Saturday, 20 May 2017

Biarkanlah Mengambang

Beberapa hal akan bikin kita pengen teriak pada satu waktu! ARRGGHH

Lalu bikin pikiran kusut, rudet, gak mood buat ngapa-ngapain, pengen-tidur-2-bulan-aja-supaya-semua-cepet-berlalu, gak bisa tidur semalemam, mewek-mewek, atau bahkan terserang aneka penyakit psikosomatis.

Tingkat keparahan respon dari sebuah kondisi sangat tergantung dari kedewasaan kita dalam menyikapi kenyataan yang terjadi. Kondisi yang sama bila dihadapi oleh orang yang berbeda, akan menghasilkan respon yang berbeda pula. Kehidupan masa kecilnya, pengalaman yang didapat, pengetahuan yang dimiliki, tipe kepribadian dan tingkat kedewasaan akan mempengaruhinya. Ah, tapi ujung-ujungnya, tingkat kegeloan kita dalam menyikapi sebuah kondisi kayanya amat sangat tergantung pada: seberapa banyak EGO kita tersenggol!

Jadi teriaklah ARRGGHH bila ego kita mulai tersenggol. BIAR PUAS. Tapi respon selanjutnya beneran hanya diri kita yang bisa menentukan!

Hadapi atau ubah cara pandang kita terhadap kondisi tersebut. Atau biarkanlah mengambang dan mudah-mudahan sembuh pada waktu dan cara yang terbaik.


foto dari sini




Friday, 12 May 2017

Teras yang Hangat

Kemarin malam saya diajak Akang mengunjungi rumah temannya. Malam-malam disuguhi teh hangat, pisang goreng hangat dan obrolan hangat, tentunya sangat mengesankan. 






Ketiga komponen yang hangat tersebut, diwadahi oleh teras yang asik banget. Sayang saya tidak bisa memperlihatkan dalam bentuk foto karena kondisinya saat itu sudah gelap. Kalau diceritakan secara singkat: di teras itu ada kursi sofa, 2 kursi makan, meja pendek yang diberi taplak putih, tempat duduk tambahan berupa bangku kayu dan udara yang sejuk karena berada di kawasan atas Bandung Timur. Mata pun dimanjakan oleh pandangan langsung ke kebun yang hijau-hijau berisi beberapa tanaman pangan. Dari teras tersebut, ada jalan berbatu yang langsung menuju ke balong. Wuih asik banget pokonya.


Langsung kepikir (lagi) pengen punya rumah yang ada terasnya!


Saya lalu teringat pada satu tulisan sebelumnya tentang rumah yang yahud alias rumah impian saya yang ditulis awal tahun kemarin. Di situ belum spesifik dituliskan pengen teras yang hangat. Tapi mulai tertulis poin rumah yang hangat dan meriah. Pengalaman saya dengan teras yang hangat juga terjadi di rumah Sumedang dan rumah Cimahi. Beberapa kunjungan saya ke Sumedang selalu akhirnya sampai di nongkrong dan makan-makan di teras. Rasanya lebih nyaman di teras daripada di dalam rumah. Yang seru kalau di Sumedang, pemandangan dari teras indah banget karena langsung mandang ke arah pepohonoan hijauhijau dan juga kalau mau makan, tinggal teriak-teriak manggil tetangga buat barengan karena sebrang-sebrang dan sebelah-sebelahnya saudara semua. Pengalaman di rumah Cimahi waktu masih tinggal rame-rame sama om tante, dulu pusat peradabannya ada di beberapa tempat. Kita bisa ngobrol lama banget di teras, ruang tamu, ruang tengah, bahkan 1 kasur rame-rame sampai kasurnya ambruk wkkwkw. Teras tersebut mulai jarang digunakan saat penghuni rumah mulai berpindah. Tapi teras itu menyisakan banyak kenangan hangat di masa kecil. 


Yihaaa! Mari semangat cari uang dan cari akses biar bisa punya rumah berteras hangat!

Friday, 5 May 2017

Merindukan Otomatisasi


Karena ini minggu tema, dan temanya baper tentang rindu, maka bingunglah mau nulis apa.

Yaudah, saya mau merindukan sesuatu yang ga bikin baper aja deh. Tapi beneran, saya sebegitunya keukeuh menginginkan kehadiran otomatisasi di dalam program 1minggu1cerita. Kemerindukannya~

Mengapa?
Bukan supaya saya mikir atau ngomong maka  cerita otomatis terketik dan tersetor (walaupun kalau itu bisa terjadi, pasti sangat bermanfaat wkkwkw. Secara saya pasti aja ada bolosnya nyetor tulisan).

