Saturday, 22 April 2017

Tidak Selalu Buruk

“Ngurus surat-surat ke pemerintah ribett”

“Duit lagi-duit lagi! Kalau ngurus surat-surat ke pemerintah itu ujungnya mahal”

Apakah hal tersebut pernah terlintas di pikiran anda? 

Di pikiran saya PERNAH!

Tapi, dengan beberapa pengalaman mengurus persuratan ke pemerintahan membuktikan bahwa anggapan itu KURANG TEPAT!

Mengapa demikian? 

Baru saja kemarin saya menempuh perjalanan jauh dari rumah ke pusat pemerintahan kabupaten Bandung yaitu di Soreang untuk mengurus surat pindah Akang ke Cimahi. Pengalaman saya selama ini, saat mengurus persuratan di Cimahi, mulai dari KTP versi jadul, e-KTP, surat pengantar nikah, dan persuratan di KUA, rasanya cukup baik. Nah, saya ingin buktikan juga bahwa di Kabupaten pun sama baiknya. 

Seperti biasa, untuk menghemat waktu dan supaya tidak bolak-balik, saya menyempatkan diri telepon ke kantor terkait untuk menanyakan detil persyaratan dan mekanisme pengurusan surat pindah. Dan rada ZONG nih hasilnya. Jaringan telepon di pemkab Soreang sedang diperbaiki sehingga saya hanya mentok bisa nelpon ke bagian informasi saja dan tidak bisa menelpon dinas terkait. Saya selalu mencoba mengecek info ke bagian yang benar-benar mengurus secara teknis supaya bisa menyiapkan berkas-berkas dengan lengkap. 

Sehingga pada saat berangkat kemarin, dalam pikiran sudah tertanam: "kalau memang tak bisa beres satu hari karena ada syarat yang kurang, ya sudah terima sebagai resiko". Rada beresiko memang kalau bulak-balik. Jaraknya yang jauh dan waktu Akang yang terbatas untuk ijin ke kantornya. (ijin mulu kan ga enak dan kerjaan numpuk juga jadinya). Bismillah weh dan berprasangka baiklah. 

Sampai di TKP yaitu Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil, terlihat kerumunan orang di depan gedung dinas. Kirain ada acara apa, ternyata memang setiap harinya begitu. Ramai. Padat. Penuh oleh orang yang berduyun-duyun dateng dari berbagai daerah. Bayangin aja, kabupaten Bandung tuh wilayahnya sampai ke area Dago atas juga! Yang mereka lebih dekat sebenarnya ke pemkot Bandung secara letak geografisnya. 

Tak mau mendapatkan informasi yang sepotong-sepotong (dan apalagi belum tentu benar), maka bertanyalah kepada petugas yang dekat tempat pendaftaran. Rupanya berkas tinggal disimpan saja ke bagian depan. "Depan teh dimana?" Itu yang langsung terlintas di kepala. Tapi untuk menanyakan lebih detil mekanismenya, situasi kurang mendukung. Pahibut kalau kata orang Sundanya mah. Jadi, saya cepat-cepat pergi ke "depan". Dan lalu kebingungan karena padet banyak orang. Selap-selip dan puntan-punten akhirnya saya sampai ke jajaran keranjang yang sudah masing-masing berlabelkan jenis berkas "dimana perlu ditempatkan". Gak kefoto, boro-boro, takut kecopetan aja dengan tempat sepadat itu. 

Lalu ditemukanlah tulisan: Surat Pindah Keluar. Dan saya simpat berkas di keranjang tersebut dan setelah dikonfirmasi, petugas berjanji bahwa surat yang diperlukan akan beres pada hari yang sama. Kondisinya, saat itu sudah jam 1 siang dan hari Jumat dan mau libur long weekend. Mencoba berbaik sangka lagi dan berharap maksimal jam 4 sudah bisa mendapatkan surat pindah tersebut. Banyak orang bangettttt, jadi mari siapkan mental untuk hasil apapun! 

Saya dan Akang menunggu sambil duduk-duduk di kursi yang telah disediakan. Bener-bener perlu konsentrasi supaya pas nama dipanggil lewat mic, langsung siaga datang ke meja pendaftaran. Dan bener aja, telinga Akang lebih peka mendengar namanya disebut, sedangkan saya anteng ngoprek HP hehehe. Rupanya pada tahap 1, berkas diperiksa kelengkapannya dan disusun ulang dalam map oleh petugas supaya proses di tahap 2 lebih cepat. Lalu kami diminta bergegas ke ruang dalam untuk mendapatkan nomor antrian. 

