Saturday, 12 July 2014

Dukun Lampu!

Di sekitar kita banyak ide, inovasi dan pembaharuan.  Dari pengalaman selama ini, perlu waktu dan proses tertentu sampai akhirnya “telur” ide itu menetas dan mewujud.

Dukun Lampu!

Itu salah satu ide yang sempat saya dengar dari beberapa orang. Cuma biasanya hanya berakhir dengan "oh", “wah keren” atau “ada di mana tuh?” Barijeung belum berwujud menjadi sebuah aksi.  Kata dukun yang dimaksud, bukanlah hal yang terkait dengan mistik ataupun aliran kepercayaan yang aneh-aneh, apalagi harus sampai dipuasain dan disesajenin macem-macem. Tapi dukun ini diartikan sebagai orang yang ahli bisa mengubah lampu yang rusak menjadi bisa dipakai kembali.

Ide dukun lampu ini, saya dengar (kembali) ketika kemarin diskusi di acara #barterTajil di acara Markinon. Film Story of Stuff sudah berkali-kali saya tonton. Film Story of Elektronik dan How the West Dump Electronic Waste in Africa and India juga sudah pernah saya tonton. Cerita tentang perjalanan material di alam, mulai dari ekstraksi, produksi, penjualan sampai ke tahap pembuangan. Termasuk dampak-dampak negatif yang timbul di setiap tahapan. Tetapi, bagian yang paling seru dan menimbulkan “lampu” di kepala saya nyala setiap kali beres nonton adalah saat diskusinya. Paling sebel kalau nonton film bareng dan diskusinya “disetir” oleh moderator (apalagi pemateri yang ngabulatuk dan menghancurkan ide-ide seru yang muncul di kepala)! Apalagi kalau udah nonton tak ada diskusi dan bubar jalan. Karena biasanya bagian diskusi itulah yang bisa memunculkan telur-telur ide dan meyakinkan (kembali) hal-hal yang sudah pernah diyakini dan bahkan bisa sampai ke tahapan mendorong supaya “telur” ide menetas secepatnya dalam kenyataan.

Nah, si ide dukun lampu kemarin dicetuskan kembali oleh teh Tiwi. Jadi idenya adalah, ada dukun lampu yang mau menerima lampu rusak. Saya lupa apakah si lampu itu dibeli ataukah tidak oleh si dukun. Tapi yang pasti, kita bisa membeli lampu “second” yang sudah dioprek oleh si dukun. Si dukun biasanya orang yang hobi ngoprek dan atau sudah mendapatkan pelatihan reparasi lampu. Harga beli lampu sudah pasti di bawah harga lampu baru. Menurut keterangan teh tiwi, lampu yang merk Philips bisa didapatkan dengan hanya 20 ribu. Belum saya cek juga sih, 20 ribu itu untuk yang berapa watt. Tapi sekelas Philips, dengan watt terendah pun harga barunya lebih dari 20 ribu. Jadi si dukun ini bisa menghemat uang kita, membereskan lampu-lampu yang selama ini numpuk percuma di rumah dan kita gak perlu ambil bahan mentah baru lagi dari alam. Pasti ada bagian-bagian kecil tertentu yang perlu diganti dan si dukun beli baru, tapi tak kan sebanyak kalau beli lampu baru.

Nah, dengan adanya toko organis di kantor, ruang yang agak luas di kantor, media sosial dan juga “fans” YPBB selama ini, harusnya ide ini sangat realistis untuk dicoba. Jadi ada drop box yang menampung lampu-lampu rusak yang bisa diisi oleh siapapun yang mampir dengan sengaja ataupun untuk kepentingan lain ke kantor. Lalu setelah jumlahnya agak banyakan, lampu tersebut bisa dibawa ke dukun lampu. Dan pada saat yang sama, toko organis bisa borong lampu yang sudah diperbaiki dan disimpan kembali di toko supaya ada akses lampu second bagi siapapun yang membutuhkan. Itu peranan pertama dari toko organis untuk memaksimalkan fungsi dukun lampu.

Ide lain dari David mengakhiri diskusi kemari sore tentang tawaran fasilitas CSR pelatihan dukun lampu dari Ancol. Dan hasil obrol-obrol kemarin menunjukkan bahwa keterampilan repair sederhana seperti menjadi memperbaiki lampu adalah keterampilan yang perlu dikuasai oleh cukup banyak lampu di rumah gak numpuk dan kita bisa memperpanjang masa hidup sebuah barang sebelum akhirnya dibuang.

