Sunday, 28 June 2020

Sehat adalah Pilihan

Beberapa waktu yang lalu ada 2 hal yang menarik perhatian saya berkaitan dengan urusan makanan dan kesehatan.

Pertama bermula dari obrolan panjang di sebuah grup tentang sayur. IYA SAYUR. Sayur sebagai salah satu pilihan makanan dalam keseharian kita. Sayur kaitannya dengan pilihan selera makan para member di grup tersebut dan urusan memasaknya.

Hal kedua masih berkaitan juga dengan grup. Saya sempat gabung sekejap di sebuah grup yang membicarakan kaitan nutrisi yang masih ke dalam tubuh kita sehingga bisa menjaga kesehatan tubuh. Di grup yang kedua ini, prosesnya lebih searah karena bersifat pemberian materi dikombinasi dengan metode coaching. Setelah materi selesai maka grupnya bubar. Dan menimbulkan beragam pertanyaan di dalam kepala saya.

2 betotan tersebut membawa saya untuk mencari tahu lebih jauh tentang sayuran, nutrisi dan kesehatan. Dan pencarian singkat tersebut membawa saya pada sebuah artikel yang menceritakan tentang dokter yang unik yaitu dokter Tan Shot Yen. Unik karena, dari yang saya baca, saat praktek bu dokter mengumpulkan para pasien dan pengantarnya (yang biasanya keluarga) dan memberi ceramah tentang kesehatan dan kaitannya juga dengan asupan pada tubuh sampai 2 jam. IYA 2 JAM. Ga kebayang wkkw.

Dari situ lalu keidean untuk cari bukunya. Di mana? Tentu di Ipusnas. Gratis-tis, asal mau bersabar karena belakangan ini aplikasinya beberapa kali minta kita untuk sign in melulu.

Nemu 2 buku. Bukan buku utama yang banyak saat digoogling tapi dapet 2 buku lainnya. Yang satu bersifat lebih teoritis dan membedah tentang "mengapanya" (atau lebih tepatnya filosofis kali ya) dan satu lagi yang disertai dengan resep-resep makanan sehat.



Sedikit cerita masa lalu, berkaitan dengan urusan hidup sehat dan diet dan ngurusin badan, saya sempat mengalami penurunan badan dalam waktu 2 bulan sebesar 6 kg. Tanpa obat, tanpa beli produk-produk diet. Sebuah prestasi yang dilakukan dengan "ancaman" kesehatan karena saya tanpa sadar sudah tinggal selangkah menuju batas tidak aman kolesterol. Awalnya bukan karena peduli kesehatan sih, tapi ya ingin kurus. Kuncinya ya kesadaran akan ancaman kesehatan tersebut, disertai juga motivasi terselubung biar langsingg dan tentu tekad yang bulat dan kemauan mengeluarkan energi untuk sedikit mikir dan siapkan makanan yang lebih sehat.

Tapi sudah berapa tahun ini, berat badan yang lebih ideal tersebut sudah dadah-dadah ke saya. Tak ada lagiiii. Badan kembali melar karena segala dimakan. Sehingga membaca buku tersebut rasanya mengembalikan ingatan saya terhadap motivasi hidup sehat tersebut dan justru menambah pemahaman baru.

Apakah setelah baca buku tersebut saya langsung berubah? Setelah baca buku tersebut saya lalu makan karedok beberapa kali. Karedok terdiri dari potongan sayur mentah. Versi saya kemarin terdiri dari banyak terong, lalu ditambah dengan timun, kacang panjang, kecambah dan kol. Sayuran yang dipotong tipis-tipis tersebut diberi bumbu kacang.

Secara singkat, menurut bu dokter, makanan yang minim proses memasak dan bentuknya diupayakan sedekat mungkin dengan bentuk aslinya, akan lebih banyak memberikan manfaat bagi tubuh kita. Proses memasak dan pilihan bahan memang bagian yang banyak dibahas di buku bu dokter. Dan dengan memasak karedok tersebut, saya juga baru tahu kalau kacang yang disangrai ya enak-enak aja. Ga selalu harus digoreng.