Tapiiiii,
pengalaman ngadmin 1minggu1cerita beberapa tahun belakangan ini (sekitar 3 taun. Rada lama juga yak), membuat saya perlu melakukan hal yang sama berulang-ulang. Seneng kalo dikit dan ada waktunya. Tapi di saat sibuk (bahkan suka kompak sibuknya sama admin yang lain), suka bikin sistem pengelolaan 1minggu1cerita jadi ada yang "bolong". Ya karena dikerjakan secara manual tadi.

Dan saya yakin banget bahwa: di belahan bumi lain atau ada orang lain di dunia ini, yang pasti tau caranya bikin pekerjaan berpola dan berulang itu menjadi lebih mudah dan terotomatisasi dan tentunya bisa mengerjakannya sebagai kerjaan sambilan karena memang sudah keahliannya di bidang tersebut.

Otomatisasi yang sudah mulai dilakukan, baru proses memaksimalkan google form. Eh itu juga belum maksimal-maksimal amet kayanya. Tara dioprek lagi, sebatas kebiasaan pakai google form sesuai kebutuhan saja. Gambarannya, kalau member setor tulisannya ke bit.ly/setoran1m1c maka nanti datanya langsung masuk secara otomatis ke tabel google sheet (seperti tabel excel). Google form juga dipakai untuk melibatkan member saat memilih tulisan favorit mingguan.

Paling baru gitu-gitu aja yang dilakukan. Untuk koordinasi dengan admin, yang dimaksimalkan adalah grup wasap. Yang kadang suka lieurrr lagi kalau mau track sebuah tema obrolan karena gada pengelompokan yang jelas antar obrolan. Seru sih, jadinya ngerjain peran admin dibawa santai aja. Tapi begitu ga on di grup beberapa hari, ngescrol ke atasnya lumayan juga. Dan kadang ada ide-ide cemerlang yang muncul saat ngobrol dan jadinya gak kerekam.

Nah, sehinggaaaa sempat ada beberapa ide yang kepikir akan mempermudah hidup admin dan tentunya memaksimalkan layanan untuk para member. Saya waktu itu ngelist di grup admin (dan rasanya masih jauh dari komplit) tapi dicopas aja dulu deh daftar otomatisasi yang dirindukan tersebut, supaya tak hilang tertelan waktu:


  1. Form setoran, selain pakai link yg mudah diingat, juga bisa diakses di web. Setelah member setor ada konfirmasi ke emailnya bahwa dia sudah setor. 
  2. Data setoran itu bisa langsung publish ke web. Ada menu tertentu yang penyusunannya lebih enak dilihat oleh member maupun non member. Kepikirannya bisa dilihat pakai kategori tertentu: misalnya kategori minggu ke atau nama member dll.
  3. Setoran tersebut juga bisa langsung memberikan rangkuman data real: misalnya ada spot tertentu di web yg menampilkan data: 
  • jumlah tulisan yang masuk pertahun 
  • jumlah member aktif 
  • rata-rata persentase tingkat kerajinan menulis (jadi bisa terukur "pengaruh" 1minggu1cerita terhadap membernya, walaupun member rajin nulis belum tentu karena pengaruh 1minggu1cerita hahah) 

Dari database setoran itu juga bisa diolah langsung (selama ini dilakukan manual)
  • Siapa aja yg dalam posisi terancam (sudah 4 atau 5 kali --> datanya kalo bisa keluar di web. Jadi si member ngeuh dan si admin bisa segera kirim email reminder. Bahkan kalau bisa, admin hanya perlu bikin template email dan email terkirim langsung ke member 
  • Siapa saja yg perlu dikick dari program. Sama seperti poin pertama inginnya: tertampil di web dan bisa kirim email konfirmasi secara otomatis 
  • Kemudian ada daftar member. Selama ini udah ada di bit.ly/nomorMember >> tapi enaknya: menu tersebut juga ada di web. dan terkoneksi dengan database setoran sehingga akan langsung terhapus baris member yg terkick 

Untuk Giveaway (GA):
Perlu ada menu khusus yang berisi:
  • GA yg pernah diberikan: pemberi GA - apa barangnya - penerima GA - minggu (GA nya diberikan di periode kapan) - status pengiriman GA (sudah terkirim atau belum) - foto GA 
  • Daftar GA yg akan datang: pemberi GA - apa barangnya - foto GA
  • Form online bagi yg ingin sumbang GA

Untuk Tema:
Perlu ada menu khusus juga tema yg pernah diberikan: tema - minggu ke

Baru itu yang kepikiran. Yuk siapa yang mau bantu memfinalkan seluruh proses otomatisasi tersebut? Yang pasti tim 1minggu1cerita tak punya dana untuk proses ini. Mari dikerjakan secara asik-asik-an sesuai dengan waktu yang tersedia.