Urusan dukun lampu ini gak perlu disentralisasi di toko organis saja. Ke depan harusnya banyak drop box-drop box lain dan semakin banyak pula orang yang menguasai keterampilan tersebut. Akan keren bila muncul juga daftar nama dukun lampu di setiap area. Jadi orang bisa langsung mengakses dukun terdekat dengan lokasi tempat tinggal atau beraktifitasnya. Gak perlu sampai naek mobil berkilo-kilo untuk bisa membetulkan lampunya.

Semoga ini ini bisa dikit-dikit terealisasi. Mari beberes rumah untuk menemukan kembali lampu-lampu yang bergeletakan tak terpakai. Atau mulai dari sekarang, jangan buang lampu yang rusak, tapi kumpulkan untuk disetor ke dukun lampu.

Terimakasih hey kalian yang sudah menyalakan lampu-lampu ide dan mari bareng-bareng mewujudkannya. Iraha markinon deui euy? Hayulah diskusi lagi untuk menelurkan ide-ide baru dan juga berproses bersama untuk mewujudkannya J




Friday, 27 June 2014

Hobi baru: Papasakan Yuk!


Malam ini, akhirnya menyempatkan diri untuk beberes foto di HP. Gak punya kebiasan rutin mindahin juga sih, tapi jadi harus dilakukan karena HPnya udah lemot minta ampun. Pas liat foto-foto, nemu beberapa foto makanan yang sempat dimasak beberapa waktu ini. Sejenis hobi baru yang dimulai bulan maret (ehm). Yang ternyata bisa jadi kegiatan yang cocok kalau lagi galau dan males gawe. Sekaligus sebagai persiapan 2015 (( jreeng )) . Bukan itu aja ketang, da keterampilan masak mah perlu dikuasai oleh setiap orang sebagai (minimal) upaya survivalnya.

Buat yang gak kenal-kenal amat sama saya, perlu diketahui bahwa dari si anil dari dahulu kala gak pernah masak, jadi kalo akhirnya dibikin tulisan ini the karena emang ini salah satu kemajuan. Dari asalnya selalu jadi tukang cuci piring, belanja kalau acara papasakan atau maksimal bantu ini itu pas orang lain masak, sekarang naik level jadi tukang masak *nyengir!

Eh, baru keinget bahwa ada yang suka dimasak dan dibawa ke kantor yaitu adalaaaahhh pudding alias nutrijel tea yang tinggal godog air, timbang gula, aduk-aduk dan mateng deh. Gacoannya adalah pudding coklat.



Kue pertama yang dibikin ancur pisan! Karena gak pake resep. Cuma modal skil nimbang hahaha, semua seprapatan. Kalau gak salah dalam rangka memanfaatkan pisang yang udah butut saat beberes kulkas.




Dari situ kemudian baru mulai masak pakai resep. Nge-googling dan teu nyayahoanan supaya hasilnya cukup layak dinikmati oleh orang lain.

Kemudian mulai bergulir lah kue dan makanan-makanan selanjutnya. Biasanya kegiatan masak dilakukan pas lagi ngetem di rumah dan yang pasti pas lagi punya uang buat beli bahannya. Ya kalo cuma terigu sih murah, yang mahalnya itu segala pernak pernik perintilnya seperti sejenis keju, coklat blok dkk. Dan urusan sampahnyaaaaa, belum semua bisa semua #zeroWaste euy. Ampun dah! Segala dibungkusin. Sekarang sih berusaha beli yang kemasan gede-gede dan bawa wadah pas beli gula, minyak goreng dan tepung di grosiran.




Kesimpulannya, masak tuh asik! Yaudah lah ya, silakan ngiler mandangin cemilan-cemilan yang saya bikinnn. Nyam-nyam :P

Bolu Coklat
Lupa namanya tepatnya, dikukus terus digoreng. Kalau gak salah Tahu Telor

Brownies Keju

Mie goreng tanpa pecin-pecinan

Gak nyangka, bisa bikin yang mirip risoles beneran!

Brownies coklat ini dibikin tanpa mixer!

