Thursday, 17 May 2018

Beragam Tipe Ucapan Ramadan

Pagi ini mengamati sejenak trend ucapan selamat menjalani Ramadhan di instagram. Caranya sederhana aja. Intip timeline di instagram dan kalau ada yang menarik di-screenshoot. Cuma lihat-lihat bentar karena berbagai amalan di bulan suci Ramadhan menanti (maksudnya nyeuseuh, ngistrika, ngepel dkk hahah). Dan pengamatan terbatas pada akun-akun yang saya ikuti (sianil segala difollow tea)

Ada beberapa tipe postingan ternyata:

Ter-iyyyuhhh
Versi Iyyuh ini tentunya sesuai selera saya ya. Menurut saya, yang paling malesin adalah ucapan yang ngajeblag foto si tokoh di lembaga tersebut. Asa gimana ya~ Apakah tak ada simbol lain dari lembaga tersebut yang bisa diangkat?

Mohon maap ga pajang foto, bisi mengurangi nilai ibadah para pembaca hahaha

Agak iyyuh tapi masih berfaedah
Ini agak malesin karena kenapa harus ada muka si bapak-bapak ini ya? Apakah memang SOP pembuatan posternya seperti itu? Tapi agak mendingnya karena ada info kegiatan yang bisa diikuti oleh masyarakat selama bulan ramadan.



Terniat ataukah terbanyak budget?
Saya gatau namanya tehnik apa nih medianya. Tapi ucapan selamat ini menggunakan suara dan ada tangan yang nulis-nulis membuat ilustrasi sesuai omongan orang tersebut.

Boleh intip akun @walhinasional di sini

Terpersonal
Ibu Sri Mulyani alias menteri keuangan membuat ucapan selamat berpuasa yang rada panjang dengan tulisan tangan. Menarik karena terasa lebih personal.


Termemanfaatkan moment
Ada 2 jenis postingan yang saya amati untuk kategori ini:
- Memajang jam bukan dan tutup layanan karena biasanya bulan ramadhan ada perubahan jam kerja


- Menampilkan tema kampanye atau visi misi lembaga. Ini dibagi dua, ada yang tertulis di caption, ada yang tertulis di poster + di caption dan dibagi dua lagi yaitu ada yang masukin pesannya enakeun, ada yang rada "maksa"

Pesan sponsor hanya di caption



Mohon maap, postingan yang rada "maksa"nyambungin ke visi misi lembaga tidak ditampilkan. 

Bila ada lembaga yang memanfaatkan moment, tentunya tak mengapa. Bahkan akan lebih asyik lagi bila ada yang membagikan informasi yang sesuai dengan visi misi lembaga namun bermanfaat bagi pelaksanaan ibadah ramadan.

Kamu sendiri, kalau bikin ucapan seperti apa?







Wednesday, 16 May 2018

Dari Soreang Menuju Sadang

Karena kabita sama iklan di instagram tentang promo travel ke Soreang, maka ketika hari senin saya coba ke Soreang pakai travel. Bukan sekedar iseng cobain travel tentunya, tapi memang ada kerjaan untuk wawancara tokoh program ZWC-nya YPBB untuk bahan liputan blog dan medsos.

Tiket sudah di tangan dan tinggal menanti mobil travelnya siap.



Lalu naik lah ke mobil travel. Semua masih tampak baik-baik aja sampaiiiiiii di jalan tol saya melihat plang PADALARANG. Lalu mikir dulu: apakah ke Soreang perlu melewati Padalarang dulu? O-ow! Lalu mulai panik!

Bertanya ke penumpang di sebelah dan ternyata ini BUKAN travel ke Soreang melainkan travel ke Sadang. Apakah Sadang adalah nama sebuah tempat di Soreang? TENTU BUKAN! Sadang adalah suatu tempat di pinggir Purwakarta. JAUH OGE NYA! Dan gabisa tibatiba hoyong kiri dan minta turun. Yaudah, ngikut aja dulu sampai Sadang. Memandang pemandangan sepanjang jalan tol. Anggap aja jalan-jalan. Dan tentunya segera memberi kabar ke tim Soreang bahwa si eteh tukang wawancaranya batal ke sana karena kebawa travel ke Sadang. Dan semua enak dan kenyang banget kayanya ngetawain. Hiburan~

Pool travel di Sadang ternyata tepat di ujung jalan keluar tol, tepatnya di Ramayana Sadang. Pak supir bilang, tak perlu lagi bayar tiket, tapi langsung saja ikut ke Bandung, lalu naik lagi travel yang ke Soreang. Hal tersebut juga sudah dikoordinasikan dengan petugas tiketnya sehingga dipastikan saya mendapat kursi di jadwal selanjutnya. 

