Showing posts with label #1minggu1cerita. Show all posts
Showing posts with label #1minggu1cerita. Show all posts

Friday, 24 April 2020

Menjadi Pintar

Apakah menjadi pintar itu masalah?
Harusnya engga dong. Dengan kita menjadi pintar, tentu jadi lebih banyak hal bisa diraih.

Dalam pekerjaan misalnya, kita jadi bisa lebih efektif dan efisien saat tahu cara bekerja yang lebih baik. Akan memangkas waktu kerja kita, memberi kita waktu lebih untuk melakukan hal lain. Bisa sekedar untuk menambah waktu rebahan misalnya. Rebahan kalo pada porsi yang tepat bisa membuat kita lebih produktif loh. Ga selalu rebahan itu berpotensi negatif. Bisa juga waktu lebih tersebut dipakai untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga misalnya, beberes dan sebagainya. Kondisi rumah yang lebih tertata, lagi-lagi bisa membuat semangat baru dan produktifitas juga bertambah. Bisa juga waktunya dipakai untuk mengeskplor hal-hal baru. Mencoba hal baru, belajar hal baru yang ujungnya bisa membuat jadi makin pintar.

Menjadi pintar secara pengetahuan juga menjadi nilai plus buat kita. Ngobrol sama siapa juga jadi lebih nyambung. Orang merasa lebih asyik ngobrol sama kita karena merasa mendapatkan manfaat dari obrolan tersebut. Pintar juga membuat kita ga telmi dan cepat memecahkan masalah. Karena pintar yang tepat itu membuat kita bisa menggunakan tumpukan pengetahuan dan pengalaman yang sudah ada.

Kepintaran lainnya bisa juga dalam hal mengelola orang. Makin banyak anak buah, makin terkelola, makin banyak kerjaan yang bisa beres dengan hasil yang gemilang. Karena anak buah adalah aset yang berharga dan dikelola dengan tepat. Dengan pengelolaan yang tepat, syukur-syukur anak buahnya jadi ikutan makin pintar dan terasah potensi-potensinya.

Sampai di sini, kelihatan lah ya, bahwa menjadi pintar itu asyik untuk diri sendiri dan juga menebar manfaat bagi lebih banyak orang.

Namun menjadi pintar ini juga bisa jadi masalah. Bila jadi, kepintarannya baru di beberapa aspek dan bahkan baru mulai menapak naik menuju level kepintaran yang lebih tinggi. Ilmu yang dimiliki bisa malah jadi masalah baru. Bukan ilmunya yang salah. Bukan jam terbang panjangnya yang salah. Dan tentu bukan pengalamannya yang salah. Tapi bagaimana kita menyikapi kepintaran tersebut.

Masalah bisa terjadi misalnya pada kasus berikut ini:

1) Merasa lebih pintar dari yang lain.
Orang-orang lain dirasa tidak bisa menghasilkan kinerja yang lebih baik darinya. Bahkan masukan dari orang lain dirasa tidak penting. Gawat kalau udah kaya gini. Padahal mungkin benar kita menguasai suatu bidang. Tapi ada bidang-bidang lain yang belum dikuasai, yang mungkin bisa kita dengarkan sudut pandang lain dari orang yang menguasainya.

2) Merasa kepedeean
Bisa juga kita merasa pintar, padahal baru belajar level 3 nya aja, dari sebelumnya berada di level nol. Yang bahkan awalnya gak tau dan ga kepikir untuk belajar pengetahuan tersebut bahkan. Jadi sebenernya emang pengetahuan meningkat, tapi ternyata masih ada level 4, 5 sampai 20 yang belum sempat dipelajari. Lalu merasa percaya diri (pake banget) sehingga langsung aja kerjaaan-kerjaan dikerjakan pakai ilmu di level 3 tersebut. Dan parahnya pada kasus yang ini, merasa paling benerrr dengan cara tersebut. Apalagi kalau pernah mendapat pengakuan dari orang lain dengan cara tersebut. Makin terkonfirmasi dan percaya diri deh dengan cara dan kepintaran yang ada. 

3) Merasa cukup dalam belajar
Ini tipe yang lain. Sempat googling sedikit, belajar dikit, lalu merasa udah sangat paham dengan ilmu tersebut. Lalu ga dipelajari lebih lanjut, ga diulik, ga dipraktekin berulang untuk mendapatkan insightnya. O-ow! Ini juga bahaya. Karena merasa cukup ini adalah awal dari merasa pintar tapi berujung akan jadi yang paling "bodoh". Orang lain yang bahkan belajar suatu hal lebih belakangan tapi kemudian dia mempelajarinya lebih lanjut, bisa banget nyusul dan menghasilkan karya nyata yang lebih hebat.

 4) Merasa berpengalaman
Pengalaman juga termasuk harta kekayaan. Tentu bila dikelola dengan tepat. Kalau memang pengalaman tersebut direfleksikan dengan tepat sehingga akhirnya melahirkan samudera pengalaman yang lebih dalam lagi sehingga menghasilkan manfaat yang lebih besar. Namun kalau merasa berpengalaman itu malah menggiring kita masuk pada tipe 1, 2 dan 3 maka celakalah!

Begitulah refleksi pagi yang dipantik dari obrolan sore kemarin dengan seorang teman. Dan juga yang terpenting, bisa menampar diri saya juga untuk menjadi makin pintar namun bisa mengggunakan dan mengelola kepintaran tersebut dengan tepat. Sehingga saya makin bahagia, orang-orang di sekitar juga bisa mendapatkan manfaat yang lebih besar dari keberadaan saya.


Saturday, 28 March 2020

Work from Home?

Waktu itu, saat mengamati kasus corona di Wuhan, lewat berita di TV dan juga seliweran di medsos, sama sekali saya ga membayangkan bahwa si corona ini akan sampai ke Indonesia, bahkan ke Bandung (kota tempat kontrakan dan tempat kerja), Sumedang (kota tempat rumah sabtu minggu kami) dan Cimahi (rumah keluarga). Kebayangnya teh: AH ETA MAH DI CINA WEH. 

Juga saat mulai merebak ke berbagai negara, termasuk kasus di Italia yang cukup heboh karena banyak korbannya  juga masih mikir: AH ETA MAH DI LUAR NEGRI. 

Saat sampai di Indonesia pun, yang korban pertamanya diumumkan tanggal 2 Maret 2020, kumasih berpikir bahwa: AH ETA MAH DI JAKARTA. 

Lalu tambah lama rasanya tambah heboh. Dan buat saya sih puncaknya karena di kantor sampai bikin rapat untuk mengambil langkah sebagai lembaga untuk mencegah penularan corona ini. Namun saat itu saya masih juga mikir: APA GA KEMEWAHAN MIKIRIN KAYA BEGITUAN? 

Sungguh naif tapi begitulah kondisi saya terkait kasus tersebut. Untung kantor gercep (walo ga cepet-cepet amet karena perlu ngedraft kebijakan dulu panjang-panjang), jadi sejak itu staf dihimbau untuk memaksimalkan kerja online. Yang sebenernya Work from Home (WFH) udah dari dulu didengung-dengungkan oleh kantor sejak jaman dulu tapi saya sebagai genk esktrovert sanguin, tetep weh hobi ke kantor karena butuh berinteraksi dengan manusia. Dan merasa bahwa: kalo rapat online mah suka lieur dan mending ketemu langsung welah. Gitu tah pemikirannya. 

