Sunday, 26 March 2017

Mix Moda Transportasi

Belakangan ini isu kendaraan umum online dan konvensional tampak ramai. Gak ngikutin bener ceritanya sih, yang pasti demo heboh pertama di kota Bandung ketika 9 Maret 2017 lalu sukses membuat saya kebingungan ketika mau berangkat kerja. Jalanan beneran gada angkot satupun. Mau minta dianter akang pun, dia udah kadung ada di Surapati dan mau segera rapat. 

Luak-lieuk baru jalan kaki pelan-pelan akhirnya ada bis kota melintas. Itu baru menyelesaikan setengah perjalanan. Setengah perjalanan lagi tiada bis kotanya. Bis kota di jalur tersebut diperbantukan ke daerah-daerah lainnya. Akhirnya saya nebeng bis brimob deh~

Dari peristiwa heboh yang saya rasakan di hari tersebut, saya jadi kepikiran: enaknya gimana ya supaya saya tetep bisa sampai tempat tujuan tepat waktu, nyaman dan aman? Tau sendiri lah ya kondisi jalanan di kota besar macem Bandung, yang macetnya udah makin ga keru-keruan. Ditambah layanan kendaraan umum pun... yang rasanya masih jauh dari harapan kita. 

Saya dulu full ngangkot dengan berbagai alasan. Namun di hari ini, rasanya saya gak bisa segitunya 100% full ngangkot lagi dengan berbagai pertimbangan. Jadi, yang dilakukan adalah mencoba mix menggunakan moda transportasi. 

1) Angkot
Angkot masih dipakai biasanya buat perjalanan pergi dari rumah menuju kantor. Waktunya lumayan lama, maksimal bisa sampai 1 jam. Tapi karena udah biasa (dan lebih murah dibanding ojek online) ya rasanya biasa aja. Malahan bisa sambil chating, scrol medsos, mikir bahkan nerusin tidur hehe. Perjalanan yang rutin (dan diskon ojek onlinenya ga sampai 50%) akhirnya ya pilih angkot. Hal lain di angkot adalah kita bisa menyaksikan drama-drama kehidupan. Dan bonus curhatan dari mamang supir angkot kalau kita milih duduk di depan. Kenapa saya bisa masih cukup nyaman naik angkot? Ini juga ditunjang oleh tempat tinggal yang tak jauh dari jalan yang dilewati angkot. Jaman di Cimahi, jalan kaki dikit lah menuju angkot. Pas di kosan, hanya 1 rumah menuju angkot. Pas di kontrakan Ujung Berung, sengaja dipilihkan kontrakan yang deket ke angkot sama akang. 

2) Ojek online
Ojek online dipakai untuk udar-ider terutama kalau banding-banding sama harga angkot lebih murah. Selain murah, soalnya kan dia lebih cepet dari angkot. Dan terutama banget kalo akan ke tempat yang jalan kaki dari turun angkotnya jauhhh. Kalau naek ojek biasa, harga suka nyekek juga sih. Entah gemana ya, ojek online kok bisa nemu model bisnis yang harganya bisa lebih murah dari ojek konvensional. Atau ojek online dipakai ke daerah yang sebenernya bisa naek angkot, tapi angkotnya muter-muter dulu jadi waktu tempuh lama pisan. Yang susah dari ojek online adalah kalau kita dari daerah yang dekat pangkalan ojek (potensial konflik atau gada yang mau ambil order dari kita). Susah juga kalau hujan. Huhu, jibrug lah kita atau tiada pengemudi yang mau ambil order. 

3) Bis kota
Bis kota cihuy juga ih untuk dipakai. Terutama kalau jalurnya cocok. Harga murehhhh dan khusus untuk TMB, pelajar dapet lagi diskon 50%. Sekarang kayanya semua bis kota sudah ber-AC. Bukan masalah dinginnya sih (kadang terlalu dingin malahan), tapi jadi takada asap rokok. Kalau di angkot, fasilitas bebas rokok kan hanya diperoleh di bulan puasa doang. Kalau pulang ke Cimahi sendiri, seru naik bisa kota. 2 trayek berturut-turut dan sampai langsung di jalan depan rumah. Kekurangannya tentu saja ada! Khusus TMB, hanya berhenti di halte saja dan jumlah kendaraannya kan ga sebanyak angkot, jadi perlu nunggu beberapa saat sebelum bis berangkat dari halte awal. 

4) Taksi online
Taksi online seru dipakai kalau dengan tujuan untuk memperingan biaya tapi pengen nyaman. Misalnya saat kita pulang rame-rame sama temen-temen. Kalau ga rame-rame, ya dompet siap-siap aja dikurasss. Atau bila ada keperluan mendesak untuk menggunakan mobil untuk bepergian, taksi online bisa jadi pilihannya, misalnya dulu pas bareng embah ketika mau ke Bogor, selagi ada uangnya mah, kesian atuh kalau diajak naik angkot. 

5) Kereta Api
Kereta api lokal di Bandung jadwalnya lebih jarang lagi dibanding bis kota. Dan kalau gak cocok dengan letak stasiun, ya wassalam aja. Tapi terakhir kali naik kereta api, sudah jauh lebih cihuy dibanding jaman dulu. Ber-AC (artinya tanpa asap rokok) dan banyak colokan listrik. Ya cocok lah untuk masyarakat jaman sekarang yang dikit-dikit ngecas. Kalau kereta api yang Jabodetabek (apa yang namanya? Jaman dulunya bernama KRL) itu lebih baik lagi: jadwalnya cukup rapat dan murah juga. Kereta api kelebihannya adalah tidak terjebak kemacetan kota. Sesekali cobain deh. 

6) Nebeng
Ini yang paling enak hahahaa. Gratis! Modalnya adalah punya temen yang mau ditebengin. Etapi bisa juga disepakati loh, terutama kalau perjalanan jauh, kita ikut sharing sebagian uang bensinnya. Tentunya itu berdasarkan kebiasaan saja. Bukan keharusan. Oiya, komunitas Nebengers masih ada gak ya? Jangan-jangan dia tenggelam setelah marak ojek dan taksi online. 

7) Dijemput suami.
Iya, dijemput suami juga opsi buat saya. Ini yang hampir rutin dilakukan setiap saya pulang dari kota. Menghemat uang iya. Menghemat waktu juga iya. Tau sendiri lah kemacetan di rentang waktu jam 5-7 sore.  

Itu mix moda transportasi yang biasa saya lakukan. Ini sebetulnya sejenis kepasrahan terhadap sistem transportasi kota yang "sakit". Coba diakal-akalin weh supaya tetep bisa mencapai tujuan dan tetep pro (walau saeutik) sama kendaraan umum. 

Dulu pas saya coba bis kota yang murah tapi layanannya lumayan, rasanya ko asik dan "mewah" dibanding layanan angkot. Temen saya yang punya minat di bidang transportasi lalu bilang, "Itu harusnya bukan mewah. Sudah seharusnya layanan aman, nyaman di bidang transportasi diterima oleh kita sebagai warga kota". Itu kata dia, gimana menurut temen-temen?

No comments:

Post a comment