Sunday, 26 March 2017

Mix Moda Transportasi

Belakangan ini isu kendaraan umum online dan konvensional tampak ramai. Gak ngikutin bener ceritanya sih, yang pasti demo heboh pertama di kota Bandung ketika 9 Maret 2017 lalu sukses membuat saya kebingungan ketika mau berangkat kerja. Jalanan beneran gada angkot satupun. Mau minta dianter akang pun, dia udah kadung ada di Surapati dan mau segera rapat. 

Luak-lieuk baru jalan kaki pelan-pelan akhirnya ada bis kota melintas. Itu baru menyelesaikan setengah perjalanan. Setengah perjalanan lagi tiada bis kotanya. Bis kota di jalur tersebut diperbantukan ke daerah-daerah lainnya. Akhirnya saya nebeng bis brimob deh~

Dari peristiwa heboh yang saya rasakan di hari tersebut, saya jadi kepikiran: enaknya gimana ya supaya saya tetep bisa sampai tempat tujuan tepat waktu, nyaman dan aman? Tau sendiri lah ya kondisi jalanan di kota besar macem Bandung, yang macetnya udah makin ga keru-keruan. Ditambah layanan kendaraan umum pun... yang rasanya masih jauh dari harapan kita. 

Saya dulu full ngangkot dengan berbagai alasan. Namun di hari ini, rasanya saya gak bisa segitunya 100% full ngangkot lagi dengan berbagai pertimbangan. Jadi, yang dilakukan adalah mencoba mix menggunakan moda transportasi. 

1) Angkot
Angkot masih dipakai biasanya buat perjalanan pergi dari rumah menuju kantor. Waktunya lumayan lama, maksimal bisa sampai 1 jam. Tapi karena udah biasa (dan lebih murah dibanding ojek online) ya rasanya biasa aja. Malahan bisa sambil chating, scrol medsos, mikir bahkan nerusin tidur hehe. Perjalanan yang rutin (dan diskon ojek onlinenya ga sampai 50%) akhirnya ya pilih angkot. Hal lain di angkot adalah kita bisa menyaksikan drama-drama kehidupan. Dan bonus curhatan dari mamang supir angkot kalau kita milih duduk di depan. Kenapa saya bisa masih cukup nyaman naik angkot? Ini juga ditunjang oleh tempat tinggal yang tak jauh dari jalan yang dilewati angkot. Jaman di Cimahi, jalan kaki dikit lah menuju angkot. Pas di kosan, hanya 1 rumah menuju angkot. Pas di kontrakan Ujung Berung, sengaja dipilihkan kontrakan yang deket ke angkot sama akang. 

2) Ojek online
Ojek online dipakai untuk udar-ider terutama kalau banding-banding sama harga angkot lebih murah. Selain murah, soalnya kan dia lebih cepet dari angkot. Dan terutama banget kalo akan ke tempat yang jalan kaki dari turun angkotnya jauhhh. Kalau naek ojek biasa, harga suka nyekek juga sih. Entah gemana ya, ojek online kok bisa nemu model bisnis yang harganya bisa lebih murah dari ojek konvensional. Atau ojek online dipakai ke daerah yang sebenernya bisa naek angkot, tapi angkotnya muter-muter dulu jadi waktu tempuh lama pisan. Yang susah dari ojek online adalah kalau kita dari daerah yang dekat pangkalan ojek (potensial konflik atau gada yang mau ambil order dari kita). Susah juga kalau hujan. Huhu, jibrug lah kita atau tiada pengemudi yang mau ambil order. 

3) Bis kota
Bis kota cihuy juga ih untuk dipakai. Terutama kalau jalurnya cocok. Harga murehhhh dan khusus untuk TMB, pelajar dapet lagi diskon 50%. Sekarang kayanya semua bis kota sudah ber-AC. Bukan masalah dinginnya sih (kadang terlalu dingin malahan), tapi jadi takada asap rokok. Kalau di angkot, fasilitas bebas rokok kan hanya diperoleh di bulan puasa doang. Kalau pulang ke Cimahi sendiri, seru naik bisa kota. 2 trayek berturut-turut dan sampai langsung di jalan depan rumah. Kekurangannya tentu saja ada! Khusus TMB, hanya berhenti di halte saja dan jumlah kendaraannya kan ga sebanyak angkot, jadi perlu nunggu beberapa saat sebelum bis berangkat dari halte awal. 