Saya bergegas pergi ke ruang dalam untuk ambil nomor antrian. Nah, sebagaimana layaknya di bank dan tempat layanan umum lainnya, nomor antrian berarti "kita duduk manis dan menunggu nomor disebut". Tapi luak-lieuk, kayanya ajaib lagi nih prosesnya dan daripada salah, mending nanya. Dan benerrrrr, prosesnya emang ajaib. Nomor antrian yang didapat itu emang bukan buat disimak nomernya dan dinanti dipanggil atau tercantum tulisannya di papan pengumuman, tapi ya langsung aja berkas dan nomor antrian tersebut disetor ke meja "surat pindah". Tak pernah saya temui di tempat layanan umum lainnya hehehe. Dan kemudian kami diminta untuk tunggu lagi di luar. 

Banyak orangggggg!

Setelah siap mental menanti sampai jam 4, ternyata nama Akang dipanggil jam 2. WAHHHHHH, eduns! Hanya 1 jam semua proses itu terjadi. Rasanya lama! Mungkin karena memang banyak masyarakat yang perlu dilayani. Tapi menjadi dirasa lebih sebentar karena sudah siapkan mental untuk menanti lama sampai jam 4. YIIIIHHHAA, secara umum layanan di pemkab belum secepat di Cimahi, tapi layanan-satu-hari-asal-mau-sedikit-ribet-dan-urus-sendiri TERBUKTI! Dan tentunya NOL RUPIAH!

Semoga layanan di seluruh lini pemerintahan bisa dipertahankan yang telah baik dan meningkat juga kualitasnya dari hari ke hari!

Da kami mah apa atuh, hanya rakyat yang pengen dapet layanan cepat, tepat dan benar!




Tuesday, 4 April 2017

Gundah? Respeklah terhadap Apa yang Dimiliki

Pernahkah kamu merasa, “Kenapa hidup ini begitu mengesalkan?” Perasaannya negative mulu dan rasanya segala kurang?

Misalnya kepikir: kenapa kok idup gini-gini aja? Kenapa uang kurang mulu? Kenapa kerjaan memusingkan? Kenapa banyak masalah yang belum terpecahkan? Kenapa kenapa dan kenapa…

Belum lagi kalau kepikir pengen punya segala macem. Wuih, rasanya kalau didaftar, banyak banget daftar keinginan. Pengen punya rumah yang begini begitu, pengen punya kendaraan pribadi yang begini begitu, pengen ikutan kegiatan ini itu, pengen punya perabot rumah tangga yang begini begitu, pengen liburan ke sana sini…..terussss aja gakan ada batasnya keinginan manusia mah.

Kalau hal-hal tersebut sedang melanda dan ujungnya bikin gundah, bete, galau, rudet stres dan sebangsa, ya gak apa-apa. Biasa aja dan mendingan dimuntahkan dulu kekesalannya. Manusia kan cenah emang salah satu sifatnya adalah senang berkeluh kesah. Muntahkan kepada orang yang dipercaya atau bisa juga dimuntahkan lewat media lain seperti tulisan atau karya seni. Tujuannya sih supaya hati rada ngemplong dulu.

Apakah cukup sampai di situ?

Langkah lain yang kemudian bisa membuat hati lebih terasa damai adalah dengan respek terhadap apapun yang kita punya. Kita merasa hidup kita malang sehingga jadi stress?

Mari kita lihat, apakah sampai hari ini kita masih bisa makan cukup? Cukup itu gak selalu harus makan daging dan segala makanan yang enak-enak dan mewah-mewah loh. Sesekali makanan mewah itu tak apa, tapi kalau keseringan justru jadi sumber penyakit loh. Saya sendiri akhirnya sempat lewat dikit dari batas atas aman untuk kolesterol. Gara-gara kebanyakan makan enak. Makan tahu tempe dan sayur itu justru hebat! Apalagi kalau pinter masaknya. Semalas-malasnya masak dan sehemat-hematnya uang untuk makan, bisa berupa lalaban atau pecel. Salad juga boleh lah, tapi kalau ujungnya sausnya mengandung banyak telur, angger potensial kolesterol hehehe. 

Cara pandang yang berubah, membuat kita bisa menyikapi makanan yang dimakan dengan tepat dan justru bisa menyukurinya. Buah juga tinggal dipilih aja yang sedang musim. Biasanya melimpah tersedia di pasar tradisional, mobil bak maupun di supermarket. Melimpah dan murah. Tomat aja kemarin sempat sekilo kurang dari 5000. Yang penting bisa nambah asupan buah.

Nah, kalau memang masih bisa makan cukup, mau ngapain lagi coba hidup kita?? Punya masalah dikit-dikit mah wajar saja lah. Namanya juga hidup.

