Wednesday, 6 March 2019

"Romantisme" dalam Tim Kerja

Pernahkah menjalani masa "romantis" dengan teman kerja? Kata romantis sengaja saya beri tanda petik karena kata tersebut bukan dalam artian yang negatif. Tapi lebih kepada relasi antar manusia yang  asyik sehingga pas kerja kerasanya klop. Klop untuk sama-sama mencapai target-target pekerjaan.

Saling melengkapi tipe kepribadian sehingga bisa menghasilkan karya adalah sebuah kemewahan dalam bekerja. Mengapa demikian? Karena nemu rekan kerja yang klop bisa sesulit mencari jarum dalam jerami. Alias susyah pisan. Baru akan ketemu setelah mencoba kerja bareng dan beberapa kali (atau bisa sampai bertahun-tahun) sehingga lebih kenal dan lebih tau dimanakah si potongan puzzle itu ditemukan.

Kalau sudah sering bekerja bareng, lama-lama juga kita akan paham kebiasaan si A, kondisi mana saat si A butuh bantuan, dan biasanya bantuan apa yang paling efektif dari kita untuk si A. Kadang membantu kalau ga tepat bisa mengacaukan loh wkkwkw. Malah tambah masalah baru.

Proses menemukan keklopan dan "romantisme" tersebut bisa dipercepat dengan mengetahui tipe kepribadian anggota tim yang terlibat. Lalu masing-masing anggota tim jadi tahu perlu bagaimana menghadapi tipe-tipe kepribadian atau kecenderungan cara bekerja satu sama lain. Tentu prosesnya tak selalu seindah dibayangkan. Kadang berujung dengan baper atau malah konflik kalau prosesnya ga mulus.

Terkait dengan fase-fase yang terkait di dalam tim, biasanya diawali dengan masa bulan madu. Selayaknya pasangan yang baru yang baru menikah. Ngerjain apa-apa bareng kerasa enakeun. Tapi lama-lama akan ada fase konflik. Tapi bila masa konflik itu dilalui dengan baik maka secara keseluruhan tim tersebut lambat laun akan berkarya dengan maksimal. Kalau ga berhasil mengatasi konflik tersebut, bisa berakhir dengan ada anggota tim yang cabut, baper dan hal-hal negatif lainnya. Mirip-mirip kisah percintaan kan ya?

Dan berbagai fase itu sempat saya icip-icip dan saksikan selama bekerja belasan tahun ini. Anda sempat merasakan juga "romantisme" bekerja dalam tim? Ayo berbagi ceritanyaaaa~

Ditulis untuk minggu tema #1minggu1cerita

Monday, 25 February 2019

Orange dan Semangat Baru #1minggu1cerita

Si oranye yang unyel-unyel ini terlahir dari tangan kaka Evva. Imut-imut gemesin!

Maskot 1m1c: Mingce

Beberapa perubahan di 1m1c belakangan ini terlahir dari 2 admin baru yang sedang semangat mempercepat perkembangan komunitas menulis ini. Evva yang bagian menggambar (dan juga bikin artikel di web secara rutin), para admin lain yang bagian memilih maskot yang sesuai. Pembuatan maskot bermula dari pembuatan logo baru, si orenye abu gemes ini.

Logo 1m1c

Warna oranye ini dirasa cocok pisan untuk mewakili semangat baru dalam pengelolaan komunitas 1m1c. Yang pernah kelola komunitas tentu pernah merasakan gelombang naik turunnya semangat menjalaninya kan? Sama halnya dengan mengelola 1m1c. Saya sebagai salah satu admin yang awalnya memiliki semangat untuk "yang penting bisa memfasilitasi diri sendiri biar getol nulis dan syukur-syukur bermanfaat untuk orang lain" kadang semangat-pakai-banget, dan kadang hoream-pakai-pisan dalam mengelola 1m1c.

Mengelola komunitas bersama dengan beberapa admin lain, tentunya menyimpan beberapa kisah mengesankan. Mulai dari keseruan, kebanggaan, kesedihan dan kebaperan bisa dirasakan dalam peranan tersebut.  Bekerja sama dengan beberapa admin yang bahkan beberapa belum pernah kenal dan bertemu di darat, bekerja dalam tim yang berbeda umur, latar belakang, tingkat aktivitas dan kesibukannya dan dilakukan secara relawanan tentunya menambah tingkat tantangan yang dihadapi.