4) Taksi online
Taksi online seru dipakai kalau dengan tujuan untuk memperingan biaya tapi pengen nyaman. Misalnya saat kita pulang rame-rame sama temen-temen. Kalau ga rame-rame, ya dompet siap-siap aja dikurasss. Atau bila ada keperluan mendesak untuk menggunakan mobil untuk bepergian, taksi online bisa jadi pilihannya, misalnya dulu pas bareng embah ketika mau ke Bogor, selagi ada uangnya mah, kesian atuh kalau diajak naik angkot. 

5) Kereta Api
Kereta api lokal di Bandung jadwalnya lebih jarang lagi dibanding bis kota. Dan kalau gak cocok dengan letak stasiun, ya wassalam aja. Tapi terakhir kali naik kereta api, sudah jauh lebih cihuy dibanding jaman dulu. Ber-AC (artinya tanpa asap rokok) dan banyak colokan listrik. Ya cocok lah untuk masyarakat jaman sekarang yang dikit-dikit ngecas. Kalau kereta api yang Jabodetabek (apa yang namanya? Jaman dulunya bernama KRL) itu lebih baik lagi: jadwalnya cukup rapat dan murah juga. Kereta api kelebihannya adalah tidak terjebak kemacetan kota. Sesekali cobain deh. 

6) Nebeng
Ini yang paling enak hahahaa. Gratis! Modalnya adalah punya temen yang mau ditebengin. Etapi bisa juga disepakati loh, terutama kalau perjalanan jauh, kita ikut sharing sebagian uang bensinnya. Tentunya itu berdasarkan kebiasaan saja. Bukan keharusan. Oiya, komunitas Nebengers masih ada gak ya? Jangan-jangan dia tenggelam setelah marak ojek dan taksi online. 

7) Dijemput suami.
Iya, dijemput suami juga opsi buat saya. Ini yang hampir rutin dilakukan setiap saya pulang dari kota. Menghemat uang iya. Menghemat waktu juga iya. Tau sendiri lah kemacetan di rentang waktu jam 5-7 sore.  

Itu mix moda transportasi yang biasa saya lakukan. Ini sebetulnya sejenis kepasrahan terhadap sistem transportasi kota yang "sakit". Coba diakal-akalin weh supaya tetep bisa mencapai tujuan dan tetep pro (walau saeutik) sama kendaraan umum. 

Dulu pas saya coba bis kota yang murah tapi layanannya lumayan, rasanya ko asik dan "mewah" dibanding layanan angkot. Temen saya yang punya minat di bidang transportasi lalu bilang, "Itu harusnya bukan mewah. Sudah seharusnya layanan aman, nyaman di bidang transportasi diterima oleh kita sebagai warga kota". Itu kata dia, gimana menurut temen-temen?

Saturday, 18 February 2017

Serunya Sesuatu yang Berlabel Pertama

Banyak hal seru yang terjadi saat melakukan sesuatu pertama kalinya. Dalam tempo waktu seminggu, saya pertama kali mencoba jadi fasilitator untuk sebuah materi baru pada lembaga yang baru juga. Hanya ada 1 kata: SERU. Apalagi ditambah waktu persiapan yang minim. Rasa canggung karena merasa kurang siap secara materi, belum hafal betul poin-poin apa yang perlu ditekankan, ujug-ujug peserta yang datang juga banyak, ditambah bonus beribetnya tampilan teknis di layar, membuat adrenalin meningkat saat pertama membawakan materi tersebut.


Fasilitasi pertama | Foto: Labtekindie

Deg-deg-an karena mempertaruhkan waktu yang sudah diinvestasikan oleh para peserta untuk datang sore itu karena tertarik akan isu yang dibawakan. Kesian kan kalo peserta sampai pulang dengan kekecewaan karena fasilitatornya teu baleg dan kurang membantu dalam memahami materi.

Tapi akhirnya cukup lega karena saat pertama itu telah terlalu dan memberikan beberapa catatan penting dalam diri saya, bagian-bagian mana saja yang perlu diperbaiki dan jadi nemu celah-celah sejenis "enaknya bagian ini gimana dibawainnya" dan "enaknya bagian itu gimana biar nyaman buat peserta". Ditambah dengan masukan dari supervisor yang luarrr biasa (saat saya fasilitasi, dia sambil menyimak brief-brief yang saya berikan dan paralel dengan itu, dia memimpin pertemuan juga di ruang sebelah).