Sampai hari ini, masih cukup waktu tidur kita? Kalau sehari minimal masih bisa tidur lebih dari 5 jam artinya masih cukup hak tubuh untuk istirahat. Dan itu yang akan membuat badan kita tak mudah sakit (selain makan makanan yang sehat). Selain jumlah jam tidur, factor merasa tenang karena tak kedinginan dan takut kebocoran dan tak takut digusur membuat kualitas hidup kita lebih meningkat lagi. Mari kita hargai nikmat waktu istirahat tersebut.

Teman. Semua orang punya teman kan ya? Hangatnya persahabatan adalah harta berharga juga yang dimiliki secara nyata. Bisa ketemuan dan ngobrol panjang tentunya mewah banget. Tapi bila tak sempat berjumpa di darat, kadang mendenger kisah seru dari teman-teman di grup wasap dan bahkan bisa saling ledek lalu ketawa bareng juga rasanya hangat dan menyenangkan. Teman juga yang seringkali saling mendukung saat kegalauan melanda. Tak selalu memecahkan masalah, tapi saling cerita dan mendenger pun sudah menjadi kekuatan besar.

Merasa bahagia karena melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain! Itu juga "harta" berharga yang kita miliki. Saat dilakukan, justru biasanya akan menyita waktu dan uang yang dimiliki, tapi entah mengapa hal tersebut begitu membahagiakan. 


Apalagi hayoh,,,kalau diinget-inget sih, banyak hal yang bisa membuat kita respek terhadap apa yang kita sudah miliki saat ini. Yang saya tulis di atas hanyalah sebagian kecil saja dari banyaknya “harta” yang dimiliki saat ini. Kalau “harta” tersebut kita coba ingat-inget kembali, biasanya akan membuat bibir yang manyun dan kening berkerut berangsur bisa tersenyum kembali. SMANGATS!

Sunday, 2 April 2017

"Kantor" Baru dan Lintasan Pikiran di Sekitarnya

Dalam beberapa hari ini, tepatnya dalam 12 hari berturut-turut, saya bolak-balik ke daerah Babakan Sari. Ada yang baru denger nama daerah tersebut? Bagi yang belum mengenalnya, daerah tersebut adalah sebuah kelurahan yang berada di kecamatan Kiaracondong. Daerah yang banyakkk RWnya yaitu 18 RW.

Saya ngapain bolak-balik ke sana? Jawaban resminya adalah menjadi tim lapangan dari program Kawasan Bebas Sampahnya YPBB. Jawaban tak resminya adalah “ngangon” bapabapa dan eboebo perwakilan dari 18 RW tersebut. Aslina ngangon hahaha. Abisan yang bekerja keras mengumpulkan data riset dari warga adalah mereka. Saya dan teman-teman bagian mensupport mereka aja biar bisa beraktivitas secara aman, nyaman semangat dan tak sampai kekurangan jatah makan siang heheh. 

Dalam 2 minggu ini saya sempat mengalami ngantor di dua kantor baruuu! Dikasi ruang, tepatnya sa-aulaeun di lantai atas sama kelurahan selama 6 hari berturut-turut ngetem di kantor kelurahan. Udah mirip sama pegawai kelurahan belum? Itu dikasi sama para pegawai yang lewat-lewat ke meja yang saya duduki. 


udah mirip staf kelurahan belum? 

Yang seru adalah tentunya pas diajakin makan bareng! Waktu itu kebun organik di salah satu RW sedang panen. Jadi bisa papasakan deh. Tapi bahan makanan yang dipanen rupanya masih lebih dikit dibanding yang dibeli sih. Yaudah gak apa-apa, minimal ada sayur organisnya. Dan tentunya ada ikan asin gorengnya.. Hmm, wangi dan menggugah selera.

Botram~

Selain itu, kelurahan ternyata biasa dapat support makan siang setiap jumat dari RW-RW. Genk bapak RW ini sigana sudah mengatur jadwal supaya setiap jumat selalu ada asupan makanan bagi staf kelurahan. Di jumat tersebut, serombongan staf kelurahan diundang ke area RW. Dan si saya sebagai yang sedang nebeng ngantor diajakin juga makan ke sana. Bukan saya pemalu sih, tapi da baru pisan makan. Makan bekel dari rumah. Kenapa bawa bekel? Soalnya males jalan menuju tempat makan dan biar hemat waktu dan uang juga sih. Sayang banget ya, padahal kan bisa sekalian kenal dan dekat sama warga. Tapi ya begitulah serunya urusan makan babarengan di kantor kelurahan.

Dan hal lain yang unik, tapi sayangnya gak sempat saya foto, di kantor kelurahan, masih ada budaya ngetik make mesin tik. OW HARI GENE!

Ya tapi sama aja sih kaya di “kantor” kedua saya. Dari hari ke 7 sampai hari ini (ini hari ke 12) saya boyongan pindah (beserta dengan peralatan) ke TPS Babakan Sari.

