Monday, 19 November 2018

"Kabur"

Kalau lagi banyak masalah dan kerjaan, saya suka (sering sih tepatnya) kepikir buat kaburrrr. Setelah kabur gimana? Pusing hahah. Menimbulkan efek negatif yang lebih besar di masa kini maupun masa datang. Dan kadang terselip penyesalan di hati: padahal ya kalau....

Cara kabur yang pernah saya lakukan:

Menunda Pekerjaan 
Isi efeknya nyaman sejenak tapi rasanya hati ga tenang. Saat kembali dari perjalanan kabur itu tetep aja harus dihadapi. Dan seringkali kondisinya jadi lebih pelik. Ampun!

Tidur
Kadang tidur sejenak bisa mengistirahatkan hati dan pikiran sehingga sesudahnya memiliki energi lebih untuk kembali pada kenyataan hidup. Namun seringkali tidur tak cocok jadi tempat kabur karena di dalam mimpi taunya malah mimpi kerjaan atau mimpi lain yang ga jelas. Akhirnya berujung pada tidur yang kurang berkualitas. Bangun tidur stresss!

Mengerjakan hal lain yang produktif
Pindah mode kayanya salah satu tempat kabur yang agak mending. Setidaknya ada hal yang emang kacau, tapi ada hal yang lalu beres. Tapi walau hal produktif lain itu berasa penting, sesungguhnya ada yang lebih prioritas untuk dilakukan. Jadi itu sih masalah pilihan aja.

Mencari kesenangan yang lalu menghabiskan waktu dan uang
Nah, ini cara lain yang menimbulkan efek kebahagiaan namun berujung timbulnya masalah baru. Gamau kan di akhir bulan malah abis uang gara-gara kabur pakai cara ini? Atau minimal jatah nabung berkurang deh gara-gara aksi ini.

Ada lagikah cara kabur lainnya? Ayo dibagi!

Kabur sih sah-sah aja kalau memang benar-benar diperlukan. Tapi kalau lagi waras, kaburnya bentar aja dan baiknya dicicil menghadapi kenyataan hidup yang terjadi depan mata. Dari pengalaman, yang paling berat itu justru mengkondisikan hati. Kalau di hati udah merasa enggan duluan menghadapinya, hal yang sesungguhnya sepele pun jadi terasa berat. Padahal seringkali, saat mulai dihadapi terbukti gak pelik-pelik amat.

Jadi, yuk belajar bareng-bareng mengurangi kabur dan niat kabur sehingga kualitas diri kita meningkat dengan berbagai badai yang datang ini.

SEMANGAT!

*lagi nyemangatin diri sendiri sih sebenernya*
*lagi banyak deadline malah nulis di blog*

Saturday, 20 October 2018

Plered?

Pasukan kurang piqniq akhirnya piqniq ke Plered!

YIIIHHAA, ini lah kamiii..

Abaikan AMDK-nya. Itu kayanya punya penumpang sebelumnya kwkw. Foto: Jessisca Fam 

Dengan berbekal ijin dari suami, uang secukupnya, semangat kekurang-piknikan dan kuras sisa makanan di kulkas, kita berempat berangkat piqniq setengah hari. Dengan tujuan kekeretaan dan makan.



Bekelnya Ayu

Kenapa harus bekal? Gada yang mengharuskan sih. Tapi sebagai orang yang selalu laperan dan tau bahwa di kereta jaman sekarang gada tukang dagang, maka ya lebih aman bekel. Ini udah tahun 2018 loh! Gada tukang dagang seliweran. Apalagi musik sepaket calung dan tukang ngamen waria hehe. Saya ngomong begitu karena masih kealaman jaman naik KDR Bandung. Sekarang sih takada asap rokok. Ber-AC dan ada colokan listrik. Ini kereta ekonomi ya, bukan bisnis apalagi eksekutif. Harganya aja cuma 8000 perak. PP dari Kircon/Bandung ke Plered jadi hanya 16.000. Warrrbyasak kan~

Inspirasi piqniq kali ini datang dari Mala. Dia pernah beberapa kali melakukan perjalanan serupa. Namun rupanya ini sudah jadi jalur favorit untuk rakyat kecil! Bersama dari stasiun Kiaracondong, ada serombongan ibu-ibu yang juga naik ke kereta menuju Plered dan ternyata sama akhirnya makan bareng sate Maranggi sama kita.