Begitu pula dengan hilir mudiknya pada admin silih berganti. Itu juga memberikan banyak pembelajaran buat saya sendiri dalam membangun komunitas ini. Salah satu pembelajaran berharganya adalah bagaimana memupuk keberanian saya untuk membiarkan komunitas berkembang berdasarkan keinginan, minat dan waktu yang tersedia dari para admin yang sedang berada pada masa pengadminannya. Hal ini bukan hal yang mudah bagi saya yang terkadang cenderung ingin ngatur-ngatur orang wkwkkw. Tapi melihat perkembangannya, ini seruserusedap pisan. Dan biarkanlah berkembang secara alamiah.

Setelah Evva yang demen bikin berbagai variasi stiker dari si Mingce, kali ini pun 1m1c memiliki Reisha yang punya hobi (dan ambisi tampaknya kwkwk) untuk membuat web 1m1c makin canggih dari hari ke hari. Tujuannya tentunya untuk membuat para member 1m1c merasa lebih nyaman, betah di 1m1c dan makin getol nulis. Nuansa webnya pun segarrrr bernuansa oranye.

Secara umum proses ini bolehlah disebut sebagai proses rebranding supaya admin dan member makin semangat berkomunitas di 1m1c.

Untuk memperbesar pengaruh 1m1c, ada 2 admin baru yang masuk untuk mengelola medsos yaitu Via dan Ikhwan yang mengelola urusan fundrising. Mengapa perlu fundrising? Web 1minggu1cerita.id perlu dibayar iurannya setahun sekali dan mayarna kedah ku artos.

Tentunya juga masih ada 2 admin lama yang lagi salto dan bergelut dengan kehidupannya masing-masing namun masih setia mengawal 1m1c supaya makin menyebar manfaaatnya yaitu Darma dan Ajeng.

Lengkapnya tentang para admin 1m1c pada periode ini bisa diintip di sini.

Yang pasti, 1m1c masih eksis sampai tahun ke 5 (ga kerasaaaa), tak akan terjadi tanpa admin di periode sekarang dan periode-periode sebelumnya. Yang sudah dengan setulus hati mengawal perkembangan 1m1c di setiap periodenya. Apalah 1m1c tanpa kita semuaaa~






Friday, 1 February 2019

Memberi Pilihan

Rasanya udah lama pisan ga nulis tentang per #ZeroWaste an di blog ini.
Kenapa? Ya lagi ga pengen weh.

Etapi tergelitik dengan satu kondisi yang masih kurang ideal namun tetap memberikan ruang untuk para #ZeroWaster untuk milih. Yak! Sesungguhnya perubahan itu tidak bisa cepat, tapi menciptakan ruang alternatif adalah salah satu jalan untuk menuju perubahan.

Enaknya sih langsung aja bikin larangan akan semua sampah yang ga bisa diapa-apain itu. Kresek misalnya, kemasan plastik sachet yang berwarna-warni misalnya, kemasan gelas sekali pakai untuk kopi dll dkk. Tapi kenyataannya perubahan ga selalu bisa diciptakan dengan cepat.

Pada sebuah penyajian snack, saya menemui adanya beberapa jenis pilihan minuman yang kayanya sih tujuannya untuk "memuaskan selera" para tamu yang hadir. Mulai dari beberapa kopi sachet, sampai ke kopi tubruk dan gula dalam toples mini. Tapi rupanya memuaskan juga rasa-ingin-mengurangi-sampah-dari-awal yang semangatnya suka senen kemis ini.

Asalnya saya yang kadang mikir berapa kali untuk ambil kopi sachet, langsung sabettt begitu lihat ada kopi dalam toples. Yak belum tentu emang kopi tersebut dibeli menggunakan kemasan kertas atau kemasan plastik yang besar banget. Tapi setidaknya ga sachet banget lahhhhh. Sampahnya kan lebih banyak jadinya kalau sachet.


Pilihan lain yang disediakan juga ada di gelas. Disediakan gelas kertas (itu kayanya sih ga pure kertas ya, ga bisa didaur ulang oge) tapi disediakan juga cangkir. Otomatis dong saya pakai cangkir buat bikin kopi. Saya sambil perhatikan perilaku tamu yang lain (ngapain liat-liat orang? nya hayang weh atuh ahhahah). Ternyata walau udah ada cangkir, kebanyakan orang memilih pakai cup. Kenapa ya? Rupanya setelah iseng nanya muncul salah satu alesannya adalah karena cup itu nyimpennya beneran sebelah termos. Sedangkan si cangkir ada di sebelah kiri (ga kefoto si jajaran beberapa cangkirnya euy). Satu cangkir yang nyempil di dalam foto itu sih hasil saya mindahin sendiri. Tujuannya tentuww untuk memperlihatkan alternatif yang diberikan.