Setelah fasilitasi pertama, saya dan supervisor menyempatkan ngobrol sejenak. Saya mendapatkan beberapa poin masukan dan lalu kami berdua membangun bersama strategi fasilitasi selanjutnya. Hasilnya fasilitasi kedua lebih mengalirrrr~  Saya merasa lebih nyaman dan peserta pada kesempatan kedua pun cukup kooperatif sehingga prosesnya seru!

Di fasilitasi kedua, peserta beneran pada bawa anak karena memang genk ibu-ibu

Padahal di pagi hari, sebelum fasilitasi kedua, badan rasanya lemes tak karuan. Memang hari itu menjadi h-1 mens tetapi rasanya makin ga keruan karena campur deg-deg-an karena takut fasilitasi kedua ini kurang sukses (terutama setelah mendengar profil pesertanya yang pada doyan coding. Rasanya udah ciut duluan takut ditanya-tanya berbagai hal terkait teknologi digital dan kawan-kawannya yang memang tak saya pahami). Sudah menyempatkan tidur sejenak sebelum berangkat pun, lemas badan tak hilang juga. Tapi segala rasa tak keruan itu akhirnya hilang begitu beberapa menit memulai fasilitasi dan peserta ternyata ga "menggigit" saya dan rasanya malah nyaman berinteraksi dengan dengan mereka.

Selalu ada saat pertama kita menjalaninya. Dalam segala hal. Rasa tak keruan yang terjadi pun akhirnya berakhir lega kita berhasil mendobraknya. Pokonya derrr weh heula lakukan maka akhirnya hal tersebut malah menumbuhkan keberanian untuk mencobanya kembali dan meningkatkan terus kualitas diri.

Apakah kamu punya pengalaman sejenis dalam menghadapi hal pertama lainnya? Yuk dibagi cerita serunya di kolom komentar :-)



Wednesday, 8 February 2017

Menghidupkan Proses Memaafkan

Salah satu masalah saya yang paling parah adalah kurangnya (gatau ga ada hahah) kemampuan untuk mendeteksi apa yang saya rasakan. Mungkin bisa mendeteksi, tapi kemudian telat menyadari.

Q: Makanan ini enak ga nil?
A: Enak.
Q: Itu enak ga?
A: Enak.

Gitu wehhh, semuanya enak. Antara seneng makan, yang penting kenyang dan penyuka segala kayanya sih.

Sama halnya dengan gini:

Q: Anil sukanya warna apa?
A: Apa aja aku mah. Yang penting fungsinya.

Aslinya gitu pisan.

Termasuk pusing kalo cari baju karena gatau harus milih yg kaya gimana. Padahal dengan duit yang ada, harusnya bisa dimaksimalkan cari baju yg terkece dan termanis.

Anil: Yuk anter beli baju!
Temen: Yuk!

Sampai di TKP

A: aku nunggu di kamar pas ya

Temen ngubek-ngubek nyariin baju yg sekiranya cocok dan bawa 3 potong. Lalu jalan ke kamar pas

T: Nih cobain!
Anil coba baju 1
A: Masuk sini ih. Liat, bagus ga?
T: Hmm lumayan. Cobain dong yang 2 lagi.

Begitu seterusnya. Saking hoream dan ga punya preferensi pilihan.

Sampai datanglah hari malapetaka itu.
Saya punya masalah besar (sebutlah masalah A) sampai stres berat dan sakit. Sakitnya macem-macem, mulai dari sakit telinga, mata, pusing, mata merah, tekanan darah tinggi (sebelumnya tekanan darah rendah wae) sampai diare. Aneka sakit itu datang bersahutan selama sekitar sebulan.

Dan karena sakitnya horor, saya minta ijin ke dokter umum untuk disambil berobatnya ke psikolog juga. Dan diijinkan. Resmilah saya di bulan tersebut saya jadi pasien puskesmas puter dengan langganan dokter umum dan psikolog.

Berbeda dengan dokter umum, konsultasi dengan psikolog hanya 1 kali sesuai jadwal tercantum. Sisanya sesuai kesepakatan melalui wasap.