TPS pasti pada tau dong ya? TPS bukan bilik-bilik yang berfungsi untuk mencoblos saat pemilu. Tapi TPS yang ini berarti Tempat Penampungan Sampah Sementara. Dan TPS Babakan Sari adalah TPS unggulan di kota Bandung karena sudah disulap menjadi TPS terpadu. Apa istimewanya? Dateng dooooong, jalan-jalan ke sana! Pokoknya di tempat ini, tak hanya ngagunduk sampah dan banyak roda-roda sampah aja, tapi ada aktivitas unik lainnya yang berlangsung.


Sebagian area TPS Babakan Sari

Nah beberapa cerita unik dari tempat ini adalah (tentunya selain masih pakai mesin tik) adalah di tempat ini ada akses internetnya. TPS lain mah boroboro! Jadi kebayang kan, di tempat ini emang ada kantor-kantornya. Dan sebagai sayah penebeng, ditawarkan bisa kerja menggunakan beberapa meja kosong. Di kantor ini relative lebih kenal orangnya. Dan terutama yang terkenal sih si Akang tentunya. Jadi ya gitu weh lebih akrab. Beberapa stafnya seneng bercerita heheh. Kalo nginget jaman awal perkenalan sama Akang, tempat ini jadi salah satu modus dia nganter-nganter tea saat saya jadi surveyor yang akan mewawancara kabercam Kiaracondong. Huhuyyy!

Begitulah selintas 2 “kantor” tebengan saya di dalam masa 12 hari ini. Dan nebeng ngantor ini akan berlanjut dalam 3-4 hari ke depan. Yiiiiihaaa! Sisanya, saya ke kota dan ke kantor hanya bila benar-benar ada kebutuhan yang mendesak. Kalau hanya sejenis “perlu kirim dokumen” ya tinggal pake kurir online aja.

Lintasan pikiran yang juga muncul selama perjalanan dari dan menuju Babakan Sari adalahhh:
Saya biasanya  kalau pergi ke Babakan Sari memanfaatkan jasa ojek online. Karena kalau naek angkot lamaaa (macet, muter). Udah lama puuun, tetep kudu naek ojek lagi dari turun angkot. Yang artinya, total biaya transport juga membengkak kalau pakai angkot. Waktu tempuh pun jadi pertimbangan “mengapa saya pilih ojek online”. Jam 8-9 pagi biasanya saya perlu udah siaga di TKP. Kebayang kan kalo ngangkot, kudu jam brapa brangkat dari rumah. Kalau pulang sih biasanya dijemput Akang.

Nahh, dari proses warawiri tersebut, saya jadi makin sadar: yapantes aja makin banyak orang pakai motor ataupun ojek online. Soalnya, di jalur yang saya lalui tersebut (kalau gak salah nih ya: Cirengot – jalan Rumah Sakit, Cinambo, Cingised ….. Pratista dan berakhir di Babakan Sari), rasanya saya gak pernah ketemu angkot. Dan itu jalannya udah rame kaya jalan raya aja. Tapi bentuknya lebih mini. Dan orang-orang yang tinggal di situ, susah juga kali kalo mau tetep konsisten naek angkot. 

Salah satu penyebabnya mungkinn karena daerah tersebut tak dilewati angkot. Bahkan ada 1 rumah susun di area tersebut. Kalau gak salah rumah susun Cingised. Rumah susun itu itu rada jauh dari jalan yang berangkot. Padahal saya sih kepikirnya: rumah susun bukannya untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah ya? Dan mungkin ga semua pengontrak di situ sanggup untuk membeli motor. Kalaupun akhirnya beli atau nyicil motor, yak arena memang tiada pilihan lain yang dirasa lebih sesuai dengan kantong dan kebutuhan untuk tiba di lokasi tujuan dengan tepat waktu. Semua masih serba mungkin karena judulnya juga lintasan pikiran tanpa sempat saya cari data lebih lanjutnya.  

Lintasan pikiran tersebut kepikir pas lagi bengong dan menclok di ojek online setiap pagi selama 12 hari ini. Ada lintasan-lintasan pikiran lainnya yang kepikir juga biasanya. Sisanya, saya kadang ngobrol juga sama mamang ojek online untuk mengisi waktu kosong selama menclok di ojek online. 

Begitulah sekilas dongeng dalam 12 hari ini. Yang tentunya proses pergi pagi mulu yang berturut-turut ini membuat saya gak sempat nungguin baju-baju terjemur sampai kering *ngetik tulisan sambil menatap nanar tumpukan baju yang belum dicuci. Hihihi, ujungnya curhat* 





Sunday, 26 March 2017

Mix Moda Transportasi

Belakangan ini isu kendaraan umum online dan konvensional tampak ramai. Gak ngikutin bener ceritanya sih, yang pasti demo heboh pertama di kota Bandung ketika 9 Maret 2017 lalu sukses membuat saya kebingungan ketika mau berangkat kerja. Jalanan beneran gada angkot satupun. Mau minta dianter akang pun, dia udah kadung ada di Surapati dan mau segera rapat. 

