Tuesday, 18 July 2017

#kulkas2017

Kalau menginginkan sesuatu, maka sering-seringlah memikirkan dan membicarakan hal tersebut dalam segala kesempatan. Katanya itu salah satu jalan untuk mencapai tujuan kita.

Salah satu hal yang sangat-sangat sering dibicarakan dan akhirnya tercapai pada waktu terbaik (walaupun lama pisan nunggunya) adalah JODOH. Diomongin di segala kesempatan, ditanyain " kapan? kapan? kapan?" sampai bosen jawabnya, didoain terus-terusan sama diri sendiri maupun sama banyak orang, termasuk diobrolin di grup-grup wasap dan di medsos segala! Indonesia banget lah ya. Tapi sejauh ini sih oke-oke aja. Gak merasa diusilin karena memang pada dasarnya si jodoh dan menikah itu adalah sesuatu yang diinginkan dari kapan taun. Di medsos dan di grup, sampai udah berapa kali ganti hastag terkait perjodohan dan pernikahan. Biasanya hastagnya dibikinin sama temen-temen. Gituweh punya temen-temen yang super kreatif mah. Dan akhirnya hastag #anilMenikah2016 yang terbukti berhasil! Berhasil dalam artian: saya sendiri ga nyangka akan menikah dengan waktu persiapan dan perkenalan yang sangat singkat (hanya 1,5 bulan) dengan orang yang ujug-ujug ditemukan di TPS wkwkwk. Tentang hal itu, kapan-kapan lah ya diceritain. Tapi pada intinya: si swami adalah bukti dari teori: Kalau menginginkan sesuatu, maka sering-seringlah memikirkan dan membicarakan hal tersebut dalam segala kesempatan. 

Nah, dengan teori yang sama, sesungguhnya saya lagi ingin membuktikannya pada keinginan saya yang lain yaitu #kulkas2017. Naha dari jodoh kana kulkas? Ya karena sama-sama keinginan. 

Seingat saya, dari bayi brojol, budaya "punya kulkas" ini sudah menempel dalam keseharian. Kulkas jadi salah satu jalan untuk mendapatkan makanan dan minuman yang diinginkan, kulkas jadi salah satu tempat penyimpanan makanan dan minuman yang belum diolah maupun yang masih tersisa. Di rumah Cimahi saya akrab dengan 3 kulkas. Mulai dari kulkas Putih yang jadul. Lalu si Putih berkolaborasi dengan si Abu. Putih dan Abu biasanya dinyalakan bersama saat bahan makanan begitu banyak. Ada event atau sedang berlebih. Sampai akhirnya kulkas Putih nasibnya sudah tak tertolong lagi karena telah diperbaiki bolak-balik dan usia. Kulkas Abu hidup sendiri sampai akhirnya rusak dan diganti dengan si Abu generasi 2. Si Abu versi lama tentunya tidak langsung dibuang tetapi dialihfungsikan menjadi lemari perabot. Jadi sampai sekarang, si Abu lama tetap berkolaborasi dengan si Abu baru. 