Beberapa hari setelah itu, saya masih sempat keluar rumah yang agak jauh sekitar 3 kali. Pergi ke pasar, ke Griya dan apotek gak masuk hitungan ya. Pertama ke BEC untuk service hp tapi gagal karena pokonya mending beli baru welah lieur (produsen HPnya udah tutup di Indonesia). Lalu balik lagi ke BEC untuk beli HP. Dan terakhir pergi ke Sakura untuk beli termometer. Sisanya ya ngendon aja di rumah alias ngejedog mun ceuk urang Sunda mah. Keluar rumah lainnya hanya diisi oleh aktivitas yang jaraknya ga pernah lebih dari sekilo dan bisa dicapai oleh jalan kaki dan kepentingannya sekedar belanja beli-beli bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya. 

JADI GIMANA NIL RASANYA DIAM DI RUMAH BERHARI_HARI? 

Rasanya cukup biasa aja. Memang ada yang hilang. Tapi segala komunikasi masih jalan sama temen-temen lewat segala saluran online.

SETRES GA?
Relatif engga karena stres cicing di dalam rumah mah sudah dirasakan saat mulai pindah ke kontrakan. Saat itu teh: mau ke kota, da hoream ku macetna. Belum lagi lebar ongkos. Belum lagi jadi punya jam malam. Asalnya? Nginep di kantor juga dijabanin demi bisa udar-ider dengan leluasa. 

Pada masa itu lumayan berat bagi seorang ekstrovert sanguin ini melakukan masa adaptasi. Pas sekarang disuruh di rumah wae, yaaaaaa so so lah. Ga terlalu berat-berat amat menjalaninya. Bosen ga? Masih aman lah sampai saat ini. Dari pengalaman yang udah-udah, saat diem di rumahnya sih kerasanya: yaudah lah ya, emang begini keadaannya, tapi pas udah ketemu orangggg dan ngobrol ke sana ke sini, rapat ini itu di darat, pulangnya kerasa: EMANG ENAQ KITU wkwk. 

Yang kerasa lagi, sebenernya rapat online itu cukup efisien. Terlepas backsound di kontrakan ini kadang ga oke semacem ada anak tetangga mewek ato stel musik keras-keras, rasanya gada perbedaan yang signifikan banget. Namanya juga ngontrak di dalem gang. Kecuali ya jadi ga bisa ktemu dan ngobrol-ngobrol nu teu penting tapi kadang bikin bahagia. Yang biasanya ngendon di meja makan kantor bisa sejam lebih  bersama genk botram wkwk. 

dadah-dadah dulu sama beberapa temen seperbotraman~


Rasanya, efisien ato engga mah bergantung kesiapan aja sih. Mau di darat atau di udara, kalo pikiran ga nyambung mah, angger weh tulalit. Karena pernah kejadian nih di darat pun, lagi rapat malah pegang-pegang HP, lalu eta teh ada beberapa bagian yang lost pas keur rapat. Ato kaya mendengar, tapi pas diskusi ga nyambung. Jadi yaaaaaaaa intinya mah fokus. Mau pake cara apapun. 

Perkara persiapan juga nih. Ada yang pas masuk ruang rapat teh, saat rapat di darat, ya belum baca bahan apa-apa, ga nyiapin apa-apa, ditambah perkara dateng kesiangan dan drama-drama lainnya. Kalau rapat online? NYA SAMA AJA. Ada yang persiapannya baik, ada yang memble. 

Belum nemu yang signifikan banget-banget, tapi ya tetep kumerasa kehilangan teman sepermainan yang kalo pertemuan di darat itu terjadi, rasanya hidup menjadi lebih lengkap. 

JADI LEBIH SUKA KERJA ONLINE ATAU OFFLINE? 

Mix aja yah. Da sebagai makhluk sosial tetep weh butuh relasi sosial dan pertemuan di dunia nyata. Idup pan isinya bukan kerja aja. Ada hal-hal lain juga yang perlu dibangun sehingga kebahagian menjadi lebih lengkap

#eaaaa

KERJA HEY KERJA, MALAH NGEBLOG!

haha, selamat meresapi dan menikmati masa-masa WFH ini :) 





 




Sunday, 15 March 2020

Identitas Diri dan Hiatus Bekerja

Ada yang pernah nonton film ini ga? Film Romance is a Bonus Book. Saat nonton film, saya ga pernah ngapalin nama asli pemainnya, dia pernah maen di film apa dan bahkan suka lupa weh pernah nonton film apa aja. Tapi yang diingat adalah kesan-kesan pentingnya.

Di film ini, isu yang menarik, yang diangkat adalah tentang betapa sulitnya orang yang sudah tidak lama bekerja di ruang publik. Setelah sekitar 7 tahun fokus mengurus anak, rupanya banyak hal yang tak lagi dia tahu. Padahal dulunya dia wanita pekerja di dunia periklanan.

Perkembangan jaman sudah begitu pesat. Sampai sesederhana istilah jenis minuman yang disingkat, yang semua orang di tempat kerjanya, itupun menjadi pelik buatnya. Bahkan pola pikirnya masih berkutat di pola kerja lama. Seperti hanya saat dia masih bekerja sebelum menikah dulu.

Tertatih-tatih mempelajari pola kerja dan pekembangan jaman, termasuk yang paling penting adalah membangun kepercayaan diri dan merasa dirinya penting dan dapat melakukan hal yang bermakna, menjadi hal yang menarik untuk ditonton.

Sambil nonton film ini, saya jadi teringat setidaknya 2 hal. Pertama saya teringat teman kerja saya yang begitu terampil berbicara di depan umum, lalu akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja karena mengurus kedua anaknya. Berhenti bekerja kira-kira 2 tahun, namun ternyata bisa membuat dirinya tidak percaya diri lagi untuk berbicara di depan umum. Sampai-sampai dia ikut pelatihan public speaking demi membangun kemampuannya lagi. Yang asalnya jago ngomong banget itu teh.

Saya pikir, hal tersebut seperti halnya keterampilan lainnya. Bila tidak dilatihkan atau dipergunakan rutin, ya akan agak sulit untuk melakukannya lagi. Tapi fenomena ini ternyata jadi fenomena yang berulang. Setidaknya saya temui di teman saya dan juga di film tsb.

Hal lain yang menarik tentang kepercayaan diri adalah tentang identitas. Dulu saya pernah diceritain tentang reaksi ibu-ibu di kampung yang malah pada ketawa-ketawa sendiri saat diminta saling memanggil nama aslinya saat pelatihan. Padahal pan itu namanya sendiri. Tapi rupanya itu pengaruh setelah sekian lama dipanggil "mamahnya Dodi" alias diidentikkan dengan nama anak atau "Ibu Budi" alias diidentikkan dengan nama suami, membuat mereka asing dengan namanya sendiri. Atau bahkan dirinya sendiri.

Di film itu itu juga diceritakan betapa tokoh utamanya merasa bangga karena di tempat kerjanya dipanggil namanya sendiri. Bukan perkara panggilannya sih menurut saya. Tapi merasa memiliki eksistensi dirilah yang membuatnya memiliki keberartian dalam hidupnya.

Ini baru nonton episode-episode awalnya. Entah selanjutnya ada hal menarik apa lagi. Selalu ada insight yang kepikiran saat nonton. Tapi seringkali tidak dituliskan tea.

Yuk nonton lagiii~



Thursday, 5 March 2020

Boros Waktu

Boros tuh identik dengan uang. Padahal "harta" kita yang berharga selain uang adalah waktu. Dan waktu ini seringkali tersia-siakan.

Saya coba ngedata, biasanya waktu jadi boros karena apa sih?

Pertama: kayanya karena kebanyakan melototin medsos. Pernah ga, kamu mau liat sesuatu, misal resep di akun yang emang spesialis nyediain resep masakan sehari-hari, dan emang mau masak si menu itu, tapi tau-tau udah 15 menit berlalu dan malah nyasar merhatiin hal lain di medsos? Ato pernah ga, cuma mau cek apakah ada email yang perlu direply cepet, tau-tau udah nyasar ke igs temen-temen kamu? Kalau pernah, berarti kita sama. Sama-sama boros waktu zzz.

