Saturday, 25 April 2015

#kerjabakti Menanam Pisang di balik Café-Cafean KBU


Yang orang Bandung, mungkin mengenal poster ini




Ya! Ini semangat yang disebar oleh Walikota Ridwan Kamil untuk kegiatan beberes kota. Dalam rangka mau KAA. Event seharian (PP dan tanpa menginap) yang menguras banyak energi warga sekota-eun. 

Di kabupaten sebelahnya, tepatnya di Kabupaten Bandung, di area yang dikenal sebagai Kawasan Bandung Utara, tepatnya di area Sekepicung, dilakukan juga kegiatan #kerjabakti pada tanggal 19 April 2015. Yang pasti bukan ikut-ikutan sama kang Emil. Di daerah sini sekelompok warga yang tergabung dalam organisasi Passer sudah terbiasa #kerjabakti dalam berbagai macam hal.

Yang unik adalah: mereka kebanyakan “mantan preman”, pake tato-tatoan tapi kebanyakan beralih menjadi saroleh dan kemudian bermanfaat bagi warga sekitar. Cerita tentang Passer nanti belakangan ya. Ini sebagian anggota Passer yang ikut #kerjabakti. Yang lain tidak ada di TKP karena kebagian tugas mencari dan mengambil tunas pisang. 




Kegiatan perdana mereka yang saya ikuti adalah #kerjabakti Menanam Pisang di balik Café-Cafean KBU. Semua berasal dari sumber daya anggota Passer. Mulai dari tenaga untuk bebersih lahan, tenaga untuk ambil dan angkut tunas pisang, udunan biaya konsumsi dan lahan yg digarap milik keluarga kang Kunye. Sampai saat masih gratis bisa dipergunakan.

Ini jalan menuju ke area tanamnya. Mudun dan ngos-ngos-an pas naek.



Lahan yang bisa digarap sebenarnya cukup luas. Lahan yang katanya pengen dibuat menjadi pertanian terpadu adalah lahan yang berumpak-umpak. Akan mulai digarap bulan dan tahun selanjutnya. Lahan ini adalah lahan gamblung. Maksudnya, lahan yang tidak diolah alias diantep. Sudah 15 tahun dibiarkan.  


Teu bisaeun motona. Pada intinya berumpak-umpak ke bawah.


Dan ini lokasi yg sedang digarap untuk ditanami pisang, tepat bersebelahan dengan rumahnya kang Kunye.



Kegiatan diawali dengan bebersihin lahan. Pake arit, pacul, golok milik masing-masing.


Arif, salah satu relawan Passer, ikut sibuk ngarit.  



Setelah mulai bersih, kegiatan dilanjut dengan macul untuk bikin lubang-lubang yg akan ditanami tunas pisang.




Jarak antar lubang katanya sekitar 1 meter. Atau diukur kira-kira pakai panjang tangan.


Jarak tanam


Saat ini, tanahnya relatif subur. Jadi pupuknya cukup ditaburi abu bakaran daun-daun dan ranting.

Aduh blurrrrrr 


Yang pembersihan lahan dan juga nyangkul bisa banyak tangan.Tapi yg bagian nyecebkeun pohon special. Hanya dipegang 1 orang saja yang sudah terbiasa supaya peluang jadinya besar.



Kemudian acara dilanjutkan dengan masak di kebon. Kompor gas yang di dapur sampai ditarik supaya masaknya rame-rame di kebon dan tak menyendiri. Rupanya acara masak di kebon, baru kejadian pertama kali. Keluarga kang Kunye pun belum pernah. Passer juga blm pernah




Dan ditambah dengan bikin hawu dadakan.



eta peda beuleum ngadadahan pemiarsa!


Taraaaaa! Inilah belasan tunas pisang yang sudah mulai ditanam





Sekarang saat yang dinanti-nanti! Makan liwet berjamaah. Sebenernya saya sudah cukup sering ngaliwet dan makan pakai alas daun pisan. Yang beda adalah kegiatan ngeliwetnya live di kebon dan juga nu ngeunah pisuuuunn dan bikin ketagihan adalah si nasi dikasi minyak jelantah bekas goreng asin. Eta juara pisan!
*lupakan bahaya kolesterol dkk hahaahha



Ini masih pose sopan. Beberapa menit kemudian ganti pose: makan sambil jongkok. Ngikutin pose bapak-bapak yang lain. Walhasil makan banyak dan berasa gak kenyang-kenyang


Yuk, kapan-kapan ikut #kerjabakti lagi di area Sekepicung bersama teman-teman Passer!  






