Wednesday, 16 January 2013

Hari ke 16: KUIS-KUISAN ] Nama Unik!

gambar dari sini


Bukan mau ngajak berenang atau mau masak ikan. Tapi, mari kita seru-seruan!
Yuk, saling berbagi 1 nama (SATU saja ya) temen kita yang nama panggilannya UNIK banget!

Caranya gampang!

Sebutkan:
- Nama asli teman kamu itu
- Nama panggilannya siapa
- Apa kisah menarik di balik nama panggilan tersebut.
Jawaban langsung ketik saja di bagian comment. Beberapa celotehan kamu yang asikasik dan seruseru akan saya sharing ke temen-temen lain melalui akun Facebook dan Twitter saya.

Oya, kalo pengen dimention di aktivitas sharing tersebut, jangan lupa berikan akun twitter &/ email Facebooknya di bagian comment juga ya.

Nama unik itu deskripsinya bisa macem-macem.
Bisa karena:
  1. Nama panggilan bener-bener gak nyambung sama nama asli dan bahkan orang lain sampai gak tau nama aslinya: misalnya namanya Ahmad Santosa tapi dipanggilnya Erik. Indri Widianti dipanggilnya Guli. Bener-bener kaga nyambung kan? 
  2. Nama panggilan pas jaman cadel kemudian dibawa-bawa sampai besar (tapi ini sih bukan unik, malahan standar ya?) : misalnya namanya Christine, tapi dipanggilnya sampe gede dan udah ibu-ibu: K-I-T-I
  3. Nama panggilan yang diberikan karena peran yang biasa dijalankan: misalnya seseorang itu akhirnya dipanggil Bunda sama semua orang
  4. Nama panggilan yang diberikan karena dirasa lebih enak nyebutnya. Misalnya nama aslinya Gun Gun Gunawan, tapi dipanggilnya Gundil. 
  5. Nama gaol yang terus dipakai pas udah gak jamannya lagi jadi anak gaul: misalnya panggilan Nyiemo untuk orang yang bernama Irma Indrayati. 
  6. Nama panggilan yang terinspirasi dari singkatan nama beneran: nama aslinya Cucu Hambali. Entah kenapa kemudian semua orang memanggilnya Kang Cuham. 

*Contoh-contoh yang diberikan, beberapa asli atau setengah ngarang! hehehehhe...

Ayo, mari berbagi panggilan-panggilan unik dari temen-teman kitaaaaaaaa :)

Tuesday, 15 January 2013

Hari ke 15: Somse - Lulucuan Lagu Sunda

Asalnya malam ini mau cerita istilah-istilah Sunda yang unik dan sudah mulai jarang dipakai.
Karena baru aja inget lagi dengan kata celeno.
Kata celeno ini rasanya dulu pernah dipakai waktu jaman sekolah. Arti yang sebenernya gak terlalu ngerti juga sih hahaha. Cuma kata celeno tadi, rasanya enakeun untuk diucapkan.

Nah, jadilah barusan searching arti kata celeno. Harapannnya ditemukan beberapa deskripsinya dan juga menemukan istilah-istilah Sunda lucu lainnya.

Eh! Yang ketemu malah celeno yang di luar negeri sana. Kalau gak salah sejenis wi-fi gitu.
Salah kata kunci berarti.
Kemudian pencarian dilanjutkan dengan kata kunci "celeno" "sunda". Apa coba yang terjadi?

Munculkan video klip lagu celeno!
O ow! Lagu naon etaaaaa?
Langsung diklik.
Euleuh, geuningan lagunya Doel Sumbang. Salah satu artis pop sunda.
Ah, tapi gak kenal lagunya. Langsung lah penasaran pengen denger dan nyimak lagu Doel Sumbang yang sempat kondang pada jamannya. Dan nemu lagu yang tak asing dan sempat menjadi kata yang trend yaituuuuu: Somse alias sombong sekali

Video klipnya seperti permainan kakak mia atau permainan orang kaya miskin. Ada 2 kelompok orang yang baris dan nyanyi-nyanyi gitu. Cukup menghibur dan menutup hari ini dengan segar hehehhe..

Warnai hari-harimu dengan lagu sunda-an. Selamat menyimak!

Somse alah meni somse, eneng meni somse, sombong sekali



Hari ke 14: Jadi, kemana Perginya Budaya #Reuse Kaca?

Pernah denger istilah tukang beling?

