Monday, 13 May 2013

Kaleidoskop #ZeroWaste - ku

Uhuy!
Seneng banget di 2 minggu yang lalu (tepatnya 28 April 2013) bisa kumpul dengan orang-orang hebat! Mulai dari yang baru beberapa bulan kenal isu #ZeroWaste, sampai ke yang sudah bertahun-tahun menjalankan gaya hidup tersebut.

Nih dia, 1 gank #ZeroWaste Community :)



Di acara tersebut semangat konsistensi terasa kental dan energi positif itu menular :) Suka deh!

Salah satu PR dari acara tersebut adalah: setiap orang menuliskan deskripsi dari Kaleidoskop #ZeroWaste - nya. Kaleidoskop yang dimaksud berupa alur perjalanan aksi #ZeroWaste setiap orang. Bentuknya seperti kertas yang dipegang oleh setiap orang di dalam foto bersama. Dibuat dalam bentuk yang kreatif (gunting-gunting majalah dan tempel-tempel) sehingga diharapkan bisa membantu seseorang "mengangkat kembali" memorinya tentang upaya #ZeroWaste yang telah dilakukannya.

Ini dia kaleidoskop milik saya :)



Kaleidoskop ini menggambarkan perjalanan saya dalam ber #ZeroWaste dari tahun 2005 sampai sekarang. Banyak bagian yang lupa-lupa tapinya :( Itu akibat tidak menuliskan pengalaman secara rutin. Akhirnya saya baru mulai menuliskan sebagian pengalaman tersebut di sini mulai Desember 2010 dan di situ mulai awal tahun 2013.

Ya, walaupun begitu marilah kita segera menaiki mesin waktu!



2005

Gambar 1: anak-anak kecil
Gambar 2: permen

Dimulai dari proses menjadi mentor pendidikan lingkungan di YPBB. Materi yang dibawakan tentang sampah. Itu baru kenal-kenal isu aja sih sebenernya. Sadar untuk ber- #ZeroWaste? Masih jauh pisan hehehe. Bahkan pada masa itu, saya masih suka beli-beli ini itu yang bersampah tapi kalau mau pergi ke YPBB, barang-barang tersebut "diamankan" terlebih dahulu. Permen menjadi salah satu contoh dari barang yang "diamankan".

Gambar 3: tas
Interaksi saya dengan para staf YPBB yang edun (entah kenapa saya dari awal berpikir bahwa "menjadi staf YPBB itu hebat!"), membawa saya kepada keseharian mereka. Dan bahkan mau beli telur pun, mereka bawa tas kain. Sekarang sih saya menganggap itu sebagai hal biasa saja. Tapi duluuuu, itu tindakan yang membukakan mata saya bahwa: gaya hidup #ZeroWaste adanya di keseharian dan tidak hanya berhenti di pelatihan atau teori-teori dan mereka membuktikannya!

Tahun 2006 awal

Gambar 4: Handphone
Gambar 5: Anak-anak muda
Saya kemudian mulai masuk jadi staf YPBB. Tujuannya gak idealis ato gimana-gimana banget juga. Saya merasa ber-YPBB itu asyik dan pengen coba dulu berkegiatan lebih intens sebelum akhirnya bakal jadi guru. Salah satu aktifitas yang sering saya lakukan adalah berteman dan mengelola kegiatan yang dilakukan oleh para relawan YPBB yang kebanyakan masih muda-muda dan juga dulu bentuk komunikasi yang paling pas diterapkan adalah via sms. Banyak pengalaman seru bersama mereka dan itulah saat saya mulai membiasakan diri ber#ZeroWaste dan menularkan + ditularkan semangat dari para relawan. Yeah!