Bolu Wortel | wortel beli dari petani Garut: 2000/kg. Murah pisan pan!

Friday, 31 January 2014

Yuk Jadi Event Organizer NONTON BARENG film Trashed!

Yuk secara voluntary jadi penyelenggara (event organizer) kegiatan NONTON BARENG film Trashed!







Trashed: Visualisasi yang menggugah hati tentang dampak negatif dari masalah sampah. Tapi tidak cukup sampai di situ! Lebih penting lagi untuk melihat solusi-solusinya dan juga memetakan peran kita sebagai warga Bandung untuk mulai mengatasi persoalan sampah.

Bagaimana cara untuk menjadi event organizer kegiatan NONTON BARENG film Trashed di area Bandung dan sekitarnya? Mudah saja!

1. Calon pemutar film mengajukan diri dengan:
a) memberikan info:
- Nama Komunitas

- Rencana pemutaran (tanggal, lokasi, mitra, dst)
- Target audience
- Target jumlah peserta
b) mengisi form SURAT PENGGUNAAN HAK CIPTA Film "Trashed" (dapatkan di sini)
c) mengirimkan info dan form soft copy ke email 
bdg.cleanaction@gmail.com (belum menggunakan materai dan tandatangan) paling lambat H-5

2) Membuat penyepakatan terkait waktu pengambilan DVD film di point film

3) Penyerahan form hardcopy SURAT PENGGUNAAN HAK CIPTA Film "Trashed" yang telah diberi materai dan tandatangan s
aat calon pemutar film datang mengambil film

4) Tim akan bantu men-scan form tersebut dan mengirimkan via email ke pihak WWF sebagai pemegang hak cipta film Trashed di Indonesia.

5) Laporan dari pihak pemutar film diserahkan ke email 
bdg.cleanaction@gmail.com (pada H+3) dengan panduan sebagai berikut:
a) foto pilihan minimal 3 dan maksimal 10 yang meliputi: foto bersama, narasumber/fasilitator diskusi close-up (bila ada), narasumber dengan setting ruangan keseluruhan, suasana peserta secara keseluruhan, peserta yang membuat ekspresi menarik
b) liputan standar 5W1H (diberikan dalam bentuk link di blog/web). Contohnya seperti ini dan itu.
c) Memberikan presensi softcopy dalam format minimal seperti di sini

Presensi ini penting untuk memperkaya database orang Bandung yang memiliki pemahaman baru tentang masalah sampah dan solusinya. Diharapkan lain waktu bisa diajak lagi beraktifitas oleh komunitas-komunitas yang memiliki kampanye tentang sampah di Bandung.

7) Pemutar film diminta menyerahkan kembali DVD film ke point film maksimal H+3.

8) Tim akan mengirimkan hardcopy form SURAT PENGGUNAAN HAK CIPTA Film "Trashed" yang telah diisi oleh para pemutar film secara kolektif ke WWF.




CP: 

Baskoro Lokahita - 0896 557 34999
Point Film: Urban Centre Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi | Jl. Sidomulyo No.21 Bandung 40123 | fb: YPBB Bandung | @ypbbbdg 

Jadwal Nonton Bareng


Tanggal
Tempat
Waktu
Event Organizer
Sifat Acara
Status
Liputan
22 Desember  2013
Museum Sribaduga
13:00-15:00
Earth Hour Bandung – Tian 08561201042
Terbuka untuk umum
Terlaksana

17 Januari 2014
Urban Centre YPBB, Jl.Sidomulyo no.21, Bandung, Indonesia 40123
15:30 - 18:00
YPBB – Ami 085624180354
Terbuka untuk umum
Terlaksana
1 Februari 2014
Wisma Bulog, Jl. Cilengsar Cipanas Cianjur
19:00-21:00
Tini - 08122456107
Tertutup untuk keluarga besar Gandakusuma
Terlaksana 






11 Februari 2014
Shafira Foundation16:00Tini - 08122456107Tertutup untuk PKK, Relawan Bdg dan Shafira FoundationTerlaksana




















































































Earth Hour Bandung (22 Des 2013)


YPBB (17 Jan 2014)


Keluarga besar Gandakusuma (1 Feb 2014)


Shafira Foundation (11 Feb 2014)

Tuesday, 21 January 2014

Hari 15: Idola Baru: Diébédo Francis Kéré !