Kedua: aneka kerjaan sekarang nyambungnya ke wasap. Baik komunikasi dengan teman 1 tim, satu lembaga maupun dengan para mitra. Saat lagi ngomongin kerjaan, pernah ga tau-tau malah ngobrolin makanan, atau bahkan drama korea yang lain hits? Saya sih pernah kwkwk. Ampun dah! Atau mau ngontak wartawan X misalnya, eta malah bales-balesin isu seru di grup sebelah? Saya juga pernah.

Ketiga: menunda niat baik. Poin kesatu dan kedua erat kaitannya dengan penyebab ketiga ini. Misalnya mau sholat nih ya, trus liat ada notif di HP. Kan gausah juga dicek langsung kan. Tapi nunda dulu tea dan "cek dulu ah". Lalu nyasarlah kita ke penyebab nomer 1 dan atau nomer 2. Kalau jaman kecil sih nyasarnya bukan ke penyebab 1 dan 2 (karena dulu cuma ada 1 telepon di rumah wkwk, boro-boro HP) tapi cukup sering nyambungnya sama urusan nonton TV. Disuruh sholat, alesannya: nanti kalo iklan. Disuruh makan: nanti kalau iklan. Disuruh mandi: jawabannya masih aja gitu.

Keempat: mager. Pokonya males gerak aja. Saya tau itu kebiasaan buruk. Terus, ya gatau kenapa. Pas baca buku Minimalis (siapa yang nulisnya ya? Pokonya orang Jepang) rupanya mager ini bisa disebabkan oleh banyaknya barang deket kita. Jadi rasanya sumpek dan bikin malesss. Kirain emang saya aja orangnya mager. Bisa kita bandingkan kalo kita nginep di hotel misalnya. Di kamar hotel kan cuma ada benda-benda yang fungsional. Beda dengan kondisi di kamar kita. KITA? ELU KALEEE. Iya, di kamar saya banyak benda yang teronggok. Yang sebenernya ga bener-bener fungsional dan itu ternyata salah satunya yang bikin mager. Menarik deh si buku Minimalis. Walo saya belum bener-bener mempraktekkannya, tapi ya minimal isi buku itu mulai mengganggu pikiran.

Kelima: silakan ditambah sendiri ya. Mari bagi di kolom komentar penyebab keborosan waktu temen-temen. Kalau kita tau penyebabnya, paling engga, mulai makin menyadari bahwa kita boros secara waktu dan terganggu untuk mulai mikirin cara mengatasinya.

Thursday, 6 February 2020

Motivasi Bekerja

Kebanyakan orang (mungkin) tujuan bekerjanya adalah cari uang.

Eits, jangan protes dulu karena itu anggapan yang ada di dalam kepala saya. Gak pake data-data-an.

Namun, lalu ada konsep bahwa bekerja itu bisa sesuai passion, ataupun bisa dilihat dari: seberapa besar irisan misi hidup kita dengan pekerjaan yang kita jalanin. Menurut penganut paham ini: buat apa ngerjain hal-hal yang ga sejalan dengan misi hidup kita? Cenah. Belum lagi ada konsep ikigai. Macem-macem lah pilihan dalam motivasi bekerja.

Dan saya termasuk yang berpikir juga bahwa: seru juga ya kalo kita bisa ngerjain hal yang seperti itu. Dan saya menjalani itu bertahun-tahun lamanya sampaiiiiii negara api menyerang.

Kondisi apakah yang terjadi? Pada intinya kemudian saya mulai merasa butuh uang. UANG! Ya tepat! Gak bisa hanya kenyang sama gaij yang kecil (pisan) dipadu dengan passion dan bla bla bla nya itu. Lalu mulailah saya mencari alternatif pekerjaan lain. Walau perjalanannya gak mudah.

Singkat kata, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil pekerjaan lain yang judulnya adalah MENCARI UANG. Segitu matrenya deh pokonya. Dan meninggalkan pekerjan yang cenah lebih sesuai sama passion. Ga ninggalin banget sih karena masih ada sekian puluh jam dalam sebulan yang tetep saya invest untuk tetep berada di sana. Biar relasi ga terputus pisan.

Nah, pada masa-sama itu, justru saya menemukan bahwa: OH SAYA GA SEGITU MATRENYA TERNYATAAA. Jadi ceritanya begini: saya saat itu punya uang yang lumayan cukup lah buat punya waktu dan uang untuk main, ngobrol dan nangkring-nangkring sama temen. Tapi pas saya ajak beberapa temen, pas mereka kok pada sibuk semua ya zzzz. Dan kerasa deh bahwasanya UANG BUKAN SEGALANYA. Walo tentu hidup di kota begini segalanya perlu uang ahhha. Tapi sepiii banget idup saat itu rasanya.

Sebagai gambaran. kalaulah yang disebut sebagai visi hidup, sebenernya saya mah gampangan anaknya. Asal dikasi kondisi kerja yang akrab, menyenangkan, dan yang memungkinkan bertemu dan berinteraksi yang berfaedah sama orang-orang: ya udah sempurna idup mah. Mau apa lagi coba.

Jadi saya baru nyadar bahwa: saya emang lebih matre dibanding jaman dulu. Kalo dulu: yang penting bisa berkegiatan weh. Kadang tidur di kantor juga jadi. Hahah, serebel itu. Kalau sekarang pan kudu mikir: pengen punya rumah, pengen ini, pengen itu. Jadi ya ga matre-matre banget juga deh. Standar aja segitu mah.

Namun, ada nilai penting lain (entah namanya visi, passion ato apalah itu namanya) yang juga penting dalam bekerja. Dan kalau gada si itu, rasanya hampa~

Temen-temen pernah ngerasain jungkir baliknya sampai ke titik itu juga ga? Ayo dibagi ceritanya!




Sedikit tambahan ilustrasi nih. Beberapa hari yang lalu saya nonton serial Korea (tentu disambil setrika biar rada efisien waktu wkkw). Dan di salah satu episodenya menceritakan bagaimana seseorang menemukan motivasinya dalam bekerja. Gosah nanya nama pemerannya ataupun nama di filmnya. Ga inget pasti nu karitu mah.

Dia anak dari bapak dan ibu yang berprofesi dokter yang memiliki sebuah rumah sakit. Sudah tentu ortunya pengen si anak nerusin dinasti kerumahsakitan tersebut. Sayangnya si anak ga minat dan nilainya juga ga cukup buat masuk kedokteran. Tapi si ortu keukeuh maksa untuk anaknya masuk ke dunia kerja yang terkait sama kesehatan. Akhirnya, dengan nilai yang ada, si anak masuk ke fisioterapi yang dijalanin ogah-ogahan saat kuliah, begitupun saat praktek kerja.

Pada suatu hari, si anak ini visit ke kamar pasien untuk terapi. Di ujung terapi, si pasien minta dikupasin apel. Dan si anak ini ngerasanya: napa guwa kudu ngupasin apel ya? kan itu bukan kerjaan terapis. Tapi tetep dijabanin walo hati ga nerima tea.

Besoknya pas mau visit lagi, si pasien udah maot. Dan akhirnya denger cerita dari istrinya bahwa, kmaren itu apel yang dikupasin adalah apel yang mau dihadiahkan buat si istri. Sebagai buah favorit si istri. Itu hadiah ulang tahun yang terakhir. Dan si pasien minta dikupasin karena dalam kondisi minim gerak, boroboro ngupas apel. Dan si istrinya juga tangannya sedang dalam kondisi sakit.

Meweklah si anak ini. Dan menyadari bahwa menjadi terapis adalah sesuatu yang bermakna dalam hidupnya (walau awalnya disuruh orangtua dan males dianya). Bukan semata memberikan jasa terapis, tapi di baliknya ada relasi dengan orang-orang yang menyentuh. Akhirnya "tobat" dan jadi lebih sungguh-sungguh mengikuti praktek kerja.