Karedok. NYAM!


Lalu besok-besoknya gimana?

Tiba-tiba saya merindukan bala-bala :)
Di dalamnya memang ada sayurannya. Tapi prosesnya digoreng dan ada TEPUNG. Apa bahayanya tepung? Temukan di buku tersebut aja ya.

Memang kesadaran untuk hidup sehat itu perlu dipicu oleh pengetahuan dan kemampuan mengendalikan diri secara terus-menerus!

Hayu goreng bala-bala!
#eh


Saturday, 30 May 2020

Baca Lagi Yuk!

Selain namatin serial Koreya, di liburan lebaran kemaren (anggap weh punya liburan ekekeke) berhasil namatin 2 novel @okkymadasari.

Sebuah prestasi karena udah lama weh tara baca yang beratus-ratus lembar. Kalo liat igs dan wasap dan medsos lainnya mah bukan dikategorikan "baca". Menemukan kembali keasyikan baca dan kebetulan bangettt novel yang dipilihnya menarik.

Di salah satu artikel yg nyeritain tentang mbak Okky, dituliskan bahwa novel-novelnya ditulis untuk membangun pesan tertentu. Yang belum tentu langsung mengubah kebijakan misalnya dalam sekejap. Tapi berupaya membangun narasi alternatif sehingga pelan-pelan mempengaruhi alam pikiran pembacanya.


Kata kunci "narasi" lagi musim banget deh di kantor. Karena katanya kegiatan di lapangan itu tidak cukup. Perlu dibarengi dengan advokasi kebijakan sehingga lebih banyak orang lain yang mau melakukan (dalam hal ini pemilahan sampah) dan juga tentuuu perlu dibangun narasinya. Cenah kitu. Sampai pada dikursusin tentang membangun narasi di medsos itu seperti apa. Yang kesimpulan dari kursus tersebut adalah: WAHHHHHH, kudu kerja keras dan cerdas nih membangun narasi untuk melakukan perubahan sosial. Macem menanam keyakinan bahwa lebaran itu pakai sirop Marjan gitu lah. 


Ok, balik lagi ke urusan narasi yang dibangun sama Okky. Dalam Etrok dibahas isu perempuan yg berbeda dibanding perempuan yg hidup di jamannya. Dan nyelip di bagian-bagian ahir tentang gimana dampak "dicap sebagai PKI" bisa mempengaruhi kehidupan seseorang. Trus langsung keinget narasi utama di Indonesia yg dibangun lewat film G30S PKI. Kita tau lah ya siapa yg paling jago membangun narasi di jaman itu. Dari Sabang sampai ke Merauke bisa dibuat seragam semua pemahamannya.




Screen shoot dari Ipusnas


Kalau dalam Kerumunan Terakhir, isu yg diangkat lebih pada kaitan dunia maya dan nyata. Dunia maya ternyata bisa jadi dunia baru bagi si tokoh-tokohnya. Yang walau bagaimanapun "halu"-nya, kita tetap berpijak di dunia nyata. Mengingatkan saya untuk perlu cerdas memaksimalkan 2 dunia tersebut. 






Di akhir novel Kerumunan Terakhir lalu terlihat mbak Okky ini temenan sama mbak Tunggal dan Mbak Nieke. Saya sempat berinteraksi sejenak saat ada kerjaan beberapa tahun yang lalu. Dunia teh muter-muter aja di situ ternyata.  

Gitulah dongeng terkini dari aktivitas baca-membaca. Selain rindu aktivitas membaca, saya pun ingin kembali melatihkan ketahanan saat membaca (pasti beda kan dibanding baca grup chat misalnya) dan juga melatih kepekaan dalam berbahasa. Mulai dari yang sifatnya fiksi dulu biar ga pusing teuing mikirna. 

Buku terahir apa yg temen-temen baca? Ayo berbagi ceritanya!