Friday, 27 February 2015

Beli Saos tapi #ZeroWaste

Saos sambel dan saos tomat adalah beberapa benda yang wajib hadir di dapur sebagai perangkat masak-memasak. Di rumah suka dipakai jadi coelan bakwan ataupun jadi bumbu masak untuk nasi goreng, tumis dan sebagainya. Peranannya kurang lebih seperti kecap,

Kemasan saos sambel ini bermacam-macam. Yang lazim ditemui di warung-warung biasanya berupa sachet (ini paling banyak dibeli juga kayanya oleh orang-orang Indonesia yang pada ketagihan kemasan kecil) dan botol plastik.


bukan iklan, seketemunya gugling (sumber dari sini)
 

Kemasan lainnya seperti kemasan refil berbahan plastik dan botol kaca biasanya jarang tersedia di warung dan hanya bisa ditemui di super/minimarket. 

Karena saos sambel ini merupakan kebutuhan yang rutin dipakai, mau tidak mau perlu mulai dipikirkan kemasan terbaik yang tidak merusak lingkungan. 

Kalau sachet sih, alhamdulillah sudah tidak pernah pakai. Walaupun saya dulu pengedar sachet saos sambel. Jaman baheula itu mah, pas jaman dagang roti isi sosis. Jadi tiap orang yang beli roti sosis dapat bonus saos sachet. Layanan lah pokonya itu mah, biar konsumen bahagia. Teu kapikiran bahwa itu teh artinya saya ikut berkontribusi menambah jumlah sampah kota. Padahal rotinya sudah tanpa kemasan karena saya bawa dalam misting-misting besar. Sambal dalam botol plastik dulu digunakan di rumah. Tapi itu dulu. 

Terahir saya rutin beli saos sambel dalam botol kaca. Perlu punya uang lebih banyak karena (rasanya) lebih mahal dibanding beli botolan plastik atau sachet. Gak pernah ngitung bener-bener, cuma yang kepikir saat saos mulai sedikit di dapur adalah: saya perlu keluar uang rada banyak (gak bisa cuma punya maratus atau seribu) dan perlu pergi ke mini/supermarket untuk membelinya. 

Rasanya udah gagah deh kalau pakai botol kaca. Karena botol tersebut bisa dipakai ulang untuk kepentingan lain. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya menemukan metode baru yang tidak menghasilkan jajaran botol kaca baru di rumah. Punya botol banyak-banyak teuing juga da buat apa.

Saya mencoba membeli saos sambel di pasar. Sebagian pedagang di pasar menyediakan saos sambel dalam kemasan jerigen.


Foto dari sini
  

Gak langsung berhasil. Pertama kali coba, secara pede saya membawa botol kaca bekas saos sambel ke pasar.




Ternyataaaaaa, karena pedagang yang saya temui tidak menyediakan corong untuk memasukkan saos ke dalam botol. Padahal timbangannya sudah timbangan elektrik yang bisa lebih presisi (bisa me-nol-kan wadah).

Kali itu, berhubung stok saos di rumah abis, akhirnya di kesempatan pertama tersebut, saya "terpaksa"  beli saos pakai plastik bening. (Saya beri tanda petik pada kata terpaksa karena sebenernya saya gak gitu-gitu amat butuh sambel. Cuma males weh bolakbalik deui ke pasar. Di situ saya kadang saya merasa hoream heheheh) 

Di kesempatan selanjutnya, barulah saya sukses! Dari rumah akhirnya bawa misting. Sebenernya bisa juga ya bawa corong (baru kepikir saat ngetik tulisan ini). 

Ini beberapa gambar kesuksesan tersebut :) 

misting yang sudah berisi saos sambel


lalu saos dituangkan ke dalam botol menggunakan corong

dari 1 misting hasilkan 2 botol saos dan sisa sedikit di botol jam

Tapi kisah sukses harusnya gak berhenti di situ. Karena saya harus naik kelas. Katanya saos sambel mengandung bahan-bahan aditif yang kurang baik untuk kesehatan, misalnya pengawetnya, pewarnanya dkk. Begitulah isi sebagian konten dari pelatihan bahaya zat aditif YPBB. 