Lalu saya sempat setahunan kost. Masa ngekost saya tak punya kulkas, tak punya kompor dan juga segala perabot memasak. Beruntungnya, berkat jasa baik udunan para penghuni kost terdahulu, saya bisa pakai kompor bersama, katel bersama, panci bersama dan pernakpernik masak bersama lainnya. Dannn, saya bisa pakai sebagian kecil kulkas milik ibu kost secara gratis asal berani malu dan jam operasionalnya terbatas. Mengapa kulkas dilengkapi dengan paket malu? Karena, ternyata, sebelum saya, tidak ada anak kost yang berani rutin nebeng kulkas ke ibu kost! Saya baru tau fakta tersebut setelah  beberapa bulan nebeng kulkas. Tapi ya udah lah ya lempeng aja. Toh ibu kost mengijinkan dan saya butuh juga sarana tersebut. Dan mengapa jam operasional kulkas tersebut terbatas? Karena kulkas ibu kost disimpan di area yang berbeda dengan area kosan. Tepatnya disimpan di kosan sebelah yang dihuni oleh ibu kost. Jadi kalau mau ke sana, perlu nyebrang dulu, melewati tempat jemuran dan buka pintu "rumah sebelah". Ibu kost biasa tidur cepat. Sekitar jam 9 sehingga pintu rumah sebelah biasanya dikunci jam 9. Bahkan lebih cepat. Atau belum terkunci tetapi ibu kost merasa terganggu bila ada yang keluar masuk ke rumah sebelah saat dia bobo cantik (terungkap melalui obrolan pagi saat menjemur baju). Sedangkan saya dulu kadang pulang malam dengan perut lapar dan pengen makan. Yang mana  bahan makanan saya sebagian tersimpan di kulkas. Atau saya udah makan di luar dan ga laper, tapi bawa balanjaan yang butuh disimpan segera di kulkas. Ada juga masanya saya menggunakan kulkas melebihi kapasitas yang diijinkan karena kedarurotan. Ini juga bisa jadi perkara sama ibu kosan. Ya gitu deh cerita suka duka nebeng kulkas mah. Namanya juga nebeng! Pasti ada batasan dan berbeda dengan punya barang sendiri. 

Kenapa sih ga beli kulkas sendiri dan simpen di kamar kosan aja? Selain belum punya uangnya (kalopun ada, biasanya kepake buat prioritas lain), di kosan emang ga boleh simpen kulkas di kamar. Kegedean watt nya. Itu alasan yang diungkap oleh salah satu sesepuh kosan. Kosan kami kan kosan rakyat jelata~ Tapi rakyat jelata yang beruntung karena masih boleh nebeng rutin kulkas dan deket pisan sama akses angkot dan akses gaol di kota Bandung. Suatu kondisi yang perlu disyukuri. 

Setelah menikah dan pindah kontrakan selama 7 bulan ini, saya akhirnya putus hubungan dengan kulkas. Alias gapunya kulkas di kontrakan! Tapi alhamdulillah punya perabot lengkap memasak. Ya memang belum lengkap-lengkap amet seperti di rumah Cimahi atau belum selengkap temen-temen yang nikahnya udah bertahun-tahun. Tapi cukup pisan untuk memenuhi kebutuhan dasar memasak. Segitu ge Alhamdulillah. Hidup berjalan biasa aja karena akses ke pasar dekat sekali. Bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki tanpa lelah. Begitupun jarak ke supermarket gede macem Griya dan Superindo. Tepatnya kontrakan kami ada di gang sebelah Griya. Akses ke macem-macem tukang makanan jadi juga dekat. Kurang strategis apa coba aksesnya? Butuh apa-apa tinggal ngesot (Asal ada uang tentunya). 

Tapi ya gitu aja manusia mah, selalu punya keinginan termasuk keinginan untuk punya #kulkas2017. Lalu mulailah si Anil cari-cari alesan untuk beli kulkas hehehe. 

  • Mulai dari: kan biar ga tiap hari bolakbalik ke pasar. 
  • Lalu disambung dengan: sayang nih makanan suka bersisa, kalau disikat abis, gendut dong! 
  • Atau: ada bahan-bahan yang kalau dibeli ukuran besar lebih hemat, tapi dia perlu disimpen di kulkas. 
  • Ada beberapa makanan yang bisa distok biar praktis tinggal sreng macem nugget, bumbu pecel  dkk. 

Begitulah manusia kalau udah punya keinginan, bisaaaa aja bikin alesan. 

Tapi akhirnya si kulkas belum terbeli juga sampai sekarang. Alasan klasiknya tentunya BELUM PUNYA UANG. Uang ada, tapi biasanya kepake terus untuk hal lain yang lebih prioritas. Alasan tersebut sangat jelas dan terukur. Gimana kalau uangnya ada? Mungkin ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. 