Jadi kayanya rangkaian peristiwanya adalah: pas masa snack datang, hayang ngopi, udah ga mikir lagi dan si tamu ambil yang paling deket aja sama termos sigana.

Yang lebih ekstrim semangat mengurangi sampahnya, justru mengantisipasinya dengan bawa kopi sendiri. Pakai misting mini. Ada temen yang kaya gitu soalnya. Baca 2 misting mini yang isinya kopi dan gula. Jadi kalopun di sebuah tempat dia ga nemu kopi sebagai sajian, atau kopinya kopi sachet doang yang tersedia, ya dia sih woles aja ngeluarin rangsum kopinya. TERNIATT KANNNN?

Etapi sebelum sampai ke situ, disediakan macam-macam pilihan kemasan dan penyajian pun udah memberikan angin segarrr bagi kami-kami yang ingin mulai mengurangi sampah dari awal ini.





Thursday, 24 January 2019

Touring ke Papandayan


Hari minggu kemarin, saya diajak ikutan turing bareng sama temen-temen kantornya Akang. Antara ada banyak PR kerjaan tapiiiiii udah hobinya main dan ekskul, jadi ya der aja dijabanin.

Dimulai dari edisi bangun kesiangan dan langsung lari ke pasar dan masak alakadarnya, maka dimulailah petualangan hari tersebut. 

Bekal untuk Botram di TKP

Dan ternyata temen-temennya Akang orang Endonesya banget. Hobi telat. Untung kita ga beneran berangkat pagi-pagi banget. Dan kenapa juga ya, kumpulnya itu tepat deket TPS hehehe. Mentang-mentang pegawai PD Kebersihan semua. Jadi ada adegan patunggu-tunggu dulu sampai pada kumpul dan siap berangkat. 


Adegan patunggu-tunggu rupanya banyak terjadi di kegiatan touring karena memang perlu dipastikan bahwa semua peserta berangkat bersama dari titik-titik pemberhentian. Jadi touring tuh ngapain aja sih? Dari yang dialami sehari itu sih ternyata polanya berulang antara naek motor - berhenti - udud - ngagaya dan fofotoan. Jadi emang koleksi fotonya cukup banyak! Grupnya trangtrung pakirim-kirim foto. Kukira hanya cewe-cewe yg doyan fofotoan.

Susahnya kalau akang yang moto, hasilnya suka aneh-aneh haha. Ditambah lagi para bapak-bapak banyak gaya itu pada minta tolong difotoin, maka foto yang sendiri atau berdua cuma dikit. Foto yang berdua sama akang adanya hasil moto selfie dan ada 1 foto yang cukup oke hasil barter sama jasa motoin sekelompok bapakbapak itu.  Buat kenang-kenangan juga bahwa kita pernah dateng ke Papandayan. 



Secara keseluruhan acara touringnya menyenangkan. Walau saya perannya sebagai anak bawang tapi tetep bisa hepiiii. Senang karena perut kenyang. Mulai dari saat bongkar bekal masing-masing (etapi banyak yang ga bawa deh. kayanya ga pada dibekelin sama istrinya kwkwk). Sampai pas mau pulang aja tau-tau mampir ke rumah salah satu pegawai dan minta makan malem. Diserbu gitu rumahnya. KALAKUAN!

Mari makan!

Tentunya senang karena jalan-jalan ke alam.  Melewati daerah IP Kamojang bikin inget jaman baheula pernah ada kerjaan bareng mereka. Lalu udaranya pas lagi sejuk. Pada beberapa saat di perjalanan kebagian hujan juga. Tapi masih aman lah. 

Dan kondisinya lagi berkabuttt

Gerbang Papandayan

Tarif

Setelah masuk gerbang, parkir motor dan makan, lalu dilanjut dengan sholat dan naik ke arah kawah. KE ARAH YA, kan ga nyampe hahaha. Segitu aja bapakbapak udah pada ngeluh dan bilang bahwa sebenernya motor mereka juga bisa sampai di atas karena masih ada jalan beraspal. WKWKKW. Lalu saya senyum aja di dalam hati. Udah lama ga olahraga jadi lumayan rada hah-heh-hoh tapi seneng!

Arah menuju kawah Papandayan yang berdekatan dengan lokasi parkir mobil. Berkabuttt.