Beberapa kali datang konsultasi diisi dengan acara tes ini itu untuk mendiagnosa masalah dan kondisi yang sedang terjadi dalam diri saya. Acara tes ini dilakukan oleh mahasiswa S2 yang lagi praktek. Yang berarti bahwa si aa itu teh jam terbangnya masih rendah dalam konsultasi psikologi (wayahna wehhh, namanya jg paket berobat di puskesmas). Pada pertemuan terahir, barulah datang psikolog beneran (supervisor aa-aa mahasiswa S2 tadi) untuk berdialog dengan saya. Sambil pegang kertas-kertas hasil tes saya, si ibu psikolog ngorek-ngorek masalah A saya tersebut.

Setelah sekitar 45 menit berlalu, akhirnya kami bisa sama-sama menemukan masalah yang lebih besar dari masalah A yang saya utarakan dan pikirkan. Dan itu beneran gak saya duga. Buntutnya adalah ada masalah besar B yang bahkan ga saya sadari. Dan itu DIDUGA berpengaruh besar terhadap beberapa keeroran saya belakangan ini.

Jelegerrrrrrrr!

Mau bongkar masalah A tapi kok malah mendeteksi masalah yang lebih besar yaitu masalah B zzzzz. Masalah B begitu terlihat sebenarnya. Namun tak saya sadari.

Psikolog tersebut memberikan beberapa solusi "terapi" yang bisa dilakukan dan  menawarkan konsultasi lebih lanjut di tempat prakteknya. Yang mana artinya saya perlu membayar lebih besar dibanding biaya konsultasi di puskesmas. Kemudian saya iyakan. Namun memang saya masih ragu apakah akan lanjut ataukah tidak berkonsultasi

Singkat kata, saya tidak lanjut berkonsultasi karena merasa cukup terbantu dengan "diperlihatkan" masalah B oleh ibu psikolog tersebut.

Proses panjang selanjutnya yang perlu dilalui adalah proses memaafkan diri saya sendiri karena masalah B tersebut bermuara dari sebuah keputusan yang saya ambil (kayanya tanpa sadar akan konsekuensinya dan  kurangnya kemampuan untuk mendeteksi apa yang saya rasakan)  di masa lalu. Proses tersebut masih berjalan hingga saat ini. Cukup menantang dan perlu dihidupkan terus prosesnya.

Doakan saya berhasil!

Saturday, 4 February 2017

Cerita Sukses vs Cerita Gagal

Dalam melakukan perubahan, proses yang terjadi biasanya begitu seru dan menantang! Hal tersebut terjadi dalam berbagai lini. Termasuk dalam melakukan perubahan gaya hidup yang terkait dengan pengelolaan sampah di rumah.

Saya kembali merasakan serunya saat sedang menjalani tantangan ini. (Sila disimak dan hayu ikutan juga!)


Rasanya nemu kesenangan tersendiri ketika kembali menyadari hal-hal kecil yang telah diupayakan secara konsisten beberapa tahun belakangan ini.

Prosesnya sederhana saja, cukup mendokumentasikan #ceritaSukses kita dalam mengurangi sampah. termasuk #ceritaGagal -nya. Kalau #ceritaSukses, rasanya saya sering tuliskan dalam blog maupun medsos pribadi. Tapi #ceritaGagal justru (baru saya sadari) jarang dituliskan. Padalah katanya kita bisa banyak belajar dari kesalahan. Dan proses mengakui kegagalan, harusnya menjadi salah satu jalan menuju kesuksesan

Contohnya pada kasus pemisahkan sampah organis dan pemanfaatannya. 

Sampah itu sebaiknya (1) dipisahkan dan (2) dimanfaatkan

Katakata itu adalah mantra yang wajib diungkap setiap kali pelatihan Zero Waste Lifestye - nya YPBB dan dalam berbagai kesempatan berkampanye. 

Saya dalam salah satu pelatihan ZWL YPBB - yang mana? cari yang paling muda dong~  (dok YPBB)

Apakah saya beneran menerapkannya dalam keseharian? Jawabannya: YA dan TIDAK! Mengapa?

Jaman tinggal di rumah Cimahi, saya gak ngompos karena sampah sisa makanan di rumah biasanya dimasukkan ke dalam ember khusus. Yang kemudian dijadikan campuran pakan angsa dan ayam.  Apakah itu hasil pemahaman akan pengurangan sampah? Engga wkwkw. Disuruhnya aja gitu sama embah. Dan segitu banyaknya aturan di rumah, semuanya juga dilakukan bukan karena bener-bener sadar. Ya karena HARUS weh. Baru kemudian, setelah saya menggeluti dunia persilatan ini, saya jadi sadar: "Oh, itu artinya, sampah sisa makanan di rumah Cimahi sudah dipisahkan dan dimanfaatkan.

