Sunday, 15 September 2019

Pekerjaan Domestik?

Salah satu yang masih menjadi tantangan saya saat ini adalah PR alias pekerjaan rumah tangga. Atau orang biasa sebut pekerjaan domestik.

Mengapa demikian?

Sebetulnya beban tersebut tidak hanya terasa setelah menikah, namun mulai terasa ketika mulai keluar dari rumah alias ngekost.

Saya begitu terbiasa dengan layanan pembantu sejak kecil. Memang ada beberapa pekerjaan rumah yang tetap saya dapat lakukan. Sesederhana mencuci piring bekas makan sendiri sih kecilll lah. Tapi di luar daripada itu, tidak ada satupun pekerjaan rumah yang saya minati.

Kalaupun pekerjaan rumah itu saya lakukan, biasanya tujuannya adalah hal yang lain. Misalnya supaya ga diomelin dan sejenisnya.

Ada masanya di rumah tidak ada pembantu, tapi masa tersebut biasanya tidak panjang. Jadi dilakukan saja karena memang harus dilakukan. Terutama pada saat lebaran, tentu pembantu pun libur. Seingat saya, masa terpanjang tidak ada pembantu adalah karena sulit cari pembantu. Entah bulanan atau mencapai hitungan tahun. Ditambah bonus mesin cuci yang rusak. WOWWWWW. Tapi badai tersebut akhirnya berlalu.

Jadi secara keseluruhan, saya terbiasa bebas beraktifitas tanpa perlu memikirkan tetek bengek urusan cucian, setrikaan, bersih-bersih rumah ataupun memasak.

Sejak pindah ke kosan, mulailah urusan pekerjaan rumah itu menjadi beban. Tempat cuci piring yang kurang nyaman, tidak langsung bersebelahan dengan tempat masak, membuat saya kadang menunda adegan cuci piringnya. Cuci baju juga bencana wwkw. Sampai-sampai pakaian sudah direndam lebih dari sehari semalam hanya karena satu kata sakti yaitu MALAS. Belun lagi setrikaan ahahhaha. Semua baju yang telah saya cuci, lipat dan masuk ke lemari baju. Adegan setrika hanya terjadi pada baju tertentu dan biasanya sebelum berangkat. Sesuai kebutuhan ajalah. Sapu dan pel kamar kosan? Jangan ditanya. Hanyalah dikerjaan pada saat-saat mood sedang sangat baik.

Kesimpulannya: Ampun deh betapa ancurnya prestasi saya dalam pekerjaan domestik saat ngekos.

Saat mulai menikah, bencana lainnya terjadi. Saya yang benar-benar selektif dalam mensetrika baju kemudian memiliki suami yang terbiasa baju tidur pun disetrika. Standar hidup yang tinggi dalam dunia persetrikaan. Belum lagi urusan mencuci. Waw, jadi 2 kali lipat kan jumlahnya. Urusan cuci piring juga perkara banget. Memang tempatnya bersebelahan dengan tempat masak, tapi gada bak cuci yang bisa sambil berdiri. Masak? Suami hanya bisa pasrah dengan masakan yang sangat alakadarnya dari si istri yang berupaya sholehah ini. Rasanya prestasi saya lebih buruk dibanding saat ngekos.. AMPUN DEH.

Namun biar bagaimana pun semua pekerjaan itu perlu dilakukan. Sampai akhirnya saya bertemu dengan postingan ibu Septi pendiri IIP. Saya kira manusia sehebat bu Septi tentu tidak punya hambatan dalam mengerjakan pekerjaan domestik. Nyatanya setrika dan masak adalah 2 tantangan terhebat. Saat ini, 2 tantangan tersebut yang sedang dipecahkannya. Caranya dengan BERDAMAI. Mencari cara supaya menemukan cara yang asyik saat melakukan adalah kuncinya. Contohnya setrika. Setrikanya sendiri tak usah dipungkiri merupakan kegiatan yang membosankan, tapi ibu Septi mencoba mengkombinasikan dengan nonton youtube favoritnya. Saya pun secara insting melakukan itu. Hanya saja beda derajat tontonan ibu Septi dengan saya ahaha. Saya sih ada di level nonton serial Korea.

Manfaat yang saya dapat, walau lambat, tapi setrikaan bisa dicicil film akhirnya tamat. Karena nonton pun, kalau ga disambil setrika, seringkali hanya bertahan beberapa menit dan berakhir dengan merem.

