Showing posts with label #ypbb. Show all posts
Showing posts with label #ypbb. Show all posts

Thursday, 14 May 2015

Belanja di Portugal Yuk!

Dari obrolan di grup whatsApp alumni SMP sekitar dua minggu yang lalu, saya menemukan cerita menarik terkait kemasan makanan di Portugal. Dalam tulisan ini, saya berkolaborasi dengan Rizki alias Cimot sebagai narasumber. Lebih tepatnya: saya merapikan celotehan di grup tersebut ditambah dengan hasil wawancara dengan Cimot. 

Cimot adalah teman se-SMP yang saat ini sedang bekerja di perusahaan multinasional di Portugal. Perusahaan ini yang terletak di Setubal, Portugal. Cimot tinggal di sebuah apartemen di pusat kota Setubal. Kota ini terletak di 60 km sebelah selatan ibukota Lisbon.



Dimanakah Portugal itu? Untuk mengingatnya, mari kita lihat di peta berikut.





Tukang makanan di daerah Cimot tinggal bertebaran dan tersedia untuk setiap waktu makan. Pagi, siang ataupun malam selalu ada. Tapi Cimot lebih memilih sering masak karena masak adalah salah satu hobinya. Masak juga katanya bisa lebih murah dan menekan pengeluaran, Dan yang terpenting adalah: dengan masak sendiri, bisa memastikan kehalalannya. Maklumlah, di Portugal Islam hanya dianut oleh sekitar 0,47% penduduk saja. 

Dengan penganut Islam yang minoritas tersebut, tentunya tidaklah mudah untuk menemukan makanan dengan stamp halal. Namun bukan berarti tidak ada. Portugal sendiri memiliki badan sertifikasi halal yang bernama Instituto Halal de Portugal. Badan ini memberikan sertifikasi halal terhadap produk-produk lokal. Di supermarket ada tersedia daging sapi, dan daging unggas ( ayam atau kalkun ) dengan stamp halal dari Instituto Halal de Portugal.

Terkait masak-memasak, Cimot menceritakan pengalamannya ketika berbelanja untuk memasak baso. Letak pasar cukup dekat dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 5 menit. Terkait jalan kaki, walaupun hampir semua warga Portugal memiliki mobil, masih banyak yang suka berjalan kaki untuk keperluan yang jaraknya dekat, atau menggunakan alat transportasi umum. Kondisi ini terjadi kemungkinan karena harga BBM sangat mahal ( sekitar 1.7-1.9€ ) belum lagi tarif parkir yang bisa mencapai hampir 1€ per jam.

Jarak pasar yang relatif dekat ini, sebenarnya 11-12 dengan jarak rumah saya ke pasar terdekat. Tapi isi dalam pasarnya beda banget hehehe. Kalau lihat dari gambarnya tampak bersih. Keren!


Bagian depan pasar

Cewe rambut panjang ini tukang buahnya. Keren pan?
*ceuk Cimot kurang lebih gitu heheheeh*

Kondisi di lapak ikan yang tampak bersih dan enakeun

Ikan-ikan yang pikabitaeun


Kondisi di lapak tukang daging


Teman-teman di grup langsung memberikan pandangan positif terhadap pasar yang diceritakan. Kebanyakan mereka menyoroti aspek kebersihan dan kenyamanan pasar yang bila  dibandingkan dengan pasar di Bandung dan sekitarnya, bagaikan bumi dan langit alias beda banget!

Ada 1 gambar yang kemudian membuat saya penasaran. Amati baik-baik gambar di bawah ini dan coba hitung berapa orang yang bawa tas kain sendiri. 




Beberapa orang tampak membawa tas kain kan ya? 

Nah, dari gambar tersebut saya coba tanya ke Cimot.Ternyata, di Portugal, membawa tas kain atau kemasan makanan adalah sebuah "keharusan". Contohnya ketika beli sayur, karena agak basah dan perlu pakai keresek, maka Cimot bawa tas kresek sendiri. Reuse dari kresek yang sudah ada. 





Pamer dulu baso made in Cimot. Nyam!

Mengapa membawa tas kain atau kemasan makanan adalah sebuah "keharusan"? Karena keresek di sana tidak ada yang gratisan tapi perlu dibeli seharga 10 sen - 50 sen atau dengan kurs 1€ = 14.000 rupiah, maka harga tas kresek di Portugal sekitar 1.400 hingga 7.000. Lumayan nguras dompet kan ya? Bayangkan, berapa uang yang perlu dikeluarkan bila dalam sekali belanja digunakan 5 keresek baru! 5 keresek itu seperti kalau kita belanja di mini/supermarket di Bandung! Sabun dipisah, telur pisah, makanan kotakan dipisah, sayur dipisah, semua dipisah. Belum lagi pembeli di Bandung beberapa rewel ingin mendobel kresek belanjaannya. 