Friday, 24 April 2020

Menjadi Pintar

Apakah menjadi pintar itu masalah?
Harusnya engga dong. Dengan kita menjadi pintar, tentu jadi lebih banyak hal bisa diraih.

Dalam pekerjaan misalnya, kita jadi bisa lebih efektif dan efisien saat tahu cara bekerja yang lebih baik. Akan memangkas waktu kerja kita, memberi kita waktu lebih untuk melakukan hal lain. Bisa sekedar untuk menambah waktu rebahan misalnya. Rebahan kalo pada porsi yang tepat bisa membuat kita lebih produktif loh. Ga selalu rebahan itu berpotensi negatif. Bisa juga waktu lebih tersebut dipakai untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga misalnya, beberes dan sebagainya. Kondisi rumah yang lebih tertata, lagi-lagi bisa membuat semangat baru dan produktifitas juga bertambah. Bisa juga waktunya dipakai untuk mengeskplor hal-hal baru. Mencoba hal baru, belajar hal baru yang ujungnya bisa membuat jadi makin pintar.

Menjadi pintar secara pengetahuan juga menjadi nilai plus buat kita. Ngobrol sama siapa juga jadi lebih nyambung. Orang merasa lebih asyik ngobrol sama kita karena merasa mendapatkan manfaat dari obrolan tersebut. Pintar juga membuat kita ga telmi dan cepat memecahkan masalah. Karena pintar yang tepat itu membuat kita bisa menggunakan tumpukan pengetahuan dan pengalaman yang sudah ada.

Kepintaran lainnya bisa juga dalam hal mengelola orang. Makin banyak anak buah, makin terkelola, makin banyak kerjaan yang bisa beres dengan hasil yang gemilang. Karena anak buah adalah aset yang berharga dan dikelola dengan tepat. Dengan pengelolaan yang tepat, syukur-syukur anak buahnya jadi ikutan makin pintar dan terasah potensi-potensinya.

Sampai di sini, kelihatan lah ya, bahwa menjadi pintar itu asyik untuk diri sendiri dan juga menebar manfaat bagi lebih banyak orang.

Namun menjadi pintar ini juga bisa jadi masalah. Bila jadi, kepintarannya baru di beberapa aspek dan bahkan baru mulai menapak naik menuju level kepintaran yang lebih tinggi. Ilmu yang dimiliki bisa malah jadi masalah baru. Bukan ilmunya yang salah. Bukan jam terbang panjangnya yang salah. Dan tentu bukan pengalamannya yang salah. Tapi bagaimana kita menyikapi kepintaran tersebut.

Masalah bisa terjadi misalnya pada kasus berikut ini:

1) Merasa lebih pintar dari yang lain.
Orang-orang lain dirasa tidak bisa menghasilkan kinerja yang lebih baik darinya. Bahkan masukan dari orang lain dirasa tidak penting. Gawat kalau udah kaya gini. Padahal mungkin benar kita menguasai suatu bidang. Tapi ada bidang-bidang lain yang belum dikuasai, yang mungkin bisa kita dengarkan sudut pandang lain dari orang yang menguasainya.

2) Merasa kepedeean
Bisa juga kita merasa pintar, padahal baru belajar level 3 nya aja, dari sebelumnya berada di level nol. Yang bahkan awalnya gak tau dan ga kepikir untuk belajar pengetahuan tersebut bahkan. Jadi sebenernya emang pengetahuan meningkat, tapi ternyata masih ada level 4, 5 sampai 20 yang belum sempat dipelajari. Lalu merasa percaya diri (pake banget) sehingga langsung aja kerjaaan-kerjaan dikerjakan pakai ilmu di level 3 tersebut. Dan parahnya pada kasus yang ini, merasa paling benerrr dengan cara tersebut. Apalagi kalau pernah mendapat pengakuan dari orang lain dengan cara tersebut. Makin terkonfirmasi dan percaya diri deh dengan cara dan kepintaran yang ada. 