Dengan kasus setrika itu, saya jadi belajar bahwa tak perlu memungkiri bahwa kita tidak menyukai sesuatu. Namun temukan cara yang tetap asyik dalam melakukannya bahkan kalau perlu ada nilai plusnya. Misalnya serial korea tamat adalah nilai plus bagi saya.

Anda punya pengalaman sejenis dalam menyikapi pekerjaan rumah tangga? Yuk dibagi~

Monday, 10 June 2019

Perayaan Ultah?

Mulai berasa tua itu saat mulai masuk umur 30. Saat itu dikasi ucapan
selamat ulang taun dan dikasi pesan sponsor dari orangtua untuk segera
menikah. DWARRR. Kalau dipandang dari pola orang-orang pada umumnya, umur
30 biasanya emang lagi pada anteng ngurus anak dan kerja yg bener. Di saat
yang sama, kerjaan yang sedang dijalani dipandang bukan kerjaan yg "bener".
Bener tuh maksudnya gajinya relatif cukup, punya pensiun, atau si tempat
kerjanya minimal berprospek akan ada dan terus berkembang.


Ngurus anak? Gimana mau anakan, pacaran aja asa engga saat itu teh. Yang
ada ngurusin relawan, staf, event. wkwk. Bukan tidak berniat menikah, tapi
ya belum saatnya weh meureun.


Dan makin terasa tua lagi setelah ngisi presensi saat kunjung ke Bandung
Planning Gallery. Kenapa? Karena ditanya umur. Biasanya tinggal tulis aja
kan ya. Nah di form isiannya dikasi rentang-rentang umur. Trus yang cocok
yang cuma rentang 35-45. Sesaat sesudah nyontreng form berasa tua. Ga
terima kenyataan bahwa udah 1 genk sama orang-orang yang kepala empat
wkwkw. Masi banyak mau, masi pengen main dan masi pengen coba ini, coba
itu.


Jadi tanpa disadari, makin lama, perayaan ultah justru makin mikir: udah
umur segini teh nanaonan wae nya. Sudah sebesar apa manfaat yang diberikan
buat orang lain? Sudah punya prestasi apa saja? Sudah kukumpul bekel buat
di akhirat apa aja.(serem tapi da emang jd kepikiran). Makin peliq ya saat
melewati saat-saat ulang taun (kringetan).


Beda banget rasanya sama waktu ulang taun saat kecil. Juga saat remaja dan
saat remako wkwwk. Dulu ultah tuh riweuh organisir kado lah, kejutan lah
dan hal-hal seru lainnya. Pernah nulis juga tentang "perayaan" ultah di
sini.


Kalau anda, gimana memaknai perayaan ulangnya?


Sunday, 28 April 2019

Budaya Ngopak di Sumedang

Lebaran sebentarrrr lagi~

Pada tau lagu itu kan? Ya memang lebaran masih lama. Puasanya aja belumm. Tapi betapa sebagian orang mulai mikirin puasa, lebaran dan berbagai aspek yang terkait di dalamnya. Iklan di TV aja udah mulai ada sirop-sirop dan temen-temennya kan?

Salah satu persiapan lebaran di lembur Sumedang adalah ngopak. Bukan beli opak atau ngemil opak! Tapi bikin opak!

Di lembur saya (ciee punya lembur) Nangkod, salah satu tradisi yang mulai ditinggalkan adalah budaya ngopak. Biasanya saat ada event istimewa, mereka akan bikin opak sebagai bahan hidangan maupun sebagai bahan kiriman dan berbagi. Event istimewa itu bisa berupa kegiatan syukuran, nikahan dan sejenisnya atapun lebaran!

Tapi seperti yang saya katakan di awal, budaya ini mulai ditinggalkan. Daripada repot-repot membuat opak, beberapa mulai ambil jalan pintas dan membeli opak yang sudah jadi. Padahal tradisi ini unik!

Salah satu bahan yang membuat opak jadi gurih adalah kelapa. Kelapa ini biasanya bukan hasil beli tapi ambil di pohon langsung. Pohonnya dari mana? Bisa ambil punya sendiri ataupun minta punya tetangga. Kejadiannya sih kemarin minta sama tetangga yang masih saudara. Tidak ditukar dengan uang, tapi nanti ditukar dengan opak yang sudah jadi. 