Ketika pindah ke kosan Cikutra, akhirnya saya beli takakura! Setelah bertaun-taun pakai takakura hanya di kantor aja. Dan ini beneran bisa neken jumlah sampah yang harus keluar. Begitupun saat pindah ke kontrakan Ujungberung, takakura ikut dibawa dan sampai hari ini masih digunakan rutin.

Dodol oleh-oleh dari Akang pas ke Drajat dan kulit wortel pas numis kemarin
#ceritaSukses -nya seperti itu. Tapi keukeuh ya, adaaa aja terselip beberapa #ceritaGagal di dalam proses tersebut. Kulit wortel dll sih aman dong masuk takakura. Tapi kulit/daun yang keras (seperti kulit dodol kacang merah dkk)/tulang yang lebih keras, masi PR banget. Harusnya takakura dikombinasi sama biopori/lubang di halaman. Yatapi halamannya ditembok semua pakbuk~

Jadi, terbuka peluang lebar bagi teman-teman, ibukbapak sodarasodari yang mau kasi kado pernikahan berupa rumah berhalaman luas dan bertanah :)

----

beberapa #ceritaSukses dan #ceritaGagal akan diposting rutin di instagram saya di rentang 1-14 Februari untuk menjawab #TantanganWarga #SuatuHariTanpaSampah dari @rujakrcus


Friday, 27 January 2017

Kampung Halaman?

Sebagai anak yang terlahir di kota besar, Bandung, rasanya bingung juga diminta untuk cerita tentang kampung halaman. Lahir di Bandung dan kemudian banyak menghabiskan masa kecil di Cimahi rasanya tak ada yang aneh. Yagitu ajasih.

Nah, semenjak menyandang status nyonya alias setelah menikah di akhir tahun lalu, saya otomatis jadi punya kampung halaman baru. Kampung teh beneran kampung alias lembur. Kampung halaman yang dimaksud adalah tempat tumbuh kembangnya Akang (suami) yaitu di Sumedang. Jadi, dalam tulisan ini, saya akan cerita sedikit tentang kampung halamannya Akang yang asyik. Sedikit karena memang baru 3 kali kesananya juga.

Barijeung saya lupa terus kalo ditanya, "Lemburnya Akang emang dimana Sumedangnya?" hahaha. Berdasarkan tulisan yang ada di dokumen-dokumennya Akang, Sumedangnya terletak di Nangkod Tanjungkerta. Itu daerah yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Konon, letaknya sekitar 8 KM dari pusat kota Sumedangnya.

Dulu pertama kali berkunjung ke lembur Akang, ya pas kenalan sama keluarganya. Begitu memasuki jalan kecil yang kearah Nangkod, kerasa udaranya berbeda. Lebih segarrrr. Karena sawah masih ada di kanan kiri jalan. Itupun sudah banyak yang jadi rumah tampaknya. Tapi lumayan banget buat orang-orang yang udah sehari-harinya menghirup udara berpolusi di kota.

Dan ternyata, ini beneran lembur. Satu gang, semuanya saudara. Terus pada menyambut dengan hangat. Ya biasalah, pada bilang “eh calon manten” bla bla. Jadi begitu datang si calon mantennya, langsung burudul orang-orang dari rumahnya masing-masing (aslinya, gak hiperbola). Terus pada ngajakin ngobrol dan kenalan. Ini adik, kakak, ua, ibi, ini anaknya itu, ini anaknya ini, ini ibi yang anaknya di sono dan di sini. Kesimpulannya: lebih banyak nama dan silsilah yang LUPA daripada ingetnya wkwkkwkw. Ya maklumin aja ya, abisan banyak ketemu orang baru dalam satu waktu.


Sebagian saudara Akang

Makan apa aja kalau lagi kumpul rasanya enak. Ini pun terjadi di lembur Akang (padahal saya emang pada dasarnya seneng makan aja kaliya? Wwkwkw)

Makan bareng


Salah satu peristiwa seru terkait makan-memakan adalah proses ngobor. Jadi belut diobor dalam waktu sekitar 1 jam. Diobor maksudnya adalah belutnya diambil di sawah dan yang ngambilnya diterangi oleh lampu supaya kelihatan. Diambilin gitu dari dalem sawah oleh beberapa orang. Menurut cerita begitu sih, saya sendiri gak ikut ke sawah pas adegan tersebut. Istilah ngobor ini diambil dari kata obor karena dulu alat penerangannya menggunakan obor

Sesudahnya saya melihat atraksi proses “mematikan” dan membersihkan belut berikut ini. Anak kecil aja berani pegang-pegang belut. Ponakan Akang berani pegang belut dan gak takut kotor. Mudah-mudahan, di lembur ini anak-anak yang biophobia (takut sama alam) memang lebih sedikit jumlahnya dibandingkan di kota.