Lengkapnya tentang 1minggu1cerita dan segala aktivitasnya bisa ditengok di web, grup facebook, page facebook, twitter, dan atau instagram-nya



Saturday, 22 April 2017

Tidak Selalu Buruk

“Ngurus surat-surat ke pemerintah ribett”

“Duit lagi-duit lagi! Kalau ngurus surat-surat ke pemerintah itu ujungnya mahal”

Apakah hal tersebut pernah terlintas di pikiran anda? 

Di pikiran saya PERNAH!

Tapi, dengan beberapa pengalaman mengurus persuratan ke pemerintahan membuktikan bahwa anggapan itu KURANG TEPAT!

Mengapa demikian? 

Baru saja kemarin saya menempuh perjalanan jauh dari rumah ke pusat pemerintahan kabupaten Bandung yaitu di Soreang untuk mengurus surat pindah Akang ke Cimahi. Pengalaman saya selama ini, saat mengurus persuratan di Cimahi, mulai dari KTP versi jadul, e-KTP, surat pengantar nikah, dan persuratan di KUA, rasanya cukup baik. Nah, saya ingin buktikan juga bahwa di Kabupaten pun sama baiknya. 

Seperti biasa, untuk menghemat waktu dan supaya tidak bolak-balik, saya menyempatkan diri telepon ke kantor terkait untuk menanyakan detil persyaratan dan mekanisme pengurusan surat pindah. Dan rada ZONG nih hasilnya. Jaringan telepon di pemkab Soreang sedang diperbaiki sehingga saya hanya mentok bisa nelpon ke bagian informasi saja dan tidak bisa menelpon dinas terkait. Saya selalu mencoba mengecek info ke bagian yang benar-benar mengurus secara teknis supaya bisa menyiapkan berkas-berkas dengan lengkap. 

Sehingga pada saat berangkat kemarin, dalam pikiran sudah tertanam: "kalau memang tak bisa beres satu hari karena ada syarat yang kurang, ya sudah terima sebagai resiko". Rada beresiko memang kalau bulak-balik. Jaraknya yang jauh dan waktu Akang yang terbatas untuk ijin ke kantornya. (ijin mulu kan ga enak dan kerjaan numpuk juga jadinya). Bismillah weh dan berprasangka baiklah. 

Sampai di TKP yaitu Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil, terlihat kerumunan orang di depan gedung dinas. Kirain ada acara apa, ternyata memang setiap harinya begitu. Ramai. Padat. Penuh oleh orang yang berduyun-duyun dateng dari berbagai daerah. Bayangin aja, kabupaten Bandung tuh wilayahnya sampai ke area Dago atas juga! Yang mereka lebih dekat sebenarnya ke pemkot Bandung secara letak geografisnya. 

Tak mau mendapatkan informasi yang sepotong-sepotong (dan apalagi belum tentu benar), maka bertanyalah kepada petugas yang dekat tempat pendaftaran. Rupanya berkas tinggal disimpan saja ke bagian depan. "Depan teh dimana?" Itu yang langsung terlintas di kepala. Tapi untuk menanyakan lebih detil mekanismenya, situasi kurang mendukung. Pahibut kalau kata orang Sundanya mah. Jadi, saya cepat-cepat pergi ke "depan". Dan lalu kebingungan karena padet banyak orang. Selap-selip dan puntan-punten akhirnya saya sampai ke jajaran keranjang yang sudah masing-masing berlabelkan jenis berkas "dimana perlu ditempatkan". Gak kefoto, boro-boro, takut kecopetan aja dengan tempat sepadat itu. 

Lalu ditemukanlah tulisan: Surat Pindah Keluar. Dan saya simpat berkas di keranjang tersebut dan setelah dikonfirmasi, petugas berjanji bahwa surat yang diperlukan akan beres pada hari yang sama. Kondisinya, saat itu sudah jam 1 siang dan hari Jumat dan mau libur long weekend. Mencoba berbaik sangka lagi dan berharap maksimal jam 4 sudah bisa mendapatkan surat pindah tersebut. Banyak orang bangettttt, jadi mari siapkan mental untuk hasil apapun! 