Baiknya lagi, pihak travel tidak memberi beban kepada saya untuk beli tiket menuju Bandung. Bahkan digratiskan kalau mau ke Soreang pada hari yang sama. Lumayan juga sih soalnya kalau perlu bayar: tarif Sadang-Bandung Rp. 35.000.00. 

Masih tersisa sekitar 45 menit untuk tunggu jadwal travel selanjutnya. Akhirnya masuk ke Ramayana. Bukan buat jalan-jalan sih, tapi hanya nebeng sholat di musholanya dan kemudian balik lagi ke ruang tunggu travel. Ngadem tentu tujuannya dan terutama sieun ketinggaleun travel.


Nebeng Ngadem

Petugas tiket ternyata langsung memberi jatah kursi di nomor 1. Tepatnya sebelah supir. Jigana dititip ke supir . Bisi salah naek deui hehe. Demikialah petualangan singkat naek travel di hari senin. Tanpa direncanakan, jadi sempat menginjakkan kaki di kota Sadang sejenak.

Sunday, 6 May 2018

#masalahVSsolusi Kemasan

Ketika YPBB mengadakan lomba-lombaan ini, lalu sebenernya saya lieur. Foto apa yang bakal ditampilkan ya? Asa idup mah gini-gini aja levelnya. Belum bisa sampai kurangi kemasan (apalagi menggunakan produk-produk organis) sampai seekstrim beberapa teman dan selebgram kece. Masi jauhhhh~



Kalo ngorek-ngorek koleksi foto di laptop, pasti ada sih. Tapi kan PR banget ya nyarinya. Secara kalo pindahin foto cuma dicut-paste doang. Sehingga akhirnya memutuskan: yaudah foto lagi aja kehidupan yang berjalan dalam beberapa hari tersebut. Kan aktivitasnya juga rada lama. 21-27 April 2018, 7 hari lumayan lah. 

Dan inilah 5 posting kemasan bermasalah dan solusinya!

SATU


Jadi ceritanya kan mendadak ke rumah Cimahi. Langsung mata jelalatan mencari kemasan naooooon yang kemudian bisa dijadikan masalah. Dan nemu sepaket sambel sachet-an. Langsung difoto karena inget bahwa di rumah ada sambel botol yang ga abis-abis isi rumah kan ngan dua-an dan jarang dipake oge sambel itu teh. Sambel botol kan bisa dijadikan solusi dari kemasan sachet.

Walaupun yaaaa, bila dilihat dari komposisi bahannya, masih ada bahan ini itu yang berbahaya. Yang udah paling bener adalah, kalau mau seuhah, ya ngulek sambel ajeee. 


DUA

Seperti kebanyakan tukang tahu, mamang ini pun mengemas tahu jualannya dalam plastik. 


Tapi mamang nu ieu rada istimewa karena masih memberikan peluang bagi pembelinya untuk membeli tahu menggunakan wadah sendiri (misting dkk). Asallll pembelinya mau bangun pagi dan ke pasar rada nyubuh. Telat dikit, semua udah pindah kana plastik. Jarang pedagang tahu yang seperti ini. Kebanyakan pedagang tahu sudah datang dengan tahu berplastik atau ada supplier yang anter stok tahu dalam plastik. 

Berhasil pakai misting!

TIGA

Kalau beli telur, biasanya pakai plastik kan ya? Plastik dan seringkali dikeresekan karena ditenteng terpisah dengan belanjaan lain. BIAR APAAA? Ya biar ga pecah lah~



Nah, sebagai alternatif, lagi-lagi misting adalah jawabannya. Tapi kalau pengen sakses pakai misting, perlu pilih mamang yang nimbangnya "cerdas". Timbangan elektrik dan tau cara pakainya kalau mau pakai misting. Yang ditemui sih ada yang "gamau nimbang pakai misting" karena dianya udah set timbangnnya supaya kompatibel sama wadah yang biasa dia gunakan. Ini masih ok lah ya. 