Kalau saya sih dengernya tahun-tahun dulu. Tukang beling adalah mamang-mamang yang suka keliling-keliling untuk cari botol-botol bekas dari kaca. Salah satu alat penukarnya selain uang adalah ciki kiloan. Tujuannya sih sepertinya untuk dijual lagi. Persisnya gimana? Saya juga gatau. Dulu kan belum kenal isu lingkungan, jadi ya gak sebegitunya penasaran juga dengan kelanjutan kisah si botol setelah diberikan.

Proses paling akhir pakai botol kaca di keluarga adalah saat beli sirop. Dan itupun jarang. Dilakukan bukan karena sadar lingkungan atau peduli isu kesehatan. Tapi karena gada pilihan sirop yang pakai botol plastik mungkin.

gambar dari sini


Trus yang sempat rutin di keluarga (sebelum 2008an), di saat orang-orang mulai meninggalkan kebiasaan untuk memakainya, kita masih beli kecap pakai botol kaca. Mungkin gak jadi aneh kalo kita jadi tukang baso ato tukang mie. Tapi kita pakai merek yang rada bonafid lah yaitu Borobudur.

Jaman saya masih suka dapet tugas belanja ke pasar: cara belinya adalah sbb:
1) dari rumah bawa botol kosong bekas beli sebelumnya. Dalam keadaan bersih dan kering.
2) Kemudian dibawa ke pasar.
3) Hanya 1 jongko yang masih jual kecap dengan cara tersebut yaitu di jongkonya tante telur. Nama yang aneh kan? Dijuluki demikian kayaknya karena telur yang dijual sama si tante (yang sebenernya udah ampir nini-nini ini) bagus-bagus.
4) Harganya cuma lebih murah dikit kalo gak salah, dibanding kalo kita gak bawa botol bekas.
5) Tapi saat itu saya mendukung banget aksi beli kecap dengan sistem tukar botol. Biar gak nyampah.

Nah, tapi sekarang kecap yang menclok di rumah, kemasannya udah dalam kemasan plastik refill tea. Belum nyempetin ngobrol lagi sama orang rumah kenapa jadi berubah kebiasaan.  Tapi mungkin juga sistem dagang kecap tersebut dan dengan merk itu emang udah punah. Kan, terakhir aja cuma 1 pedagang yang jual se-pasar Antri Cimahi!

Fenomena lain yang berkaitan dengan botol kaca, saya udah gak pernah denger lagi istilah tukang beling disebut-sebut. Yang ada, istilah pemulung dan lapak. Dugaan saya: si botol kaca ini kah murah banget, jadi males banget deh si tukang pulung jaman ayeuna ngumpulinnya. Harganya murah! Coba aja cek ke lapak/pemulung, pasti mereka sepakat dengan pernyataan saya tadi.

Dan tren: meninggalkan kebiasaan pakai botol kaca ini menyebar. Sekarang hotel-hotel dan tempat makan pun (restoran dan cafe) mulai jarang menyediakan AMDK berbotol kaca. Keterangan yang saya dengar, katanya si produsen AMDK yang paling kondang (si AQ*A) sudah tidak memproduksinya lagi. Entah apa alasannya. Nanti cari tau ah! .

gambar dari sini


Walah, padahal si kaca ini lebih ramah lingkungan dibanding plastik, lebih aman secara kesehatan untuk makanan (dibandingkan bila menggunakan plastik), dan bisa dipakai berulang kali pula.

Jadi, kemana Perginya Budaya #Reuse Kaca? 

Sunday, 13 January 2013

Hari ke13: Kangen #AlamiBumi !

Apa peranan alam buatmu?
Itu salah satu pertanyaan yang biasa diajukan di pelatihan keberlanjutan YPBB. 

Dan jawaban yang sering muncul (dari para peserta yang kebanyakan orang kota) adalah : untuk berlibur dan untuk dinikmati keindahannya. 

Siapa yang tidak senang kalau disuguhi pemandangan seperti ini? 

gambar dari sini

Jadi secara naluriah, sebenarnya manusia mengukai keindahan, termasuk keindahan alam. Dan sebenarnya menyukai alam juga. 

Kali ini saya mau cerita sedikit tentang salah satu kebiasaan di masa kecil yang berhubungan dengan pemandangan. Begini ceritanya: 

Ketika SD saya punya teman pulang bareng. Namanya Yulia. Setelah dipikir-pikir, dia adalah salah satu temen yang mewarnai masa kecil saya. Teman eksplor macem-macem hal. Salah satunya terkait pemandangan. 