Luak-lieuk baru jalan kaki pelan-pelan akhirnya ada bis kota melintas. Itu baru menyelesaikan setengah perjalanan. Setengah perjalanan lagi tiada bis kotanya. Bis kota di jalur tersebut diperbantukan ke daerah-daerah lainnya. Akhirnya saya nebeng bis brimob deh~

Dari peristiwa heboh yang saya rasakan di hari tersebut, saya jadi kepikiran: enaknya gimana ya supaya saya tetep bisa sampai tempat tujuan tepat waktu, nyaman dan aman? Tau sendiri lah ya kondisi jalanan di kota besar macem Bandung, yang macetnya udah makin ga keru-keruan. Ditambah layanan kendaraan umum pun... yang rasanya masih jauh dari harapan kita. 

Saya dulu full ngangkot dengan berbagai alasan. Namun di hari ini, rasanya saya gak bisa segitunya 100% full ngangkot lagi dengan berbagai pertimbangan. Jadi, yang dilakukan adalah mencoba mix menggunakan moda transportasi. 

1) Angkot
Angkot masih dipakai biasanya buat perjalanan pergi dari rumah menuju kantor. Waktunya lumayan lama, maksimal bisa sampai 1 jam. Tapi karena udah biasa (dan lebih murah dibanding ojek online) ya rasanya biasa aja. Malahan bisa sambil chating, scrol medsos, mikir bahkan nerusin tidur hehe. Perjalanan yang rutin (dan diskon ojek onlinenya ga sampai 50%) akhirnya ya pilih angkot. Hal lain di angkot adalah kita bisa menyaksikan drama-drama kehidupan. Dan bonus curhatan dari mamang supir angkot kalau kita milih duduk di depan. Kenapa saya bisa masih cukup nyaman naik angkot? Ini juga ditunjang oleh tempat tinggal yang tak jauh dari jalan yang dilewati angkot. Jaman di Cimahi, jalan kaki dikit lah menuju angkot. Pas di kosan, hanya 1 rumah menuju angkot. Pas di kontrakan Ujung Berung, sengaja dipilihkan kontrakan yang deket ke angkot sama akang. 

2) Ojek online
Ojek online dipakai untuk udar-ider terutama kalau banding-banding sama harga angkot lebih murah. Selain murah, soalnya kan dia lebih cepet dari angkot. Dan terutama banget kalo akan ke tempat yang jalan kaki dari turun angkotnya jauhhh. Kalau naek ojek biasa, harga suka nyekek juga sih. Entah gemana ya, ojek online kok bisa nemu model bisnis yang harganya bisa lebih murah dari ojek konvensional. Atau ojek online dipakai ke daerah yang sebenernya bisa naek angkot, tapi angkotnya muter-muter dulu jadi waktu tempuh lama pisan. Yang susah dari ojek online adalah kalau kita dari daerah yang dekat pangkalan ojek (potensial konflik atau gada yang mau ambil order dari kita). Susah juga kalau hujan. Huhu, jibrug lah kita atau tiada pengemudi yang mau ambil order. 

3) Bis kota
Bis kota cihuy juga ih untuk dipakai. Terutama kalau jalurnya cocok. Harga murehhhh dan khusus untuk TMB, pelajar dapet lagi diskon 50%. Sekarang kayanya semua bis kota sudah ber-AC. Bukan masalah dinginnya sih (kadang terlalu dingin malahan), tapi jadi takada asap rokok. Kalau di angkot, fasilitas bebas rokok kan hanya diperoleh di bulan puasa doang. Kalau pulang ke Cimahi sendiri, seru naik bisa kota. 2 trayek berturut-turut dan sampai langsung di jalan depan rumah. Kekurangannya tentu saja ada! Khusus TMB, hanya berhenti di halte saja dan jumlah kendaraannya kan ga sebanyak angkot, jadi perlu nunggu beberapa saat sebelum bis berangkat dari halte awal. 

4) Taksi online
Taksi online seru dipakai kalau dengan tujuan untuk memperingan biaya tapi pengen nyaman. Misalnya saat kita pulang rame-rame sama temen-temen. Kalau ga rame-rame, ya dompet siap-siap aja dikurasss. Atau bila ada keperluan mendesak untuk menggunakan mobil untuk bepergian, taksi online bisa jadi pilihannya, misalnya dulu pas bareng embah ketika mau ke Bogor, selagi ada uangnya mah, kesian atuh kalau diajak naik angkot. 