Sehingga saya juga mulai nyetok sambel terasi juga. Bikin sendiri, jadi yakin pisan gak pake pengawet dan pewarna yang berbahaya. Walaupun terasinya sih entah heheeh. 


sambel rumahan

Stok saos sambel tetap tersedia dan namun sekarang mulai dihadirkan juga alternatif lain yaitu sambel rumahan. Yuk makan bareng :) 


lalab sambel, nyam-nyam!









Friday, 20 February 2015

Sesuatu dalam Pikiran Kita!

Pernahkan pada suatu masa saat anda sekolah dulu, ada trend bekel minum pakai botol AMDK bekas?

foto dari sini

Saya pernah mengalami masa itu! Lupa tepatnya, tapi itu terjadi pas jaman SD. Sebagian anak di kelas bekel minum dan pakai botol amdk bekas. Dan saya juga ikut-ikutan. Itu sebagian cerita waktu dulu dan saat pada masanya "bekel-minum" dipandang wajar. 

Kebiasaan itu rasanya masih berlanjut. Bahkan sampai kuliah. Dengan botol minum yang bervariasi. Bahkan jaman kuliah pun sampai saya sempet jualan tumbler.

Dulu tujuan bekal-membekal lebih kepada menghemat uang. Karena pada waktu itu saya gak punya uang saku. Hanya punya uang dari tabungan sebagai sisa-sisa perjuangan uang lebaran. Proses jualan tumbler dan misting,  itu jelas-jelas tujuannya adalah mencari uang tambahan karena uang dari masa ke masa selalu saja kurang. 

Sekarang, alias 2015 ini, saya masih juga ngebekel minum. Dari penampakan luar, perilakunya masih sama seperti dulu: saya rutin bawa bekal minum dan pakai tumbler yang bervariasi. Mengapa tumblernya bervariasi? Satu masa biasanya hanya punya 1 tumbler. Gonta-ganti karena tumblernya sering ketinggalan dan akhirnya dianggap hilang. 


Tumbler yang sedang dipakai saat ini (statusnya lagi ketinggalan di tukang fotocopyan)

Perilaku dulu dan sekarang bisa tampak sama, namun mulai ada sesuatu dalam pikiran saya yang kemudian membuatnya menjadi lebih bernilai. Sekarang saya masih tetep bekal minum untuk menghemat uang. Tapi ada nilai tambahnya: saya ngebekel minum karena mendapatkan cara pandang baru dari pengetahuan dan pengalaman baru tentang pentingnya upaya pengurangan plastik sekali pakai dari awal!

Sumber cara pandang baru itu didapat dari dari aneka pelatihan di YPBB dan diskusi informal/formal terkait. Bonus lain: sekarang banyak aneka media yang didesain cukup menggugah sehingga berbagai pemikiran mulai berkeliaran di otak. Aneka hal baru tersebut akhirnya mendorong cara pandang baru saat melakukan kebiasaan lama (yang beberapa diantaranya sejalan dengan upaya pengurangan sampah dari awal).  


Sunday, 1 February 2015

Terkesan Judes dan Mau-Makan-Anak-Kecil?

Pas bongkar-bongkar file di laptop, nemu file ini!



Gak usah diklik dan dicoba baca, karena emang bukan buat dilihat. Itu adalah 1 file yang berisi rangkuman tentang si anil dari sudut pandang orang lain.

Lupa dibikin tahun berapa. Yang pasti jaman pakai HP nokia yang cuma bisa sms dan telpon (sebelum 2014). Ceritanya dulu bikin survey lucu-lucuan ke beberapa orang yang dikenal (banyak sih, ada mungkin 100 orang). Survey dilakukan via sms. Kurang lebih pertanyaannya: apa sih sisi positif dan negatif si anil?

Dan jawabannya kemudian didokumentasi di file word. Yang saya bahkan sampe lupa pernah nyalin hasil angket tersebut.

Kebayang leukleukna! Mulai dari sms-in satu-satu, trus bacain jawabannya dan kemudian nyalin manual jawaban dari para pamiarsa. Helllowwww, meni rajin dan kepikiran bikin begituan. Saya sampe heran sendiri pas baca ulang filenya.

Dari beberapa hal positif negatif versi orang-orang tersebut, saya bakal bahas beberapa yang unik. Buat lulucuan ajasih, tapi mudah-mudahan berguna buat refleksi juga.


terkesan judes dan mau makan anak kecil

Judesnya sih okelah. Pada saat tertentu saya emang suka hereng. Tapi yang gak habis pikir adalah, kok bisa-bisanya dianggap mau-makan-anak-kecil? Seserem apa sih saya dulu? hahahhaha.
Kayanya ada pengaruh dari konspirasi orang-orang dewasa juga sehingga saya dianggap seperti itu.