3) Merasa cukup dalam belajar
Ini tipe yang lain. Sempat googling sedikit, belajar dikit, lalu merasa udah sangat paham dengan ilmu tersebut. Lalu ga dipelajari lebih lanjut, ga diulik, ga dipraktekin berulang untuk mendapatkan insightnya. O-ow! Ini juga bahaya. Karena merasa cukup ini adalah awal dari merasa pintar tapi berujung akan jadi yang paling "bodoh". Orang lain yang bahkan belajar suatu hal lebih belakangan tapi kemudian dia mempelajarinya lebih lanjut, bisa banget nyusul dan menghasilkan karya nyata yang lebih hebat.

 4) Merasa berpengalaman
Pengalaman juga termasuk harta kekayaan. Tentu bila dikelola dengan tepat. Kalau memang pengalaman tersebut direfleksikan dengan tepat sehingga akhirnya melahirkan samudera pengalaman yang lebih dalam lagi sehingga menghasilkan manfaat yang lebih besar. Namun kalau merasa berpengalaman itu malah menggiring kita masuk pada tipe 1, 2 dan 3 maka celakalah!

Begitulah refleksi pagi yang dipantik dari obrolan sore kemarin dengan seorang teman. Dan juga yang terpenting, bisa menampar diri saya juga untuk menjadi makin pintar namun bisa mengggunakan dan mengelola kepintaran tersebut dengan tepat. Sehingga saya makin bahagia, orang-orang di sekitar juga bisa mendapatkan manfaat yang lebih besar dari keberadaan saya.


Saturday, 28 March 2020

Work from Home?

Waktu itu, saat mengamati kasus corona di Wuhan, lewat berita di TV dan juga seliweran di medsos, sama sekali saya ga membayangkan bahwa si corona ini akan sampai ke Indonesia, bahkan ke Bandung (kota tempat kontrakan dan tempat kerja), Sumedang (kota tempat rumah sabtu minggu kami) dan Cimahi (rumah keluarga). Kebayangnya teh: AH ETA MAH DI CINA WEH. 

Juga saat mulai merebak ke berbagai negara, termasuk kasus di Italia yang cukup heboh karena banyak korbannya  juga masih mikir: AH ETA MAH DI LUAR NEGRI. 

Saat sampai di Indonesia pun, yang korban pertamanya diumumkan tanggal 2 Maret 2020, kumasih berpikir bahwa: AH ETA MAH DI JAKARTA. 

Lalu tambah lama rasanya tambah heboh. Dan buat saya sih puncaknya karena di kantor sampai bikin rapat untuk mengambil langkah sebagai lembaga untuk mencegah penularan corona ini. Namun saat itu saya masih juga mikir: APA GA KEMEWAHAN MIKIRIN KAYA BEGITUAN? 

Sungguh naif tapi begitulah kondisi saya terkait kasus tersebut. Untung kantor gercep (walo ga cepet-cepet amet karena perlu ngedraft kebijakan dulu panjang-panjang), jadi sejak itu staf dihimbau untuk memaksimalkan kerja online. Yang sebenernya Work from Home (WFH) udah dari dulu didengung-dengungkan oleh kantor sejak jaman dulu tapi saya sebagai genk esktrovert sanguin, tetep weh hobi ke kantor karena butuh berinteraksi dengan manusia. Dan merasa bahwa: kalo rapat online mah suka lieur dan mending ketemu langsung welah. Gitu tah pemikirannya. 

Beberapa hari setelah itu, saya masih sempat keluar rumah yang agak jauh sekitar 3 kali. Pergi ke pasar, ke Griya dan apotek gak masuk hitungan ya. Pertama ke BEC untuk service hp tapi gagal karena pokonya mending beli baru welah lieur (produsen HPnya udah tutup di Indonesia). Lalu balik lagi ke BEC untuk beli HP. Dan terakhir pergi ke Sakura untuk beli termometer. Sisanya ya ngendon aja di rumah alias ngejedog mun ceuk urang Sunda mah. Keluar rumah lainnya hanya diisi oleh aktivitas yang jaraknya ga pernah lebih dari sekilo dan bisa dicapai oleh jalan kaki dan kepentingannya sekedar belanja beli-beli bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya. 