5) Kereta Api
Kereta api lokal di Bandung jadwalnya lebih jarang lagi dibanding bis kota. Dan kalau gak cocok dengan letak stasiun, ya wassalam aja. Tapi terakhir kali naik kereta api, sudah jauh lebih cihuy dibanding jaman dulu. Ber-AC (artinya tanpa asap rokok) dan banyak colokan listrik. Ya cocok lah untuk masyarakat jaman sekarang yang dikit-dikit ngecas. Kalau kereta api yang Jabodetabek (apa yang namanya? Jaman dulunya bernama KRL) itu lebih baik lagi: jadwalnya cukup rapat dan murah juga. Kereta api kelebihannya adalah tidak terjebak kemacetan kota. Sesekali cobain deh. 

6) Nebeng
Ini yang paling enak hahahaa. Gratis! Modalnya adalah punya temen yang mau ditebengin. Etapi bisa juga disepakati loh, terutama kalau perjalanan jauh, kita ikut sharing sebagian uang bensinnya. Tentunya itu berdasarkan kebiasaan saja. Bukan keharusan. Oiya, komunitas Nebengers masih ada gak ya? Jangan-jangan dia tenggelam setelah marak ojek dan taksi online. 

7) Dijemput suami.
Iya, dijemput suami juga opsi buat saya. Ini yang hampir rutin dilakukan setiap saya pulang dari kota. Menghemat uang iya. Menghemat waktu juga iya. Tau sendiri lah kemacetan di rentang waktu jam 5-7 sore.  

Itu mix moda transportasi yang biasa saya lakukan. Ini sebetulnya sejenis kepasrahan terhadap sistem transportasi kota yang "sakit". Coba diakal-akalin weh supaya tetep bisa mencapai tujuan dan tetep pro (walau saeutik) sama kendaraan umum. 

Dulu pas saya coba bis kota yang murah tapi layanannya lumayan, rasanya ko asik dan "mewah" dibanding layanan angkot. Temen saya yang punya minat di bidang transportasi lalu bilang, "Itu harusnya bukan mewah. Sudah seharusnya layanan aman, nyaman di bidang transportasi diterima oleh kita sebagai warga kota". Itu kata dia, gimana menurut temen-temen?

Saturday, 18 February 2017

Serunya Sesuatu yang Berlabel Pertama

Banyak hal seru yang terjadi saat melakukan sesuatu pertama kalinya. Dalam tempo waktu seminggu, saya pertama kali mencoba jadi fasilitator untuk sebuah materi baru pada lembaga yang baru juga. Hanya ada 1 kata: SERU. Apalagi ditambah waktu persiapan yang minim. Rasa canggung karena merasa kurang siap secara materi, belum hafal betul poin-poin apa yang perlu ditekankan, ujug-ujug peserta yang datang juga banyak, ditambah bonus beribetnya tampilan teknis di layar, membuat adrenalin meningkat saat pertama membawakan materi tersebut.


Fasilitasi pertama | Foto: Labtekindie

Deg-deg-an karena mempertaruhkan waktu yang sudah diinvestasikan oleh para peserta untuk datang sore itu karena tertarik akan isu yang dibawakan. Kesian kan kalo peserta sampai pulang dengan kekecewaan karena fasilitatornya teu baleg dan kurang membantu dalam memahami materi.

Tapi akhirnya cukup lega karena saat pertama itu telah terlalu dan memberikan beberapa catatan penting dalam diri saya, bagian-bagian mana saja yang perlu diperbaiki dan jadi nemu celah-celah sejenis "enaknya bagian ini gimana dibawainnya" dan "enaknya bagian itu gimana biar nyaman buat peserta". Ditambah dengan masukan dari supervisor yang luarrr biasa (saat saya fasilitasi, dia sambil menyimak brief-brief yang saya berikan dan paralel dengan itu, dia memimpin pertemuan juga di ruang sebelah).

Setelah fasilitasi pertama, saya dan supervisor menyempatkan ngobrol sejenak. Saya mendapatkan beberapa poin masukan dan lalu kami berdua membangun bersama strategi fasilitasi selanjutnya. Hasilnya fasilitasi kedua lebih mengalirrrr~  Saya merasa lebih nyaman dan peserta pada kesempatan kedua pun cukup kooperatif sehingga prosesnya seru!