  • Pertama: itu kulkas mau ditaro dimana? Kontrakan kami kan kecil tapi imut. Begitu ditambah ditambah 1 barang baru makin sempit kayanya. Berikut kalo pindahan (yang belum tau kemana dan kapan), lumayan ribet juga kayanya. 
  • Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah konsekuensi biaya listrik yang perlu dibayar. Kalau lihat tetangga kontrakan kami, yang sama-sama pakai token dan punya kulkas, kejadiannya adalah: baru beberapa hari isi token, lalu udah nyala lagi alarmnya. Nuuuut, nutttt gitu aja terus berulang peristiwanya. Saya ga bener-bener ngitung berapa harinya dan juga males nanya usil berapa rupiah voucher listrik yang dia beli. Tapi nut-nut-nut alarm itu ganggu banget sodarasdari! Bisa berhari-hari. Jadi, kelanjutan dari punya barang misalnya "berapa biaya listrik yang perlu dibayarkan" penting dipertimbangkan nih sebelum beli kulkas. 
  • Hal lain yang perlu diperhatikan adalah: yakin ga neh perlu kulkas? Dari pengalaman tinggal di rumah Cimahi (tapi ga kejadian saat tinggal di kosan), kok kulkas seringkali jadi "tempat sampah sementara" bagi sisa-sisa makanan dan bahan makanan ya? Numpuk segala hal dan kadang sampai lupa ada makanan tersebut. Nyelip diantara tumpukan makanan lainnya. Atau ada benda yang begitu disayang-sayang, tersimpan lama dan akhirnya gak kemakan dan keburu kadaluarsa. Jadi punya atau ga punya kulkas, tentunya perlu manajemen makanan yang baik. Bukan boleh beli banyak-banyak dan nimbun lama-lama juga dong!

Jadi, punya #kulkas2017 atau engga ya?
Atau ada yang mau nyumbang kulkas buat di kontrakan kami? TETEP UJUNGNYA hahahaha.


Gambar dari sini


Punya pengalaman seru berkulkas? Ayo dibagi-bagi atuh!


Thursday, 29 June 2017

Menepi dan Ambillah Jeda

Di kala perasaan makin tak nyaman, macam-macam reaksi orang. Ada yang tau-tau ngamuk, protes dengan cara keras ataupun halus. Bisa juga bereaksi dalam bentuk jenis tindakan lainnya yang pada intinya menyatakan bahwa "saya tidak nyaman dan tak setuju akan hal itu".

Ada juga yang kemudian diam. Diam pun macam-macam. Ada yang diam tapi di baliknya menyimpan energi buat melampiaskan ketidaksukaannya terhadap sesuatu, bisa dengan mengeluhkan kondisi ketidaknyamanan tersebut pada orang terdekat, mencurahkannya dalam tulisan fiksi atau karya seni lainnya. Reaksi lainnya, bisa juga diam tapi diam-diam mengajak orang lain untuk mendukung pendapat dirinya dan akhirnya memperkuat kondisi ketidaknyamanan tersebut.

Diam yang lain bisa juga berarti "tak nyaman tapi tak peduli". Setelah tidak nyaman, ya sudah tetap dijalani. Bisa karena orangnya pasrahan, gamau ribut, atau memang dia tak punya pilihan lain lagi. Akhirnya memilih untuk diam di tempat karena tak bisa keluar dari kondisi tersebut. Atau bahkan tak tau bahwa dia sebenarnya bisa atau boleh memillih untuk keluar dari kondisi yang tidak nyaman.

Ada lagi orang yang tipenya justru penasaran ingin mengubah kondisi ketidaknyamanan tersebut melalui pengaruh yang dimilikinya. Bisa oleh perkataan, tindakan atau kekuasaannya. Tentunya ini salah satu tindakan yang asyik dan solutif. Ketidaknyamanan justru jadi tantangan yang seru buatnya!

Masih banyak lagi tingkah polah orang-orang saat menghadapi kondisi yang tak nyaman buatnya. Sangat tergantung dari tingkat keparahan ketidaknyamanannya, juga tergantung kondisi mental dan fisik orang tersebut pada saat serangan ketidaknyamanan melanda. Dan sedikit banyak dipengaruhi oleh latar belakangnya. Pendidikan formal, informal dan pengalaman semasa hidupnya tentunya sangat berpengaruh.