Niat pisan, mau makan sate aja pada pake seragam merah putih!

Tertarik mau coba juga, ini jadwal keretanya dan belinya di stasiun selatan ya, baik di stasiun Kiaracondong maupun stasiunn Bandung. Ini penting untuk diperhatikan karena kereta yang dinaiki masuk ke kereta api lokal yang jalan masuknya berbeda dengan kereta api luar kota.

Foto: Gemala

Tempat naik (juga turun) dan pilihan kereta silakan disesuaikan. Kemarin untuk perjalanan pergi kita pilih kereta nomor 395 (yang diberi tanda biru) dan pulangnya naik kereta nomor 396. Yuk jalan-jalan naik kereta! Pemandangannya keren. Ada sawah-sawah dan berbagai gambaran kehidupan tersaji.

Foto: Jessisca Fam

Ketika sampai di stasiun Plered yang dilakukan adalah tengok-tengok. Mencari dimanakah letak kampung Maranggi? Kata Mala sih deket stasiun banget. Dan ternyata tepat di sebelah stasiun!

Sebelum makan foto dulu tentunya. Monmaap ya pemirsa! Di foto ini udah mulai meringis karena udara terasa lebih panas. Selain karena sebelumnya turun dari kereta ber-AC.

Foto: Jessisca Fam

Lalu? Ya cepet-cepet pesan makan dan segera bersantap dong!

Harga sate relatif murah. Karena ini makanan rakyat kecil jadi kecil-kecil juga nih satenya. Tapi rasa lumayan. Seporsi satu 18-20 ribu. Isinya 10 tusuk.

Kampung Maranggi tampak depan. Foto: Gemala

Di Kampung Maranggi, berjejer banyak pedagang sate semacam ini. Foto: Jessisca Fam

Ayo makan!
Sejak turun dari kereta, sampai akhirnya kita naik kereta untuk pulang, ada waktu sekitar 2 jam untuk beraktifitas di daerah Plered. Jadi, setelah kenyang makan dan kenyang ngobrol, lalu kita berangkat ke Museum Keramik.

Dari Kampung Maranggi kalau mau ke Museum Keramik pilihannya ada 2:
1) naik angkot: Rp 3000/orang  untuk 1 kali perjalanan
2) naik grabcar: Rp.11.000/1 kali perjalanan

Grabcar batal kami gunakan karena angkot sudah lebih dulu nongol.

Ternyata ini bukan museum! Museum kebayangnya ada informasi yang jelas di setiap barang yang dipamerkan. Namun di tempat ini tidak ada. Yang nampak adalah 1 ruang yang berisi banyak keramik. Menurut penjaganya, keramik ini adalah produk-produk yang dibuat dalam 5 tahun terakhir.

Di dalam "galeri"

"Galeri" ini merupakan salah satu bangunan yang ada di UPT lupa-lagi-namanya-apa. Jadi memang bangunan milik pemerintah. Dan ada ruang pembakaran keramik dan ruang pembuatan keramik di samping bangunan "galeri" tersebut.

Mau buat keramik? Kayanya pakai alat ini 

Ruang pembakaran keramik. Foto: Jessisca Fam

Dengan waktu yang masih tersisa beberapa menit sebelum kereta datang, disempatkan jugaj jalan kaki ke beberapa toko keramik yang ada di sebelah-sebelah museum. Jaman dulunya sih katanya jaya nih industri keramik di Plered. Kemarin relatif tampak sepi.

Jajaran toko-toko keramik di Plered

Beberapa contoh keramik yang ada di kota sepanjang jalan tersebut

Lalu kita cepet-cepet pulang naik angkot untuk mengejar jadwal kereta pulang. Naik kereta dan sampai stasiun Bandung sudah gelap.

Sampai ketemu di piqniq selanjutnya!




Friday, 21 September 2018

Makanan Sisa?

Makan adalah salah satu aktivitas favorit (saya)! Dengan berat badan yang kian bertambah ini, tentunya saya pernah mencoba diet. PERNAH MENCOBA. Namun begitu pola makan dan asupannya kembali amburadul, maka berat badan pun NAIK LAGI.