Sepulang dari sekolah, di area alun-alun kami punya 2 pilihan: apakah mau nyebrang pakai jembatan penyebrangan atau tidak. Dan dalam beberapa kesempatan, kami memilih untuk naik ke jembatan penyebrangan. Kadang suka malas sih karena lebih cape dan juga suka ada pengemis. Tapi ada hal ajaib di atas jembatan penyebrangan itu!

Ada pemandangan gunung-gunung yang indah (indah menurut versi anak SD tentunya). Dan kita suka sejenak berhenti untuk menikmati keindahan tersebut. Rasanya asyik dan seru! Kalau gak naik jembatan penyebrangan, tentunya kita tidak akan bisa melihatnya karena terhalang bangunan-bangunan.

Sekarang saya bekerja di lembaga yang bergerak di bidang kampanye lingkungan. Mungkinkah (secara tidak sadar) kesukaan akan keindahan alam di masa kecil ini yang menjadi salah satu penyebab saya memilih jalur tersebut? 

Hayu ah menikmati pemandangan dan meng- #AlamiBumi !

*kangen sama kegiatan #AlamiBumi YPBB! , intip foto-foto kegiatan serunya di sana dan di sini


Saturday, 12 January 2013

Hari ke 12: Yuk ikut Belanja #ZeroWaste !

Belakangan ini, sering banget denger orang mengeluh tentang masalah sampah di kota Bandung.

"gak diangkat-angkat sampahnya, ampe ngebludag di jalanan"
"bau..hiiiii"
"ini sampah harus digimanain segini banyaknya?"
  la la la bla bla bla

Tapi kalo ngomongin masalah sampah, ujung-ujungnya akan balik lagi ke perilaku kita.
Kenapa begitu?

Karena si masalah sampah itu bermula dari perilaku si penghasil sampah. Siapakahh diaaaaa? Ya kita sendiri.

Jadi pembicaraan tentang masalah sampah akan sampai juga pada perilaku kita saat akan membeli barang, saat membeli barang, saat menggunakan barang, dan saat memperlakukan barang setelah tidak dipakai.

Tapi tenangggggg...walopun kondisi sekitar kita tidak kondusif, kita PASTI bisa melakukan sesuatu untuk turut menyelesaikan masalah sampah. 

Kita mulai dari tahap belanja yuk!
Yuk ikut Belanja ZeroWaste!

Bawa dulu stok kantong-kantong yang bisa dipakai ulang ah! Jadi acara belanja kita kali ini tidak menghasilkan sampah baru berupa keresek-keresek dan plastik-plastik.


untuk belanja bisa pakai tas kain/tas karung

Siap berangkatttttt? 
Lets goooo!

Di acara masak-masak, biasanya ada acara goreng-goreng kan? Kalau kita tengok di pasaran biasanya tersedia aneka macam produk minyak dengan aneka kemasan. Yang paling oke untuk pengurangan sampah yang mana cobaaaaa? Lihat dari kanan ke kiri. 



Kemasan gelas plastik, plastik bening dan botol hampir dapat dipastikan terbuang ke tempat sampah. Kecuali kalau kita rajin mencucinya (ih, susah kali ya nyucinya dan butuh sabun banyak) maka akan bisa kita berikan ke lapak untuk didaurulang. Yang paling juara pastinya adalah minyak berkemasan jerigen! Jerigen masih bisa dipakai lagi dalam waktu panjang karena tebal bahannya. 

Kita akan masak menu apa? 
Hmmm, saya usul ada menu tahu yaaaa..

Gimana ya cara beli tahu tanpa sampah plastik bening maupun keresek? Biasanya kan dikemas pakai plastik seperti ini. Hadeuh! Nyampah plastik kalo begini sih :(




Ayo semangat! Karena kita punya misting (kotak makanan) sebagai alternatif penggantinya! 




Jangan lupa masukkan si misting ini ke dalam tas yang sudah kita bawa :) 



Bumbu-bumbu jangan lupa! Wadahnya yang lebih kecil aja.  




Sepertinya kumpul-kumpul asik juga kalau sambil ngopi. 

Pakai kopi sachet? Owwwww tidak. Intip deh resiko ini itu nya di rangkuman #twitZW -nya @ypbbbdg di sini. 