Baru kemudian si telornya dimasukkan ke misting. 


Supermarket yang mau terima rikues aneh seperti ini adalah Superindo.

EMPAT

Pada suatu hari, seharian riweuh di rumah sampai ga sempat ke pasar. Laluuuu menjelang sore, akhirnya pergi ke griya untuk beli pecay buat lalab. Dan penampakan kemasannya seperti ini. 


Jeng jrenggg, semua dikemas plastik. Tapi karena butuh, ya diambil welah. Dan berjanji dalam hati, mun teu kapaksa-paksa teuing, ulah beli di sini lagiiii. 

Dan pas ke pasar, asa bahagia bisa beli pecay tanpa dikemas-kemas. Tinggal slubbb, asupkeun ke tas kain. BERES. 



LIMA

Di supermarket ataupun di pinggir jalan sekarang bertebaran buah dengan kemasan styrofoam dan plastik wrap tea geuning. BIAR APA? Mungkin biar "cantik" dan meningkatkan nilai jual.



Cara lain supaya ga perlu mendapat bonus kemasan tersebut, ya beli buah di pasar atau supermarket yang menginjinkan kita untuk mewadahi pakai wadah sendiri. 




SELALU ADA SOLUSI DARI SETIAP MASALAH
Asal kita mau!



Sunday, 1 April 2018

Memasuki Dunia "Berbeda" dari Membaca


PELACUR. Sebuah profesi yang seringkali dibenci, tapi diberantas segimananya juga tetap ada. Istilah lain yang disematkan ke mereka kadang WTS alias wanita tuna susila atau PSK alias pekerja seks komersil (ada emang ya, kerjaan yang ga komersil? hehe), ada juga istilah-istilah lain yang bukan berupa singkatan misalnya lonte. 


Proses saya berinteraksi dengan isu dan apalagi para pelacur sangatlah minim. Dulu sempat tinggal sebulan di belakang area pelacuran pas jaman KKN. Penasaran, tapi akhirnya hanya sempat masuk satu kali ke salah satu "warung" dan itupun di siang hari dalam rangka sebar kuesioner sosial ekonomi. Dan sambil wawancara pemilik warung, saya sambil penasaran-penasaran tea pengen noong "ada apa sih di dalam arena pelacuran teh".

Kalau tampak luarnya, seperti warung tempat berjualan. Tapi jualannya minimalis. Yang heboh adalah saat menjelang sore saat eteh-eteh dangdan mulai ngajajar  
Eteh-eteh tersebut pada duduk manis di kursi bambu depan warung masing-masing menanti konsumen. Teman-teman lelaki saya apa pernah mencoba "icip-icip"? GATAU TAH. Yang pasti tiap kita (kita tuh maksudnya kalau saya dibonceng sama salah satu teman lelaki) mau masuk ke area tempat tinggal si eteh kadang menawarkan jasanya.

Pertemuan kedua dengan pelacur berlangsung saat seminggu menjalani masa live in di salah satu kampung miskin perkotaan, di Jakarta. Pas jaman baru-baru lulus kuliah. Itu kampung isinya macem-macem dan beberapa budayanya baru saya kenali. Mulai dari orangtua yang pagi-pagi nganter pakai motor beberapa anaknya ngamen, pulang ke rumah, santai, lalu sorenya jemput. Lalu budaya nonton dan denger musik keras-keras, padahal yaaaaaa itu pemukiman padat. Yang ditonton musik dangdut dan India, yampoooon! Anak-anak yang tukang jajan. Orangtuanya ngeluh ga punya uang, tapi frekuensi jajannya luwarrrbyasak! Banyaknya tikus gede-gede seliweran di dalam rumah dll dkk. Oh iya, sama ditambah bonus "diincer" sama salah satu mamang di lapak sampah. Sampai disamper-samper ke rumah tiap hari. Oh masa lalu~ 

Kesimpulannya, rasanya saya ga betah. Hidup terasa berjalan begitu lambat. Seumur hidup baru kali itu merasa "pengen pulang ke rumah". Biasanya kalo nginep dimanapun, anteng weh.