Masalah lain dari makanan adalah, kalau gak direncanakan dengan baik, bisa bersisa banyak. Atau bahkan kekurangan. Dua-duanya sama-sama bermasalah.

Kelebihan makanan biasanya terjadi karena kurang baik dalam perencanaan atau malah berubah sama sekali dari rencana awal. Contohnya kalau di rumah nih, saat udah masak nasi, taunya ada yang ribut pengen makan di luar. Otomatis nasi hari itu jadi ga abis. Ah tapi orang endonesya ada wae akalnya. Bikin nasi goreng dan olahan lainnya supaya makanan ga terbuang.

Belum lagi pas ngecek kulkas ada nyelip sayur yang ga kemasak tapi udah butut. Pernah ga ngalamin kaya gitu? SAYA PERNAH. Ampun! Kuncinya emang di aspek perencanaan.

Makan di luar biasanya porsi suka besar-besar kan? Antara sayang udah dibeli tapi perut udah penuh sesak. Belum lagi kalau dapet konsumsi makan siang non prasmanan (misalnya nasi kotak). Jenis makanannya buayak pisan dan enak-enak. Ini biasanya bisa diselesaikan dengan #MistingAjaib. Mistingnya misting biasanya, tapi ajaib karena rutin tersimpan di tas dan pas ada makanan sisa yang enak-enak itu bisa dibekel.

Kumpul-kumpul makan juga ada lagi seninya. Misalnya direncanakan botram bareng temen-temen/keluarga. Memang mungkin ada rasa sungkan karena perlu sebelumnya mendata dengan detil --> siapa aja yang bakal datang? masing-masing bakal pada bawa apa? (akusih ga sungkan hahah, justru biasanya jadi seksi sibuk untuk pendataan dan grupnya jadi rusuh). Tapi kalau ga dilakukan, peluang makanan berlebih/kurang bisa terjadi. Kalau kurang, kasian kan pemirsa yang sudah hadir. Kalau berlebih, pusing lagi untuk memastikan bahwa makanan itu terdistribusi pada yang membutuhkan. Atau nambah-nambah kerjaan/beban jadi harus ada kegiatan ngompos-ngompos kalau memang ahirnya ga abis!



Foto: Judith


Jadi, kapan kita kumpul makan-makan lagi? 


#KapanKurusnya
#DietItuBesok
#belajarzerowaste

Friday, 24 August 2018

Pembantu?

Udah lama ga share buku bacaan. Kerjanya bolos melulu di #oneweekonebook . Ampunnn 🙈. Namun tadi malem ahirnya ada bacaan yang beres. Tepatnya baca curhatan mamak-mamak tentang pembantu rumah tangga.

Trus jadi inget jaman baheula. Hidup memang tida lengkap tanpa kehadiran mereka. Mreka lah yg bkin hidup jadi bisa lebih ngapa-ngapain. Ga terpaku nginget2 seuseuhan, istrikaeun dan tumpukan cucian piring.






Sejak kecil, saya emang terbiasa adaaa wae pembantu. Ada masanya ketang sebentar ga punya pembantu dan mesin cuci lagi rusak. Makaning nyuciin serumaheun. Auoooo!

Jadi saya pernah ngalamin hidup berdampingan sama pembantu yg pulang, yang nginep, pembantu tunggal, pembantu sampai 2 orang, pembantu bawa anak, pembantu yg udah nikah, belum nikah, dan tentunya drama ga balik lagi sesudah lebaran. JRENG JRENG


Begitulah serunya hidup!

Eh ternyata sgala drama tsb dirangkumkan dengan manis sama teh Ric Erica di bukunya yang berjudul PEMBANTU METROPOLITAN. Tapi si teteh eta emang juara bgt, sampai puluhan kali ganti pembantu. Kukira pembantu di rumah cimahi sudah juarak dramanya. Tp ternyata hal sedemikian emang fenomena umum. Kituwehhh~


Boleh dibaca juga tuh buku tsb sebagey pelipur lara bagi temen2 yang bete dan rudet sama pembantu (TAPI BUTUH). Termasuk di dalamnya sampai ada matriks perbandingan antar tipe pembantu. Kepikiran yampon!

Okelah, saya sudahi dulu cerita panjang ini karena tumpukan cucian baju kotor sudah menanti.