Sekarang kita pilih saja kemasannya yang lebih besar. Si kemasan kertas juaras 1 sedangkan kemasan plastik tetap juara dua. Kertas kan masih bisa didaurulang. Plastik berkilau diapakah nantinya? Kebanyakan berakhir di tempat sampah!



Ada yang gak suka kopi? Ayo deh kita pilih teh yang paling bebas dari sampah. 

Saya pilihkan yang no 2 ya. 
Soalnya yang no 1 kan nanti sampah kertasnya banyak karena dikemas satuan. Belum lagi si kartonnya juga dilapis plastik bening. 
Yang no 3 lumayan oke sih. Teh tubruk kan bungkusnya ya cuma 1 kertas saja. Tapiiiiiii, itu kenapa coba produsennya "iseng" ngasi plastik? ckckckck 




Belanja makanan udah, bumbu juga udah, untuk minumannya juga udah. Eh, nanti kita bakal cuci-cuci piring. Jadi pilih kemasan sabun cuci yang terbesarrrr (kalo ada sih, beli yang lima liter.Tapi ya belum ada sih). 




Alternatif lain, bisa beli sabun cuci yang literan. Jadi kita bawa wadah bekasnya kemudian tinggal masukin sabun cuci dari galonnya. Emang ada? Ada dong! Ini contohnya :) 


foto koleksi Tini MF

Mari kita sudahi belanjanya ya :) 

Terbukti kan, dengan aktivitas belanja tersebut banyak hal yang bisa dilakukan. Mulai dari diri sendiri untuk mulai menyelesaikan masalah sampah :) 

Mari #ZeroWaste - kan acara belanja kita!

*Nantikan edisi selanjutnya: Yuk Dateng ke Makan-Makan #ZeroWaste !



Hari ke 11: Everyday is Wiken

Selama ini udah pernah denger (eh, maksudnya baca) nama Wiken Tanpa Ke Mall. Tapi kampanye persisnya belum pernah cari tau. Semangat yang saya bayangkan ketika baca nama tersebut adalah semangat ketidakbergantungan akan gaya hidup mainstream nge-mall.

Seperti yang kita tahu, biasanya ke mall identik dengan: banyak uang yang dihabiskan, interaksinya dengan alam kurang (karena semua mall kan di dalam ruangan - walopun ada yang coba mengkombinasikannya dengan taman dkk, tapi teteup weh tempat yang dominannya di ruangan), banyak orang di satu tempat, tapi satu sama lain tidak saling terhubung dll.

Nah, beberapa hari yang lalu tanpa sengaja saya ngintip video liputan aktivitas grup Wiken Tanpa Ke Mall di youtube..



Jadi tau deh gambaran umum tentang gerakan Wiken Tanpa Ke Mall :) 
Salah satu idenya adalah dateng ke suatu kampung dan kemudian secara sukarela menyediakan aktivtas foto keluarga. Si orang kampungnya dikasi pengumuman akan ada sesi pemotretan. Nanti hasil fotonya akan dikirimkan kembali.

Padahal mungkin sebagian dari kita bilang begini, "Apa istimewanya sih difoto keluarga?" Tapi itu jadi pengalaman berkesan untuk orang kampung dan juga menjadi pengalaman seru untuk si orang kotanya. Selain orang-orang kota yang volunteeran mengorganisir proses foto-foto, jadi panitia, jadi fotografer, terjadi pula jadi ada proses interaksi dengan orang kampung, proses bekerja di dalam tim, mengenal tempat yang sangat berbeda dengan tempat aktivitas sehari-hari dll. 

Seru! 
Saya melihat ini (kalau dibanding nge-mall) sebagai aktivitas memanusiakan kembali manusia. 

Salah satu komentar di dalam video ini bilang: 
"Yang menarik, pikiran ini dipelopori oleh kelas menengah sendiri yang selama ini dituduh menjadi korban paling agresif dari kebudayaan dan industri kapitalis kontemporer saat ini"

Kesadaran akan adanya "kesalahan" budaya nge-mall itulah kunci dari adanya gerakan ini.

Taglinenya: "di dalam wiken yang sehat terdapat weekday yang kuat." Tapi kalau kata saya sih (ini mikir bebas), akan lebih seru lagi kalau tagline tersebut lama-lama bisa berubah menjadi "everyday is wiken"

Okeh, apa ide cerdasmu untuk aktivitas wiken ini? 