Gitulah kira-kira jalan orang untuk menemukan motivasi bekerja yang lebih dari sekedar cari uang. Kisah kamu gimana? Mari berbagiiii...


Monday, 13 January 2020

Kendaraan Umum?

Sudah berapa lama kamu ga naik kendaraan umum?

Saya?

Udah jarang bgt. Alesannya campur-campur. Mulai dr makin makin macetnya jalan, angkot tukang ngetem dll dkk.

Sama blok alasan yang kadang diada-ada: sibuk. Padahal ya emang pada saat tertentu beneran sibuk. Tp pada saat yang lain, ga segitunya juga. Buktinya serial koreya ko bisa khatam ketonton 😁. Biar gimanapun, naek kendaraan umum emang lebih lama dibanding naek kendaraan sendiri ato naek ojol. Jadi ya perlu sediakan waktu yg lebih panjang.

Keuntungan naek kendaraan umum? Ya tentu ada. Dalam jangka panjang dan kalau dilakukan oleh lebih banyak orang, logisnya sih kemacetan bakal berkurang dan emisi karbon yang dihasilkan akan lebih dikit. Dan tentunya lebih hemat secara rupiah. Jaba ga harus cape nyetir.

Dan naik kendaraan umum pun kita bisa mendapatkan cerita-cerita unik. Baik yang terjadi pada diri kita sendiri maupun menyaksikan cerita unik yang dialami oleh orang lain. 

Salah satu pengalaman unik yang pernah saya rasakan adalah ketika naik angkot. Tempat duduk favorit saya saat naik angkot adalah di depan. Yang kalo versi travel, judulnya adalah kursi nomer 1. Karena pandangan bisa luasss dan duduk jg enak. Jarang-jarang kejadian ngangkot di jaman sekarang suruh duduk berdua di kursi nomer 1 itu.



Angkot jaman sekarang soalnya lebih banyak kosong. Sekosong hati si mamang angkot yang suka jd rudet dan ngetem-ngetem wae saat angkot kosong. Kumaha deui meureun, da dia jg ngejar bisa dapet duit yang cukup buat kasi makan anak istrinya (dan buat beli rokok zzz). 

Balik lagi ke cerita unik, DULUUUU BANGET ITU, pas saya lagi anteng duduk anteng, si mamang angkotnya ngajak ngobrol wae. Trus ya dijawab aja, drpd bosen kan ngangkotnya jauh ke Cimahi. Tautau berujung dengan dia ngaku singel sambil liatin KTP wkwke.

Nggggg naon ieu maksudna 😅😅. Sejak saat itu, walo seneng duduk di kursi nomer 1, jadi luak-lieuk heula pas mau naek angkot bisi yang nyupiran si mamang eta.

Apa pengalaman unik kamu saat naik kendaraan umum? Mari berbagi~

Monday, 25 November 2019

Janji dan Waktu

Bersama dengan Akang, membuat saya kadang merasa balik lagi ke jaman dulu kwkw. Salah satu hal yang mau saya ceritakan adalah tentang janjian.

Pertemuan pertama dengan Akang, saat belum saling mengenal, terjadi karena ya emang udah harusnya ketemu aja. Saat itu saya hanya memberikan gambaran posisi tempat janjian (kurang lebih deskripsinya: depan Indomaret Cikutra dan Jigoku Ramen dan nunggu di tukang cuci motor). Saya hanya kasi gambaran umum begitu dengan pikiran bahwa, ya kalem aja sih, toh kalo udah deket tinggal telpon atau sms. Itu udah jaman Whatsapp bahkan. Tahun 2016. 

Gataunya, HP dia mati. Saya sampai ga habis pikir: kenapa mau janjian tapi ko hape mati. Tapi dengan kekuatan telepati apa merpati sampailah dia ke lokasi yang dituju. Padahal Jigoku yang ada di Cikutra ada 2 dan dia hampir mau pulang karena ga lihat ada tukang cuci motor di Jigoku yang satunya lagi. 

Hal tersebut terjadi tentu dengan ijin Allah. Da kalo engga mah, ga jadi nikah meureun sama dia. Ketemu juga engga. Tapi peristiwa tersebut terjadi tanpa bantuan HP sama sekali. Patokannya hanya info terakhir yang dijanjikan dan keinginan untuk memenuhi janji. 

Peristiwa serupa terjadi lagi. Ini sama-sama aneh juga. Pas udah nikah, ada kakaknya Akang yang rumahnya di Sumedang mau dateng ke rumah Ujungberung. Si kakaknya ini ga pegang HP. Pas dia berangkat, anaknya menginfokan waktu keberangkatannya lewat Whatsapp dan akan turun di alun-alun Ujungberung. Si kakaknya belum pernah ke rumah. Saat itu saya ga habis pikir karena Akang bisa ngira-ngira kapan waktunya harus mulai pergi ke titik pertemuan supaya nunggunya ga kelamaan. Padahal perjalanan memakai kendaraan umum dan tingkat kemacetannya kan tidak bisa diperkirakan. Eh tau-tau baru aja pergi jalan ke Alun-alun, tak lama kemudian Akang udah jalan bareng ke rumah bareng sama kakaknya. Asa ajaib. 

Tapi kalo dipikir-pikir, janjian jaman dahulu kala juga ya gitu aja sih. Kalo udah janjian bahkan dari minggu sebelumnya, ya gausah dikonfimasi lagi. Tinggal dateng aja tepat waktu. Dan gausah pake acara tiba-tiba Whatsapp: aduh maaf saya telat karena bla bla bla dan lalu share loc. 

Minggu kemaren juga akhirnya gitu. Saya mau belanja dan Akang mau makan sambil nunggu belanja. Terus tempatnya berjarak kurang dari 1 KM. Pas mau berangkat kepikiran untuk masing-masing bawa HP. Tapi dipikir lagi, gausah lah ya, kan tinggal tunggu kalau salah satu pihak ada yang lama. Dan yaudah duduk aja nunggu. Beres. 
 
Jadi, teknologi itu beneran kaya pisau bermata dua. Kalau dimanfaatkan dengan tepat, akan menguntungkan. Misalnya jadi ada pereminder otomatis saat akan janjian supaya jangan ada pihak yang lupa. Kalau reminder satusatu kan ya rempong dan abis waktu. Bisa diset beberapa kali bahkan ke seluruh pihak terkait. Bisa kirim bahan rapat duluan supaya dibaca dan pertemuan berjalan efektif. Tapi kalau pada dasarnya suka telat, lupa sama janji dan penunda, akhirnya si teknologi ini jadi sesuatu yang berujung dengan ngetik: aduh maaf saya telat karena bla bla bla dan lalu share loc. 

Ayo siapa yang masih suka gitu?
*toyor diri sendiri juga*




Monday, 10 June 2019

Perayaan Ultah?

Mulai berasa tua itu saat mulai masuk umur 30. Saat itu dikasi ucapan
selamat ulang taun dan dikasi pesan sponsor dari orangtua untuk segera
menikah. DWARRR. Kalau dipandang dari pola orang-orang pada umumnya, umur
30 biasanya emang lagi pada anteng ngurus anak dan kerja yg bener. Di saat
yang sama, kerjaan yang sedang dijalani dipandang bukan kerjaan yg "bener".
Bener tuh maksudnya gajinya relatif cukup, punya pensiun, atau si tempat
kerjanya minimal berprospek akan ada dan terus berkembang.


Ngurus anak? Gimana mau anakan, pacaran aja asa engga saat itu teh. Yang
ada ngurusin relawan, staf, event. wkwk. Bukan tidak berniat menikah, tapi
ya belum saatnya weh meureun.