Kupas-kupas kelapa!

Ketan yang digunakan bisa beli di pasar, tapi bisa juga beli melalui jalur lain. Kemarin ketan dibeli lewat kakak ipar yang harganya agak miring, tapi dibeli langsung dari petaninya dan digiling. Ketan tersebut sehari sebelumnya direndam.

Yang unik lagi, ada semacam ketua pelaksana dalam kegiatan ngopak ini. Dia yang sehari sebelumnya sudah merendam ketan dan memastikan segala bahan ngopak telah tersedia. Dan masih diberi bonus jemur opaknya sampai tuntas. Orang seperti itu diperlukan untuk memastikan kualitas opak dan tuntasnya kegiatan ngopak. 

Ketan lalu dicampur dengan kelapa dan diproses dulu, ditumbuk sehingga siap dibentuk. 

Nutuan!
Sesudahnya sudah menanti beberapa ibu-ibu (beberapa diantaranya nenek-nenek) yang siap mencetak adonan tersebut menjadi opak. Ibu-ibu ini datang dengan sukarela tanpa dibayar. Mereka membantu proses pencetakan opak dan bahkan membawa ayakan besar dari rumahnya untuk menempatkan opak yang telah dicetaknya.

Awalnya dibentuk bulat-bulat
Kegiatan mencetak diawali dengan menggiling adonan. Lalu dibentuk bulat-bulat. Supaya hasilnya cukup seragam, digunakanlah tutup botol sirup. Botol sirup sebagai cetakan adalah inovasi masa kini. Pada generasi sebelumnya, dibuat tanpa cetakan, namun katanya tetap bisa dihasilkan bentuk yang cukup seragam.

Inovasi juga terjadi pada tahap selanjutnya yaitu tahap mendatarkan adonan bulat-bulan menjadi tipis layaknya opak yang biasa kita temui. Bila dulu digunakan alat pengepres yang dibuat dari kayu, saat ini cukup digunakan piring sehingga kegiatan cetak-mencetak jadi semakin mudah dilakukan. 

Pengepres opak

Piring sebagai pengepres opak
Opak yang sudah dicetak lalu tinggal ditempelkan di ayakan besar. Disusun rapi supaya cukup banyak opak yang bisa ditempel. Itulah sebabnya diperlukan banyak ayakan dan tidak perlu setiap orang memilikinya. Setiap pemilik ayakan dengan senang hati meminjamkan miliknya saat ada tetangga yang ngopak.

Tempel opak di ayakan!

Tahap selanjutnya adalah menjemur opak-opak tersebut sampai kering. Semua tentu bahagia bisa matahari bersinar terang di hari tersebut sehingga pekerjaan bisa selesai dalam sehari. Namun bisa belum benar-benar kering, besoknya proses penjemuran bisa dilanjutnya. 

Jemur Opak!
Kalau belum kering, opak biasanya dimasukkan ke dalam rumah sehingga tidak kehujanan ataupun kecipratan air hujan. 

Rumah tiba-tiba semarak opak!
Dan seluruh proses ngopak ini didukung oleh banyak pihak. Ini hanya sebagian yang terdokumentasikan. Setelah beres ngopak lalu peserta ngopak dijamu makan bersama. Nanti setelah opaknya kering, para peserta ngopak akan dibagi sedikit opak. Tentunya ini bukan upah karena jumlahnya tak seberapa. Tapi lebih kepada ungkapan terima kasih karena sudah mempercepat selesainya proses ngopak.

Sebagian peserta ngopak
Adakah tradisi seru lainnya jelang puasa dan Lebaran? Mari berbagi!

Tuesday, 12 March 2019

Sumbu Pendek

Pernahkah mengalami kondisi diri dalam keadaan sumbu pendek? Jarak waktu dari sebuah pemicu menuju ke kondisi "ledakan" sangat dekat?

Gambar dari sini


Saya? SERING wkkwkw.
Cenderung emosian dan pas emosi ga mikir. Tau-tau meledak. Kalau udah gitu biasanya grasak-grusuk dan cenderung kacau. Setelah peristiwa "ledakan" berlalu baru mikir. Kadang nyesel, kadang ga habis pikir dan biasanya berkata, "Tadi tuh ngapain sih sebenernya?".