Tertanda: teteh-teteh-yang-udah-tiga-taun-hidup-tanpa-pembantu 🙌🙌 

Saturday, 11 August 2018

Mengkompos Itu (Harusnya) Mudah!

Cara mengkomposmu, cermin kerapihanmu!
Kalau untuk saya sih, ga rapi gapapa, yang penting ada kesempatan untuk mengurus sisa makanan yang biasanya perlu dibuang ke luar rumah!

Jangan dilihat dari kerapihan takakuranya ya. Malu 🙈 udah kelamaan ga dipanen jadi kepenuhan. Juga si kardusnya udah rawing minta diganti.

Tapi mari saya ajak temen-temen untuk lihat manfaat dari si keranjang takakura ini!



Saya belum pernah ngukur secara pasti jumlah sisa makanan yg dihasilkan di rumah (baik dari aktivitas memasak maupun makan-makannya), tapi perbedaan yang nyata adalah: saya tak perlu buang sampah sesering tetangga. Dan tak sebanyak tetangga.

Pada jadwal pengangkutan sampah rumah yg berlangsung tiap selasa, jumat, minggu, saya paling banyak buang sampah 2 kali saja. Dan itupun seplastik. Karena masih ada residu yang dihasilkan. Tetangga???? Sampai ada yg keberatan gotong tong sampahnya. Ataupun bawa sampe berkresek-kresek.

Dari pengalaman saya (yang pemalas ini) sebenernya kalau punya balong dan ayam, ga perlu lah itu teknologi pengomposan yg begini dan begitu. Kerasa saat tinggal di rumah Cimahi. Tapi kalaulah perlu tinggal di tempat yang minim tanah (bahkan tembokan semua) takakura ini lumayan lah~ bahkan saya ga meracik sendiri isinya. Tinggal pesan ke @tokoorganisypbb. Enaknya lagi kalo pake takakura, isiannya (kalo ga eror-eror banget) ya gausah ditambah apa-apa lagi. Jadinya ga menambah pengeluaran rumatangga.

Catatan: bagi penganut #SuksesBagiSiRajin , tentunya bisa meramu sendiri isi takakuranya. Ga harus beli loh.

Perubahan kecil aja, sangat berarti untuk kurangi sampah yg keluar dari rumah kita~

Wednesday, 11 July 2018

Ganti Istilah?

  • Penggunaan istilah/slogan katanya bisa mulai mengubah pola pikir kita katanya.

    Segitu seringnya kita dengar: BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA. Kenyataannya? Orang-orang masih weh ninggalin sampah dimana-mana.

    Juga trend terkini: PILAH SAMPAH. Kenyataan: angger tempat sampah terpilah di tempat umum teh nyampur booo.

    Juga trend lainnya: LAKUKAN 3R! Reduce-reuse-recycle. Angger yang terjadi riweuh bikin ini itu kerajinan dari sampah. Nyampahnya? Masih tetep jalan terosss!

    Itu padahal udah diganti istilah-istilahnya dan sudah melebar dari sekedar "buanglah sampah pada tempatnya". Jadi apa yang salah sebenarnya?

    Istilah diganti tentunya oke. Tapi di balik itu ada sesuatu juga yang perlu berubah (banyak). Cara pandang kita terhadap sisa material dari rumah misalnya. Pikiran-pikiran kita saat mau bela-beli misalnya (ingin atau butuh yeuh?). Penggunaan maksimal dari barang-barang yang ada dulu misalnya. Metode pengangkutan material dari rumah-rumah misalnya. Upaya untuk mengkompos di rumah atau di dekat rumah misalnya dll.

    Semua hal ini perlu berjalan seiring dengan pengubahan istilah yang juga dilakukan pada berbagai aspek material di sekitar kita. Kalo engga, nanti kita cuma seruseruan ganti istilah dan pakeren-keren istilah padahal ya ga kemana-mana.



  • Ngetik panjang-panjang gini sebageyyy refleksi dan tugas 2 dari kelas #belajarZeroWaste . Ngetik terutama sambil "menampar" dan ngingetin lagi diri sendiri~

    Foto petugas pengelola material kawasan (ato yg biasanya disebut mamang sampah) diambil saat wawancara untuk program #ZeroWasteCities @ypbbbandung

Wednesday, 13 June 2018

Antri dan Hak Orang Lain

Udah pada mudik? Atau masih bertahan di kota? 