Untuk mempelajari pola hidup warga di lokasi itu, saya perlu banyak-banyak ngobrol dan mengamati. Termasuk kalau bisa mengikuti beberapa kegiatan masyarakat, bila memungkinkan. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah nongkrong di warung. Kalau kebetulan ada yang nyambung, ya ngobrol. Kalau engga, ya diem aja mengati. Saya pernah duduk bareng aja sama 1 perempuan yang masing muda. Pas ditanya kerjaanya apa, sambil cengar-cengir dia bilang kalau dirinya lonte. NAH SAYA GA TAU ITU APA-AN. Terus ya ahirnya ngobrol yang umum-umum aja.
Di kampung tersebut juga tinggal beberapa waria. Ga pernah ngobrol juga sih. Tapi karena rumahnya dempet-dempet dan rumah yang saya tinggali cukup dekat dengan kamar mandi umum, jadi suka denger obrolan mereka pas lagi antri. Termasuk "centil-centilnya" pas lagi nyanyi sambil mandi kedengeran. 


  • Sisanya? Kayanya saya ga pernah berinteraksi sama pelacur. Kalaupun pernah bareng, mungkin saya terlalu polos dan ga sadar lagi bareng dia 😉. 



  • Nah, di @ipusnas, saya menemukan 1 buku yang memaparkan hasil disertasi terkait dengan pelacur. Membaca buku ini mengajak saya memasuki area Kramat Tunggak sebagai dunia yang saya tak ketahui, yang menawarkan cara pandang baru. Banyak data seliweran di buku ini. Kadang beberapa saya baca cepat aja (mumet juga kan liat data ini itu sekian persen terus-terusan) dan biasanya saya lebih senang baca bagian deskripsinya atau penafsirannya. Yang menarik pada buku ini, mulai dari awal pengenalan medan, pengambilan data sampai ke pemaparan hasil, terasa maksimal. Observasi awal aja sampai "menyamar" jadi murid di area kelas pembinaannya Depsos. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Yang diwawancara bukan hanya pelacurnya saja, tapi sampai ke pemilik tempat pelacuran dan bahkan pelanggan. Peneliti bahkan sampai punya "asisten" yang profesi aslinya pelacur. Hal tersebut bisa memuluskan jalan saat pengambilan data dan juga bayangkan betapa si pelacur itu mau bela-belain bantu peneliti disamping tetap menjalani pekerjaan utamanya. Bagian yang cukup heboh juga adalah saat peneliti mencoba menyelami perasaan para pelacur tersebut dengan mencoba menginap 1 malam di area pelacuran. WOW! totalitas pisan. Padahal saat itu dia sudah bersuami dan beranak. Bahkan sampai suaminya datang menitipkan peneliti ke ibu pemilik warungnya.

  • Endang Rahayu Sedyaningsih penulisnya. Membaca buku ini, memancing saya untuk mengetahui "siapakah dia?" Dan saya baru tahu setelah googling. Rupanya peneliti sudah meninggal karena kanker paru-paru dan dulu sempat bikin heboh karena diduga sebagai "antek" Amerika namun malah diangkat jadi menteri kesehatan. Hasil penasaran itupun mempertemukan saya dengan 1 buku lagi yang ditulisnya yaitu Untaian Garnet Dalam Hidupku. Sungguh berbeda dengan buku "Perempuan-Perempuan Kramat Tunggak" yang begitu terstruktur buku ini berisi cerita tentang kesehariannya, dari masa muda sampai berkeluarga, sisi-sisi personal yang terkait dengan pekerjaan, sampai perasaan dan pemikirannya saat hari-hari terakhir hidupnya. Buku tersebut ditulis saat masa sakit mulai datang. Saat telah divonis kanker. Yang saya bayangkan saat membaca buku ini adalah EDUUUNNN sakit segitu parah aja masih bisa menghasilkan 1 buku. 

Mau baca juga? Gatau di toko buku masih ada ataukah tidak. Yang pasti di ipusnas ada beberapa bukunya yang bisa dipinjam secara gratis. Mari meluncurrrrr~

Friday, 9 March 2018

Perubahan di 2018: Mau Rajin Baca Buku!