Dalam satu kasus, kadang saya ga sampai meledak sih. Tapi kemudian kesel aja karena mengalami peristiwa pemicu yang berulang-ulang alias polanya sama. Pas udah ga kesel lagi, baru deh mikir alasan mengapa sampai rasa kesal dan gak nyaman itu muncul. Kadang yang bikin kesel bukan konten peristiwanya, tapi ya emang kurang suka aja sama orangnya. Pada peristiwa lain, keselnya ternyata karena si orang itu menyatakan hal tertentu berulang-ulang, tapi sebenernya hanya di permukaan aja. Bukan tentang pembelajaran apa yang penting kita tau akan hal tersebut. Atau kali lain, ya lagi bete aja sama masalah sendiri, jadi denger apa-apa juga rasanya kesel. Aneh dan misterius juga kadang orang-orang yang lebih mendahulukan perasaan dibanding logika seperti saya ini. Kadang suka heran sendiri sesudah kejadian. Pas kejadian, boro-boro mikir wkkwkw.

Pada kasus tertentu kadang kita marah, tapi sesudahnya mencoba mikir dalem, tetep ga nyadar kenapa bisa sampai marah dan emosian seperti itu. Pada kondisi yang agak parah, memang diperlukan bantuan orang lain untuk memfasilitasi kita sehingga penyebab kemeledakan tersebut diketahui. Orang seperti apa? Kalau curhat-curhat ke temen sih bisa sebagai pelepas ketegangan dan kemarahan yang ada. Tapi pada kondisi yang agak parah tersebut, apalagi saat dampak kemarahan mulai menyerang kondisi fisik, maka berkonsultasilah ke psikolog. Mereka sudah punya ilmu tersendiri untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tepat kepada kita dan metode untuk mendiagnosanya. Imej konsul ke psikolog rupanya cenderung dianggap negatif saat ini biasanya ya. Padahal ya ga usah takut dan malu untuk pergi ke psikolog. Namanya juga usaha. Psikolog bisa dipilih dari yang paling murah sampai yang paling mahal. Yang paling murah tentunya yang di Puskesmas. Puskesmas tertentu saja sih memang dan tidak praktek setiap hari.

Cara lain untuk mengetahui penyebab kemarahan itu dengan belajar. Iya betul belajar! Baca banyak buku yang terkait dengan kondisi kita. Atau cari video-video presentasi yang terkait dengan itu. Bahkan bisa sampai bikin causal loop diagram untuk menganalisis masalah yang sedang dialami. Emang kamu pernah nil bikin CLD untuk masalahmu sendiri? ENGGA SIH wkwkw. Tapi intinya, kadang kita marah dan kesel karena kurang elmu juga. Jadi kurang wawasan dan saat ada masalah mentokkk karena kurang belajar.

Apakah anda termasuk golongan bersumbu pendek juga? Yuk berbagi cerita untuk mengurangi dampak buruk dari sumbu pendek ini!

Wednesday, 6 March 2019

"Romantisme" dalam Tim Kerja

Pernahkah menjalani masa "romantis" dengan teman kerja? Kata romantis sengaja saya beri tanda petik karena kata tersebut bukan dalam artian yang negatif. Tapi lebih kepada relasi antar manusia yang  asyik sehingga pas kerja kerasanya klop. Klop untuk sama-sama mencapai target-target pekerjaan.

Saling melengkapi tipe kepribadian sehingga bisa menghasilkan karya adalah sebuah kemewahan dalam bekerja. Mengapa demikian? Karena nemu rekan kerja yang klop bisa sesulit mencari jarum dalam jerami. Alias susyah pisan. Baru akan ketemu setelah mencoba kerja bareng dan beberapa kali (atau bisa sampai bertahun-tahun) sehingga lebih kenal dan lebih tau dimanakah si potongan puzzle itu ditemukan.

Kalau sudah sering bekerja bareng, lama-lama juga kita akan paham kebiasaan si A, kondisi mana saat si A butuh bantuan, dan biasanya bantuan apa yang paling efektif dari kita untuk si A. Kadang membantu kalau ga tepat bisa mengacaukan loh wkkwkw. Malah tambah masalah baru.