Saya dan Akang menunggu sambil duduk-duduk di kursi yang telah disediakan. Bener-bener perlu konsentrasi supaya pas nama dipanggil lewat mic, langsung siaga datang ke meja pendaftaran. Dan bener aja, telinga Akang lebih peka mendengar namanya disebut, sedangkan saya anteng ngoprek HP hehehe. Rupanya pada tahap 1, berkas diperiksa kelengkapannya dan disusun ulang dalam map oleh petugas supaya proses di tahap 2 lebih cepat. Lalu kami diminta bergegas ke ruang dalam untuk mendapatkan nomor antrian. 

Saya bergegas pergi ke ruang dalam untuk ambil nomor antrian. Nah, sebagaimana layaknya di bank dan tempat layanan umum lainnya, nomor antrian berarti "kita duduk manis dan menunggu nomor disebut". Tapi luak-lieuk, kayanya ajaib lagi nih prosesnya dan daripada salah, mending nanya. Dan benerrrrr, prosesnya emang ajaib. Nomor antrian yang didapat itu emang bukan buat disimak nomernya dan dinanti dipanggil atau tercantum tulisannya di papan pengumuman, tapi ya langsung aja berkas dan nomor antrian tersebut disetor ke meja "surat pindah". Tak pernah saya temui di tempat layanan umum lainnya hehehe. Dan kemudian kami diminta untuk tunggu lagi di luar. 

Banyak orangggggg!

Setelah siap mental menanti sampai jam 4, ternyata nama Akang dipanggil jam 2. WAHHHHHH, eduns! Hanya 1 jam semua proses itu terjadi. Rasanya lama! Mungkin karena memang banyak masyarakat yang perlu dilayani. Tapi menjadi dirasa lebih sebentar karena sudah siapkan mental untuk menanti lama sampai jam 4. YIIIIHHHAA, secara umum layanan di pemkab belum secepat di Cimahi, tapi layanan-satu-hari-asal-mau-sedikit-ribet-dan-urus-sendiri TERBUKTI! Dan tentunya NOL RUPIAH!

Semoga layanan di seluruh lini pemerintahan bisa dipertahankan yang telah baik dan meningkat juga kualitasnya dari hari ke hari!

Da kami mah apa atuh, hanya rakyat yang pengen dapet layanan cepat, tepat dan benar!




Tuesday, 4 April 2017

Gundah? Respeklah terhadap Apa yang Dimiliki

Pernahkah kamu merasa, “Kenapa hidup ini begitu mengesalkan?” Perasaannya negative mulu dan rasanya segala kurang?

Misalnya kepikir: kenapa kok idup gini-gini aja? Kenapa uang kurang mulu? Kenapa kerjaan memusingkan? Kenapa banyak masalah yang belum terpecahkan? Kenapa kenapa dan kenapa…

Belum lagi kalau kepikir pengen punya segala macem. Wuih, rasanya kalau didaftar, banyak banget daftar keinginan. Pengen punya rumah yang begini begitu, pengen punya kendaraan pribadi yang begini begitu, pengen ikutan kegiatan ini itu, pengen punya perabot rumah tangga yang begini begitu, pengen liburan ke sana sini…..terussss aja gakan ada batasnya keinginan manusia mah.

Kalau hal-hal tersebut sedang melanda dan ujungnya bikin gundah, bete, galau, rudet stres dan sebangsa, ya gak apa-apa. Biasa aja dan mendingan dimuntahkan dulu kekesalannya. Manusia kan cenah emang salah satu sifatnya adalah senang berkeluh kesah. Muntahkan kepada orang yang dipercaya atau bisa juga dimuntahkan lewat media lain seperti tulisan atau karya seni. Tujuannya sih supaya hati rada ngemplong dulu.

Apakah cukup sampai di situ?

Langkah lain yang kemudian bisa membuat hati lebih terasa damai adalah dengan respek terhadap apapun yang kita punya. Kita merasa hidup kita malang sehingga jadi stress?