Mengolah belut

Dan ini belutnya ketika sudah digoreng. Sangat menggoda bukan? 

Belut goreng


Enaknya di lembur adalah masih ada beberapa bahan makanan yang bisa diambil di alam. Maksudnya, bisa diambil tanpa niat ditanam atau dipelihara. Contohnya belut tadi. Contoh lain adalah genjer. Ini juga banyak ada di sawah. Bisa ditumis pakai oncom. Enak pisan! Atau sekedar dileob (disiram air mendidih) untuk dijadikan lalab. YUMMY :) 

Ibi-nya Akang lagi ambilin genjer di sawah

Opieun atau makanan ringan khas yang disajikan di rumah-rumah berupa cau (pisang), dan aneka makanan yang terkait dengan ketan seperti opak, ranginang dan ulen. Ini disajikan terutama kalau ada acara-acara. Beberapa diantara saudara Akang ada yang masih bisa membuatnya sendiri. Ketahuilah bahwa opak yang paling enak adalah opak yang dibuat sendiri. Bukan yang hasil produksi masal. Yang tipis-tipis dan kelihatan bekas bakarannya. NYAM!

Keliatan kan bagian yang item-item tutungnya. Enaks!

Dan masih ada yang bawa makanan dalam rantang bunga-bunga macem gini :) 


Mari sudahi urusan makanan, karena makin lama ko rasanya makin laper dan pengen duduk ngariung makan bareng sama keluarga Sumedang.

Kondisi alamnya masih asyik. Jalan ke bawah sedikit, akan ditemui beberapa balong (kolam) pemancingan. Dulu kayanya itu sawah. Ke arah bawah lagi dikit, ketemu sungai. Tak jernih-jernih amat, tapi masih ada orang yang masih terlihat memanfaatkannya untuk mencuci baju dan piring. Sudah tidak banyak karena saluran air sudah mulai masuk ke rumah-rumah.

Sungai

Ibi-nya Akang yang sedang cuci piring di saluran irigasi


Yang pasti masih bisa dipakai main air. Segerrrr



Sawah juga sangat dekat dengan rumah. Tinggal turun dikit dan terhamparlah sawah.



Sawah masih banyak lagi di area atas. Cukup lewati jembatan dan akan kelihatan sawah yang terhampar luas. 


Pas kunjungan ke lembur bulan ini, saya ikut jalan ke sawah anterin makanan buat kakak-kakaknya akang yang lagi pada kerja di sawah. Saya padahal baru makan di rumah, tapi ujungnya makan lagi di pinggir sawah. Asalnya jaim tea gamau, tapi dibibita wae. Akhirnya luluh~

Ahahhaha, udah pindah tema sawah, berujung sama ke urusan makan-memakan lagi. Makan terosssss~

Genk #makanDiSawah : aa, dan ipar-iparnya Akang

Dengan kondisi alam yang ada, pojok selfie dan wefie bisa banget ditemukan di berbagai sisi~
  
Foto berdua sama Akang. Gatau itu belakangnya naon. Kalo gasalah, kita waktu itu duduk di jembatan kecil
Saya dan ponakan: maksud hati hanya foto berdua, taunya dapet bonus ayam heheh

Begitulah kurang lebih kehidupan di lembur Akang (dan jadi lembur saya juga). Suasana asyik dan hangat ini mudah-mudahan bisa berjalan seterusnya. Dan Nangkod Sumedang bisa menjadi salah satu pilihan tempat untuk menjalani hari tua kelak.



dibuat untuk memenuhi tantangan tema #1minggu1cerita




Tuesday, 20 December 2016

Membuat Keputusan



Pernahkah anda merasakan situasi sulit untuk membuat keputusan dalam sebuah kerumunan?
Kerumunan yang saya maksud adalah seperti rapat terkait pekerjaan, diskusi dalam keluarga besar, bahkan untuk hal-hal "sepele" seperti memutuskan tempat makan di luar, memutuskan apakah akan pergi ke suatu tempat ataukah tidak.

