Saturday, 25 April 2015

#kerjabakti Menanam Pisang di balik Café-Cafean KBU


Yang orang Bandung, mungkin mengenal poster ini




Ya! Ini semangat yang disebar oleh Walikota Ridwan Kamil untuk kegiatan beberes kota. Dalam rangka mau KAA. Event seharian (PP dan tanpa menginap) yang menguras banyak energi warga sekota-eun. 

Di kabupaten sebelahnya, tepatnya di Kabupaten Bandung, di area yang dikenal sebagai Kawasan Bandung Utara, tepatnya di area Sekepicung, dilakukan juga kegiatan #kerjabakti pada tanggal 19 April 2015. Yang pasti bukan ikut-ikutan sama kang Emil. Di daerah sini sekelompok warga yang tergabung dalam organisasi Passer sudah terbiasa #kerjabakti dalam berbagai macam hal.

Yang unik adalah: mereka kebanyakan “mantan preman”, pake tato-tatoan tapi kebanyakan beralih menjadi saroleh dan kemudian bermanfaat bagi warga sekitar. Cerita tentang Passer nanti belakangan ya. Ini sebagian anggota Passer yang ikut #kerjabakti. Yang lain tidak ada di TKP karena kebagian tugas mencari dan mengambil tunas pisang. 




Kegiatan perdana mereka yang saya ikuti adalah #kerjabakti Menanam Pisang di balik Café-Cafean KBU. Semua berasal dari sumber daya anggota Passer. Mulai dari tenaga untuk bebersih lahan, tenaga untuk ambil dan angkut tunas pisang, udunan biaya konsumsi dan lahan yg digarap milik keluarga kang Kunye. Sampai saat masih gratis bisa dipergunakan.

Ini jalan menuju ke area tanamnya. Mudun dan ngos-ngos-an pas naek.



Lahan yang bisa digarap sebenarnya cukup luas. Lahan yang katanya pengen dibuat menjadi pertanian terpadu adalah lahan yang berumpak-umpak. Akan mulai digarap bulan dan tahun selanjutnya. Lahan ini adalah lahan gamblung. Maksudnya, lahan yang tidak diolah alias diantep. Sudah 15 tahun dibiarkan.  


Teu bisaeun motona. Pada intinya berumpak-umpak ke bawah.


Dan ini lokasi yg sedang digarap untuk ditanami pisang, tepat bersebelahan dengan rumahnya kang Kunye.



Kegiatan diawali dengan bebersihin lahan. Pake arit, pacul, golok milik masing-masing.


Arif, salah satu relawan Passer, ikut sibuk ngarit.  



Setelah mulai bersih, kegiatan dilanjut dengan macul untuk bikin lubang-lubang yg akan ditanami tunas pisang.




Jarak antar lubang katanya sekitar 1 meter. Atau diukur kira-kira pakai panjang tangan.


Jarak tanam


Saat ini, tanahnya relatif subur. Jadi pupuknya cukup ditaburi abu bakaran daun-daun dan ranting.

Aduh blurrrrrr 


Yang pembersihan lahan dan juga nyangkul bisa banyak tangan.Tapi yg bagian nyecebkeun pohon special. Hanya dipegang 1 orang saja yang sudah terbiasa supaya peluang jadinya besar.



Kemudian acara dilanjutkan dengan masak di kebon. Kompor gas yang di dapur sampai ditarik supaya masaknya rame-rame di kebon dan tak menyendiri. Rupanya acara masak di kebon, baru kejadian pertama kali. Keluarga kang Kunye pun belum pernah. Passer juga blm pernah




Dan ditambah dengan bikin hawu dadakan.



eta peda beuleum ngadadahan pemiarsa!


Taraaaaa! Inilah belasan tunas pisang yang sudah mulai ditanam





Sekarang saat yang dinanti-nanti! Makan liwet berjamaah. Sebenernya saya sudah cukup sering ngaliwet dan makan pakai alas daun pisan. Yang beda adalah kegiatan ngeliwetnya live di kebon dan juga nu ngeunah pisuuuunn dan bikin ketagihan adalah si nasi dikasi minyak jelantah bekas goreng asin. Eta juara pisan!
*lupakan bahaya kolesterol dkk hahaahha



Ini masih pose sopan. Beberapa menit kemudian ganti pose: makan sambil jongkok. Ngikutin pose bapak-bapak yang lain. Walhasil makan banyak dan berasa gak kenyang-kenyang


Yuk, kapan-kapan ikut #kerjabakti lagi di area Sekepicung bersama teman-teman Passer!  






No comments:

Post a comment