Dan makin terasa tua lagi setelah ngisi presensi saat kunjung ke Bandung
Planning Gallery. Kenapa? Karena ditanya umur. Biasanya tinggal tulis aja
kan ya. Nah di form isiannya dikasi rentang-rentang umur. Trus yang cocok
yang cuma rentang 35-45. Sesaat sesudah nyontreng form berasa tua. Ga
terima kenyataan bahwa udah 1 genk sama orang-orang yang kepala empat
wkwkw. Masi banyak mau, masi pengen main dan masi pengen coba ini, coba
itu.


Jadi tanpa disadari, makin lama, perayaan ultah justru makin mikir: udah
umur segini teh nanaonan wae nya. Sudah sebesar apa manfaat yang diberikan
buat orang lain? Sudah punya prestasi apa saja? Sudah kukumpul bekel buat
di akhirat apa aja.(serem tapi da emang jd kepikiran). Makin peliq ya saat
melewati saat-saat ulang taun (kringetan).


Beda banget rasanya sama waktu ulang taun saat kecil. Juga saat remaja dan
saat remako wkwwk. Dulu ultah tuh riweuh organisir kado lah, kejutan lah
dan hal-hal seru lainnya. Pernah nulis juga tentang "perayaan" ultah di
sini.


Kalau anda, gimana memaknai perayaan ulangnya?


Sunday, 28 April 2019

Budaya Ngopak di Sumedang

Lebaran sebentarrrr lagi~

Pada tau lagu itu kan? Ya memang lebaran masih lama. Puasanya aja belumm. Tapi betapa sebagian orang mulai mikirin puasa, lebaran dan berbagai aspek yang terkait di dalamnya. Iklan di TV aja udah mulai ada sirop-sirop dan temen-temennya kan?

Salah satu persiapan lebaran di lembur Sumedang adalah ngopak. Bukan beli opak atau ngemil opak! Tapi bikin opak!

Di lembur saya (ciee punya lembur) Nangkod, salah satu tradisi yang mulai ditinggalkan adalah budaya ngopak. Biasanya saat ada event istimewa, mereka akan bikin opak sebagai bahan hidangan maupun sebagai bahan kiriman dan berbagi. Event istimewa itu bisa berupa kegiatan syukuran, nikahan dan sejenisnya atapun lebaran!

Tapi seperti yang saya katakan di awal, budaya ini mulai ditinggalkan. Daripada repot-repot membuat opak, beberapa mulai ambil jalan pintas dan membeli opak yang sudah jadi. Padahal tradisi ini unik!

Salah satu bahan yang membuat opak jadi gurih adalah kelapa. Kelapa ini biasanya bukan hasil beli tapi ambil di pohon langsung. Pohonnya dari mana? Bisa ambil punya sendiri ataupun minta punya tetangga. Kejadiannya sih kemarin minta sama tetangga yang masih saudara. Tidak ditukar dengan uang, tapi nanti ditukar dengan opak yang sudah jadi. 

Kupas-kupas kelapa!

Ketan yang digunakan bisa beli di pasar, tapi bisa juga beli melalui jalur lain. Kemarin ketan dibeli lewat kakak ipar yang harganya agak miring, tapi dibeli langsung dari petaninya dan digiling. Ketan tersebut sehari sebelumnya direndam.

Yang unik lagi, ada semacam ketua pelaksana dalam kegiatan ngopak ini. Dia yang sehari sebelumnya sudah merendam ketan dan memastikan segala bahan ngopak telah tersedia. Dan masih diberi bonus jemur opaknya sampai tuntas. Orang seperti itu diperlukan untuk memastikan kualitas opak dan tuntasnya kegiatan ngopak. 

Ketan lalu dicampur dengan kelapa dan diproses dulu, ditumbuk sehingga siap dibentuk. 

Nutuan!
Sesudahnya sudah menanti beberapa ibu-ibu (beberapa diantaranya nenek-nenek) yang siap mencetak adonan tersebut menjadi opak. Ibu-ibu ini datang dengan sukarela tanpa dibayar. Mereka membantu proses pencetakan opak dan bahkan membawa ayakan besar dari rumahnya untuk menempatkan opak yang telah dicetaknya.

Awalnya dibentuk bulat-bulat
Kegiatan mencetak diawali dengan menggiling adonan. Lalu dibentuk bulat-bulat. Supaya hasilnya cukup seragam, digunakanlah tutup botol sirup. Botol sirup sebagai cetakan adalah inovasi masa kini. Pada generasi sebelumnya, dibuat tanpa cetakan, namun katanya tetap bisa dihasilkan bentuk yang cukup seragam.

Inovasi juga terjadi pada tahap selanjutnya yaitu tahap mendatarkan adonan bulat-bulan menjadi tipis layaknya opak yang biasa kita temui. Bila dulu digunakan alat pengepres yang dibuat dari kayu, saat ini cukup digunakan piring sehingga kegiatan cetak-mencetak jadi semakin mudah dilakukan. 

Pengepres opak

Piring sebagai pengepres opak
Opak yang sudah dicetak lalu tinggal ditempelkan di ayakan besar. Disusun rapi supaya cukup banyak opak yang bisa ditempel. Itulah sebabnya diperlukan banyak ayakan dan tidak perlu setiap orang memilikinya. Setiap pemilik ayakan dengan senang hati meminjamkan miliknya saat ada tetangga yang ngopak.

Tempel opak di ayakan!

Tahap selanjutnya adalah menjemur opak-opak tersebut sampai kering. Semua tentu bahagia bisa matahari bersinar terang di hari tersebut sehingga pekerjaan bisa selesai dalam sehari. Namun bisa belum benar-benar kering, besoknya proses penjemuran bisa dilanjutnya. 

Jemur Opak!
Kalau belum kering, opak biasanya dimasukkan ke dalam rumah sehingga tidak kehujanan ataupun kecipratan air hujan. 

Rumah tiba-tiba semarak opak!
Dan seluruh proses ngopak ini didukung oleh banyak pihak. Ini hanya sebagian yang terdokumentasikan. Setelah beres ngopak lalu peserta ngopak dijamu makan bersama. Nanti setelah opaknya kering, para peserta ngopak akan dibagi sedikit opak. Tentunya ini bukan upah karena jumlahnya tak seberapa. Tapi lebih kepada ungkapan terima kasih karena sudah mempercepat selesainya proses ngopak.

Sebagian peserta ngopak
Adakah tradisi seru lainnya jelang puasa dan Lebaran? Mari berbagi!

Tuesday, 12 March 2019

Sumbu Pendek

Pernahkah mengalami kondisi diri dalam keadaan sumbu pendek? Jarak waktu dari sebuah pemicu menuju ke kondisi "ledakan" sangat dekat?

Gambar dari sini


Saya? SERING wkkwkw.
Cenderung emosian dan pas emosi ga mikir. Tau-tau meledak. Kalau udah gitu biasanya grasak-grusuk dan cenderung kacau. Setelah peristiwa "ledakan" berlalu baru mikir. Kadang nyesel, kadang ga habis pikir dan biasanya berkata, "Tadi tuh ngapain sih sebenernya?".

Dalam satu kasus, kadang saya ga sampai meledak sih. Tapi kemudian kesel aja karena mengalami peristiwa pemicu yang berulang-ulang alias polanya sama. Pas udah ga kesel lagi, baru deh mikir alasan mengapa sampai rasa kesal dan gak nyaman itu muncul. Kadang yang bikin kesel bukan konten peristiwanya, tapi ya emang kurang suka aja sama orangnya. Pada peristiwa lain, keselnya ternyata karena si orang itu menyatakan hal tertentu berulang-ulang, tapi sebenernya hanya di permukaan aja. Bukan tentang pembelajaran apa yang penting kita tau akan hal tersebut. Atau kali lain, ya lagi bete aja sama masalah sendiri, jadi denger apa-apa juga rasanya kesel. Aneh dan misterius juga kadang orang-orang yang lebih mendahulukan perasaan dibanding logika seperti saya ini. Kadang suka heran sendiri sesudah kejadian. Pas kejadian, boro-boro mikir wkkwkw.