Jalan yang katanya pasti-masi-bisa-dilewati-motor

Terasa bau belerang dan seperti halnya para turis domestik, terjadilah adegan foto-foto setelah dirasa ditemukan spot yang cocok dan setelah dirasa cape jalan kaki. Dari jauh kelihatan asap dari kawah. 

Asap dari kawah

Lalu turun dan dilanjut berendam. Saya gak ikut berendam karena ga bawa baju ganti. Tapi kemudian disusul karena diminta jadi tukang foto haha. Tapi akhirnya berendem kaki aja karena ingin icip-icip air hangat berbelerang yang katanya baik bagi kesehatan. 

Posisi duduk saya juga di sekitar situ karena disitulah keluarnya air panasnya

Dan tentunya yang bikin seneng adalah karena bisa pergi seharian sama akang :) 
Biasanya kalau dia pergi touring gitu, sendirian di rumah dan dia enak-enak aja maen. 

Jadi gemana neh? Mau ikut touring lagi ga?

Kasian sih sebenernya karena motornya merangkak ketika di tanjakan tajam. Karena yang dibawa kan 2 orang sedangkan yang lain gada boncengan.  Posisi jadi paling belakang terus hahha. Ya kapan-kapan ikut lagi kalo yang deket-deket dan waktunya cocok.





Wednesday, 19 December 2018

Berbinar!

Apa sih yang sebenernya dicari dalam hidup?
Mungkin ada (banyak) orang yang akan mengukur pencapaian hidupnya dengan jumlah harta yang dimiliki. Mulai dari rumah, kendaraan, perabot rumah tangga terkini, baju, tas dll dkk. Ga akan abis ngomongin yang namanya harta ini.

Penting ga sih si harta ini? PENTING tapi kayanya relatif.

Terkait dengan pencapaian hidup, satu lagi yang ingin saya capai adalahhhhh bisa selalu berbinar ketika mengerjakan sebuah pekerjaan. Bahkan sampai tua!

Keidean pas liat bapak aki-aki yang sampai umur 60an masih seru aja bawain pelatihan dengan mata yang berbinar dan muka yang asik! Dia adalah Koji Takakura. Padahal ilmuan itu (beberapa jigana) kan suka bosenin kalo jelasin sesuatu. Tapi ini jelasinnya asik banget dan kayanya emang beneran cinta sama hal yang disampaikannya di pelatihan tersebut.

Saya udah sering denger nama si bapak bahkan berkali-kali (berapa kali ya, poho) menceritakan tentang teknologi yang diciptakannya bersama dengan teman-temen dari Pusdakota Surabaya yaitu keranjang Takakura. Bahkan keranjang takakura pun menclok di dapur kontrakan saya sebagai pengompos sisa makanan yang dihasilkan. Namun akhirnya baru di tahun ini beneran ketemu orangnya. Sekilas cerita saat beliau berkunjung ke Indonesia bisa dilihat di sini.

Selain matanya berbinar, semangat positifnya menyebarrrrr. Bayangin weh, usia segitu masih pake bodor ngasi materinya (bikin sulap-sulap) dan ada nyanyi pake lagu Jepang. Sehat, semangat terus dan menginspirasi banyak orang yapakkkkk~

Pak Takakura yang pakai baju biru (Dokumentasi YPBB)

Satu orang lagi yang bikin saya beneran pengen-pisan-banget-sekali bisa punya mata yang berbinar saat melakukan pekerjaan. Dia adalah Pak Rama seorang pakar serangga dari ITB. Jalan yang ditekuninya adalah (dulu) jalan yang sepi. Dikit banget yang milih spesifikasi ke situ. Selama dengerin dia presentasi di kegiatan ini, jadi mikir: gimana caranya supaya bisa asyik banget cara ceritanya. Biasanya kan kalo cerita yang ngelmu kan penuh slide dan tunjuk-tunjuk tulisan. Ini sih jelasin tentang jenis-jenis lebah lebih kaya nyeritain temen-temen dengan segala karakternya. Santai dan mengalir.

Dan peserta yang awam kaya saya (saya dulu kuliah biologi tapi nyaaaa teuing kuliahnya ngapain wkwk) jadi paham bahwa justru sebagaian besar serangga itu menguntungkan buat manusia. Dan menjadi ahli serangga itu penting! Buktinya pak Rama sampai dipercaya salah satu universitas di Jepang buat bikin lagi suatu kawasan jadi ada kunang-kunangnya lagi. Karena kunang-kunang adalah hewan yang dekat dengan keseharian orang Jepang dan sebagai indikator lingkungan yang masih baik.