Mari kita lihat, apakah sampai hari ini kita masih bisa makan cukup? Cukup itu gak selalu harus makan daging dan segala makanan yang enak-enak dan mewah-mewah loh. Sesekali makanan mewah itu tak apa, tapi kalau keseringan justru jadi sumber penyakit loh. Saya sendiri akhirnya sempat lewat dikit dari batas atas aman untuk kolesterol. Gara-gara kebanyakan makan enak. Makan tahu tempe dan sayur itu justru hebat! Apalagi kalau pinter masaknya. Semalas-malasnya masak dan sehemat-hematnya uang untuk makan, bisa berupa lalaban atau pecel. Salad juga boleh lah, tapi kalau ujungnya sausnya mengandung banyak telur, angger potensial kolesterol hehehe. 

Cara pandang yang berubah, membuat kita bisa menyikapi makanan yang dimakan dengan tepat dan justru bisa menyukurinya. Buah juga tinggal dipilih aja yang sedang musim. Biasanya melimpah tersedia di pasar tradisional, mobil bak maupun di supermarket. Melimpah dan murah. Tomat aja kemarin sempat sekilo kurang dari 5000. Yang penting bisa nambah asupan buah.

Nah, kalau memang masih bisa makan cukup, mau ngapain lagi coba hidup kita?? Punya masalah dikit-dikit mah wajar saja lah. Namanya juga hidup.

Sampai hari ini, masih cukup waktu tidur kita? Kalau sehari minimal masih bisa tidur lebih dari 5 jam artinya masih cukup hak tubuh untuk istirahat. Dan itu yang akan membuat badan kita tak mudah sakit (selain makan makanan yang sehat). Selain jumlah jam tidur, factor merasa tenang karena tak kedinginan dan takut kebocoran dan tak takut digusur membuat kualitas hidup kita lebih meningkat lagi. Mari kita hargai nikmat waktu istirahat tersebut.

Teman. Semua orang punya teman kan ya? Hangatnya persahabatan adalah harta berharga juga yang dimiliki secara nyata. Bisa ketemuan dan ngobrol panjang tentunya mewah banget. Tapi bila tak sempat berjumpa di darat, kadang mendenger kisah seru dari teman-teman di grup wasap dan bahkan bisa saling ledek lalu ketawa bareng juga rasanya hangat dan menyenangkan. Teman juga yang seringkali saling mendukung saat kegalauan melanda. Tak selalu memecahkan masalah, tapi saling cerita dan mendenger pun sudah menjadi kekuatan besar.

Merasa bahagia karena melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain! Itu juga "harta" berharga yang kita miliki. Saat dilakukan, justru biasanya akan menyita waktu dan uang yang dimiliki, tapi entah mengapa hal tersebut begitu membahagiakan. 


Apalagi hayoh,,,kalau diinget-inget sih, banyak hal yang bisa membuat kita respek terhadap apa yang kita sudah miliki saat ini. Yang saya tulis di atas hanyalah sebagian kecil saja dari banyaknya “harta” yang dimiliki saat ini. Kalau “harta” tersebut kita coba ingat-inget kembali, biasanya akan membuat bibir yang manyun dan kening berkerut berangsur bisa tersenyum kembali. SMANGATS!

Sunday, 2 April 2017

"Kantor" Baru dan Lintasan Pikiran di Sekitarnya

Dalam beberapa hari ini, tepatnya dalam 12 hari berturut-turut, saya bolak-balik ke daerah Babakan Sari. Ada yang baru denger nama daerah tersebut? Bagi yang belum mengenalnya, daerah tersebut adalah sebuah kelurahan yang berada di kecamatan Kiaracondong. Daerah yang banyakkk RWnya yaitu 18 RW.

Saya ngapain bolak-balik ke sana? Jawaban resminya adalah menjadi tim lapangan dari program Kawasan Bebas Sampahnya YPBB. Jawaban tak resminya adalah “ngangon” bapabapa dan eboebo perwakilan dari 18 RW tersebut. Aslina ngangon hahaha. Abisan yang bekerja keras mengumpulkan data riset dari warga adalah mereka. Saya dan teman-teman bagian mensupport mereka aja biar bisa beraktivitas secara aman, nyaman semangat dan tak sampai kekurangan jatah makan siang heheh. 

Dalam 2 minggu ini saya sempat mengalami ngantor di dua kantor baruuu! Dikasi ruang, tepatnya sa-aulaeun di lantai atas sama kelurahan selama 6 hari berturut-turut ngetem di kantor kelurahan. Udah mirip sama pegawai kelurahan belum? Itu dikasi sama para pegawai yang lewat-lewat ke meja yang saya duduki. 


udah mirip staf kelurahan belum? 