Contoh real: Bu Tini kalau nyuruh anaknya supaya gak nyampah, suka bilang: "nanti dimarahin sama mbak anil loh". Dan pas ada acara IYCS, saya sekamar bareng sama anak bu Tini itu. Dan anaknya dieeeeem aja. Diajak ngobrol ge anteng weh. Fantasi dia kayanya: "takut sama mbak anil". Ampun deh bu tiniiiii.

Belum lagi si Rahyang. Pas anaknya Melly ini itu, tiba-tiba dong ditakutin dengan kata-kata: "Nanti dimasukin ke takakura loh sama teh Anil".

Kebayang gak takakura? Itu kan kecil dan buat buang sampah organis (sisa-sisa makanan). Trus anak kecil mau dimasukin ke situ? Gimana caranya? Saya aja gak pernah kebayang. Tapi itu kenapa si Rahyang bisa sampai ngomong kaya gitu coba?

Konspirasi orang dewasa ini mah: sampai saya dianggap mau-makan-anak-kecil


terlalu sibuk jadi gak bisa diajak jalan2

Nah! saya juga heran dengan anggapan ini. Dulu (kan ini ceritanya periode sebelum 2014), tawaran jalan-jalan atau maen-maen atau acara reramean macem ondangan, suka dateng pada saat ada kerjaan. Kebeneran aja sih. Misalnya undangan kawinan: banyaknya sabtu minggu. Dan sabtu minggu biasanya (dulu) suka ada kegiatan pelatihan dan kawan-kawannya di YPBB. Dan karena itu jadi muncul kesan hese diajak jalan-jalan.

Padahal di YPBB, dari dulu sampai sekarang, saya dikenal suka maen-maen. Kerjaan biasanya pada gak beres, kecuali yang ada kaitannya sama maen-maen dan interaksi sama orang.

Jadi yagitulah. Kesan yang ditangkap orang lain ternyata beda dengan kenyataannya. Tergantung interaksi yang terjadi seintens apa dan pada sisi yang sebelah mana.


gak suka belanja dan cuci mata di mall/ supermarket

Nah! ini ada benarnya. Pada intinya suka lieur kalo mau beli-beli sesuatu dan milih-milih. Pengennya mah tinggal make tapi enakeun. Tapi emang saya gak kaya cewe-cewe pada umumnya yang senang liat printilan kecil-kecil dan liat baju satu-satu sampe muter-muter. Lebih ke hal yang fungsional aja. Walopun sekarang mulai belajar juga sih mengembangkan sisi ini.


SOP banget alias kaku

Dulu cenderung iya. Tapi makin ke sini, justru makin kelihatan sifat aslinya yang buyatak, acak.
Jadi itu dulu yah. Kalau terkait kaku, itu kayanya lebih kepada sifat: gamau susah. Kalau ikuti cara lama (alias kaku dan gak melakukan cara baru) itu cenderung akan merasa aman. Sekarang di kerjaan malah cenderung: senang melakukan hal-hal yang seharusnya gak dilakukan alias gada di jobdesk utama (ngetiknya sambil nyengirrrr)


gak kawin2

Beberapa orang menulis tema ini. Plisdeh. hahhaha.
Dulu emang gak pernah kedengeran cerita bahwa si anil pacaran. Boro-boro gelagat mau nikah.
Niat mah niat, tapi masih kurang kuat meureun niatnya baheula mah. Sekarang kondisinya udah beda. Ada kemajuan dikit (besar ketang). Mudah-mudahan pada dapet ondangan (atau minimal pemberitahun) tahun 2015 ini yah. Bismillah. Aminin sodarasodari :)


Saturday, 24 January 2015

Maju Mundurnya #ZeroWaste #homemadenugget

Di tahun 2014, saya lagi hobi pisan nyobain aneka resep. Hobi ini sebagai bentuk perwujudan euforia karena baru ngerasain masa bebas-masuk-dapur. Kenapa euforia? Karena bertahun-tahun sebelumnya ada rezim yang menguasainya dan mengakibatkan dampak yang ekstrim seperti gejala teu-bisa-numis-numis-acan. Dan tentuuu karena ditambah segudang motivasi dari yang punya pesan sponsor: "harus bisa masak dan nyambel ya"

Singkat kata singkat cerita, salah satu resep yang diujicoba di akhir tahun adalah nugget ayam sayur. Kebayangnya asa enak weh. Pas nuggetnya jadi datanglah saatnya mentester. Kalem heula, saya bukan pentester yang jagoan. Menurut saya, makanan di dunia ini cuma ada 2: enak atau enak banget. Kalau saya sampai bilang ada makanan yang gak enak, itu artinya makanan tersebut emang kebangetan gak enaknya. 