Pada kasus tertentu kadang kita marah, tapi sesudahnya mencoba mikir dalem, tetep ga nyadar kenapa bisa sampai marah dan emosian seperti itu. Pada kondisi yang agak parah, memang diperlukan bantuan orang lain untuk memfasilitasi kita sehingga penyebab kemeledakan tersebut diketahui. Orang seperti apa? Kalau curhat-curhat ke temen sih bisa sebagai pelepas ketegangan dan kemarahan yang ada. Tapi pada kondisi yang agak parah tersebut, apalagi saat dampak kemarahan mulai menyerang kondisi fisik, maka berkonsultasilah ke psikolog. Mereka sudah punya ilmu tersendiri untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tepat kepada kita dan metode untuk mendiagnosanya. Imej konsul ke psikolog rupanya cenderung dianggap negatif saat ini biasanya ya. Padahal ya ga usah takut dan malu untuk pergi ke psikolog. Namanya juga usaha. Psikolog bisa dipilih dari yang paling murah sampai yang paling mahal. Yang paling murah tentunya yang di Puskesmas. Puskesmas tertentu saja sih memang dan tidak praktek setiap hari.

Cara lain untuk mengetahui penyebab kemarahan itu dengan belajar. Iya betul belajar! Baca banyak buku yang terkait dengan kondisi kita. Atau cari video-video presentasi yang terkait dengan itu. Bahkan bisa sampai bikin causal loop diagram untuk menganalisis masalah yang sedang dialami. Emang kamu pernah nil bikin CLD untuk masalahmu sendiri? ENGGA SIH wkwkw. Tapi intinya, kadang kita marah dan kesel karena kurang elmu juga. Jadi kurang wawasan dan saat ada masalah mentokkk karena kurang belajar.

Apakah anda termasuk golongan bersumbu pendek juga? Yuk berbagi cerita untuk mengurangi dampak buruk dari sumbu pendek ini!

Wednesday, 6 March 2019

"Romantisme" dalam Tim Kerja

Pernahkah menjalani masa "romantis" dengan teman kerja? Kata romantis sengaja saya beri tanda petik karena kata tersebut bukan dalam artian yang negatif. Tapi lebih kepada relasi antar manusia yang  asyik sehingga pas kerja kerasanya klop. Klop untuk sama-sama mencapai target-target pekerjaan.

Saling melengkapi tipe kepribadian sehingga bisa menghasilkan karya adalah sebuah kemewahan dalam bekerja. Mengapa demikian? Karena nemu rekan kerja yang klop bisa sesulit mencari jarum dalam jerami. Alias susyah pisan. Baru akan ketemu setelah mencoba kerja bareng dan beberapa kali (atau bisa sampai bertahun-tahun) sehingga lebih kenal dan lebih tau dimanakah si potongan puzzle itu ditemukan.

Kalau sudah sering bekerja bareng, lama-lama juga kita akan paham kebiasaan si A, kondisi mana saat si A butuh bantuan, dan biasanya bantuan apa yang paling efektif dari kita untuk si A. Kadang membantu kalau ga tepat bisa mengacaukan loh wkkwkw. Malah tambah masalah baru.

Proses menemukan keklopan dan "romantisme" tersebut bisa dipercepat dengan mengetahui tipe kepribadian anggota tim yang terlibat. Lalu masing-masing anggota tim jadi tahu perlu bagaimana menghadapi tipe-tipe kepribadian atau kecenderungan cara bekerja satu sama lain. Tentu prosesnya tak selalu seindah dibayangkan. Kadang berujung dengan baper atau malah konflik kalau prosesnya ga mulus.

Terkait dengan fase-fase yang terkait di dalam tim, biasanya diawali dengan masa bulan madu. Selayaknya pasangan yang baru yang baru menikah. Ngerjain apa-apa bareng kerasa enakeun. Tapi lama-lama akan ada fase konflik. Tapi bila masa konflik itu dilalui dengan baik maka secara keseluruhan tim tersebut lambat laun akan berkarya dengan maksimal. Kalau ga berhasil mengatasi konflik tersebut, bisa berakhir dengan ada anggota tim yang cabut, baper dan hal-hal negatif lainnya. Mirip-mirip kisah percintaan kan ya?

Dan berbagai fase itu sempat saya icip-icip dan saksikan selama bekerja belasan tahun ini. Anda sempat merasakan juga "romantisme" bekerja dalam tim? Ayo berbagi ceritanyaaaa~

Ditulis untuk minggu tema #1minggu1cerita

Monday, 25 February 2019

Orange dan Semangat Baru #1minggu1cerita

Si oranye yang unyel-unyel ini terlahir dari tangan kaka Evva. Imut-imut gemesin!

Maskot 1m1c: Mingce

Beberapa perubahan di 1m1c belakangan ini terlahir dari 2 admin baru yang sedang semangat mempercepat perkembangan komunitas menulis ini. Evva yang bagian menggambar (dan juga bikin artikel di web secara rutin), para admin lain yang bagian memilih maskot yang sesuai. Pembuatan maskot bermula dari pembuatan logo baru, si orenye abu gemes ini.

Logo 1m1c

Warna oranye ini dirasa cocok pisan untuk mewakili semangat baru dalam pengelolaan komunitas 1m1c. Yang pernah kelola komunitas tentu pernah merasakan gelombang naik turunnya semangat menjalaninya kan? Sama halnya dengan mengelola 1m1c. Saya sebagai salah satu admin yang awalnya memiliki semangat untuk "yang penting bisa memfasilitasi diri sendiri biar getol nulis dan syukur-syukur bermanfaat untuk orang lain" kadang semangat-pakai-banget, dan kadang hoream-pakai-pisan dalam mengelola 1m1c.

Mengelola komunitas bersama dengan beberapa admin lain, tentunya menyimpan beberapa kisah mengesankan. Mulai dari keseruan, kebanggaan, kesedihan dan kebaperan bisa dirasakan dalam peranan tersebut.  Bekerja sama dengan beberapa admin yang bahkan beberapa belum pernah kenal dan bertemu di darat, bekerja dalam tim yang berbeda umur, latar belakang, tingkat aktivitas dan kesibukannya dan dilakukan secara relawanan tentunya menambah tingkat tantangan yang dihadapi.

Begitu pula dengan hilir mudiknya pada admin silih berganti. Itu juga memberikan banyak pembelajaran buat saya sendiri dalam membangun komunitas ini. Salah satu pembelajaran berharganya adalah bagaimana memupuk keberanian saya untuk membiarkan komunitas berkembang berdasarkan keinginan, minat dan waktu yang tersedia dari para admin yang sedang berada pada masa pengadminannya. Hal ini bukan hal yang mudah bagi saya yang terkadang cenderung ingin ngatur-ngatur orang wkwkkw. Tapi melihat perkembangannya, ini seruserusedap pisan. Dan biarkanlah berkembang secara alamiah.

Setelah Evva yang demen bikin berbagai variasi stiker dari si Mingce, kali ini pun 1m1c memiliki Reisha yang punya hobi (dan ambisi tampaknya kwkwk) untuk membuat web 1m1c makin canggih dari hari ke hari. Tujuannya tentunya untuk membuat para member 1m1c merasa lebih nyaman, betah di 1m1c dan makin getol nulis. Nuansa webnya pun segarrrr bernuansa oranye.

Secara umum proses ini bolehlah disebut sebagai proses rebranding supaya admin dan member makin semangat berkomunitas di 1m1c.