Proses menemukan keklopan dan "romantisme" tersebut bisa dipercepat dengan mengetahui tipe kepribadian anggota tim yang terlibat. Lalu masing-masing anggota tim jadi tahu perlu bagaimana menghadapi tipe-tipe kepribadian atau kecenderungan cara bekerja satu sama lain. Tentu prosesnya tak selalu seindah dibayangkan. Kadang berujung dengan baper atau malah konflik kalau prosesnya ga mulus.

Terkait dengan fase-fase yang terkait di dalam tim, biasanya diawali dengan masa bulan madu. Selayaknya pasangan yang baru yang baru menikah. Ngerjain apa-apa bareng kerasa enakeun. Tapi lama-lama akan ada fase konflik. Tapi bila masa konflik itu dilalui dengan baik maka secara keseluruhan tim tersebut lambat laun akan berkarya dengan maksimal. Kalau ga berhasil mengatasi konflik tersebut, bisa berakhir dengan ada anggota tim yang cabut, baper dan hal-hal negatif lainnya. Mirip-mirip kisah percintaan kan ya?

Dan berbagai fase itu sempat saya icip-icip dan saksikan selama bekerja belasan tahun ini. Anda sempat merasakan juga "romantisme" bekerja dalam tim? Ayo berbagi ceritanyaaaa~

Ditulis untuk minggu tema #1minggu1cerita

Monday, 25 February 2019

Orange dan Semangat Baru #1minggu1cerita

Si oranye yang unyel-unyel ini terlahir dari tangan kaka Evva. Imut-imut gemesin!

Maskot 1m1c: Mingce

Beberapa perubahan di 1m1c belakangan ini terlahir dari 2 admin baru yang sedang semangat mempercepat perkembangan komunitas menulis ini. Evva yang bagian menggambar (dan juga bikin artikel di web secara rutin), para admin lain yang bagian memilih maskot yang sesuai. Pembuatan maskot bermula dari pembuatan logo baru, si orenye abu gemes ini.

Logo 1m1c

Warna oranye ini dirasa cocok pisan untuk mewakili semangat baru dalam pengelolaan komunitas 1m1c. Yang pernah kelola komunitas tentu pernah merasakan gelombang naik turunnya semangat menjalaninya kan? Sama halnya dengan mengelola 1m1c. Saya sebagai salah satu admin yang awalnya memiliki semangat untuk "yang penting bisa memfasilitasi diri sendiri biar getol nulis dan syukur-syukur bermanfaat untuk orang lain" kadang semangat-pakai-banget, dan kadang hoream-pakai-pisan dalam mengelola 1m1c.

Mengelola komunitas bersama dengan beberapa admin lain, tentunya menyimpan beberapa kisah mengesankan. Mulai dari keseruan, kebanggaan, kesedihan dan kebaperan bisa dirasakan dalam peranan tersebut.  Bekerja sama dengan beberapa admin yang bahkan beberapa belum pernah kenal dan bertemu di darat, bekerja dalam tim yang berbeda umur, latar belakang, tingkat aktivitas dan kesibukannya dan dilakukan secara relawanan tentunya menambah tingkat tantangan yang dihadapi.

Begitu pula dengan hilir mudiknya pada admin silih berganti. Itu juga memberikan banyak pembelajaran buat saya sendiri dalam membangun komunitas ini. Salah satu pembelajaran berharganya adalah bagaimana memupuk keberanian saya untuk membiarkan komunitas berkembang berdasarkan keinginan, minat dan waktu yang tersedia dari para admin yang sedang berada pada masa pengadminannya. Hal ini bukan hal yang mudah bagi saya yang terkadang cenderung ingin ngatur-ngatur orang wkwkkw. Tapi melihat perkembangannya, ini seruserusedap pisan. Dan biarkanlah berkembang secara alamiah.

Setelah Evva yang demen bikin berbagai variasi stiker dari si Mingce, kali ini pun 1m1c memiliki Reisha yang punya hobi (dan ambisi tampaknya kwkwk) untuk membuat web 1m1c makin canggih dari hari ke hari. Tujuannya tentunya untuk membuat para member 1m1c merasa lebih nyaman, betah di 1m1c dan makin getol nulis. Nuansa webnya pun segarrrr bernuansa oranye.

Secara umum proses ini bolehlah disebut sebagai proses rebranding supaya admin dan member makin semangat berkomunitas di 1m1c.