Mengapa harga kresek di Portugal mahal? Salah satu teman Cimot, mengatakan bahwa harga kresek di Portugal sangat mahal karena harganya tidak hanya mencakup harga kresek, tetapi juga ditambahkan untuk retribusi pengolahan limbah plastik.

Gambaran prosesnya, bahan makanan akan ditimbang di timbangan elektronik sehingga hasilnya lebih akurat. Sepanjang pengalaman Cimot, dia tidak pernah menemukan timbangan analog di toko kecil (semacam warung) sekalipun. Di Portugal juga ada undang undang yang mengatur bahwa pedagang wajib menginformasikan harga barang per satuan ( €/kilo atau €/liter ) kepada konsumen.

Setiap selesai transaksi di pasar, pedagang hanya akan memberikan barangnya saja. Tidak ada penjual yang otomatis memberikan kresek. Kalau mau kresek, ya harus beli. Itupun tidak semua pedagang menjual tas kresek ini. Kondisi yang sudah umum ini pada akhirnya membuat para pembeli mau tidak mau perlu membawa tas/keresek sendiri. Contohnya seperti Cimot yang membawa perangkat tas selendang dan kreseknya saat akan membeli sayur di pasar. 

Kresek reuse dan tas (pakai versi selempang biar tampak muda cenah) 

Ini gambaran kondisi di luar sana yang membuat warganya (yang sudah sadar/belum terhadap kelestarian lingkungan) mau tidak mau akan ikut berusaha mengurangi penggunaan kresek dari awal. Sistem membuat mereka menjadi seperti itu. 

Terkait kebiasaan mengurangi sampah kemasan dari awal, rupanya tidak hanya terjadi pada kresek saja. Tetapi ini terjadi juga pada kebiasaan membawa misting saat akan membeli makanan. Namun hal ini tidak umum dilakukan, karena biasanya penjual menyediakan kemasan makanan khusus untuk take away.




Cerita dari Pasar Portugal ini, sedikit banyak memberikan gambaran pada kita bahwa pengurangan sampah dalam upaya pemulihan kondisi lingkungan adalah sesuatu yang NYATA dan BISA DILAKUKAN selama ada niat yang cukup kuat untuk menjalankannya. Dalam hal ini ada 2 aspek yang berperan yaitu aspek peraturan (yang dijalankan) dan juga kesadaran warganya. 

Setelah mampir sejenak ke Pasar di Portugal, yuk kita balik lagi ke Bandung..... 

Kota Bandung belum memiliki aturan (yang dijalankan) seperti di Portugal dalam hal penggunaan kemasan kresek dan kemasan lainnya. Sebenarnya secara umum UU no 18 tahun 2008 sudah mencakup upaya pengurangan kemasan plastik (dan kemasan berbahaya lainnya) dari awal. Namun tampaknya di Indonesia perlu perjalanan yang panjang untuk merincikannya ke dalam peraturan-peraturan yang lebih teknis di daerah dan juga upaya yang panjang untuk membangun kesadaran warganya. 

Namun jangan putus asa! Mari kita berproses sesuai porsi masing-masing. Secara individu kita dapat melakukannya. Karena kalau hanya mengandalkan urusan kebijakan beres di Indonesia, bisa lama (pisan) prosesnya. Mari kita lakukan dengan prinsip 3M-nya Aa Gym tea: mulai dari yang terkecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang. Contoh paling gampang, saya terbiasa membawa zero waste kit (seperti misting, tas kain dan tumbler). Dan saya lihat, aktivitas pencegahan sampah dari awal itupun mulai dilakukan oleh segelintir warga Bandung. 

Proses penyadaran bagi masyarakat dan advokasi kebijakan perlu berjalan bersamaan. Keduanya perlu waktu dan proses. Beberapa organisasi lingkungan di bandung dan juga banyak elemen masyarakat lainnya sekarang memulai upaya kampanye di 2 aspek tersebut. Ada yang bergerak di aspek kebijakan dengan membuat petisi seperti yang dilakukan oleh GIDKP. Mereka memperjuangkan peraturan yang bertujuan untuk mengurangi dan mencegah dipakai kantong plastik dengan cara stop memberikan kantong plastik gratis. Silakan bisa diintip dan didukung  di sini. Edukasi terhadap pengurangan sampah dari awal pun menjadi fokus kampanye yang sedang dilakukan oleh YPBB (tempat saya beraktifitas beberapa tahun ini). Beberapa tahun terakhir ini, YPBB pun mulai memasuki aspek kampanye kebijakan seperti terlibat dalam penyusunan masterplan persampahan kota Bandung dll. 