Di fasilitasi kedua, peserta beneran pada bawa anak karena memang genk ibu-ibu

Padahal di pagi hari, sebelum fasilitasi kedua, badan rasanya lemes tak karuan. Memang hari itu menjadi h-1 mens tetapi rasanya makin ga keruan karena campur deg-deg-an karena takut fasilitasi kedua ini kurang sukses (terutama setelah mendengar profil pesertanya yang pada doyan coding. Rasanya udah ciut duluan takut ditanya-tanya berbagai hal terkait teknologi digital dan kawan-kawannya yang memang tak saya pahami). Sudah menyempatkan tidur sejenak sebelum berangkat pun, lemas badan tak hilang juga. Tapi segala rasa tak keruan itu akhirnya hilang begitu beberapa menit memulai fasilitasi dan peserta ternyata ga "menggigit" saya dan rasanya malah nyaman berinteraksi dengan dengan mereka.

Selalu ada saat pertama kita menjalaninya. Dalam segala hal. Rasa tak keruan yang terjadi pun akhirnya berakhir lega kita berhasil mendobraknya. Pokonya derrr weh heula lakukan maka akhirnya hal tersebut malah menumbuhkan keberanian untuk mencobanya kembali dan meningkatkan terus kualitas diri.

Apakah kamu punya pengalaman sejenis dalam menghadapi hal pertama lainnya? Yuk dibagi cerita serunya di kolom komentar :-)



Wednesday, 8 February 2017

Menghidupkan Proses Memaafkan

Salah satu masalah saya yang paling parah adalah kurangnya (gatau ga ada hahah) kemampuan untuk mendeteksi apa yang saya rasakan. Mungkin bisa mendeteksi, tapi kemudian telat menyadari.

Q: Makanan ini enak ga nil?
A: Enak.
Q: Itu enak ga?
A: Enak.

Gitu wehhh, semuanya enak. Antara seneng makan, yang penting kenyang dan penyuka segala kayanya sih.

Sama halnya dengan gini:

Q: Anil sukanya warna apa?
A: Apa aja aku mah. Yang penting fungsinya.

Aslinya gitu pisan.

Termasuk pusing kalo cari baju karena gatau harus milih yg kaya gimana. Padahal dengan duit yang ada, harusnya bisa dimaksimalkan cari baju yg terkece dan termanis.

Anil: Yuk anter beli baju!
Temen: Yuk!

Sampai di TKP

A: aku nunggu di kamar pas ya

Temen ngubek-ngubek nyariin baju yg sekiranya cocok dan bawa 3 potong. Lalu jalan ke kamar pas

T: Nih cobain!
Anil coba baju 1
A: Masuk sini ih. Liat, bagus ga?
T: Hmm lumayan. Cobain dong yang 2 lagi.

Begitu seterusnya. Saking hoream dan ga punya preferensi pilihan.

Sampai datanglah hari malapetaka itu.
Saya punya masalah besar (sebutlah masalah A) sampai stres berat dan sakit. Sakitnya macem-macem, mulai dari sakit telinga, mata, pusing, mata merah, tekanan darah tinggi (sebelumnya tekanan darah rendah wae) sampai diare. Aneka sakit itu datang bersahutan selama sekitar sebulan.

Dan karena sakitnya horor, saya minta ijin ke dokter umum untuk disambil berobatnya ke psikolog juga. Dan diijinkan. Resmilah saya di bulan tersebut saya jadi pasien puskesmas puter dengan langganan dokter umum dan psikolog.

Berbeda dengan dokter umum, konsultasi dengan psikolog hanya 1 kali sesuai jadwal tercantum. Sisanya sesuai kesepakatan melalui wasap.

Beberapa kali datang konsultasi diisi dengan acara tes ini itu untuk mendiagnosa masalah dan kondisi yang sedang terjadi dalam diri saya. Acara tes ini dilakukan oleh mahasiswa S2 yang lagi praktek. Yang berarti bahwa si aa itu teh jam terbangnya masih rendah dalam konsultasi psikologi (wayahna wehhh, namanya jg paket berobat di puskesmas). Pada pertemuan terahir, barulah datang psikolog beneran (supervisor aa-aa mahasiswa S2 tadi) untuk berdialog dengan saya. Sambil pegang kertas-kertas hasil tes saya, si ibu psikolog ngorek-ngorek masalah A saya tersebut.

Setelah sekitar 45 menit berlalu, akhirnya kami bisa sama-sama menemukan masalah yang lebih besar dari masalah A yang saya utarakan dan pikirkan. Dan itu beneran gak saya duga. Buntutnya adalah ada masalah besar B yang bahkan ga saya sadari. Dan itu DIDUGA berpengaruh besar terhadap beberapa keeroran saya belakangan ini.

Jelegerrrrrrrr!

Mau bongkar masalah A tapi kok malah mendeteksi masalah yang lebih besar yaitu masalah B zzzzz. Masalah B begitu terlihat sebenarnya. Namun tak saya sadari.