Gambar 6: Tumpukan karung goni
Aktivitas lain ketika berinteraksi dengan kegiatan-kegiatan kampanye #ZeroWaste adalah ungkat-angkut. Pastinya saya bukan angkut karung hehhe. Saat jadi panitia kegiatan bagian operasional saya repot angkut berbagai peralatan. Memang panitianya hanya sedikit. Alasan lain yang bikin jadi repot adalah karena setting kegiatan ingin #ZeroWaste. Dan itu dikerjakan juga sendiri. Pagi-pagi bawa misting besar berisi snack, siang mistingnya beralih fungsi untuk beli makan siang. Yah begitulah. Tapi cukup puas karena bisa meminimalkan sampah dan menjadi contoh penyajian makanan ala #ZeroWaste bagi peserta kegiatan. Dan juga peralatan jadi bisa di#reuse bolak-balik. Angkut sana, angkut sini. Seru deh pokoknya :)

Tahun 2007

Gambar 7: Makanan
Tahun 2007 saya bersama teman-teman YPBB dan keusukupan Bandung sama-sama mengikuti materi dari teman-teman Pusdakota. Tentang takakura, MOL dkk. Yang cukup berkesan dari pelatihan tersebut adalah: ternyata bukan hanya takakuranya yang menjadi teknologi yang dikenalkan untuk mengelola sampah, tetapi semangat mengelola sampah itu memang perlu jadi kebiasaan sehari-hari. Contoh yang diberikan oleh suster dan masih saya ingat sampai sekarang adalah: mereka setelah makan, misalnya makan jeruk, sesudah makan dan sambil ngobrol, tangan akan otomatis untuk mensuwir-suwir jeruk tersebut sehingga bentuknya lebih kecil. Jeruk yang sudah kecil-kecil tersebut kemudian tinggal dimasukkan ke dalam takakura.

Gambar 8: Pembicara
Agak lupa mulai kapan, tapi akhirnya saya menyalurkan hobi cuap-cuap saya melalui aktivitas terkait pertraineran di bidang #ZeroWaste dengan mencoba beberapa kali jadi cofas dan kemudian bolak-balik dievaluasi saat bawain materi sebagai trainer. Proses saat sering membawakan materi ini membuat semacam "keyakinan" untuk dari ke hari berusaha naik level #ZeroWaste. Gampangnya gini: "Masa bawain materi terus-terusan tapi gak #ZeroWaste?"

Gambar 9: Event di panggung
Tahun 2007 ini juga saat program #ZeroWaste Event "berjaya". Pada tahun tersebut paling tidak ada 3 event besar yang berusaha di-nol-sampah-kan. Event yang paling #ZeroWaste adalah: 3/4 abad Keuskupan Bandung. Saya gak terlibat banyak di detil teknisnya, tapi ikut berperan di sisi tim edukasinya. Senang menjadi bagian dari "#ZeroWaste Event pertama di kota Bandung"!
Yang gak kalah serunya adalah: membuat acara tahunan UPLINK yang diadakan selama 1 minggu menjadi Nol Sampah! Nge-camp di Tuprok selama seminggu, ahey! Kegiatan ini sempat dilakukan 2 kali. Edun lah itu, meningkatkan skil untuk pengelolaan sampah, komunikasi, dan juga ketahanan mental. Oya, satu lagi di Bali, tapi saya gak ikut hehehe. Kapan-kapan diceritain deh detil keseruannya :)

Gambar 10: Misting
Tau misting kan? Kotak makanan! Yah, saya dulu gak punya misting dan mau beli pun uang rasanya gak cukup terus. Dan kemudian tiap kali jajan, misalnya gorengan, pasti muncul rasa bersalah. Tapi tetep pengen jajan. Ya gitu lah. Akhirnya mulai nabung buat maksain beli misting. Fix, akhirnya di dalam tas selalu ada misting (kosong). Kenapa kosong? Yakan memang untuk menangkal sampah plastik/kertas yang diperoleh dari proses jajan impulsif.

Gambar 11: Orang ngobrol
Salah satu yang mengasah kemampuan komunikasi saya adalah: entah kenapa, secara otomatis saya seneng banget "meracun" dan menebarkan "virus" #ZeroWaste ini! Dan obrolan informal dan juga mempelihatkan contoh langsung rasanya merupakan cara jitu untuk berkampanye. Selain lewat jalur resmi seperti pelatihan tentunya.