Jadi, ceritanya mulai Februari kemarin saya memantapkan niat untuk rajin baca buku melalui media @gerakan1week1book

Jaman dulu kalau ngisi diary temen jaman SD, kalau nulis hobi adalah titik dua MEMBACA. Baca apa? Yang pasti karena dilangganin Bobo dan AWD, maka itulah bacaan rutinnya + warisan 5 sekawan berikut suka diajak ke taman bacaan dan Gramedia. Jaman udah rada gede masih sama sukanya baca fiksi. Bisa anteng berjam-jam. Bacaan lain? Koran langganan PR dan Republika. jadi suka baca juga walopun sret sret banyaknya baca judul dan antengnya koran hari minggu. Jenis yg lebih "ngelmu" apalagi yg terkait matkul: TARA alias ga pernah.

Jadi ceritanya (lagi), saya ingin mulai menggeser kebiasaan kebanyakan ngintip medsos (terutama instagram yang racun dunia ituh) dengan kebiasaan yang lebih baik dan berfaedah. Apakah perubahan sudah mulai terjadi? 

TADAAAAAA!

Jawabannya adalah BELUM SEGITUNYA. Ya tapi mayan lah~
Daripada tahun kemarin kayanya ga pernah baca buku deh hahah. 

Menyadari kondisi tersebut, pilihan buku perdana untuk setoran #oneweekonebook pun yang ringan aja dulu supaya memberikan pengalaman positif! Maksudnya yang kira-kira tamat dalam seminggu.




Walau 300an halaman tapi ternyata beres 2 hari! Tapi akibatnya BAPER booo. Karena banyak bagian yg menggambarkan suasana ketidakjelasan saat akan putus dan suasana hati sesudahnya #eaaaaHihiy! Ya gitudeh~


Di minggu kedua menjalani #oneweekonebook ini, saya mulai berkenalan dengan aplikasi @ipusnas.id. Bisa wareg baca buku secara online!

Minggu kedua ini tanpa sengaja pilih buku yang terdiri dari bagian-bagian kecil yang tidak saling berhubungan satu sama lain. Jadi bisa satu kali duduk beres 1 cerpen (cocok kalo lagi riweuh sama ini itu). 



Senang bisa kenal dan mendalami cerita hidup beberapa tokoh dan setting yg berbeda dalam setiap cerpennya. Walau kadang rada bolot pas ujug-ujug udah sampai ujung cerpen dan perlu balik lagi ke bagian tertentu untuk memahami lagi pesan dari si cerpen.

Minggu ketiga dan keempat kegiatan baca ini mandeg karena eh karena (mau nulis alesannya tapi gausah lah ya)

Baru di awal minggu ke 5 ini menamatkan buku ketiga di tahun 2018 yaitu buku ini nih..




Buku yang ditulis keroyokan oleh para relawan Rumah Dunia ini bisa menggambarkan pengaruh sebuah komunitas terhadap para relawannya. Pengaruhnya bahkan sampai ke level "mengubah hidup". 

Diceritakan dalam buku ini banyak relawan yang berasal dari keluarga menengah ke bawah yang bahkan tak terbayang akan berkiprah di seputar dunia baca dan tulis. Adapun yang memiliki hasrat di bidang tersebut biasanya Adapun yang memiliki hasrat di bidang tersebut biasanya terbentur pada tidak adanya akses dan lingkungan yang mendukung.

Beberapa orang yang "beruntung" tersebut lewat jalurnya masing-masing mendapatkan kesempatan emas untuk belajar langsung bersana Gol A Gong dalam berbagai aktifitas di Rumah Dunia.

Proses belajar tersebut tentunya tak mudah. Namun dapat menempa para relawan untuk berani bermimpi dan meraih impiannya tersebut.

Buku ini menginspirasi saya bahwa perubahan itu MUNGKIN. Namun tentunya bukan keajaiban dan kebetulan yang terjadi begitu saja. Terkandung proses intens dan strategi yang tepat untuk mendukung proses tersebut. Dan kemudian perlu kemampuan bercerita atas dampak-dampak yang telah terjadi sehingga dapat menginspirasi lebih banyak orang dan membuka pintu-pintu kerjasama untuk meluaskan lagi dampaknya.

Minggu kelima ini, baca buku apa lagi ya??



Sunday, 18 February 2018

Emang Kalau Cina Kenapa?

Katanya sekarang ga boleh lagi sebut Cina tapi lebih baik Tionghoa. Buat saya sih, urusan istilah yaaa mungkin penting tapi yang lebih penting lagi memperbaiki sudut pandang dalam pikiran kita tentang hal tersebut.