Untuk memperbesar pengaruh 1m1c, ada 2 admin baru yang masuk untuk mengelola medsos yaitu Via dan Ikhwan yang mengelola urusan fundrising. Mengapa perlu fundrising? Web 1minggu1cerita.id perlu dibayar iurannya setahun sekali dan mayarna kedah ku artos.

Tentunya juga masih ada 2 admin lama yang lagi salto dan bergelut dengan kehidupannya masing-masing namun masih setia mengawal 1m1c supaya makin menyebar manfaaatnya yaitu Darma dan Ajeng.

Lengkapnya tentang para admin 1m1c pada periode ini bisa diintip di sini.

Yang pasti, 1m1c masih eksis sampai tahun ke 5 (ga kerasaaaa), tak akan terjadi tanpa admin di periode sekarang dan periode-periode sebelumnya. Yang sudah dengan setulus hati mengawal perkembangan 1m1c di setiap periodenya. Apalah 1m1c tanpa kita semuaaa~






Friday, 1 February 2019

Memberi Pilihan

Rasanya udah lama pisan ga nulis tentang per #ZeroWaste an di blog ini.
Kenapa? Ya lagi ga pengen weh.

Etapi tergelitik dengan satu kondisi yang masih kurang ideal namun tetap memberikan ruang untuk para #ZeroWaster untuk milih. Yak! Sesungguhnya perubahan itu tidak bisa cepat, tapi menciptakan ruang alternatif adalah salah satu jalan untuk menuju perubahan.

Enaknya sih langsung aja bikin larangan akan semua sampah yang ga bisa diapa-apain itu. Kresek misalnya, kemasan plastik sachet yang berwarna-warni misalnya, kemasan gelas sekali pakai untuk kopi dll dkk. Tapi kenyataannya perubahan ga selalu bisa diciptakan dengan cepat.

Pada sebuah penyajian snack, saya menemui adanya beberapa jenis pilihan minuman yang kayanya sih tujuannya untuk "memuaskan selera" para tamu yang hadir. Mulai dari beberapa kopi sachet, sampai ke kopi tubruk dan gula dalam toples mini. Tapi rupanya memuaskan juga rasa-ingin-mengurangi-sampah-dari-awal yang semangatnya suka senen kemis ini.

Asalnya saya yang kadang mikir berapa kali untuk ambil kopi sachet, langsung sabettt begitu lihat ada kopi dalam toples. Yak belum tentu emang kopi tersebut dibeli menggunakan kemasan kertas atau kemasan plastik yang besar banget. Tapi setidaknya ga sachet banget lahhhhh. Sampahnya kan lebih banyak jadinya kalau sachet.


Pilihan lain yang disediakan juga ada di gelas. Disediakan gelas kertas (itu kayanya sih ga pure kertas ya, ga bisa didaur ulang oge) tapi disediakan juga cangkir. Otomatis dong saya pakai cangkir buat bikin kopi. Saya sambil perhatikan perilaku tamu yang lain (ngapain liat-liat orang? nya hayang weh atuh ahhahah). Ternyata walau udah ada cangkir, kebanyakan orang memilih pakai cup. Kenapa ya? Rupanya setelah iseng nanya muncul salah satu alesannya adalah karena cup itu nyimpennya beneran sebelah termos. Sedangkan si cangkir ada di sebelah kiri (ga kefoto si jajaran beberapa cangkirnya euy). Satu cangkir yang nyempil di dalam foto itu sih hasil saya mindahin sendiri. Tujuannya tentuww untuk memperlihatkan alternatif yang diberikan.

Jadi kayanya rangkaian peristiwanya adalah: pas masa snack datang, hayang ngopi, udah ga mikir lagi dan si tamu ambil yang paling deket aja sama termos sigana.

Yang lebih ekstrim semangat mengurangi sampahnya, justru mengantisipasinya dengan bawa kopi sendiri. Pakai misting mini. Ada temen yang kaya gitu soalnya. Baca 2 misting mini yang isinya kopi dan gula. Jadi kalopun di sebuah tempat dia ga nemu kopi sebagai sajian, atau kopinya kopi sachet doang yang tersedia, ya dia sih woles aja ngeluarin rangsum kopinya. TERNIATT KANNNN?

Etapi sebelum sampai ke situ, disediakan macam-macam pilihan kemasan dan penyajian pun udah memberikan angin segarrr bagi kami-kami yang ingin mulai mengurangi sampah dari awal ini.





Thursday, 24 January 2019

Touring ke Papandayan


Hari minggu kemarin, saya diajak ikutan turing bareng sama temen-temen kantornya Akang. Antara ada banyak PR kerjaan tapiiiiii udah hobinya main dan ekskul, jadi ya der aja dijabanin.

Dimulai dari edisi bangun kesiangan dan langsung lari ke pasar dan masak alakadarnya, maka dimulailah petualangan hari tersebut. 

Bekal untuk Botram di TKP

Dan ternyata temen-temennya Akang orang Endonesya banget. Hobi telat. Untung kita ga beneran berangkat pagi-pagi banget. Dan kenapa juga ya, kumpulnya itu tepat deket TPS hehehe. Mentang-mentang pegawai PD Kebersihan semua. Jadi ada adegan patunggu-tunggu dulu sampai pada kumpul dan siap berangkat. 


Adegan patunggu-tunggu rupanya banyak terjadi di kegiatan touring karena memang perlu dipastikan bahwa semua peserta berangkat bersama dari titik-titik pemberhentian. Jadi touring tuh ngapain aja sih? Dari yang dialami sehari itu sih ternyata polanya berulang antara naek motor - berhenti - udud - ngagaya dan fofotoan. Jadi emang koleksi fotonya cukup banyak! Grupnya trangtrung pakirim-kirim foto. Kukira hanya cewe-cewe yg doyan fofotoan.

Susahnya kalau akang yang moto, hasilnya suka aneh-aneh haha. Ditambah lagi para bapak-bapak banyak gaya itu pada minta tolong difotoin, maka foto yang sendiri atau berdua cuma dikit. Foto yang berdua sama akang adanya hasil moto selfie dan ada 1 foto yang cukup oke hasil barter sama jasa motoin sekelompok bapakbapak itu.  Buat kenang-kenangan juga bahwa kita pernah dateng ke Papandayan. 



Secara keseluruhan acara touringnya menyenangkan. Walau saya perannya sebagai anak bawang tapi tetep bisa hepiiii. Senang karena perut kenyang. Mulai dari saat bongkar bekal masing-masing (etapi banyak yang ga bawa deh. kayanya ga pada dibekelin sama istrinya kwkwk). Sampai pas mau pulang aja tau-tau mampir ke rumah salah satu pegawai dan minta makan malem. Diserbu gitu rumahnya. KALAKUAN!

Mari makan!

Tentunya senang karena jalan-jalan ke alam.  Melewati daerah IP Kamojang bikin inget jaman baheula pernah ada kerjaan bareng mereka. Lalu udaranya pas lagi sejuk. Pada beberapa saat di perjalanan kebagian hujan juga. Tapi masih aman lah. 

Dan kondisinya lagi berkabuttt

Gerbang Papandayan

Tarif

Setelah masuk gerbang, parkir motor dan makan, lalu dilanjut dengan sholat dan naik ke arah kawah. KE ARAH YA, kan ga nyampe hahaha. Segitu aja bapakbapak udah pada ngeluh dan bilang bahwa sebenernya motor mereka juga bisa sampai di atas karena masih ada jalan beraspal. WKWKKW. Lalu saya senyum aja di dalam hati. Udah lama ga olahraga jadi lumayan rada hah-heh-hoh tapi seneng!

Arah menuju kawah Papandayan yang berdekatan dengan lokasi parkir mobil. Berkabuttt.