Untuk memperbesar pengaruh 1m1c, ada 2 admin baru yang masuk untuk mengelola medsos yaitu Via dan Ikhwan yang mengelola urusan fundrising. Mengapa perlu fundrising? Web 1minggu1cerita.id perlu dibayar iurannya setahun sekali dan mayarna kedah ku artos.

Tentunya juga masih ada 2 admin lama yang lagi salto dan bergelut dengan kehidupannya masing-masing namun masih setia mengawal 1m1c supaya makin menyebar manfaaatnya yaitu Darma dan Ajeng.

Lengkapnya tentang para admin 1m1c pada periode ini bisa diintip di sini.

Yang pasti, 1m1c masih eksis sampai tahun ke 5 (ga kerasaaaa), tak akan terjadi tanpa admin di periode sekarang dan periode-periode sebelumnya. Yang sudah dengan setulus hati mengawal perkembangan 1m1c di setiap periodenya. Apalah 1m1c tanpa kita semuaaa~






Friday, 1 February 2019

Memberi Pilihan

Rasanya udah lama pisan ga nulis tentang per #ZeroWaste an di blog ini.
Kenapa? Ya lagi ga pengen weh.

Etapi tergelitik dengan satu kondisi yang masih kurang ideal namun tetap memberikan ruang untuk para #ZeroWaster untuk milih. Yak! Sesungguhnya perubahan itu tidak bisa cepat, tapi menciptakan ruang alternatif adalah salah satu jalan untuk menuju perubahan.

Enaknya sih langsung aja bikin larangan akan semua sampah yang ga bisa diapa-apain itu. Kresek misalnya, kemasan plastik sachet yang berwarna-warni misalnya, kemasan gelas sekali pakai untuk kopi dll dkk. Tapi kenyataannya perubahan ga selalu bisa diciptakan dengan cepat.

Pada sebuah penyajian snack, saya menemui adanya beberapa jenis pilihan minuman yang kayanya sih tujuannya untuk "memuaskan selera" para tamu yang hadir. Mulai dari beberapa kopi sachet, sampai ke kopi tubruk dan gula dalam toples mini. Tapi rupanya memuaskan juga rasa-ingin-mengurangi-sampah-dari-awal yang semangatnya suka senen kemis ini.

Asalnya saya yang kadang mikir berapa kali untuk ambil kopi sachet, langsung sabettt begitu lihat ada kopi dalam toples. Yak belum tentu emang kopi tersebut dibeli menggunakan kemasan kertas atau kemasan plastik yang besar banget. Tapi setidaknya ga sachet banget lahhhhh. Sampahnya kan lebih banyak jadinya kalau sachet.


Pilihan lain yang disediakan juga ada di gelas. Disediakan gelas kertas (itu kayanya sih ga pure kertas ya, ga bisa didaur ulang oge) tapi disediakan juga cangkir. Otomatis dong saya pakai cangkir buat bikin kopi. Saya sambil perhatikan perilaku tamu yang lain (ngapain liat-liat orang? nya hayang weh atuh ahhahah). Ternyata walau udah ada cangkir, kebanyakan orang memilih pakai cup. Kenapa ya? Rupanya setelah iseng nanya muncul salah satu alesannya adalah karena cup itu nyimpennya beneran sebelah termos. Sedangkan si cangkir ada di sebelah kiri (ga kefoto si jajaran beberapa cangkirnya euy). Satu cangkir yang nyempil di dalam foto itu sih hasil saya mindahin sendiri. Tujuannya tentuww untuk memperlihatkan alternatif yang diberikan.

Jadi kayanya rangkaian peristiwanya adalah: pas masa snack datang, hayang ngopi, udah ga mikir lagi dan si tamu ambil yang paling deket aja sama termos sigana.

Yang lebih ekstrim semangat mengurangi sampahnya, justru mengantisipasinya dengan bawa kopi sendiri. Pakai misting mini. Ada temen yang kaya gitu soalnya. Baca 2 misting mini yang isinya kopi dan gula. Jadi kalopun di sebuah tempat dia ga nemu kopi sebagai sajian, atau kopinya kopi sachet doang yang tersedia, ya dia sih woles aja ngeluarin rangsum kopinya. TERNIATT KANNNN?

Etapi sebelum sampai ke situ, disediakan macam-macam pilihan kemasan dan penyajian pun udah memberikan angin segarrr bagi kami-kami yang ingin mulai mengurangi sampah dari awal ini.