Ada yang sudah pernah dengar nama ini?
Diébédo Francis Kéré

Atau pernah lihat foto orang ini?



Atau, pernah dengar nama negara: Burkina Faso?

Sebagai yang kurang gaul, saya belum penah melihat foto, denger nama maupun nama negara yang tadi disebut-sebut di atas.

Tapi setelah lihat video presentasinya di TED dan juga googling sedikit, dengan ini saya rekomendasikan bahwa: si bapak ini cocok pisan untuk jadi idola baru!

Mengapa?

Cerita lengkap dan mempesonanya silakan lihat di video berikut:



Kalau video yang diatas terasa menyedihkan (karena anda tidak begitu paham bahasa inggris seperti saya), silakan lihat di sini. Pada link barusan, bisa diset ada transkrip dan subtitle bahasa Indonesianya.

Kalau mau baca-baca lengkap tentang sepak terjangnya bisa lihat di webnya.

Si bapak ini adalah seorang arsitek. Tapi bukan arsitek biasa. Ini beberapa hasil karyanya. Dan sebagian besar bahan utamanya dari TANAH LIAT.






Yang bikin keren adalah bukan hasil akhir bangunannya!
Tapi proses pembangunannya yang memberdayakan masyarakat sekitar. Bangunan ini dibangun bersama-sama dengan dipimpin oleh si bapak Francis di sebuah negara yang menurut Bank Dunia adalah salah satu negara termiskin di dunia.

Pembangunan ini dilakukan setelah Francis lulus sekolah di "kota" sebagai arsitek. Bersekolah sampai menjadi arsitek adalah hak istimewa bagi Francis. Bagaimana itu tidak istimewa? Di kampung tersebut (pada jamannya), bahkan tidak ada bisa sekolah setinggi itu selain Francis. Saya tidak katakan bahwa satu-satunya kesempatan belajar adalah melalui pendidikan formal, tapi bersekolah di "kota" sedikit banyak memberikan warna inovasi di dalam diri Francis.

Cita-cita Francis begitu jelas dari kecil yaitu: "ingin memberi kesempatan yang lebih baik bagi anak-anak lain di Gando. Saya ingin menggunakan keahlian saya dan membangun sebuah sekolah." Saya tak kan bandingkan dengan orang lain, tapi justru berkaca pada diri sendiri yang bahkan sampai lulus kuliah ga-tau-mau-ngapain (tau sih, tapi hanya cita-cita yang gak kepikiran dalem dan standar. Yang pasti saat itu visinya kurang puguh. Bahkan sampai sekarang belum terumuskan dengan jelas visinya).

Balik lagi ke cerita Francis, begitu lulus menjadi arsitek, dia segera kembali ke daerahnya dan kemudian dia menawarkan ide baru untuk membangun dengan TANAH LIAT dengan inovasi menggunakan lumpur. Kerja keras Francis selanjutnya adalah proses meyakinkan banyak orang di kampungnya, karena belum pernah ada yang melakukan hal tersebut sebelumnya. Itu pasti proses yang tidak mudah! Untungnya di kampung tersebut masih ada semangat gotong royong sehingga setelah banyak orang merasa yakin, aktivitas selanjutnya adalah proses kerja  bersama berbagai lapisan masyarakat dengan memanfaatkan berbagai potensi keahlian yang telah ada.

Hasilnya bangunan yang modelnya seperti gambar di atas. Hasil sampingannya juga banyak. Berbagai penghargaan sudah pasti diraih oleh Francis dan sebetulnya penghargaan tersebut (kalau menurut saya) merupakan penghargaan yang diraih oleh hasil kerjasama masyarakat Gando (nama kampungnya). Hasil sampingan lainnya, simak di video saja secara lengkap.

Kembali saya bilang: yang penting bukan di produk akhirnya, tapi justru di proses inovasinya dan kemampuan Francis untuk mengorganisir warganya.

Francis: anak kecil dari Burkina Faso yang kemudian menjelma menjadi penggerak masyarakat dengan niat tulus untuk membangun komunitasnya!

*tulisan ini dibuat berdasarkan info yang sapotong-sapotong karena keterbatasan waktu untuk cari info lengkapnya dan juga keterbatasan untuk ngerti bahasa inggris yang baik dan benar :)