Demikian cerita hari ini :) Punya cerita keberhasilan dalam pengelolaan sampah kota? Yuk berbagi juga cerita anda!


Sumber foto: koleksi pribadi Cimot (kecuali foto peta) 

Friday, 9 January 2015

Sayur Organis: Panen Agrapana!

Kemarin (stelah diinfo di grup wasap staf), saya ngambil tunjangan sayur dari YPBB.

Apakah tunjangan sayur itu? 
Sejumlah sayur yang diberikan bagi staf part-time dan full-time YPBB. Apa keistimewaannya? Sayur tersebut diyakini tanpa diberi pupuk kimia buatan yang aneh-aneh. Kalo bahasa gaya-nya mah: sayur organic. Dan sayuran tersebut ditanam di sebidang tanah di Soreang (Cipatra - Ciseupan - Desa Bandarasari) site YPBB yang sejauh ini kita juduli dengan nama AGRAPANA. 

Sistem relasi yang dibangun antara petani (produsen) dan kita (konsumen) dicoba lebih adil. Misalnya kalau gagal panen, maka tetep akan ada sejumlah uang standar yang mengalir ke petani. Dan juga kita terima tanaman macem-macem berdasarkan tanaman yang sedang panen saat itu. 

*ini deskripsi ngarang aja sih, tim PSDM pasti punya deskripsi yang lebih baik dan benar

Jadi ceritanya adalah: staf yang mengelola site Agrapana bertugas mengirim sayur ke urban centre YPBB (dalam hal gundala dan sekalian ke kota), laluuu para staf ambil jatah sayurnya masing-masing. 

Sejauh ini sih masih dititip di kulkasnya gundala. Kedepan katanya bakal beli kulkas khusus untuk penyimpanan sayur. 


Sayur yang padedet karena belum diambil para pemiliknya

Karena baru awal-awal, maka sekarang dalam masa melihat dulu pola produksinya. Ke depan harapannya, selain untuk mencukupi tunjangan sayur staf, sisanya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain. Dari obrolan-obrolan selintas, kelebihan sayur itu bisa dibarter dengan kertas. Mengapa kertas? Karena kertas diperlukan sebagai pembungkus sayuran-sayuran. Bisa pula dilakukan pengawetan pada beberapa jenis sayur tertentu. Begitulah ide-ide yang sempat dibicarakan. 

Sosin dan bayam (hijau dan merah) adalah sayur yang kemarin dibawa dari Agrapana. Kemarin saya ngambilnya 3 ikat sosin dan 3 ikat bayam (2 merah dan 1 hijau). Langsung diolah karena penasaran!


Jus sosin! *abaikan tulisan orange juice
Asalnya mau sok jagoan gamau pakai gula. Tapi pahang ternyata. Jadi ini masih mix gula. Nanti-nanti mungkin bisa dikombinasikan sama buah lainnya yang punya rasa manis. Enak dan rada wareg karena 1 gelas jus ini berasal dari satu ikat sosin. 

Yang kedua, kemudian cepet-cepet dimasak sayur. Sayur bayem merah! Langsung jadi bekal makan siang untuk aktivitas hari ini. 



Alhamdulillah! Mari mulai belajar hidup sehat dengan makanan yang minim pupuk kimia buatan dan juga relasi yang erat dengan petani sebagai produsen makanan kita. 

PR selanjutnya (selain tetep menerima pasokan dari Agrapana) adalah mencoba menanam sendiri di rumah PR banget. Dan rasanya masih berat di horeamna heheheh. Mungkin nanti di rumah sendiri (#alesan dan #ngeles)

-----

Tentang #1minggu1cerita : 
Proyek menulis di blog yang bertujuan untuk membuat blogger rajin nulis dan berbagi mengenai berbagai macam informasi. Tulisan di-posting maksimal hari Jum'at tiap minggunya dan dibagikan lewat grup WhatsApp anggota serta media sosial masing-masing anggota dengan menyebut akun para anggota supaya lebih mudah untuk dibagikan ulang. Tertarik bergabung? Silahkan mendaftar disini. 