Belum lagi ceritanya tentang lebah. Lebah bukan sekedar mikir kebutuhan madu untuk manusia loh ya, tapi beliau cerita gimana si lebah ini bisa jadi titik penting bagi keberagaman sumber makanan kita. Kalau lebah ga ada, mau makan apa kita? Hanyalah sedikit makanan yang bisa ada bila si lebah punah.

Pak Rama belum setua Pak Takakura, tapi terpancar ekspresi yang sama saat mereka berbagi tentang hal yang diminati dan dicintainya kepada kita sebagai audiens di kala itu.

Pak Rama, ahli serangga (Dokumentasi: Jessisca Fam)

Monday, 19 November 2018

"Kabur"

Kalau lagi banyak masalah dan kerjaan, saya suka (sering sih tepatnya) kepikir buat kaburrrr. Setelah kabur gimana? Pusing hahah. Menimbulkan efek negatif yang lebih besar di masa kini maupun masa datang. Dan kadang terselip penyesalan di hati: padahal ya kalau....

Cara kabur yang pernah saya lakukan:

Menunda Pekerjaan 
Isi efeknya nyaman sejenak tapi rasanya hati ga tenang. Saat kembali dari perjalanan kabur itu tetep aja harus dihadapi. Dan seringkali kondisinya jadi lebih pelik. Ampun!

Tidur
Kadang tidur sejenak bisa mengistirahatkan hati dan pikiran sehingga sesudahnya memiliki energi lebih untuk kembali pada kenyataan hidup. Namun seringkali tidur tak cocok jadi tempat kabur karena di dalam mimpi taunya malah mimpi kerjaan atau mimpi lain yang ga jelas. Akhirnya berujung pada tidur yang kurang berkualitas. Bangun tidur stresss!

Mengerjakan hal lain yang produktif
Pindah mode kayanya salah satu tempat kabur yang agak mending. Setidaknya ada hal yang emang kacau, tapi ada hal yang lalu beres. Tapi walau hal produktif lain itu berasa penting, sesungguhnya ada yang lebih prioritas untuk dilakukan. Jadi itu sih masalah pilihan aja.

Mencari kesenangan yang lalu menghabiskan waktu dan uang
Nah, ini cara lain yang menimbulkan efek kebahagiaan namun berujung timbulnya masalah baru. Gamau kan di akhir bulan malah abis uang gara-gara kabur pakai cara ini? Atau minimal jatah nabung berkurang deh gara-gara aksi ini.

Ada lagikah cara kabur lainnya? Ayo dibagi!

Kabur sih sah-sah aja kalau memang benar-benar diperlukan. Tapi kalau lagi waras, kaburnya bentar aja dan baiknya dicicil menghadapi kenyataan hidup yang terjadi depan mata. Dari pengalaman, yang paling berat itu justru mengkondisikan hati. Kalau di hati udah merasa enggan duluan menghadapinya, hal yang sesungguhnya sepele pun jadi terasa berat. Padahal seringkali, saat mulai dihadapi terbukti gak pelik-pelik amat.

Jadi, yuk belajar bareng-bareng mengurangi kabur dan niat kabur sehingga kualitas diri kita meningkat dengan berbagai badai yang datang ini.

SEMANGAT!

*lagi nyemangatin diri sendiri sih sebenernya*
*lagi banyak deadline malah nulis di blog*

Saturday, 20 October 2018

Plered?

Pasukan kurang piqniq akhirnya piqniq ke Plered!

YIIIHHAA, ini lah kamiii..

Abaikan AMDK-nya. Itu kayanya punya penumpang sebelumnya kwkw. Foto: Jessisca Fam 

Dengan berbekal ijin dari suami, uang secukupnya, semangat kekurang-piknikan dan kuras sisa makanan di kulkas, kita berempat berangkat piqniq setengah hari. Dengan tujuan kekeretaan dan makan.