Dicicip dan hmm rasanya relatif aman, lalu cepet-cepet pamer ke grup wasap horehore. Dan kemudian kepikir buat bawain lagi si nugget buat icip-icip saat ada acara ke luar bareng temen-temen.   

Komentar dari temen-temen: oke cenah. Dan kemudian ada teh Tiwi yang jadi pemesan perdana. Iya PESEN! Pesen yang berarti BELI. Jeng jrengggg...langsung bingung pas ditanya harga karena pas bikin juga beli-beli weh. Gatau sabarahaeun. 

Dari situ, akhirnya nyoba bikin itungan harga-harga bahan pleus tenaga kerjanya. Sampai dicatat daftar barangnya dan kemudian wawancara ibu warung. Saat bikin perdana, sebagian bahan dibeli di supermarket (kaya ayam fillet dan tepung roti), nah karena mau mulai dadagangan, saya sambil nyobain beli unak anik bahannya di pasar. Dan ternyata selisih harganya lumayan lah. 

Itang-itung sana-sini, akhirnya saya dapet itungan harga jual (dengan itungan yang entah-bener-untung-atau-enggak). Pede weh langsung jeger kasi harga dan nawarin nugget ke beberapa orang temen. 

La la la ~ 
Rame juga dadagangan teh. Cukup meledak sebagai pemula. Saya dipesenin 300 buah nugget dalam waktu 2 minggu!

Jadi inget, jaman dulu saya dagang juga. Jaman kuliah. Dagang roti homemade, Ngadonan dan nyetak malem-malem kana loyang. Bangun sebelum subuh untuk manggang. Lalu semangat berangkat ke kampus sehingga bisa jadi provider sarapan temen-temen. Sayang gada potona eta jaman kejayaan sebagai tukang roti. 

Selain itu, sempet juga jadi tukang dagang macem-macem. Mulai ti tupperware, bisnis motokopiin diktat kuliah dan yang paling gampang adalah dagang yang ambil dari orang lain: bacang, gorengan, makanan yang dibungkus-bungkus sejenis makroni dan kawan-kawannya (jaman dulu belum kenal isu zero waste bo). Selain dagang, pernah juga beberapa saat jadi tukang jus dadakan pas jam makan siang di kantin kampus. Kerja sekitar sejamduajam (lupa tepatnya) lalu dibayar voucher makan siang. Hayaaah, jaman dulu skale itu ya. 

Okeh mari balik lagi ke cerita nugget. Saya kemudian mulai berani promo di facebook. Langsung semarak tanggapan para pemirsa. Banyak yang ngomen tanya-tanya dan nge-like. Nilai plus yang saya jual untuk si nugget ini adalah nugget yang tanpa pengawet, tanpa perasa buatan (ga pake pecin-pecinan sama sekali) dan pastilah pengemasannya Zero Waste (bisa bawa misting sendiri sehingga tidak menggunakan kemasan plastik sekali pakai).

  
Proses pesan-memesan nugget ayam sayur ini ini berjalan sekitar sebulan dengan segala perbaikan rasa dan cara kerja. 

Sebulan kemudian, muncullah varian baru. Mencoba menggunakan jamur tapi masih pakai udang sebagai penyedap. Pengennya sih pure jamur, tapi masih ragu ngelepasnya. 



Begitulah, kemudian dur der aja tiap ada pesenan. Baru kemudian mulai rada sepi karena tara ngageder promo deui. Semoga dengan nulis tentang nugget ini, semangat untuk dadagangan nugget tumbuh kembali. 

Coming soon nugget ikan!