Yang seru adalah tentunya pas diajakin makan bareng! Waktu itu kebun organik di salah satu RW sedang panen. Jadi bisa papasakan deh. Tapi bahan makanan yang dipanen rupanya masih lebih dikit dibanding yang dibeli sih. Yaudah gak apa-apa, minimal ada sayur organisnya. Dan tentunya ada ikan asin gorengnya.. Hmm, wangi dan menggugah selera.

Botram~

Selain itu, kelurahan ternyata biasa dapat support makan siang setiap jumat dari RW-RW. Genk bapak RW ini sigana sudah mengatur jadwal supaya setiap jumat selalu ada asupan makanan bagi staf kelurahan. Di jumat tersebut, serombongan staf kelurahan diundang ke area RW. Dan si saya sebagai yang sedang nebeng ngantor diajakin juga makan ke sana. Bukan saya pemalu sih, tapi da baru pisan makan. Makan bekel dari rumah. Kenapa bawa bekel? Soalnya males jalan menuju tempat makan dan biar hemat waktu dan uang juga sih. Sayang banget ya, padahal kan bisa sekalian kenal dan dekat sama warga. Tapi ya begitulah serunya urusan makan babarengan di kantor kelurahan.

Dan hal lain yang unik, tapi sayangnya gak sempat saya foto, di kantor kelurahan, masih ada budaya ngetik make mesin tik. OW HARI GENE!

Ya tapi sama aja sih kaya di “kantor” kedua saya. Dari hari ke 7 sampai hari ini (ini hari ke 12) saya boyongan pindah (beserta dengan peralatan) ke TPS Babakan Sari.

TPS pasti pada tau dong ya? TPS bukan bilik-bilik yang berfungsi untuk mencoblos saat pemilu. Tapi TPS yang ini berarti Tempat Penampungan Sampah Sementara. Dan TPS Babakan Sari adalah TPS unggulan di kota Bandung karena sudah disulap menjadi TPS terpadu. Apa istimewanya? Dateng dooooong, jalan-jalan ke sana! Pokoknya di tempat ini, tak hanya ngagunduk sampah dan banyak roda-roda sampah aja, tapi ada aktivitas unik lainnya yang berlangsung.


Sebagian area TPS Babakan Sari

Nah beberapa cerita unik dari tempat ini adalah (tentunya selain masih pakai mesin tik) adalah di tempat ini ada akses internetnya. TPS lain mah boroboro! Jadi kebayang kan, di tempat ini emang ada kantor-kantornya. Dan sebagai sayah penebeng, ditawarkan bisa kerja menggunakan beberapa meja kosong. Di kantor ini relative lebih kenal orangnya. Dan terutama yang terkenal sih si Akang tentunya. Jadi ya gitu weh lebih akrab. Beberapa stafnya seneng bercerita heheh. Kalo nginget jaman awal perkenalan sama Akang, tempat ini jadi salah satu modus dia nganter-nganter tea saat saya jadi surveyor yang akan mewawancara kabercam Kiaracondong. Huhuyyy!

Begitulah selintas 2 “kantor” tebengan saya di dalam masa 12 hari ini. Dan nebeng ngantor ini akan berlanjut dalam 3-4 hari ke depan. Yiiiiihaaa! Sisanya, saya ke kota dan ke kantor hanya bila benar-benar ada kebutuhan yang mendesak. Kalau hanya sejenis “perlu kirim dokumen” ya tinggal pake kurir online aja.

Lintasan pikiran yang juga muncul selama perjalanan dari dan menuju Babakan Sari adalahhh:
Saya biasanya  kalau pergi ke Babakan Sari memanfaatkan jasa ojek online. Karena kalau naek angkot lamaaa (macet, muter). Udah lama puuun, tetep kudu naek ojek lagi dari turun angkot. Yang artinya, total biaya transport juga membengkak kalau pakai angkot. Waktu tempuh pun jadi pertimbangan “mengapa saya pilih ojek online”. Jam 8-9 pagi biasanya saya perlu udah siaga di TKP. Kebayang kan kalo ngangkot, kudu jam brapa brangkat dari rumah. Kalau pulang sih biasanya dijemput Akang.

