Tuesday, 7 July 2015

Narasi Sejarah Bersama

Dari hasil obrolan dengan teman-teman di Passer (masih ingat kan dengan mereka? Salah satu cerita mereka bisa disimak di sini) dan juga setelah diolah lagi berdasarkan hasil pelatihan 3 hari berturut-turut yang bikin berat badan naik, maka keluar satu ide untuk membuat prototype proses pembuatan Narasi Sejarah Bersama. Apakah itu?



Sejarah di daerah Sekepicung menurut pak Lala (salah satu pentolan di Passer), belum ada yang menuliskan. Sehingga salah satu idenya adalah bareng-bareng mengumpulkan sejarah lewat dongeng-dongeng masa lalu yang dikasi judul besar: Narasi Sejarah Bersama. Nama prosesnya belum komersil dan juga kurang nyunda. Nama nanti dipikirin lagi lah.

Ide itu timbul saat ngobrol dengan beberapa bapak-bapak Passer, mereka bentes (lancar) dan semangat ketika menceritakan tentang dongeng masa kecilnya. Ceritanya gak bisa brenti-brenti. Matanya pada berbinar-binar! Seru-seru ceritanya dan lucu-lucu. Termasuk mereka cerita tentang keberadaan foto-foto jadul yang katanya mungkin bisa memancing proses bercerita tersebut. Budayanya lisan pisan euy dan perlu ada energi lebih untuk mencatatkannya.

Jadi, kegiatan akan dimulai dengan mendatangkan 2 ahli di bidangnya. Yang pertama dibutuhkan orang berpengalaman dan mau sharing tentang "menulis cepat".




Mengapa menulis cepat? Dari pengalaman saya, proses menulis cepat itu membantu memuntahkan apa yang ada di dalam pikiran. Ngedit mah bisa belakangan. Karena kalau pakai metode lainnya dan apalagi si penulis belum terbiasa rutin menulis maka yang ada hanyalah proses: ngetik-backspace, ngetik-backspace. Gak selesai-selesai dan ide-ide kerennya melayang. Itu kalau ngetik pakai komputer. Kalau nulis pakai kertas: nulis-hapus-nulis-hapus dan ujungnya kruwel-kruwel kertas ke tempat sampah. Juga gak selesai-selesai.

Dulu saya belajar belajar teknis menulis cepat jamannya ikutan kopdar Kompasiana. Tulisan tersebut menang lomba menulis cepat. Rizki anak solehah jigana hehehhehe. Tulisannya bisa disimak di sini. Itu tanpa editan sama sekali.






Narsum kedua adalah orang yang bisa memberikan  gambaran proses pembuatan "mading". Mading ini bentuknya belum berwujud seperti mading sekolahan. Yang penting, mading tersebut berfungsi sebagai media untuk menampilkan dongeng-dongeng sejarah kampung yang materinya didapat dari kegiatan. Mading tersebut nanti akan menjadi salah satu media informasi yang akan disimpan di saung Passer.



Saung Passer yang belum beres dipasangi genteng dan bilik

Itulah 2 aktivitas pra kegiatan "Narasi Sejarah Bersama" yang akan diberikan kepada perwakilan warga Sekepicung yang berusia dibawah 30 tahun (generasi muda).

Kegiatan hari H nya kebayang seperti ini:
Akan diundang perwakilan warga Sekepicung dari berbagai umur dan juga jenis kelamin.


Kiri ke kanan: generasi tua ( >45 tahun), setengah tua (30-45 tahun) dan generasi muda (<30 tahun)

Generasi tua dan setengah tua akan punya cukup banyak dongeng di kepalanya. Dongeng-dongeng tersebut akan dipicu oleh munculnya foto-foto jadul. Semacam foto nikahan, keluarga ataupun foto narsis pada masanya. Dulu katanya masih jarang orang yang punya kamera. Atau bahkan belum ada. Yang ada hanyalan tukang foto keliling. Sempet intip foto-foto jadul mereka, Lucu-lucu! Bahkan saat itu ada foto narsis yang lagi pada nongkrong di sawah.

Misalnya foto keluarga


Bisa juga foto pernikahan

Bisa juga aneka dongeng Sekepicung di masa lalu dipancing dengan pertanyaan semacam: Jaman dulu, orang Sekepicung pada ngidam apa pas hamil? Dari pertanyaan sesederhana itu, mungkin kita bisa menelusuri pola konsumsi pada masa tersebut.

ceritanya gambar ibu hamil yang lagi minta makanan ngidam ke suaminya

Selama proses bercerita dalam kegiatan "Narasi Sejarah Bersama" berlangsung, beberapa narsum yang sedang bercerita akan direkam dalam video. Video tersebut akan bisa diedit untuk kepentingan publikasi selanjutnya. Misalnya saat ada acara kumpul anggota Passer. Sehingga narasi sejarah bersama tersebut dapat disimak oleh lebih banyak orang.



Sisi-sisi menarik dari pertemuan tersebut didokumentasikan juga dalam bentuk tulisan. Ada 2 versi tulisan. Versi pertama dibuat oleh generasi muda Sekepicung (berusia kurang dari 30 tahun). Tulisan akan dibuat versi singkat dan tidak perlu banyak edit. Yang penting tercatat dulu sebagai bahan mentah catatan sejarah. Versi kedua akan dibuat oleh para blogger yang punya ketertarikan kepada isu di Sekepicung dan atau yang sedang mencari bahan tulisan melalui proses yang unik.

Harapannya semua bahan tersebut bisa digunakan untuk aneka kepentingan di Sekepicung. Misalnya seperti yang sudah diceritakan di atas:
1) untuk mading (media informasi)
2) kumpulan cerita tentang Sekepicung dalam bentuk online (misalnya di blog) ataupun dalam bentuk fisik (misalnya jadi buku)
3) jadi bahan penyusun konten pemanduan desa wisata.

Dan ini 1 info penting!
Makin banyak tanah di area Bandung Utara dan salah satunya area Sekepicung yang mulai berubah fungsi menjadi lahan-lahan komersil. Belum lagi dampak lingkungan dari tempat komersil tersebut (sampah, polusi, kebisingan dll). Perubahan tersebut biasanya berdampak langsung terhadap berkurangnya ruang terbuka hijau (lahan yang produktif secara ekologis). Aneka upaya yang dilakukan oleh teman-teman Passer di Sekepicung (salah satunya membuat prototype kegiatan pembuatan "Narasi Sejarah Bersama") adalah upaya untuk mempertahankan lahan yang masih ada dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya fungsi lahan.

Yuk siapa mau ikutan dalam proses pembuatan "Narasi Sejarah Bersama" daerah Sekepicung? Terbuka beberapa posisi bagi para blogger yang senang menuliskan dongeng-dongeng seru dari daerah Bandung Utara!

Seluruh ilustrasi oleh: @perempuangimbal

No comments:

Post a comment