JADI GIMANA NIL RASANYA DIAM DI RUMAH BERHARI_HARI? 

Rasanya cukup biasa aja. Memang ada yang hilang. Tapi segala komunikasi masih jalan sama temen-temen lewat segala saluran online.

SETRES GA?
Relatif engga karena stres cicing di dalam rumah mah sudah dirasakan saat mulai pindah ke kontrakan. Saat itu teh: mau ke kota, da hoream ku macetna. Belum lagi lebar ongkos. Belum lagi jadi punya jam malam. Asalnya? Nginep di kantor juga dijabanin demi bisa udar-ider dengan leluasa. 

Pada masa itu lumayan berat bagi seorang ekstrovert sanguin ini melakukan masa adaptasi. Pas sekarang disuruh di rumah wae, yaaaaaa so so lah. Ga terlalu berat-berat amat menjalaninya. Bosen ga? Masih aman lah sampai saat ini. Dari pengalaman yang udah-udah, saat diem di rumahnya sih kerasanya: yaudah lah ya, emang begini keadaannya, tapi pas udah ketemu orangggg dan ngobrol ke sana ke sini, rapat ini itu di darat, pulangnya kerasa: EMANG ENAQ KITU wkwk. 

Yang kerasa lagi, sebenernya rapat online itu cukup efisien. Terlepas backsound di kontrakan ini kadang ga oke semacem ada anak tetangga mewek ato stel musik keras-keras, rasanya gada perbedaan yang signifikan banget. Namanya juga ngontrak di dalem gang. Kecuali ya jadi ga bisa ktemu dan ngobrol-ngobrol nu teu penting tapi kadang bikin bahagia. Yang biasanya ngendon di meja makan kantor bisa sejam lebih  bersama genk botram wkwk. 

dadah-dadah dulu sama beberapa temen seperbotraman~


Rasanya, efisien ato engga mah bergantung kesiapan aja sih. Mau di darat atau di udara, kalo pikiran ga nyambung mah, angger weh tulalit. Karena pernah kejadian nih di darat pun, lagi rapat malah pegang-pegang HP, lalu eta teh ada beberapa bagian yang lost pas keur rapat. Ato kaya mendengar, tapi pas diskusi ga nyambung. Jadi yaaaaaaaa intinya mah fokus. Mau pake cara apapun. 

Perkara persiapan juga nih. Ada yang pas masuk ruang rapat teh, saat rapat di darat, ya belum baca bahan apa-apa, ga nyiapin apa-apa, ditambah perkara dateng kesiangan dan drama-drama lainnya. Kalau rapat online? NYA SAMA AJA. Ada yang persiapannya baik, ada yang memble. 

Belum nemu yang signifikan banget-banget, tapi ya tetep kumerasa kehilangan teman sepermainan yang kalo pertemuan di darat itu terjadi, rasanya hidup menjadi lebih lengkap. 

JADI LEBIH SUKA KERJA ONLINE ATAU OFFLINE? 

Mix aja yah. Da sebagai makhluk sosial tetep weh butuh relasi sosial dan pertemuan di dunia nyata. Idup pan isinya bukan kerja aja. Ada hal-hal lain juga yang perlu dibangun sehingga kebahagian menjadi lebih lengkap

#eaaaa

KERJA HEY KERJA, MALAH NGEBLOG!

haha, selamat meresapi dan menikmati masa-masa WFH ini :) 





 




Sunday, 15 March 2020

Identitas Diri dan Hiatus Bekerja

Ada yang pernah nonton film ini ga? Film Romance is a Bonus Book. Saat nonton film, saya ga pernah ngapalin nama asli pemainnya, dia pernah maen di film apa dan bahkan suka lupa weh pernah nonton film apa aja. Tapi yang diingat adalah kesan-kesan pentingnya.