Namun, ada satu pilihan lagi sebelum akhirnya mengambil tindakan akan ketidaknyamanan yang mulai dirasakan yaitu: menepi dan ambillah jeda.

Foto dari: bit.ly/menepi



Kamu biasanya melakukan jeda dengan cara apa?

Sunday, 11 June 2017

Hanya untuk Kepantasan

Sehari sebelum mulai puasa, saya belanja ke sebuah supermarket. Hanya 2 item sesuai dengan kebutuhan. Makanya gausah nenteng keranjang. Saya dan suami seringkali beli ini itu di toko tsb. selain dekat, juga sekalian jalan-jalan.

Yang berbeda dari biasanya, antrian malam itu super panjang. sampai ke lorong-lorong. Nah karena panjang, ya bosen nunggu, ya gatau mau ngapain. Kalo gasalah, malam itu saya ga bawa hape. Mati gayalah. Tapi justru jadi nemu hal yang "menarik".





Pas antri, akhirnya terjadi pembicaraan sama seorang ibu-ibu yg antri depan saya. bla bla bla dan ujungnya dia tanya saya: "Kok belanjanya hanya 2 barang?" Ya saya jawab, memang butuhnya hanya ini aja. Pas saya amati lebih detil lagi, malam itu memang yang belanja banyaaakkk, isicbelanjaannya juga banyak. Makanya, orang semodel saya yang hanya nenteng 2 item barang, jadi terlihat seperti alien.

Si ibu ngerasa watir apa gimana ya, sampe nanya kaya gitu.

Pas pulang, saya cerita sama suami tentang obrolan sama si ibu itu. Saya nanya kan: "Emang aku segitu mengkhawatirkannya ya, beli barang 2 biji dan sampai ditanya sama si ibu?"  Dan swami menjawab dengan enteng: "Emang iya."

Hahaha, lalu saya makin merasa seperti alien. Ya abis gimana, kalo butuhnya 2 biji yamasa perlu beli banyak-banyak hanya untuk kepantasan depan orang lain.

Wednesday, 31 May 2017

Negara-Negara

Saat ini berbagai negara sedang dilanda kekacauan. Krisis terjadi di mana-mana. Semua warga negara panik karena berlomba-lomba untuk mengejar ketertinggalan yang terjadi.


Foto dari sini


Mengapa kondisi ini bisa sampai terjadi? Di awal-awal pendirian negara, sudah dirumuskan tujuan negara tersebut dan cara mencapainya. Tapi terjadi banyak kebingungan yang bahkan beberapa warga negaranya teu-bingung-bingung-acan. Waktu malah habis untuk mengerjakan hal-hal lain. Hal lain itu bukan tidak berguna, yatapi tak langsung berhubungan dengan tujuan negara tersebut.

Hal-hal yang dilakukan beberapa justru kreatif, seru, dan asik. Kegiatan menyenangkan tersebut dilakukan untuk mengisi waktu dan menghalau kebingungan yang samar-samar melanda.

Tau-tau terjadilah krisis di negara-negara tersebut. Pada waktu yang sama. JRENG!

Yang paling pusing adalahhhh orang yang dobel kewarganegaraan. Di setiap negara, dia perlu hadir untuk mengatasi kritis. Waktu untuk pindah-pindah antar negara saja sudah cukup menghabiskan waktu, menyita emosi dan perhatian. Belum lagi proses menyelesaikan aneka krisis dalam satu waktu. Orang-orang inilah yang akhirnya kepalanya hampir meledak, stres dan akhirnya berujung pengen-tidur-dua-bulan.

Wednesday, 24 May 2017

Pendidikan dan Sekolah

Pendidikan tuh harus selalu berbentuk sekolah ga? 

Sepengalaman saya selama 10 tahun kemaren di ypbb (kerja yg lebih banyak berupa belajar sambil maen, botram dan ngerumpi) dan ngikutin event-event-an, jaringan dan ekskul lainnya: JAWABANNYA ADALAH: PENDIDIKAN TAK SELALU BERBENTUK SEKOLAH. 