*salah satu proyek mereka yang bisa didukung ada di sini. Akun twitternya: @wikentanpamall

Friday, 11 January 2013

Hari ke 10: Cangkir vs A-Em-De-Ka

Kayaknya enak nih minum kopi atau teh dulu ya :)
Nih saya suguhi temen-temen dengan secangkir teh hangat dulu sebelum tulisan pagi ini dimulai

gambar dari sini


Gimana rasanyaaaa?
*daya imajinasinya perlu tinggi untuk menjawab pertanyaan barusan karena susah euy ngirim teh hangat beneran pake media blog hehehe.

Teh hangat dan manis seringkali menjadi media yang pas untuk menemani kegiatan ngawangkong atopun membuka hari. Kalau kita bertamu pun, teh hangat menggambarkan keramahan tuan rumah. Kenapa kehangatan? Tuan rumah mulai dengan proses menyediakan air hangat. Kalau jaman sekarang tinggal cuuuuurr dari dispenser.

gambar dari sini

Tapi kalau kita mundur beberapa tahun ke belakang, masih banyak tuan rumah yang memang nyetok air hangat di dalam termos. Pastinya melalui proses pemanasan air sebelumnya (pakai kompor gas/minyak tanah). Harapannya, kapanpun tamu datang, selalu tersedia air hangat untuk menyuguhinya. Kurang niat gimana coba? heheh

termos jadul 

Akan bener-bener kerasa kehangatan tuan rumahnya juga bila teh dibikin oleh tuan rumah dan bukan atas jasa pembantu.

Heheheh, jadi pengen disuguhi teh hangat full service beneran deh jadinya.

Nah, ini kenapa saya tiba-tiba ngabulatuk tentang teh hangat dan juga sebagai sajian buat tamu? Saya balik tanya dulu nih:
Kapankan terakhir temen-temen bertamu dan diberi sajian teh manis hangat dalam cangkir? 

Kalau saya sih sudah cukup jarang. Yang paling sering (dan rupanya sedang trend) saat ini di ruang tamu sudah tersedia A-Em-De-Ka.


Tujuannya mungkin masih sama. Ingin tamu yang datang ke rumah dapat terlayani dengan baik. Prosesnya jadi sangat praktis. Gak perlu masak air, gak perlu punya termos air hangat, kompor maupun dispenser. Gak perlu repot-repot melangkah ke dapur dan gak perlu cape-cape cuci piring. Itu kalau bicara keuntungannya.

Apakah ada dampak negatifnya?
Sebelum ngobrol ke bagian itu, mau share dulu data bahwa konsumsi AMDK di Indonesia yang ternyata memang meningkat dari tahun ke tahun.

 dari sini

Dampaknya apa? Pastinya jadi banyak sampah dari kebiasaan baru ini. Saya sebut baru karena kalau dari pengalaman, jaman dulu kecil sih belum umum dilakukan. Kalau biasanya cangkir untuk menyuguhi tamu dapat dipakai ulang (dicuci-dikeringkan-dipakai lagi-berulang-ulang), gelas AMDK ini akhirnya berakhir di tempat sampah. Bisa dipakai ulang dulu sih, tapi ujung-ujungnya kalau sudah tidak bisa dipakai, akhirnya berakhir di tempat sampah juga. Bisa didaur ulang juga sih, karena memang kemasan ini diterima di banyak lapak.

Sehingga kebanyakan orang akan bilang begini: "Tapi kan gelas plastiknya bisa didaur ulang dan juga bisa dibuat aneka kerajian."
Ya ya ya..pendapat tersebut sah-sah saja.

Tapi reduce (alias mengurangi dari awal) merupakan prioritas pertama dalam upaya pengurangan sampah sebelum reuse dan recycle. Dan kalau teman-teman sempat nonton film Addicted to Plastik/Story of Stuff/The Age Of Stupid, mungkin temen-temen akan berpikir beberapa kali untuk (akhirnya) menyuguhi tamu menggunakan AMDK. Jangankan sampai proses daur ulangnya, saat pengambilan bahan baku plastikpun sudah menimbulkan banyak masalah. Minyak bumi. Iya itulah bahan baku plastik.

Mudah-mudahan penasaran dengan film-film tersebut :) Sedikit ulasan filmnya bisa diintip di sini dan sana.

Oke, selamat cari/download filmnya dan juga silakan memilih apakah mau menyuguhi tamu dengan Cangkir atau A-Em-De-Ka.
*jangan lupa sambil sruput teh hangat khayalan hadiah dari saya :)