Apakah suasana sulit membuat keputusan itu menyenangkan? Kadang suasananya tidak menyenangkan bila hal yang akan diputuskan cukup pelik dan prosesnya muter-muter. Akan lebih rudet lagi kalau ada salah satu orang atau ada pihak tertentu yang keukeuh mempertahankan pendapatnya. Atau berpendapat, tapi ngomongnya terselubung-terselubung. Lammmmaaa pisan itu jadinya dan ujungnya keputusan belum tentu dipahami semua orang dan tidak membahagiakan pihak-pihak yang terlibat.

Teman saya ada yang bilang bahwa, suasana rapat yang pelik itu tegang pisan, bahkan dari luar ruangan pun, suasananya seperti ketegangan suasana di rumah Laksamana Maeda saat 16 Agustus tahun 1945. Hahaha, saya malah ga kebayang suasananya macem apa. Temen saya tuh, menghayati pisan saat belajar sejarah jaman SD. Untuk orang sejenis saya, yang hasil tes psikologinya dibilang plegmatis, cenderung akan berupaya membuat suasana "tenang" karena merasa ga nyaman kalau ada "perdebatan panjang". Rasanya menyiksa banget kalau berada di situasi tegang tersebut.

Solusi serunya pembuatan keputusan yang sempat saya alami di tahun ini dalam proses ber-design thinking barengan sama temen-temen Labtekindie. Sebenernya kejadiannya adalah saya ikut belajar metode design thinking melalui proses memfasilitasi para peserta pelatihan sepanjang tahun. Saya tak akan bercerita panjang tentang design thinking, silakan googling saja,nanti akan keluar banyak link seperti https://www.ideo.com/post/design-kit

Salah satu bagian yang berkesan adalah bagian ideasi. Intinya sih dalam bagian tersebut kita udah kepikir ide gedenya, tapi kemudian perlu mutusin akhirnya mau dipilih 1 ide cerdas untuk dikembangkan di tahapan selanjutnya. Dalam tahap ideasi, proses brainstormingnya secara umum memberikan kesempatan setiap orang untuk lebih membebaskan aspirasinya. Dari proses tersebut, setiap orang dari anggota tim secara aktif terlibat untuk memutuskan 1 ide cerdas untuk dikembangkan di tahap selanjutnya. Yang paling asik kalau digunakan proses train of thoughts..


Foto: Labtekindie

Ini ngajak orang untuk nulis cepet ide-ide yang terlintas sambil baris. Karena biasanya dibicarakan dan didiskusikan panjang, ujungnya muter-muter lagi dan gak kemana-mana. Ide-ide fresh bahkan bisa sampai hilang atau kelibas sama rumitnya diskusi yang terjadi. Keburu weh ngebulllll!


Serunya: train of thoughts. Foto: Labtekindie


Apakah keputusan bisa muncul hanya dengan proses brainstorming ini? Tentunya belum. Tapi ini adalah langkah awal yang positif untuk melibatkan semua orang dalam pengambilan keputusan di tahap selanjutnya.

Itu tadi sekilas pikiran yang terlintas di suatu siang setelah sekian bulan minggu bolos nulis (nyengirrr~)

Yuk, belajar bareng untuk cari metode seru dalam memutuskan. Seru tetapi tidak menghilangkan esensi dari proses pembuatan keputusan tersebut. Dan jangan lupa untuk menerapkan dalam keseharian. YIIIHHHAA!





Friday, 14 October 2016

Bahagia Adalah

Saat hati sedang sedih yang teramat sangat (hahha, kunaon atuh) ada banyak pilihan yang bisa dilakukan. Ada orang yang kemudian mencoba melepas emosi dengan nangis sampai puas dan mata bengkak saat bangun tidur keesokan paginya. Hati biasanya akan merasa lebih lega. Tapi dampaknya adalah mata bengkak. Ada juga orang yang jadi tak bisa tidur memikirkan kesedihan yang sedang terjadi. Dan bahkan berujung pada derita tak-bisa-tidur. Dan juga ada yang
.
,
,
,
dan seterusnya.

Bahagia adalah kondisi yang berkebalikan dari perasaan hati sedih yang teramat sangat tersebut.
Kebahagiaan ternyata sering kita alami loh. Tapi mungkin hal-hal kecil dan sederhana tersebut yang kurang kita maknai sebagai kebahagiaan. Saya menemukan beberapa gambar keren nih.