Bekelnya Ayu

Kenapa harus bekal? Gada yang mengharuskan sih. Tapi sebagai orang yang selalu laperan dan tau bahwa di kereta jaman sekarang gada tukang dagang, maka ya lebih aman bekel. Ini udah tahun 2018 loh! Gada tukang dagang seliweran. Apalagi musik sepaket calung dan tukang ngamen waria hehe. Saya ngomong begitu karena masih kealaman jaman naik KDR Bandung. Sekarang sih takada asap rokok. Ber-AC dan ada colokan listrik. Ini kereta ekonomi ya, bukan bisnis apalagi eksekutif. Harganya aja cuma 8000 perak. PP dari Kircon/Bandung ke Plered jadi hanya 16.000. Warrrbyasak kan~

Inspirasi piqniq kali ini datang dari Mala. Dia pernah beberapa kali melakukan perjalanan serupa. Namun rupanya ini sudah jadi jalur favorit untuk rakyat kecil! Bersama dari stasiun Kiaracondong, ada serombongan ibu-ibu yang juga naik ke kereta menuju Plered dan ternyata sama akhirnya makan bareng sate Maranggi sama kita.

Niat pisan, mau makan sate aja pada pake seragam merah putih!

Tertarik mau coba juga, ini jadwal keretanya dan belinya di stasiun selatan ya, baik di stasiun Kiaracondong maupun stasiunn Bandung. Ini penting untuk diperhatikan karena kereta yang dinaiki masuk ke kereta api lokal yang jalan masuknya berbeda dengan kereta api luar kota.

Foto: Gemala

Tempat naik (juga turun) dan pilihan kereta silakan disesuaikan. Kemarin untuk perjalanan pergi kita pilih kereta nomor 395 (yang diberi tanda biru) dan pulangnya naik kereta nomor 396. Yuk jalan-jalan naik kereta! Pemandangannya keren. Ada sawah-sawah dan berbagai gambaran kehidupan tersaji.

Foto: Jessisca Fam

Ketika sampai di stasiun Plered yang dilakukan adalah tengok-tengok. Mencari dimanakah letak kampung Maranggi? Kata Mala sih deket stasiun banget. Dan ternyata tepat di sebelah stasiun!

Sebelum makan foto dulu tentunya. Monmaap ya pemirsa! Di foto ini udah mulai meringis karena udara terasa lebih panas. Selain karena sebelumnya turun dari kereta ber-AC.

Foto: Jessisca Fam

Lalu? Ya cepet-cepet pesan makan dan segera bersantap dong!

Harga sate relatif murah. Karena ini makanan rakyat kecil jadi kecil-kecil juga nih satenya. Tapi rasa lumayan. Seporsi satu 18-20 ribu. Isinya 10 tusuk.

Kampung Maranggi tampak depan. Foto: Gemala

Di Kampung Maranggi, berjejer banyak pedagang sate semacam ini. Foto: Jessisca Fam

Ayo makan!
Sejak turun dari kereta, sampai akhirnya kita naik kereta untuk pulang, ada waktu sekitar 2 jam untuk beraktifitas di daerah Plered. Jadi, setelah kenyang makan dan kenyang ngobrol, lalu kita berangkat ke Museum Keramik.

Dari Kampung Maranggi kalau mau ke Museum Keramik pilihannya ada 2:
1) naik angkot: Rp 3000/orang  untuk 1 kali perjalanan
2) naik grabcar: Rp.11.000/1 kali perjalanan

Grabcar batal kami gunakan karena angkot sudah lebih dulu nongol.

Ternyata ini bukan museum! Museum kebayangnya ada informasi yang jelas di setiap barang yang dipamerkan. Namun di tempat ini tidak ada. Yang nampak adalah 1 ruang yang berisi banyak keramik. Menurut penjaganya, keramik ini adalah produk-produk yang dibuat dalam 5 tahun terakhir.

Di dalam "galeri"

"Galeri" ini merupakan salah satu bangunan yang ada di UPT lupa-lagi-namanya-apa. Jadi memang bangunan milik pemerintah. Dan ada ruang pembakaran keramik dan ruang pembuatan keramik di samping bangunan "galeri" tersebut.

Mau buat keramik? Kayanya pakai alat ini 

Ruang pembakaran keramik. Foto: Jessisca Fam

Dengan waktu yang masih tersisa beberapa menit sebelum kereta datang, disempatkan jugaj jalan kaki ke beberapa toko keramik yang ada di sebelah-sebelah museum. Jaman dulunya sih katanya jaya nih industri keramik di Plered. Kemarin relatif tampak sepi.

Jajaran toko-toko keramik di Plered

Beberapa contoh keramik yang ada di kota sepanjang jalan tersebut

Lalu kita cepet-cepet pulang naik angkot untuk mengejar jadwal kereta pulang. Naik kereta dan sampai stasiun Bandung sudah gelap.

Sampai ketemu di piqniq selanjutnya!