Dari kecil saya disekolahkan di sekolah negeri dan lebih sering jadi golongan mayoritas. Dari aspek agama maupun suku. Minoritas? Apaan tuh? Tak terbayangkan rasanya seperti apa apa. Termasuk dulu belum musim ada sekian kursi bagi anak-anak yang "berbeda". Berbeda dalam arti ada cacat dibanding temen-temennya. Disabilitas kalau istilah yang sekarang sering digunakan. Jadi ya ga kebayang aja gimana sebaiknya memperlakukan perbedaan-perbedaan yang ada. 

Seinget saya, dulu begitu ada sesuatu yang beda aja dikit, biasanya malah suka jadi bahan bulan-bulanan dan ejekan. Dulu kayanya belum jaman juga istilah bully. Ya ledekan aja kita kenalnya. Masa guru yg pincang aja dikatain. Kalau ga suka sama satu aspek di seorang guru, harusnya bukan pincangnya dong yang dibawa-bawa. 

Nahhh, berkaitan dengan imlek-imlekan kemarin, jadi kepikir pengen nonton film dengan tema perbedaan tersebut khususnya ras yang beda yaitu Cina. 

Maka nontonlah film Cek Toko Sebelah dan Ngenest. Di film Cek Toko Sebelah muncul isu tersebut. Mulai dari anggapan mainstream bahwa anak-anak dari orang Cina perlu nerusin usaha orang tuanya sampai ketidaksetujuan orangtua kalau anaknya nikah dengan orang Melayu. Bukan ga setuju sih, tapi ya masi keuheul weh jadi tak merestui walaupun udah bertahun-tahun menikah. Sedikit catatan, saya sedikit terganggu dengan beberapa bodoran di film ini yang rada garing. Sisanya ya enjoy ajeee! Namanya juga hiburan.

Nah tapi ga semua orang Cina begitu sih. Beberapa tahun ini mengenal temen-temen yg Cina malah gada yg nerusin usaha orangtuanya hehee. Mungkin temen-temenku ini emang pencilan kanan dan kiri dan lebih memilih jadi "aktivis" dan mencoba memaknai hidup. Atau ada juga yang orangtuanya bukan berprofesi sebagai pedagang. Makanya masih penasaran pengen nonton film lainnya. 

Maka di film yang satunya yaitu Ngenest, rupanya pesannya lebih kuat. Trauma karena sering jadi bahan bully-an temen-temennya sampai-sampai bikin niat pisan pengen punya anak yang lebih blotot. Kenapa? Biar ga jadi sasaran bully temen-temennya kelak. Mulia sih cita-citanya tapi ironis. Karena justru menggambarkan bahwa masih ada tuh proses gencet-gencetan di dunia nyata. Film biasanya diangkat dari kehidupan nyata kan? Saya aja baru nyadar bahwa perbedaan itu tak masalah dan orang yang berbeda itu tetap bisa hidup normal berdampingan, baru pas masa kuliah. Kamana wae nilll? 

Dan makin merasa bahwa berbagai stereotipe itu justru bikin masalah setelah ahirnya mulai berkegiatan bersama dan temenan dengan segala lintas. Mulai dari lintas agama, lintas kudu dan ras, bahkan lintas pemahaman dan gaya hidup. Termasuk berteman dengan beberapa orang yang ber-ras Cina.

Semua perlu disikapi biasa ajasehhhhh. Biar damai, carilah hal-hal yang seru buat dilakukan bersama. Hal-hal lain yang beda, bisa dianggap bumbu atau biarlah jadi urusan masing-masing. Hal ini bukan hanya berlaku untuk orang-orang yg jelas-jelas kelihatan berbeda sama kita. Tapi dalam lingkup yang homogen pun, kayanya cara pandang ini cukup seru untuk diterapkan. Biar apa? Ya biar produktif, hidup bermanfaat, seru dan damai weh~

Sunday, 11 February 2018

Donor Darah Yuk!

Betapa nikmatnya sehat! Tapi seringkali kita ga sadar akan itu.

Kita? Elu kaleeee~

Ketika badan sedang sehat, kadang kita lupa bersyukur atas nikmat tersebut. Sehat baru kerasa nikmatnya (biasanya) setelah dihantem sakit dulu. Mudah-mudahan kita selalu bisa mensyukuri nikmat sehat ini. Mensyukuri tentunya teu cekap ku amin, tapi yang terpenting memanfaatkan waktu sehat kita buat kegiatan produktif. Syukur-syukur bisa bermanfaat buat orang lain.