Di film ini, isu yang menarik, yang diangkat adalah tentang betapa sulitnya orang yang sudah tidak lama bekerja di ruang publik. Setelah sekitar 7 tahun fokus mengurus anak, rupanya banyak hal yang tak lagi dia tahu. Padahal dulunya dia wanita pekerja di dunia periklanan.

Perkembangan jaman sudah begitu pesat. Sampai sesederhana istilah jenis minuman yang disingkat, yang semua orang di tempat kerjanya, itupun menjadi pelik buatnya. Bahkan pola pikirnya masih berkutat di pola kerja lama. Seperti hanya saat dia masih bekerja sebelum menikah dulu.

Tertatih-tatih mempelajari pola kerja dan pekembangan jaman, termasuk yang paling penting adalah membangun kepercayaan diri dan merasa dirinya penting dan dapat melakukan hal yang bermakna, menjadi hal yang menarik untuk ditonton.

Sambil nonton film ini, saya jadi teringat setidaknya 2 hal. Pertama saya teringat teman kerja saya yang begitu terampil berbicara di depan umum, lalu akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja karena mengurus kedua anaknya. Berhenti bekerja kira-kira 2 tahun, namun ternyata bisa membuat dirinya tidak percaya diri lagi untuk berbicara di depan umum. Sampai-sampai dia ikut pelatihan public speaking demi membangun kemampuannya lagi. Yang asalnya jago ngomong banget itu teh.

Saya pikir, hal tersebut seperti halnya keterampilan lainnya. Bila tidak dilatihkan atau dipergunakan rutin, ya akan agak sulit untuk melakukannya lagi. Tapi fenomena ini ternyata jadi fenomena yang berulang. Setidaknya saya temui di teman saya dan juga di film tsb.

Hal lain yang menarik tentang kepercayaan diri adalah tentang identitas. Dulu saya pernah diceritain tentang reaksi ibu-ibu di kampung yang malah pada ketawa-ketawa sendiri saat diminta saling memanggil nama aslinya saat pelatihan. Padahal pan itu namanya sendiri. Tapi rupanya itu pengaruh setelah sekian lama dipanggil "mamahnya Dodi" alias diidentikkan dengan nama anak atau "Ibu Budi" alias diidentikkan dengan nama suami, membuat mereka asing dengan namanya sendiri. Atau bahkan dirinya sendiri.

Di film itu itu juga diceritakan betapa tokoh utamanya merasa bangga karena di tempat kerjanya dipanggil namanya sendiri. Bukan perkara panggilannya sih menurut saya. Tapi merasa memiliki eksistensi dirilah yang membuatnya memiliki keberartian dalam hidupnya.

Ini baru nonton episode-episode awalnya. Entah selanjutnya ada hal menarik apa lagi. Selalu ada insight yang kepikiran saat nonton. Tapi seringkali tidak dituliskan tea.

Yuk nonton lagiii~



Thursday, 5 March 2020

Boros Waktu

Boros tuh identik dengan uang. Padahal "harta" kita yang berharga selain uang adalah waktu. Dan waktu ini seringkali tersia-siakan.

Saya coba ngedata, biasanya waktu jadi boros karena apa sih?

Pertama: kayanya karena kebanyakan melototin medsos. Pernah ga, kamu mau liat sesuatu, misal resep di akun yang emang spesialis nyediain resep masakan sehari-hari, dan emang mau masak si menu itu, tapi tau-tau udah 15 menit berlalu dan malah nyasar merhatiin hal lain di medsos? Ato pernah ga, cuma mau cek apakah ada email yang perlu direply cepet, tau-tau udah nyasar ke igs temen-temen kamu? Kalau pernah, berarti kita sama. Sama-sama boros waktu zzz.