Nahh, dari proses warawiri tersebut, saya jadi makin sadar: yapantes aja makin banyak orang pakai motor ataupun ojek online. Soalnya, di jalur yang saya lalui tersebut (kalau gak salah nih ya: Cirengot – jalan Rumah Sakit, Cinambo, Cingised ….. Pratista dan berakhir di Babakan Sari), rasanya saya gak pernah ketemu angkot. Dan itu jalannya udah rame kaya jalan raya aja. Tapi bentuknya lebih mini. Dan orang-orang yang tinggal di situ, susah juga kali kalo mau tetep konsisten naek angkot. 

Salah satu penyebabnya mungkinn karena daerah tersebut tak dilewati angkot. Bahkan ada 1 rumah susun di area tersebut. Kalau gak salah rumah susun Cingised. Rumah susun itu itu rada jauh dari jalan yang berangkot. Padahal saya sih kepikirnya: rumah susun bukannya untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah ya? Dan mungkin ga semua pengontrak di situ sanggup untuk membeli motor. Kalaupun akhirnya beli atau nyicil motor, yak arena memang tiada pilihan lain yang dirasa lebih sesuai dengan kantong dan kebutuhan untuk tiba di lokasi tujuan dengan tepat waktu. Semua masih serba mungkin karena judulnya juga lintasan pikiran tanpa sempat saya cari data lebih lanjutnya.  

Lintasan pikiran tersebut kepikir pas lagi bengong dan menclok di ojek online setiap pagi selama 12 hari ini. Ada lintasan-lintasan pikiran lainnya yang kepikir juga biasanya. Sisanya, saya kadang ngobrol juga sama mamang ojek online untuk mengisi waktu kosong selama menclok di ojek online. 

Begitulah sekilas dongeng dalam 12 hari ini. Yang tentunya proses pergi pagi mulu yang berturut-turut ini membuat saya gak sempat nungguin baju-baju terjemur sampai kering *ngetik tulisan sambil menatap nanar tumpukan baju yang belum dicuci. Hihihi, ujungnya curhat* 





Sunday, 26 March 2017

Mix Moda Transportasi

Belakangan ini isu kendaraan umum online dan konvensional tampak ramai. Gak ngikutin bener ceritanya sih, yang pasti demo heboh pertama di kota Bandung ketika 9 Maret 2017 lalu sukses membuat saya kebingungan ketika mau berangkat kerja. Jalanan beneran gada angkot satupun. Mau minta dianter akang pun, dia udah kadung ada di Surapati dan mau segera rapat. 

Luak-lieuk baru jalan kaki pelan-pelan akhirnya ada bis kota melintas. Itu baru menyelesaikan setengah perjalanan. Setengah perjalanan lagi tiada bis kotanya. Bis kota di jalur tersebut diperbantukan ke daerah-daerah lainnya. Akhirnya saya nebeng bis brimob deh~

Dari peristiwa heboh yang saya rasakan di hari tersebut, saya jadi kepikiran: enaknya gimana ya supaya saya tetep bisa sampai tempat tujuan tepat waktu, nyaman dan aman? Tau sendiri lah ya kondisi jalanan di kota besar macem Bandung, yang macetnya udah makin ga keru-keruan. Ditambah layanan kendaraan umum pun... yang rasanya masih jauh dari harapan kita. 

Saya dulu full ngangkot dengan berbagai alasan. Namun di hari ini, rasanya saya gak bisa segitunya 100% full ngangkot lagi dengan berbagai pertimbangan. Jadi, yang dilakukan adalah mencoba mix menggunakan moda transportasi. 

1) Angkot
Angkot masih dipakai biasanya buat perjalanan pergi dari rumah menuju kantor. Waktunya lumayan lama, maksimal bisa sampai 1 jam. Tapi karena udah biasa (dan lebih murah dibanding ojek online) ya rasanya biasa aja. Malahan bisa sambil chating, scrol medsos, mikir bahkan nerusin tidur hehe. Perjalanan yang rutin (dan diskon ojek onlinenya ga sampai 50%) akhirnya ya pilih angkot. Hal lain di angkot adalah kita bisa menyaksikan drama-drama kehidupan. Dan bonus curhatan dari mamang supir angkot kalau kita milih duduk di depan. Kenapa saya bisa masih cukup nyaman naik angkot? Ini juga ditunjang oleh tempat tinggal yang tak jauh dari jalan yang dilewati angkot. Jaman di Cimahi, jalan kaki dikit lah menuju angkot. Pas di kosan, hanya 1 rumah menuju angkot. Pas di kontrakan Ujung Berung, sengaja dipilihkan kontrakan yang deket ke angkot sama akang. 