Salah satu kegiatan alternatif saat badan lagi dalam kondisi prima adalah donor darah. Syarat bisa jadi pendonor tentunya badan ga boleh dalam keadaan sakit. Berat badan, tekanan darah dan hb semuanya ada di rentang normal. Kalau lolos semua tes tersebut, 1 labu darah bisa disedot dari tubuh kita dan akan disalurkan pada yang membutuhkan.

Siapa tau darah kita ternyata bisa menolong korban kecelakaan atau orang-orang yang sangat membutuhkannya kan?

Saya jaman kuliah dulu tak asing dengan kegiatan donor darah karena bersahabat dengan Wida yang mengikuti ekskul KDD. Tapi lempeng weh ga pengen ikutan donor darah. Juga ketika mulai aktif di YPBB berteman dengan Ardi, relawan yang juga dulunya aktif di KDD. Tapi tetep juga lempeng.

Sampai pada suatu hari (di tahun lalu, 2017) di grup  Darma Wanita kantor Akang diposting akan ada kegiatan donor darah. Udah males banyangin "ini itu" kalo berkegiatan Darma Wanita. Tapi kegiatan kali ini sungguh terasa bermanfaat. Tapi niat tersebut ternyata belum terwujud. Pas hari H-nya ujug-ujug ga sehat. Ya mau ngapain kalo ga sehat, nanti cuma kebagian arisannya doang tanpa bisa donor darah.

Akhirnya cuma mantau grup menyaksikan keseruan kegiatan hari itu. Dari sekian orang yang ikut, hanya 3 orang yang lolos untuk donor darah. WUHU, makin tertantang untuk: besok-besok aku harus donor! Can pernah seumur hidup! Dan dari kegiatan darma wanita tersebut sampai ke realisasi rencana, ternyata lama lagi. Berjarak beberapa bulan. Oh sungguh hidup yang loba kahayang dan wacana.

Kegiatan dimulai dengan daftar dan nanya-nanya dulu ke petugas.

Informasi dan dan Pendaftaran PMI Kota Bandung

Lalu isi kuesioner. Pakai komputer di bilik-bilik. Lalu hasilnya diprint dan diberi kartu dan nomer antri.

Bentuk bilik beserta petugas yang siap membantu bila ada calon pendonor yang bertanya

Jamannya apa-apa pakai touchscreen

Lalu diperiksa dokter terkait tekanan darah dan berat badan. Pemeriksaan berada di ruang periksa. Ada 2 atau 3 kamar, jadi ngatrinya ga kelamaan. Dilanjut duduk cantik lagi untuk dipanggil periksa Hb dan golongan darah.


Sambil nunggu lalu sambil ngobrol. Angger dimana-mana teh ngobrol wae. Ngobrol sama bapak-bapak yang udah rutin untuk donor. Ngaler-ngidul sampai si bapak masuk ruang donor. Sejujurnya khawatir juga takut ga lolos syarat mendonor karena denger cerita beberapa temen,katanya suka ga lolos. Ditambah pernah kena darah tinggi sampai 140 pas lagi stres. Sampai akhirnya ternyata dipanggil masuk ke ruang donor. CIHUY LOLOS!

Dan rupanya sensasi donor darah tuh kaya gini ya. Nya kituweh~ Ditusuk dulu trus dimasukin selangnya dan lalu dipompa supaya darahnya kesedot. Dan banyak juga hasilnya! Ga moto karena dicarek gerak-gerak wae heheh.

Layar kontrol (berapa menit lagi proses berlangsung dll)

Lemes ga sesudah donor? Engga. Tapi walopun ga lemes, udah tersaji 1 paket makanan dan minuman supaya badan tetap bugar sesudah donor. Makanan bergizi, mulai dari bubur kacang, roti, telor dan susu. Tinggal kurang buahnya (ngelunjak kwkwkw). Oiya, ada kue mari juga di keler-keler dan tak lupa ditambah obat penambah darah.

Nyam~

Suasana tempat istirahat sambil makan-makan konsumsi yang tersaji dari dapur~

Begitulah dongeng berbagi yang bisa dilakukan saat badan dalam keadaan fit. Yuk bareng-bareng donor secara rutin!