Kebahagiaan adddaalahhhh



Nah! Emang udah paling bener kalo kita bisa tidur nyenyak sambil diiringi irama alam yaitu suara hujan di balik jendela rumah kita. Hmm, jadi kangen pulang ke rumah soalnya jendela di kosan rada jauh ke arah ruang terbuka. Jadi ga bisa memandang hujan yang turun secara langsung.



Alias cicing atau diem ga ngapa-ngapain. Ini kondisi yang nikmattt pisan kalo beres abur-aburan kesana kemari tanpa henti dalam waktu yang panjang. Rasanya tiada yang diinginkan selain cicing dan menikmati kasuuurrr.


Gambar di atas masih ada hubungannya dengan tidur (hahah, maklumin aja da saya mah pemalas). Tidur siang (ataupun tidur malam) setelah kekenyangan itu nikmat bangeettt. Resikonya menggemuk dengan cepat. Lalu untuk mengkompensasi rasa bersalah setelah melakukannya adalah lari-lari beberapa keliling. Lalu ujungnya makan enak lagi. Gitu aja terus hahaha. Proses pertumbuhan ke samping berjalan dengan pesat.


Nah nah! Punya temen yang "gelo" juga salah satu kenikmatan yang ada di dunia ini :)
Gatau kenapa, ada aja temen yang aneh-aneh teh. Bahkan ketika tak selalu bisa bertemu, mereka tetap bisa terhubung di dunia maya, di dunia chatingan.


Ini kayanya paling sering. Bersama temen yang aneh-aneh lalu ketawa-tawa tentang hal konyol. Bagi orang lain mungkin ini mungkin tampak ga penting, yatapi seru aja rasanya. Itulah bahagia.


Keluarga dan rumah. Saat kamu bisa merasa tenang waktu pulang dan menjumpai keluarga dan segala masalah yang ada di luar rumah bisa "dihentikan" dan "dilupakan" sejenak, itulah surga duniaaa~


Iya, rasanya senang kalau lihat orang bahagia! Senyum seringkali, tanpa sadar, ikut mengembang. Kapankah rasa ini terakhir hadir di hati kamu?


Tah ini juga udah paling bener! Pengalaman terahir mantai terjadi beberapa bulan yang lalu. Itu rasanya enak banget duduk diem di pinggir pantai sambil memandang ombak. Apalagi saat itu, pantainya berombak gede banget (dan emang ga boleh turun sih kalo di pantai itu mah). Ditambah lagi dengan: jalan menuju ke pantai tersebut heboh banget bikin mabok. Juarak!


Foto: Kandi Sekarwulan




Wkwkkw, INI BENER BANGET. Kalau ada orang yang sering ngeselin, yaudah diemin ajalah. Ladeni sebisanya, selesaikan masalahnya, kalau memang tetap sulit, yasudah abaikan saja. Kalau di dunia maya: unfollow akun-akun yang bikin hidup kita ribet, ato suka nomention-nomentionan, Niscaya hidup kita akan lebih bahagia. Percayalah.


Ini bener-bener-benerrrr banget! Rasanya bahagia pas beberapa waktu yang lalu sempet turun 6 kilo dalam waktu 3 bulan. Setelah perjuangan panjang mengatur asupan makanan yang masuk ke tubuh yang sangat-senang-makan ini. Pernahkah kamu merasakannya juga? :)


Orang lain sih mungkin hengot-hengotan ke manaaa gitu. Pulang pagi dll. Tapi ga gitu juga sih, dengan masak-masak seru pun, rasa bahagianya begitu mengembang di hati #eaa

Ini salah satu gank terbaru papasakan di malam hari (kalo pagi sampai sore tak bisa karena pada sibuk).

Foto: Catur Ratna


Masih banyak nih gambar-gambar lucunya, Nanti kapan-kapan disambung lagi ya.

Dan tulisan ini diakhiri dengan rasa syukur karena sampai detik ini (dengan segala badai yang terjadi) saya masih memiliki kalian semua! Temen dari berbagai genk. Teman-teman baik yang ada di masa senang dan sulit. Peluk satu-satuuuu :*




YUK BAHAGIA!




Twitter @1mg1cerita | Facebook 1minggu1cerita | Instagram @1minggu1cerita