Psikolog tersebut memberikan beberapa solusi "terapi" yang bisa dilakukan dan  menawarkan konsultasi lebih lanjut di tempat prakteknya. Yang mana artinya saya perlu membayar lebih besar dibanding biaya konsultasi di puskesmas. Kemudian saya iyakan. Namun memang saya masih ragu apakah akan lanjut ataukah tidak berkonsultasi

Singkat kata, saya tidak lanjut berkonsultasi karena merasa cukup terbantu dengan "diperlihatkan" masalah B oleh ibu psikolog tersebut.

Proses panjang selanjutnya yang perlu dilalui adalah proses memaafkan diri saya sendiri karena masalah B tersebut bermuara dari sebuah keputusan yang saya ambil (kayanya tanpa sadar akan konsekuensinya dan  kurangnya kemampuan untuk mendeteksi apa yang saya rasakan)  di masa lalu. Proses tersebut masih berjalan hingga saat ini. Cukup menantang dan perlu dihidupkan terus prosesnya.

Doakan saya berhasil!

Saturday, 4 February 2017

Cerita Sukses vs Cerita Gagal

Dalam melakukan perubahan, proses yang terjadi biasanya begitu seru dan menantang! Hal tersebut terjadi dalam berbagai lini. Termasuk dalam melakukan perubahan gaya hidup yang terkait dengan pengelolaan sampah di rumah.

Saya kembali merasakan serunya saat sedang menjalani tantangan ini. (Sila disimak dan hayu ikutan juga!)


Rasanya nemu kesenangan tersendiri ketika kembali menyadari hal-hal kecil yang telah diupayakan secara konsisten beberapa tahun belakangan ini.

Prosesnya sederhana saja, cukup mendokumentasikan #ceritaSukses kita dalam mengurangi sampah. termasuk #ceritaGagal -nya. Kalau #ceritaSukses, rasanya saya sering tuliskan dalam blog maupun medsos pribadi. Tapi #ceritaGagal justru (baru saya sadari) jarang dituliskan. Padalah katanya kita bisa banyak belajar dari kesalahan. Dan proses mengakui kegagalan, harusnya menjadi salah satu jalan menuju kesuksesan

Contohnya pada kasus pemisahkan sampah organis dan pemanfaatannya. 

Sampah itu sebaiknya (1) dipisahkan dan (2) dimanfaatkan

Katakata itu adalah mantra yang wajib diungkap setiap kali pelatihan Zero Waste Lifestye - nya YPBB dan dalam berbagai kesempatan berkampanye. 

Saya dalam salah satu pelatihan ZWL YPBB - yang mana? cari yang paling muda dong~  (dok YPBB)

Apakah saya beneran menerapkannya dalam keseharian? Jawabannya: YA dan TIDAK! Mengapa?

Jaman tinggal di rumah Cimahi, saya gak ngompos karena sampah sisa makanan di rumah biasanya dimasukkan ke dalam ember khusus. Yang kemudian dijadikan campuran pakan angsa dan ayam.  Apakah itu hasil pemahaman akan pengurangan sampah? Engga wkwkw. Disuruhnya aja gitu sama embah. Dan segitu banyaknya aturan di rumah, semuanya juga dilakukan bukan karena bener-bener sadar. Ya karena HARUS weh. Baru kemudian, setelah saya menggeluti dunia persilatan ini, saya jadi sadar: "Oh, itu artinya, sampah sisa makanan di rumah Cimahi sudah dipisahkan dan dimanfaatkan.

Ketika pindah ke kosan Cikutra, akhirnya saya beli takakura! Setelah bertaun-taun pakai takakura hanya di kantor aja. Dan ini beneran bisa neken jumlah sampah yang harus keluar. Begitupun saat pindah ke kontrakan Ujungberung, takakura ikut dibawa dan sampai hari ini masih digunakan rutin.

Dodol oleh-oleh dari Akang pas ke Drajat dan kulit wortel pas numis kemarin
#ceritaSukses -nya seperti itu. Tapi keukeuh ya, adaaa aja terselip beberapa #ceritaGagal di dalam proses tersebut. Kulit wortel dll sih aman dong masuk takakura. Tapi kulit/daun yang keras (seperti kulit dodol kacang merah dkk)/tulang yang lebih keras, masi PR banget. Harusnya takakura dikombinasi sama biopori/lubang di halaman. Yatapi halamannya ditembok semua pakbuk~

Jadi, terbuka peluang lebar bagi teman-teman, ibukbapak sodarasodari yang mau kasi kado pernikahan berupa rumah berhalaman luas dan bertanah :)

----

beberapa #ceritaSukses dan #ceritaGagal akan diposting rutin di instagram saya di rentang 1-14 Februari untuk menjawab #TantanganWarga #SuatuHariTanpaSampah dari @rujakrcus