Sunday, 18 January 2015

Serunya Jadi Relawan Host: Do the Math 350.org

Cerita pengalaman pas jadi relawan host pemutaran film Do the Math 350.org ah.
Ini cerita rada jadul, tapi rasanya masih seru untuk diangkat. Serunya sebelah mana? Mari disimak :)

Pada bulan Juni 2012, saya gabung jadi #EndFossilFuelSubsidies social media team.. Judulnya pakai bahasa Ingris karena memang sebuah gerakan internasional yang dimotori oleh 350.org.



Seluruh pola komunikasi dengan 350.org dilakukan menggunakan bahasa Inggris. Pertanyaan pentingnya: "emang ngerti bahasa Inggris, Nil?" Hehehhe, gak ngerti-ngerti banget. tapi ya dikira-kira aja.

Singkat kata singkat cerita, seluruh alumni kegiatan tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam milis dan dikirimi email rutin yang biasanya berisi info terkini dari 350.org (kegiatan, wawasan, ajakan petisi dll). Lagi-lagi karena hambatan bahasa dan malas menelaah, banyak email yang akhirnya hanya skip-skip. Sampai sekitar setahun kemudian (awal Mei 2013) datang email ajakan untuk menjadi host pemutaran film Do the Math. Mata langsung berbinar lope-lope ala wasap. Namun karena ini itu, email tersebut terabaikan dan baru ditindaklanjuti lagi sekitar seminggu setelahnya.

Ajakan jadi relawan hostnya cukup menarik dan filmnya juga tampak keren.



Yang paling bikin seneng adalah karena mekanisme kerja mereka rapi dan terorganisir dengan baik. Platform yang disediakan memungkinkan film ini diputar 500+ kali | di 80 negara | dalam 1 hari | secara serentak!

Seperti apakah platform yang disediakan?

Untuk di Indonesia, ada 2 local volunteer host. Satu di jakarta (kalau gak salah green radio) dan satu lagi di Bandung. Untuk kegiatan di Bandung, saya duet bersama Jessis. Pembagian perannya alamiah saja. Sesuai kesukaan dan keahlian. Saya lebih banyak di publikasi dan reramean bla bla pas acara, Jessis lebih di belakang layar untuk teman diskusi dan terutama di penterjemahan subtitle film.

Jessis di sebelah kanan
*baru nyadar: si anil mei 2013 masih rada kurus hahahha

Untuk bisa menjadi local host volunteer, kita cukup mengisi form online mencakup nama kegiatan, waktu detil, perkiraan jumlah peserta, deskripsi kegiatan, lokasi kegiatan detil dan data CP. Data ini nantinya menjadi 1 titik kecil di tengah titik-titik lainnya pada peta yang ada di web 350.org. Sayangnya, titik-titik di peta tersebut saat ini sudah tidak ada. Mungkin karena kegiatannya telah berlalu. Menjelang 16 Mei 2013, peta besar itu dapat menjadi media promosi bersama dan visualisasi bahwa film ini diputar di banyak tempat.

Setelah melalui proses konfirmasi, acara yang kita buat, akan muncul di peta dan muncul deskripsinya.




Aturan main yang dikeluarkan oleh 350.org cukup sederhana. Hanya 2 hal. Selebihnya diserahkan ke para local host volunteer.



350.org menyediakan film dan subtitle yang dapat didownload oleh para local host volunteer. Subtitle disediakan dalam beberapa bahasa untuk memudahkan: Spanyol, Portugis, Jerman, Prancis dan Inggris. Bahasa Indonesia belum ada saat awal, apalagi Sunda hehehe.

Di info kegiatan kami tidak menjanjikan adanya subtitle Indonesia walaupun ada upaya ngageder (aslina eta jasa Jessis seorang diri) untuk menterjemahkannya menggunakan media amara. Ketika hari H, ternyata penterjemahan selesai! Terimakasih Jessis. Ini sumbangsih nyata dari Indonesia untuk mendukung gerakan 350.org dan gerakan lingkungan secara umum :)

Dan akhirnya total ada 8 alih bahasa untuk subtitle film Do the Math! Yeayy



Ah senangnya bekerja satu tim dengan Jessis, 1 tim besar dengan 500an local host volunteer dalam koordinasi 350.org.

Kesenangan selanjutnya adalah ketika hari pemutaran film. Peserta yang datang tidak terlalu banyak karena memang waktu dan tenaga untuk mempublikasikannya yang mepet. Datang beberapa teman dan juga perwakilan 350.org Indonesia. Tapi seneng bisa terbakar semangat bersama setelah nonton dan mendiskusikan isi film tersebut.