Justru kegiatan setelah beres pendidikan formal itulah yang jadi sarana pembelajaran yg serrrruuu! Seru pas lagi gembira + senang maupun kadang seru sampe hayang-syare-welah pas lagi nemu kondisi yg menantang. 

Foto dari sini


Termasuk dalam hal membangun relasi pertemanan dan juga dengan lawan jenis pun mengandung banyak pembelajaran di dalamnya #seriusan

Jadi: TONG SARAKOLA WAE KITU? 
Pilihan bebas itu sih. Tentunya tak ada yang sia-sia ketika seseorang memutuskan untuk menjalani pendidikan formal dan tak salah juga kalau seseorang memilih untuk tidak bersekolah tapi tetap belajar dengan jalan lainnya. 

Tuesday, 23 May 2017

Copas Grup Sebelah

Puasa medsos mungkin lebih gampang dari puasa wasap. 

MUNGKIN. Karena belum saya coba. 

Wasap: salah satu aplikasi yg menyihir sehingga bikin ateul pengen cek henpon wae. 
Mulai dari grup kerjaan yang bercabang-cabang, grup pertemanan, grup aneka ekskul dr tema botram sampai tema menulis, grup alumni-alumnian sampai ke grup keluarga. 

Foto dari sini


14? 16? 18, 20 ataukah 28?!? Entahlah udah brapa grup yg ada di henpon ini. 


Wasap pula lah yg akhirnya menjadi alasan kuat (atau entah diada-adain) untuk beralih ke henpon android dengan spek lebih tinggi. "banyak grup, heng wae" begitu alasan saya. Dan "wasapnya udah gabisa apdet lagi. Gawat nih". 


Grup itu kadang menghibur, kadang bikin bahagia, sering banget ngeluarin notif, kadang bikin pengen tidur-2-bulan, kadang bikin kebodohan terjadi karena salah chat di tab yg bukan dimaksud, kadang bikin semangat, kadang bikin kezel, sering bikin album foto dan video penuh bahkan-tanpa pernah-saya-tonton-videonya, grup kadang bikin tau info terkini, grup kadang bikin tau gosip terkini mulai dr gosip penting sampai yg ga penting, tapi yaaaaaa kadang ada masanya GRUPGRUP PENUH DENGAN COPAS DARI GRUP SEBLAH! 

Yang mostingnya terpercaya: biasanya dibaca. 
Yang udah diposting di aneka grup: ya dimaklumin aja. 
Yang postingannya pimatakeun: kadang sebel tapi ga bisa ngapa-ngapain, kalo lagi niat dan kebenaran admin grup tersebut maka langsung weh ngasi kartu peringatan, tapi kalo lagi hoream ngapa-ngapain yaudah antepkeun wehh kumaha maneh.



Monday, 22 May 2017

Plus Minus

Dalam hidup ini kita boleh memilih. Ada yang milih bersama dan ada yang milih tak bersama. 

Bila memilih untuk bersama, tentunya perlu potongan KEPENTINGAN yang sama dan hasilnya diharapkan menjadi kebahagiaan bagi banyak pihak. 

Potongan kepentingan yang sama itu bisa disebut TUJUAN bersama. Tujuan bisa tertulis ataupun tersirat. Bukan perkara itunya yang penting. Karena sesuatu yang tertulis kadang kenyataannya tidak selalu disepakati. Dan seringkali tujuan yang tersirat bisa diamini oleh semua. Yang penting adalah: setiap individu yang memilih untuk bersama, punya potongan kepentingan yang sama. 

Namanya juga potongan, pasti ada sisi kepentingan-kepentingan lain yang berbeda dari kumpulan orang-orang tersebut.

Apakah perbedaan yang ada itu bisa jadi NILAI PLUS? 

Kalau perbedaan itu bisa mendukung pencapaian tujuan tentunya BISA. Tapi kalau perbedaan itu malah berpotensi menimbulkan perpecahan, ya lebih baik kita abaikan saja dan jadikan perbedaan itu bab yang tak perlu dibahas dalam kebersamaan supaya tidak menjadi NILAI MINUS. 


Foto dari sini