Gambar 12: Anak, ibu dan gelas susu
Gambar 13: Sampo
Ada beberapa aksi #ZeroWaste yang sempat dilakukan untuk mulai mengurangi sampah dari awal. Dan idenya biasanya berasal dari teman-teman di YPBB ataupun tiba-tiba terlintas sebagai ide keren. 2 contoh yang bisa diceritakan adalah:
1) sedotan. Dongeng lengkap tentang upaya pengurangan sedotan ini bahkan sempat dituliskan oleh Samsul (teman kuliah saya) dan bahkan jadi tulisan yang menang lomba Kum-Kum.
2) sampo. Nah! pernah diajak sama ibu Tini untuk beli sampo dan sabun secara literan. Agak apeu sih samponya. Maksudnya baunya aneh dan rasanya agak keras dibanding produk botolan. Tapi, minimal saya sudah pernah coba untuk beli sampo dan sabun yang diambil dari galon-galon gede dan wadahnya pakai yang ada di rumah. Keren idenya! Pernah juga liat sistem sejenis di PVJ (ada galon juga), tapi maaaaak harga handbody aja bisa sampai 100 ribu lebih. Belum kuat deh harganya.
Dan segudang cerita seru ber#ZeroWaste yang kebanyakan masih ada di dalam ingatan saja dan sebagian kecil sudah saya tulis di blog. Silakan mampir ke sini dan situ  .

Gambar 14: Lap handuk
Gambar 15: Sendok, garpu, pisau
Kebiasaan saling menulari semangat #ZeroWaste terasa kental bersama teman-teman di YPBB. Contoh pertama: saya pernah diberi lap handuk oleh Rima. Tujuannya bisa kita bisa bareng-bareng ngurangi penggunaan tissu. Setelah diberi hadiah tersebut, saya mulai merutinkan bawa di dalam tas dan menambah stok koleksi lap handuk lucu-lucu. Dan di ultah tahun 2011, Jessis kasi kado yang imut-imut yaitu sumpit reuse yang pake cepuk (wadah kecil). Wow!
Ah, senangnya punya teman-teman yang bisa saling support terus ber#ZeroWaste :)

Gambar 16: PC
Akhirnya, dengan berbagai macam dorongan dan (tentunya) hidayah: saya mulai menulis berbagai kisah #ZeroWaste. Bermula dari kisah kertas nasi yang terinspirasi oleh Tian sampai muncul beberapa cerita lainnya yang kemudian mewarnai riuh rendah hastag #TwitZW di akun @ypbbbdg. Dan rasanya menjadi cukup praktis untuk tinggal kasi link bila ada yang tanya dan cari info tentang ini itu terkait penerapan prinsip #ZeroWaste. Belum konsisten sih. *mau rutin lagi ngeblog ah :)

Gambar 17: Kacamata
Perjalanan panjang ber#ZeroWaste kami (saya sebut kami karena sebenarnya Anilawati Nurwakhidin hanyalah sebuah nama yang dimunculkan di garis depan) mendapat penghargaan: Wanita Inspiratif dari Ibu Netty Ahmad Heryawan. Sampai sekarang saya tidak tahu siapa yang mengajukan nama tsb (melihat dilambangkan dengan kacamata), tapi lumayan, bisa nambah predikat untuk meyakinkan kebanyakan orang. Buat saya sendiri, award tidak terlalu penting, tapi untuk kebanyakan orang, award tsb bisa menjadi salah satu cara untuk mulai dikenal secara baik. Yeah, award ini sebetulnya bukti konsistensi YPBB di isu #ZeroWaste selama sekitar 5 tahun!

Sekarang
Gambar 18: Kumpulan orang yang "terbang"
Dari dulu sampai sekarang, saya masih seneng bareng dengan orang-orang hebat yang menjalani gaya hidup #ZeroWaste dan bahkan dengan semangatnya menyebar juga semangat tersebut melalu berbagai "media", skill dan waktu yang dimilikinya. Senangnya pernah berkenalan dengan kaliannnnn :) Mari terus bersama membangun dan memperkuat modal sosial kita!




No comments:

Post a comment