Filmnya sendiri? Saya lupa cerita tepatnya. Terakhir kali nonton, ya tahun 2013 itu. Eduuuuunn, itu perjuangan Bill McKibben! Serius pisan, terorganisir. Pokonya saat itu sampai merinding. Saat ada demo, yang demo banyaaaakkkk. Film ini, cocoknya untuk yang sudah pernah beberapa kali berkegiatan lingkungan. Kalau yang baru-baru bisi stres hehehe. Tapi kalau masih baru dan mau nonton, boleh juga dicoba.

Nonton ulang deui ah untuk membakar semangat. Mari nonton!


Friday, 9 January 2015

Sayur Organis: Panen Agrapana!

Kemarin (stelah diinfo di grup wasap staf), saya ngambil tunjangan sayur dari YPBB.

Apakah tunjangan sayur itu? 
Sejumlah sayur yang diberikan bagi staf part-time dan full-time YPBB. Apa keistimewaannya? Sayur tersebut diyakini tanpa diberi pupuk kimia buatan yang aneh-aneh. Kalo bahasa gaya-nya mah: sayur organic. Dan sayuran tersebut ditanam di sebidang tanah di Soreang (Cipatra - Ciseupan - Desa Bandarasari) site YPBB yang sejauh ini kita juduli dengan nama AGRAPANA. 

Sistem relasi yang dibangun antara petani (produsen) dan kita (konsumen) dicoba lebih adil. Misalnya kalau gagal panen, maka tetep akan ada sejumlah uang standar yang mengalir ke petani. Dan juga kita terima tanaman macem-macem berdasarkan tanaman yang sedang panen saat itu. 

*ini deskripsi ngarang aja sih, tim PSDM pasti punya deskripsi yang lebih baik dan benar

Jadi ceritanya adalah: staf yang mengelola site Agrapana bertugas mengirim sayur ke urban centre YPBB (dalam hal gundala dan sekalian ke kota), laluuu para staf ambil jatah sayurnya masing-masing. 

Sejauh ini sih masih dititip di kulkasnya gundala. Kedepan katanya bakal beli kulkas khusus untuk penyimpanan sayur. 


Sayur yang padedet karena belum diambil para pemiliknya

Karena baru awal-awal, maka sekarang dalam masa melihat dulu pola produksinya. Ke depan harapannya, selain untuk mencukupi tunjangan sayur staf, sisanya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain. Dari obrolan-obrolan selintas, kelebihan sayur itu bisa dibarter dengan kertas. Mengapa kertas? Karena kertas diperlukan sebagai pembungkus sayuran-sayuran. Bisa pula dilakukan pengawetan pada beberapa jenis sayur tertentu. Begitulah ide-ide yang sempat dibicarakan. 

Sosin dan bayam (hijau dan merah) adalah sayur yang kemarin dibawa dari Agrapana. Kemarin saya ngambilnya 3 ikat sosin dan 3 ikat bayam (2 merah dan 1 hijau). Langsung diolah karena penasaran!


Jus sosin! *abaikan tulisan orange juice
Asalnya mau sok jagoan gamau pakai gula. Tapi pahang ternyata. Jadi ini masih mix gula. Nanti-nanti mungkin bisa dikombinasikan sama buah lainnya yang punya rasa manis. Enak dan rada wareg karena 1 gelas jus ini berasal dari satu ikat sosin. 

Yang kedua, kemudian cepet-cepet dimasak sayur. Sayur bayem merah! Langsung jadi bekal makan siang untuk aktivitas hari ini. 



Alhamdulillah! Mari mulai belajar hidup sehat dengan makanan yang minim pupuk kimia buatan dan juga relasi yang erat dengan petani sebagai produsen makanan kita. 

PR selanjutnya (selain tetep menerima pasokan dari Agrapana) adalah mencoba menanam sendiri di rumah PR banget. Dan rasanya masih berat di horeamna heheheh. Mungkin nanti di rumah sendiri (#alesan dan #ngeles)

-----

Tentang #1minggu1cerita : 
Proyek menulis di blog yang bertujuan untuk membuat blogger rajin nulis dan berbagi mengenai berbagai macam informasi. Tulisan di-posting maksimal hari Jum'at tiap minggunya dan dibagikan lewat grup WhatsApp anggota serta media sosial masing-masing anggota dengan menyebut akun para anggota supaya lebih mudah untuk dibagikan ulang. Tertarik bergabung? Silahkan mendaftar disini