Tuesday, 26 August 2014

Tolak Ukur yang Visioner

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat diwawancara oleh sebuah radio di Bandung. Standar lah ya, pasti ditanya seputar urusan persampahan di kota Bandung. Si radio itu penasaran banget sama tanggapan saya terkait program-program baru dari pemkot Bandung, seperti tempat sampah baru yang disimpan di pinggir jalan.


Juga penasaran sama tanggapan saya tentang program GPS alias Gerakan Pungut Sampah.


Nah! Saya diminta tanggapannya tentang efektifitas dari program tersebut.
Karena saya bukan tim review-er dan atau tim monev-nya maka saya sih jawabnya pakai tolak ukur yang visioner aja. Ngawang-ngawang dan kayak ngasal, tapi ini bener-bener tolak ukur yang paling ideal.

Misalnya untuk program GPS. Program ini secara mudahnya saya kenali sebagai kegiatan rutin sepanjang tahun yang aktivitasnya adalah mengambil sampah yang ada di sekitar tempat tinggal atau tempat aktivitas.

Jadi, saya bilang ke yang pewawancara radionya: keberhasilan program GPS ini adalah kalauuuuu: pas jadwal GPS, sekelompok orang udah siap-siap bawa kantong plastik, capit sampah, sapu dkk.....ternyataaaaaaaaaa mereka tidak menemukan satu sampah pun yang bisa dipungut karena semua orang sudah membuang sampahnya di tempat yang telah disediakan secara terpisah.

Bahkan kalau kita tengok di tempat sampahnya, sampah non organis isinya sangat sedikit karena warga bandung sudah mengurangi sampahnya dari awal dan menggunakan barang-barang yang bisa dipakai ulang dalam jangka waktu panjang.

Itu tolak ukur yang tampak heureuy. Tapi ini beneran serius! Dan kita perlu yakin bahwa kita perlu ke sana pada akhirnya! Masa mau seumur-umur ngambilin sampah orang lain :)

Satu kasus lagi yang membuat saya kembali mengeluarkan tolak ukur yang nyeleneh dan aneh. Tapi percayalah, ini juga salah satu tolak ukur yang visioner.

Di grup ada yang posting gambar ini. Amati baik-baik yah, kira-kira ada berapa tutup botol plastik AMDK yang terdapat pada gambar di bawah ini.



Semakin banyak jumlah tutup botol yang ada di kerajinan ini, artinyaaaaaaaaa (tapi ini penafsiran yang gak umum) semakin banyak produk AMDK yang kita gunakan.

Jadiiiiiii, si wadah biru ini bisa berfungsi sebagai tolak ukur keberhasilan gaya hidup zero waste kita!
Dengan catatan: kita membuatnya sebagai bentuk tanggung jawab kita me-reuse sampah yang kita hasilkan. Artinya: tutup botolnya yang ada di wadah biru ini murni dari tutup botol AMDK yang sempat kita hasilkan.

Tolak ukurnya: makin lama kita menyelesaikan pembuatan wadah biru ini artinya kita telah berhasil mengurangi sampah botol AMDK dari awal. Karena susah cari bahan baku. Kan biasa pakai tumbler dan kawan-kawannya.

Kalo si anil yang bikin wadah biru ini, lama pisan jadinya. Soalnya udah lama gak beli AMDK.

Berpikir beda sama orang lain, kalau kita yakin, itu seru bangetttt!
Tolak ukur yang visioner: SERU!

Monday, 21 July 2014

Baju dari Ganja, Microbeads, Toiletries Home Made!

Di minggu-minggu kemarin si YPBB lagi kampanye #kurangiPlastik. Kegiatan yang dilakukan mulai dari ganti logo babarengan. Nuhun cicijes atas logonya yang "imut"


Ada variasi tema yang dilempar tiap harinya. Idenya diambil dari mindmap keren ini! 


Lalu dipililah beberapa tema seperti: AMDK, sedotan, kemasan aseptik (tetrapak dkk), budaya buat snack dan masakan sendiri, budaya bekal, budaya kemasan dalam berbelanja (termasuk isu hits kantong kresek), kebiasan membawa #zeroWaste kit saat bepergian, membuat toiletries dan pembersih sendiri, tempat jualan yang zero waste, budaya menanam tanaman pangan, tajil #zeroWaste dan baju dari bahan alami.

Tema tersebut dikemas dalam beberapa bentuk seperti: kultwit, wawancara, kegiatan langsung (praktek membawa tajil #zeroWaste dan postingan poster/gambar/artikel harian di Facebook atau Twitter. 

