu dilakukan sehingga dapat mendukung kegiatan tersebut dengan maksimal. Ribet juga sih ternyata hajat di saat pandemi gini. Aturannya banyak pisan~ Apalagi ini saksinya aja bupati. HEEEBOOHH.

Dan seperti layaknya saat hadir di acara-acara briefing, kalau ada hal yang tidak jelas, ya saya tanyakan. Termasuk saya juga memberikan saran supaya sebelum hari H, pihak keluarga dikirimi poster aturan segambreng tersebut supaya undangan yang hadir dari keluarga ga shock atau merasa tidak dilayani dengan baik atau malah melakukan hal-hal yang tidak mendukung acara. Gimana weh ikutan briefing mah ya gitu saya biasanya. Daripada ga paham, mending tanya. Daripada dipikir-pikir doang, mending usul. Walo dipikir-pikir lagi sekarang ya, keluarga cewe aja pada adem ayem, napa saya riweuh sendiri ya tatanya wkkw.  

Lalu saya larak-lirik kiri-kanan dan akang + sodara-sodaranya tampak pada termenung dan diperkirakan ekspresinya menunjukkan ketidakpahaman atau mreka GEGAR BUDAYA! Biasa nu penting joged, tiba-tiba banyak aturan gini. Jadi di akhir acara akhirnya saya mendekati pihak WO dan meminta si WO merinci kembali aturan mainnya. Saya jelaskan bahwa kondisi keluarga cowo ini bukan yang biasa dateng ke nikahan di gedung, apalagi di saat pandemi. Maka penting buat saya dan keluarga inti lainnya untuk bantu komunikasikan aturan main tersebut ke pihak keluarga lainnya. Biar semua akhirnya merasa nyaman dengan kondisi yang ada. 

Pas pulang, saya coba cek ke akang dan sodara-sodaranya, ternyata bener mereka teh lieur dengerin begitu banyak aturan dan bahasa-bahasa yang digunakan juga kurang bisa dipahami. Sebagai gambaran, tim WOnya generasi muda dan "orang kota" jadi pake bahasanya juga ya bahasa-bahasa orang kota tea geuning. Ditambah lagi ada budaya-budaya yang ga dipake di hajatan lembur semacem braidsmad. "Naon eta teh?" wkkw. Ya semacem-semacem itu lah komentarnya. 

Dan yang asalnya pada membisu saat briefing, tibatiba pada recok lagi papacok-pacok dan sibuk lah mereka mendata dan mempertimbangkan siapa yang bisa datang saat akad, siapa yang baru bisa datang ketika resepsi, siapa yang diundang ketika pengajian. Perlu banyak pertimbangan sehingga akhirnya protokol covid di gedung tetap bisa terpenuhi dan relasi dengan teman, saudara, tetangga dan kerabat lainnya tetep terjaga. 

Gustii, meni recokkkk




Wednesday, 26 August 2020

Di Balik Singkong Melepuh

Singkong melepuh di pagi hari? Siapa mau? Ditemani secangkir kopi atau teh tentu lebih nikmat. 


Singkong melepuh ini hasil eksperimen saya yang kedua dalam dunia persingkongan. Sebelumnya digoreng biasa aja pakai bumbu kuning. 


Sebelumnya lagi saya bahkan belum pernah masak singkong. Biasanya tinggal makan atau tinggal beli. Dari 2 kali ngolah singkong, rasanya lumayan lah. Rasa singkong, ga nyebrang ke rasa masakan lain. Yang pernah icip olahan dapur saya, pasti paham makna dari kalimat tadi wkwk. 

Kalau mau tau resepnya tinggal googling aja lah ya, tersebar banyak versi. Kali ini saya mau menceritakan asal-muasal dari singkong yang diolah dengan 2 versi tersebut. Sebagai orang kota yang taunya tinggal makan, asal muasal singkong ini jadi istimewa. 

Di rumah Sumedang, ada tanah di belakang rumah yang ditanami pisang. Yang tanam ya para pendahulu. Bukan akang sebagai penghuni baru di tanah tersebut. Lalu akhirnya tanah sepetak itu mulai dirapikan, diberi pagar dan ditanami singkong juga cengek. Cengek tak ada yang tersisa karena walau sudah dipagari, ayam tetangga tetap bisa masuk. Sebenarnya lumayan juga ada ayam tetangga, saat ada makanan sisa dan kulit-kulit sayur hasil masak, bisa langsung lenyap dimakan mereka. Tapi si tanaman cengek itu juga ikut terlibasss. 


Para tersangka pemakan tanaman cengek
Para tersangka pemakan tanaman cengek


   Akhirnya yang tumbuh hanyalah singkong. Singkong tersebut kadang diambil daunnya untuk lalab. 


Disambelan, pakai goreng tahu tempe dan kerupuk pun makan terasa nikmat. Apalagi makannya rame-ramee. Makanan terus ya temanya, mohon maap wkkw. 

Lahannya ga terlalu luas, tapi lumayan lah ada ijo-ijo yang bisa dijadikan lalab. 

Akang: Rek naon deui atuh hirup teh (cenah)
 

Minggu kemarin, ternyata singkongnya sudah bisa dipanen! Nyabut 1 pohon dan langsung direbus pakai bumbu kuning dan jadilah cemilan sore. Saat pulang ke Bandung, nyabut lagi 1 pohon dan jadi 1 kontainer besar singkong melepuh di kulkas yang siap goreng. 

Mau? Kalau belum tanem singkong atau belum ke pasar beli singkong dan males masak-masak, beli di mamang singkong melepuh juga pasti nikmat. 

Tapi tentu beda kenikmatannya dibanding hasil tanam sendiri :)