Teman yang kepo?
Bos di kantor yang kasi kerjaan ga kira-kira?
Temen kantor yang rese?
Temen sekolah yang suka pamer?
Mantan?
Saingan bisnis?
Tetangga yang hobinya bergunjing?Orang yang beda agama?
Orang kaya baru yang lebay?
Pejabat yang suka korupsi duit rakyat?
PNS yang (katanya) males?
Orang yang lebih bahagia dari kita?
Gubernur Jabar yang mukanya nampang di mana-mana?
Politisi yang (katanya) busuk
Saudara yang sudah lama tak jumpa?
.
.
.
Silakan tulis 1 nama orang yang kamu tidak suka tersebut dalam selembar kertas. Kecil aja, gausah besar-besar. Dan tulis, kenapa kamu tidak menyukai (atau bahkan) membenci dia.
SUDAH?
Oke, sekarang silakan menyimak cerita saya yang sepertinya akan simpel dan pendek sajalah~
Ada macam-macam reaksi manusia terhadap orang yang tidak disukainya. Ada yang dengan terus terang menyatakan ketidaksenangannya, ada yang lalu ribut tak berujung karena tak juga menemukan titik temu yang mencerahkan, ada yang lalu melawan dengan mengabaikan (misalnya kita berpikir: antepkeun wehhh, engke oge cicing | antepkeun weh, sina apalaeun sayah aral dll), ada juga yang diem tapi ngomongin di belakang, bahkan ada yang sampai ke tingkatan mencari sekutu (menghasut orang-orang di sekitarnya untuk juga turut membenci orang tersebut) dan masih banyak lagi reaksi-reaksi yang terjadi bila manusia tak suka terhadap orang lain. Reaksinya bisa sangat beragam tergantung pola relasi yang terbentuk.
Ada 1 ide cemerlang yang diungkapkan oleh Elizabeth Lesser untuk menghadapi orang yang kita tak suka itu dan rasanya cukup seru untuk dicoba. Ide ini mungkin sudah kita lakukan tanpa sadar. Atau dilakukan dengan bentuk yang berbeda, tapi memiliki peranan yang sama. Apakah ide tersebut? Untuk memahaminya, silakan tengok video berikut!
*video bersubtitle Indonesia bisa disimak di sini*
Ide tersebut adalah mengajak orang makan siang. Memberi makan pada orang yang kekurangan sudah biasa dan banyak dilakukan. Bukan saya menganggap enteng upaya tersebut. Beberapa komunitas sudah sejak lama melakukan upaya-upaya amal seperti itu. Beberapa kisah menarik tentang upaya tersebut bertebaran. Belakangan yang saya ikuti perkembangannya adalah ceritanya Ajeng (salah satu member #1minggu1cerita) yang melakukan Maparin Tuangeun. Ceritanya silakan cek di sini dan situ.
Tapi ide "makan siang" yang dibahas oleh euceu Elizabeth ini adalah sejenis upaya untuk mulai dan makin memahami pola pikir yang dimiliki oleh orang yang tidak kita sukai (pola pikir itu biasanya yang menjadi penyebab perilaku pikasebeleun yang dilakukannya selama ini) dan sampai pada akhirnya (mudah-mudahan) bisa memecah kebencian yang ada di satu atau kedua belah pihak.
Saya jadi ingat dongeng tentang Jokowi di masa dia menjabat sebagai walikota Solo. Saya lupa, siapa yang dulu ngedongeng tentang hal tersebut tapi dongeng tersebut cukup mengesankan. Akhirnya tadi googling di wikipedia untuk mendapatkan fakta tersebut:
"Program yang mencuatkan namanya selama menjadi Wali Kota Solo adalah pembenahan pasar dan pedagang kaki lima. Salah satu contohnya adalah pedagang kaki lima di Monumen 45 Banjarsari. Jokowi menggunakan pendengkatan nguwonke wong atau memanusiakan manusia sehingga tidak memaksa ataupun menggusur pedagang, sebaliknya mengedepankan dialog dan makan siang bersama agar pedagang mulai berani menumpahkan keluhannya langsung. Selain itu, dibuka pula jalur diskusi di mana saja, seperti di Balai Kota, warung, wedangan, pinggir jalan, hingga di Loji Gandrung.[9] Setelah 54 kali sesi makan siang bersama selama 7 bulan, pedagang mulai luluh dan Pemerintah Kota Solo mengistimewakan para pedagang yang bersedia pindah dengan membuatkan arak-arakan hingga ke tempat baru
Acara makan-makan yang dimaksud si euceu Elizabeth mungkin diciptakan suasananya supaya bisa mulai bikin orang mau ngobrol bebas dan bersuara. Nebak ajasih dari suasana yang terjadi saat acara makan siang rutin Jokowi dan para pedagang. Namun judul makan siang tentunya lebih asoy, kegiatan yang lebih dikenali oleh para pedagang, lebih santai pula dibanding judul "diskusi" atau "denger pendapat" atau "simposium" atau "FGD".((((54 kali))))
itu memang warbyasakkkk sih!
Pantaslah bila bentuk relasi antara walikota dan pedagang mulai berubah dan berakhir bahagia. Ini rupanya salah satu contoh berhasil versi Indonesia untuk ide yang diceritakan oleh euceu Elizabeth di video yang telah saya bagikan.
Oke, sekarang buka lagi kertas yang sudah tertulis sebuah nama orang yang tak kamu sukai. Dan ajaklah dia segera makan siang. Jangan lupa bayarin tentunya :)
