Kedua: aneka kerjaan sekarang nyambungnya ke wasap. Baik komunikasi dengan teman 1 tim, satu lembaga maupun dengan para mitra. Saat lagi ngomongin kerjaan, pernah ga tau-tau malah ngobrolin makanan, atau bahkan drama korea yang lain hits? Saya sih pernah kwkwk. Ampun dah! Atau mau ngontak wartawan X misalnya, eta malah bales-balesin isu seru di grup sebelah? Saya juga pernah.

Ketiga: menunda niat baik. Poin kesatu dan kedua erat kaitannya dengan penyebab ketiga ini. Misalnya mau sholat nih ya, trus liat ada notif di HP. Kan gausah juga dicek langsung kan. Tapi nunda dulu tea dan "cek dulu ah". Lalu nyasarlah kita ke penyebab nomer 1 dan atau nomer 2. Kalau jaman kecil sih nyasarnya bukan ke penyebab 1 dan 2 (karena dulu cuma ada 1 telepon di rumah wkwk, boro-boro HP) tapi cukup sering nyambungnya sama urusan nonton TV. Disuruh sholat, alesannya: nanti kalo iklan. Disuruh makan: nanti kalau iklan. Disuruh mandi: jawabannya masih aja gitu.

Keempat: mager. Pokonya males gerak aja. Saya tau itu kebiasaan buruk. Terus, ya gatau kenapa. Pas baca buku Minimalis (siapa yang nulisnya ya? Pokonya orang Jepang) rupanya mager ini bisa disebabkan oleh banyaknya barang deket kita. Jadi rasanya sumpek dan bikin malesss. Kirain emang saya aja orangnya mager. Bisa kita bandingkan kalo kita nginep di hotel misalnya. Di kamar hotel kan cuma ada benda-benda yang fungsional. Beda dengan kondisi di kamar kita. KITA? ELU KALEEE. Iya, di kamar saya banyak benda yang teronggok. Yang sebenernya ga bener-bener fungsional dan itu ternyata salah satunya yang bikin mager. Menarik deh si buku Minimalis. Walo saya belum bener-bener mempraktekkannya, tapi ya minimal isi buku itu mulai mengganggu pikiran.

Kelima: silakan ditambah sendiri ya. Mari bagi di kolom komentar penyebab keborosan waktu temen-temen. Kalau kita tau penyebabnya, paling engga, mulai makin menyadari bahwa kita boros secara waktu dan terganggu untuk mulai mikirin cara mengatasinya.

Thursday, 6 February 2020

Motivasi Bekerja

Kebanyakan orang (mungkin) tujuan bekerjanya adalah cari uang.

Eits, jangan protes dulu karena itu anggapan yang ada di dalam kepala saya. Gak pake data-data-an.

Namun, lalu ada konsep bahwa bekerja itu bisa sesuai passion, ataupun bisa dilihat dari: seberapa besar irisan misi hidup kita dengan pekerjaan yang kita jalanin. Menurut penganut paham ini: buat apa ngerjain hal-hal yang ga sejalan dengan misi hidup kita? Cenah. Belum lagi ada konsep ikigai. Macem-macem lah pilihan dalam motivasi bekerja.

Dan saya termasuk yang berpikir juga bahwa: seru juga ya kalo kita bisa ngerjain hal yang seperti itu. Dan saya menjalani itu bertahun-tahun lamanya sampaiiiiii negara api menyerang.

Kondisi apakah yang terjadi? Pada intinya kemudian saya mulai merasa butuh uang. UANG! Ya tepat! Gak bisa hanya kenyang sama gaij yang kecil (pisan) dipadu dengan passion dan bla bla bla nya itu. Lalu mulailah saya mencari alternatif pekerjaan lain. Walau perjalanannya gak mudah.

Singkat kata, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil pekerjaan lain yang judulnya adalah MENCARI UANG. Segitu matrenya deh pokonya. Dan meninggalkan pekerjan yang cenah lebih sesuai sama passion. Ga ninggalin banget sih karena masih ada sekian puluh jam dalam sebulan yang tetep saya invest untuk tetep berada di sana. Biar relasi ga terputus pisan.