Banyak pengalaman seru pas ngurusin kampanye ini. Yang pastinya saya bisa dapet fasilitas aprak-aprakan saat cari bahan untuk kampanye ini. Mengingat spektrum dari kampanye ini luas, jadi ada beberapa lintasan pikiran dan sedikit refleksinya.  Saya di-ngeuh-kan kembali pada relasi kebiasaan masak dengan mengurangi plastik (ehm!) dan juga menanam. Masih PR banget deh 2 kebiasaan ini. 

Terus juga emang miris sih terkait penggunaan toiletries yang kemasannya jarang yang pake kaca atawa logam-logaman yang minimal bisa didaur ulang dengan cukup efisien. Yang ada plastik-tik-tik. 

Lihat nih ya, saya bukan cewe centil yang banyak pake ini itu, tapi tetep aja kalo masih pakai produk mainstream (walaupun udah beli dalam kemasan besar), jadinya sekali setor ke pemulung teh tetep segunung begini. 


Dari awal dibikinnya, udah bikin masalah si plastik ini teh, pas didaur ulang oge tetep bikin masalah. 

Sempat ada obrolan seru tentang microbeads alias plastik-plastik yang ada di dalam (dalam loh ya, bukan di kemasannya) scub aneka toiletries. Eta kebayang kararecil pisan berarti plastiknya. Masuk ke perairan dan mencemari pleus kemungkinan besar ketelen sana sini dan ujungnya bisa balik lagi dampaknya buat manusia. PR deui wae untuk mulai belajar bikin toiletries sendiri.  




Sama satu lagi yang menarik! Ada baju dari GANJA!Mari nanem ganja di Soreanggggg :) 
Kela, jangan salah paham dulu yah. 

Jadinya si pakaian teh kan sekarang banyaknya polyester atawa minimal katun bercampur poliester. 
Sok cek geura baju masing-masing. Lihat di labelnya, berapa persen cotton nya dan berapa persen polyesternya. 

Jadi yang lebih mending: balik lagi ke bahan yang 100% katun. Balik lagi ke bahan yang berasal dari hewan atau tumbuhan. 


Yang ideal pasti nanem pohon kapas sendiri tanpa pestisida dan bikin baju sendiri. Karena menurut hasil babacaan ternyata: "hanya 2,5% lahan pertanian di dunia yang membudidayakan tanaman ini namun kebutuhan insektisida untuk tanaman ini mencapai 16% dari seluruh kebutuhan insektisida dunia. Nah, gelo pan! 

Terus dari yang pernah didenger, katanya si tumbuhan kapas ini banyak menghabiskan air pula. Jadi, pakai katun 100% OK, tapi apalagikah yang lebih mending? 

Serat-serat lain bisa dijadikan alternatif. Dari mulai wool. Wool yang dari domba tentunya, bukan yang sintetik yang (lagi-lagi bahannya) plastik. Kesian oge sih dombanya, tapi masih mending daripada pakai plastik. Kabayang nya dari yang ararimut ini. 


Dan bisa juga dari tumbuhan yang lebih hemat air dan cepat tumbuh sepertiiiii bambu


Cowo ini pakai baju yang berbahan 70% bambu dan 30% katun. 

Baju bisa dibuat dari tumbuhan ini. 



Yes, ini adalah hemp alias Ganja. Dulu sempat coba megang-megang bajunya David yang terbuat dari hemp. Ya kaya baju biasa aja sih. Nanti mau nanya ah, apakah baju tersebut masih disimpan atau udah pindah derajat jadi lap bersih-bersih. 

Bentuk kain dari hemp, yang seperti kain pada umumnya aja. Hasil googling didapet ini salah satunya. 



Tapi yang paling penting mah, bahannya dari lingkungan terdekat. Percuma oge dari hemp tapi didapetnya dari luar negeri yang perlu banyak emisi karbon untuk ngangkut ke Indonesianya. Akhirnya kita perlu balik lagi hitung jejak ekologis total dari suatu benda. 

Begitulah sebagian lintasan pikirin yang mondar-mandir di kepala 2 minggu kemarin. Masih ada kesan-kesan seru pleus berfungsi sebagai pereminder juga. Nanti kapan-kapan dilanjut lagi ceritanya. 

Jadi, mari kita #kurangiPlastik dari segala macam penjuru dan atau istilah yang lebih pas nya lagi mah mari kita #detoxPlastik ! Udah terlalu berat beban bumi ini dalam menanggung segala jenis dampak negatif dari plastik.