Foto dari tema google.com hari ini


Saya masih bertahan di kota dan hari ini masih menjalani hidup seperti biasa. Dan masih perlu belanja. Akhirnya melipir ke Superindo Ujungberung karena tinggal ngajleng dari kontrakan. Ceritanya mau bikin tajil es buah buat nanti magrib. Hanya buat berdua doang. Kebayang kan belanjanya berarti seuprit pisan. 

Sampai sono, ternyata antrian panjanggggg (g nya banyak banget saking panjangnya). sebagai langkah cepat, buruburu ambil belanjaaan. Sret sret dan secepatnya nangkring di jalur cepat. Jalur cepat ini dikhususkan bagi non trolley dan pembayaran tunai. Yanamanya juga jalur cepat sehhhh sehingga dikhususkan bagi yg belanjaannya sedikit dan non gesek-gesek yg biasanya suka butuh waktu lebih lama. 

Lalu pas mulai antri, sambil ngamatin segala hal. termasuk depan saya tuh antrinya pake trolley. seorang bapak-bapak. Saya langsung mikir cara yang tersopan untuk negur. Maksudnya sih tentunya mencari jalan tercepat untuk bayar belanjaan tanpa merugikan orang lain dan mengingatkan dalam kebaikan. 

Si bapak dengerin teguran saya dan oh oh. Beberapa menit si bapak diem. Tapi lalu berkata, "saya pindah deh". Alhamdulillah ada juga yang otaknya masi waras di tengah antrian segitu panjang.

Ada lagi ibu yang depan depannya saya (maksudnya keseling sama 1 antrian). saya kasitau dengan cara yang sopan juga. Trus reaksinya adalahhhhhh jreng jrenggggg! "kemarin juga saya antri di sini bawa troly tetap dilayanin". Oke baiklah buuu. Kan ga penting reaksi dia mah, yang penting sudah mencoba mengingatkan. 

Lalu sambil antri sambil mikir. apa yang salah ya dengan si ibu teh. Bukan hanya si ibu itu secara spesifik. Tepatnya orang indonesia yg kelakuannya sejenis si ibu. 

Apakah tingkat pendidikan? Lalu saya jadi mikir: belajar apaan ya dulu jaman sekolah. Adakah pendidikan yg emang efektif membiasakan antri sesuai kriteria? Atau setidaknya menghargai hak orang? Pelajaran PMP (IYA UDAH TUIR EMANG. ISTILAHNYA MENUNJUKKAN JEBAKAN UMUR WKWKW) sih biasanya emang bentuknya pilihan ganda. dan gampil-gampil aja ngisinya. Pokoknya isi aja yang sekitanya terpuji. Tapi lalu ada gap (meureun) antara teori dan praktek. Belum lagi contoh buruk yang lebih sering dilihat dalam keseharian. jadi mungkin moal beres juga kalau dipecahkan dengan pendidikan formal. kecuali sekolahnya alternatif atau ada perlakuan tambahan selain mengisi soal pilihan ganda. Padahal jaman baheula penataran P4 gencar dimana-mana ya. 

Terus kalau yg disalahkan adalah sign (petunjuk) yang kurang, kayanya engga sih. NGAJEBLAG alias gede kok keliatan. 

Siapa lagi yang bisa dipersalahkan? Sesunguhnya saya suka malu sendiri. Kita teh orang Islam (dan kebetulan ibu yang tadi kayanya orang Islam karena terlihat berkerudung besar) dan ditempa puasa hampir sebulan lamanya, tapi ko masi ada aja orang yg kelakuannya seperti itu. 

Atau kalau menganut paham berprasangka baik, yaudah kita coba pikir saja bahwa orang itu buru-buru (pake banget) karena mungkin mau naik kereta mudik dua jam lagi di Stasiun Bandung. jauh kan ya kalau dari Ujungberung. Makaning macet. hahaha. Itu sih kayanya antara berprasangka baik dan sabar dan kumaha deui. Tapi ingatlah bahwa sabar itu aktif. jadi buat saya, bebas aja si ibu mau gimana. yang penting sudah diingatkan. Maapin curhat siang-siang. 

Punya pengalaman seru saat antri atau berkegiatan di tempat umum? ayo bagibagi cerita serunya!