Nah, pada masa-sama itu, justru saya menemukan bahwa: OH SAYA GA SEGITU MATRENYA TERNYATAAA. Jadi ceritanya begini: saya saat itu punya uang yang lumayan cukup lah buat punya waktu dan uang untuk main, ngobrol dan nangkring-nangkring sama temen. Tapi pas saya ajak beberapa temen, pas mereka kok pada sibuk semua ya zzzz. Dan kerasa deh bahwasanya UANG BUKAN SEGALANYA. Walo tentu hidup di kota begini segalanya perlu uang ahhha. Tapi sepiii banget idup saat itu rasanya.

Sebagai gambaran. kalaulah yang disebut sebagai visi hidup, sebenernya saya mah gampangan anaknya. Asal dikasi kondisi kerja yang akrab, menyenangkan, dan yang memungkinkan bertemu dan berinteraksi yang berfaedah sama orang-orang: ya udah sempurna idup mah. Mau apa lagi coba.

Jadi saya baru nyadar bahwa: saya emang lebih matre dibanding jaman dulu. Kalo dulu: yang penting bisa berkegiatan weh. Kadang tidur di kantor juga jadi. Hahah, serebel itu. Kalau sekarang pan kudu mikir: pengen punya rumah, pengen ini, pengen itu. Jadi ya ga matre-matre banget juga deh. Standar aja segitu mah.

Namun, ada nilai penting lain (entah namanya visi, passion ato apalah itu namanya) yang juga penting dalam bekerja. Dan kalau gada si itu, rasanya hampa~

Temen-temen pernah ngerasain jungkir baliknya sampai ke titik itu juga ga? Ayo dibagi ceritanya!




Sedikit tambahan ilustrasi nih. Beberapa hari yang lalu saya nonton serial Korea (tentu disambil setrika biar rada efisien waktu wkkw). Dan di salah satu episodenya menceritakan bagaimana seseorang menemukan motivasinya dalam bekerja. Gosah nanya nama pemerannya ataupun nama di filmnya. Ga inget pasti nu karitu mah.

Dia anak dari bapak dan ibu yang berprofesi dokter yang memiliki sebuah rumah sakit. Sudah tentu ortunya pengen si anak nerusin dinasti kerumahsakitan tersebut. Sayangnya si anak ga minat dan nilainya juga ga cukup buat masuk kedokteran. Tapi si ortu keukeuh maksa untuk anaknya masuk ke dunia kerja yang terkait sama kesehatan. Akhirnya, dengan nilai yang ada, si anak masuk ke fisioterapi yang dijalanin ogah-ogahan saat kuliah, begitupun saat praktek kerja.

Pada suatu hari, si anak ini visit ke kamar pasien untuk terapi. Di ujung terapi, si pasien minta dikupasin apel. Dan si anak ini ngerasanya: napa guwa kudu ngupasin apel ya? kan itu bukan kerjaan terapis. Tapi tetep dijabanin walo hati ga nerima tea.

Besoknya pas mau visit lagi, si pasien udah maot. Dan akhirnya denger cerita dari istrinya bahwa, kmaren itu apel yang dikupasin adalah apel yang mau dihadiahkan buat si istri. Sebagai buah favorit si istri. Itu hadiah ulang tahun yang terakhir. Dan si pasien minta dikupasin karena dalam kondisi minim gerak, boroboro ngupas apel. Dan si istrinya juga tangannya sedang dalam kondisi sakit.

Meweklah si anak ini. Dan menyadari bahwa menjadi terapis adalah sesuatu yang bermakna dalam hidupnya (walau awalnya disuruh orangtua dan males dianya). Bukan semata memberikan jasa terapis, tapi di baliknya ada relasi dengan orang-orang yang menyentuh. Akhirnya "tobat" dan jadi lebih sungguh-sungguh mengikuti praktek kerja.

Gitulah kira-kira jalan orang untuk menemukan motivasi bekerja yang lebih dari sekedar cari uang. Kisah kamu gimana? Mari berbagiiii...