2) Ojek online
Ojek online dipakai untuk udar-ider terutama kalau banding-banding sama harga angkot lebih murah. Selain murah, soalnya kan dia lebih cepet dari angkot. Dan terutama banget kalo akan ke tempat yang jalan kaki dari turun angkotnya jauhhh. Kalau naek ojek biasa, harga suka nyekek juga sih. Entah gemana ya, ojek online kok bisa nemu model bisnis yang harganya bisa lebih murah dari ojek konvensional. Atau ojek online dipakai ke daerah yang sebenernya bisa naek angkot, tapi angkotnya muter-muter dulu jadi waktu tempuh lama pisan. Yang susah dari ojek online adalah kalau kita dari daerah yang dekat pangkalan ojek (potensial konflik atau gada yang mau ambil order dari kita). Susah juga kalau hujan. Huhu, jibrug lah kita atau tiada pengemudi yang mau ambil order. 

3) Bis kota
Bis kota cihuy juga ih untuk dipakai. Terutama kalau jalurnya cocok. Harga murehhhh dan khusus untuk TMB, pelajar dapet lagi diskon 50%. Sekarang kayanya semua bis kota sudah ber-AC. Bukan masalah dinginnya sih (kadang terlalu dingin malahan), tapi jadi takada asap rokok. Kalau di angkot, fasilitas bebas rokok kan hanya diperoleh di bulan puasa doang. Kalau pulang ke Cimahi sendiri, seru naik bisa kota. 2 trayek berturut-turut dan sampai langsung di jalan depan rumah. Kekurangannya tentu saja ada! Khusus TMB, hanya berhenti di halte saja dan jumlah kendaraannya kan ga sebanyak angkot, jadi perlu nunggu beberapa saat sebelum bis berangkat dari halte awal. 

4) Taksi online
Taksi online seru dipakai kalau dengan tujuan untuk memperingan biaya tapi pengen nyaman. Misalnya saat kita pulang rame-rame sama temen-temen. Kalau ga rame-rame, ya dompet siap-siap aja dikurasss. Atau bila ada keperluan mendesak untuk menggunakan mobil untuk bepergian, taksi online bisa jadi pilihannya, misalnya dulu pas bareng embah ketika mau ke Bogor, selagi ada uangnya mah, kesian atuh kalau diajak naik angkot. 

5) Kereta Api
Kereta api lokal di Bandung jadwalnya lebih jarang lagi dibanding bis kota. Dan kalau gak cocok dengan letak stasiun, ya wassalam aja. Tapi terakhir kali naik kereta api, sudah jauh lebih cihuy dibanding jaman dulu. Ber-AC (artinya tanpa asap rokok) dan banyak colokan listrik. Ya cocok lah untuk masyarakat jaman sekarang yang dikit-dikit ngecas. Kalau kereta api yang Jabodetabek (apa yang namanya? Jaman dulunya bernama KRL) itu lebih baik lagi: jadwalnya cukup rapat dan murah juga. Kereta api kelebihannya adalah tidak terjebak kemacetan kota. Sesekali cobain deh. 

6) Nebeng
Ini yang paling enak hahahaa. Gratis! Modalnya adalah punya temen yang mau ditebengin. Etapi bisa juga disepakati loh, terutama kalau perjalanan jauh, kita ikut sharing sebagian uang bensinnya. Tentunya itu berdasarkan kebiasaan saja. Bukan keharusan. Oiya, komunitas Nebengers masih ada gak ya? Jangan-jangan dia tenggelam setelah marak ojek dan taksi online. 

7) Dijemput suami.
Iya, dijemput suami juga opsi buat saya. Ini yang hampir rutin dilakukan setiap saya pulang dari kota. Menghemat uang iya. Menghemat waktu juga iya. Tau sendiri lah kemacetan di rentang waktu jam 5-7 sore.  

Itu mix moda transportasi yang biasa saya lakukan. Ini sebetulnya sejenis kepasrahan terhadap sistem transportasi kota yang "sakit". Coba diakal-akalin weh supaya tetep bisa mencapai tujuan dan tetep pro (walau saeutik) sama kendaraan umum. 

Dulu pas saya coba bis kota yang murah tapi layanannya lumayan, rasanya ko asik dan "mewah" dibanding layanan angkot. Temen saya yang punya minat di bidang transportasi lalu bilang, "Itu harusnya bukan mewah. Sudah seharusnya layanan aman, nyaman di bidang transportasi diterima oleh kita sebagai warga kota". Itu kata dia, gimana menurut temen-temen?