Jalan yang katanya pasti-masi-bisa-dilewati-motor

Terasa bau belerang dan seperti halnya para turis domestik, terjadilah adegan foto-foto setelah dirasa ditemukan spot yang cocok dan setelah dirasa cape jalan kaki. Dari jauh kelihatan asap dari kawah. 

Asap dari kawah

Lalu turun dan dilanjut berendam. Saya gak ikut berendam karena ga bawa baju ganti. Tapi kemudian disusul karena diminta jadi tukang foto haha. Tapi akhirnya berendem kaki aja karena ingin icip-icip air hangat berbelerang yang katanya baik bagi kesehatan. 

Posisi duduk saya juga di sekitar situ karena disitulah keluarnya air panasnya

Dan tentunya yang bikin seneng adalah karena bisa pergi seharian sama akang :) 
Biasanya kalau dia pergi touring gitu, sendirian di rumah dan dia enak-enak aja maen. 

Jadi gemana neh? Mau ikut touring lagi ga?

Kasian sih sebenernya karena motornya merangkak ketika di tanjakan tajam. Karena yang dibawa kan 2 orang sedangkan yang lain gada boncengan.  Posisi jadi paling belakang terus hahha. Ya kapan-kapan ikut lagi kalo yang deket-deket dan waktunya cocok.





Wednesday, 19 December 2018

Berbinar!

Apa sih yang sebenernya dicari dalam hidup?
Mungkin ada (banyak) orang yang akan mengukur pencapaian hidupnya dengan jumlah harta yang dimiliki. Mulai dari rumah, kendaraan, perabot rumah tangga terkini, baju, tas dll dkk. Ga akan abis ngomongin yang namanya harta ini.

Penting ga sih si harta ini? PENTING tapi kayanya relatif.

Terkait dengan pencapaian hidup, satu lagi yang ingin saya capai adalahhhhh bisa selalu berbinar ketika mengerjakan sebuah pekerjaan. Bahkan sampai tua!

Keidean pas liat bapak aki-aki yang sampai umur 60an masih seru aja bawain pelatihan dengan mata yang berbinar dan muka yang asik! Dia adalah Koji Takakura. Padahal ilmuan itu (beberapa jigana) kan suka bosenin kalo jelasin sesuatu. Tapi ini jelasinnya asik banget dan kayanya emang beneran cinta sama hal yang disampaikannya di pelatihan tersebut.

Saya udah sering denger nama si bapak bahkan berkali-kali (berapa kali ya, poho) menceritakan tentang teknologi yang diciptakannya bersama dengan teman-temen dari Pusdakota Surabaya yaitu keranjang Takakura. Bahkan keranjang takakura pun menclok di dapur kontrakan saya sebagai pengompos sisa makanan yang dihasilkan. Namun akhirnya baru di tahun ini beneran ketemu orangnya. Sekilas cerita saat beliau berkunjung ke Indonesia bisa dilihat di sini.

Selain matanya berbinar, semangat positifnya menyebarrrrr. Bayangin weh, usia segitu masih pake bodor ngasi materinya (bikin sulap-sulap) dan ada nyanyi pake lagu Jepang. Sehat, semangat terus dan menginspirasi banyak orang yapakkkkk~

Pak Takakura yang pakai baju biru (Dokumentasi YPBB)

Satu orang lagi yang bikin saya beneran pengen-pisan-banget-sekali bisa punya mata yang berbinar saat melakukan pekerjaan. Dia adalah Pak Rama seorang pakar serangga dari ITB. Jalan yang ditekuninya adalah (dulu) jalan yang sepi. Dikit banget yang milih spesifikasi ke situ. Selama dengerin dia presentasi di kegiatan ini, jadi mikir: gimana caranya supaya bisa asyik banget cara ceritanya. Biasanya kan kalo cerita yang ngelmu kan penuh slide dan tunjuk-tunjuk tulisan. Ini sih jelasin tentang jenis-jenis lebah lebih kaya nyeritain temen-temen dengan segala karakternya. Santai dan mengalir.

Dan peserta yang awam kaya saya (saya dulu kuliah biologi tapi nyaaaa teuing kuliahnya ngapain wkwk) jadi paham bahwa justru sebagaian besar serangga itu menguntungkan buat manusia. Dan menjadi ahli serangga itu penting! Buktinya pak Rama sampai dipercaya salah satu universitas di Jepang buat bikin lagi suatu kawasan jadi ada kunang-kunangnya lagi. Karena kunang-kunang adalah hewan yang dekat dengan keseharian orang Jepang dan sebagai indikator lingkungan yang masih baik.

Belum lagi ceritanya tentang lebah. Lebah bukan sekedar mikir kebutuhan madu untuk manusia loh ya, tapi beliau cerita gimana si lebah ini bisa jadi titik penting bagi keberagaman sumber makanan kita. Kalau lebah ga ada, mau makan apa kita? Hanyalah sedikit makanan yang bisa ada bila si lebah punah.

Pak Rama belum setua Pak Takakura, tapi terpancar ekspresi yang sama saat mereka berbagi tentang hal yang diminati dan dicintainya kepada kita sebagai audiens di kala itu.

Pak Rama, ahli serangga (Dokumentasi: Jessisca Fam)

Monday, 19 November 2018

"Kabur"

Kalau lagi banyak masalah dan kerjaan, saya suka (sering sih tepatnya) kepikir buat kaburrrr. Setelah kabur gimana? Pusing hahah. Menimbulkan efek negatif yang lebih besar di masa kini maupun masa datang. Dan kadang terselip penyesalan di hati: padahal ya kalau....

Cara kabur yang pernah saya lakukan:

Menunda Pekerjaan 
Isi efeknya nyaman sejenak tapi rasanya hati ga tenang. Saat kembali dari perjalanan kabur itu tetep aja harus dihadapi. Dan seringkali kondisinya jadi lebih pelik. Ampun!

Tidur
Kadang tidur sejenak bisa mengistirahatkan hati dan pikiran sehingga sesudahnya memiliki energi lebih untuk kembali pada kenyataan hidup. Namun seringkali tidur tak cocok jadi tempat kabur karena di dalam mimpi taunya malah mimpi kerjaan atau mimpi lain yang ga jelas. Akhirnya berujung pada tidur yang kurang berkualitas. Bangun tidur stresss!

Mengerjakan hal lain yang produktif
Pindah mode kayanya salah satu tempat kabur yang agak mending. Setidaknya ada hal yang emang kacau, tapi ada hal yang lalu beres. Tapi walau hal produktif lain itu berasa penting, sesungguhnya ada yang lebih prioritas untuk dilakukan. Jadi itu sih masalah pilihan aja.

Mencari kesenangan yang lalu menghabiskan waktu dan uang
Nah, ini cara lain yang menimbulkan efek kebahagiaan namun berujung timbulnya masalah baru. Gamau kan di akhir bulan malah abis uang gara-gara kabur pakai cara ini? Atau minimal jatah nabung berkurang deh gara-gara aksi ini.

Ada lagikah cara kabur lainnya? Ayo dibagi!

Kabur sih sah-sah aja kalau memang benar-benar diperlukan. Tapi kalau lagi waras, kaburnya bentar aja dan baiknya dicicil menghadapi kenyataan hidup yang terjadi depan mata. Dari pengalaman, yang paling berat itu justru mengkondisikan hati. Kalau di hati udah merasa enggan duluan menghadapinya, hal yang sesungguhnya sepele pun jadi terasa berat. Padahal seringkali, saat mulai dihadapi terbukti gak pelik-pelik amat.

Jadi, yuk belajar bareng-bareng mengurangi kabur dan niat kabur sehingga kualitas diri kita meningkat dengan berbagai badai yang datang ini.

SEMANGAT!

*lagi nyemangatin diri sendiri sih sebenernya*
*lagi banyak deadline malah nulis di blog*