Sunday, 12 January 2014

Hari 7: Oleh-oleh #ZeroWaste ? Mungkinkah?

Salah satu pernyataan yang sering terdengar ketika ada orang yang berpamitan akan pergi jauh adalah: "Jangan lupa bawa oleh-oleh yah."
Begitupun ketika seseorang datang dari tempat jauh, biasanya juga akan ditanya: "Oleh-olehnya mana?"

Kebiasaan tersebut, membuat akhirnya tradisi bawa oleh-oleh menjadi berkembang. Sudah tidak aneh ketika orang pergi ke tempat jauh, otomatis sudah membawa anggaran tersendiri untuk beli oleh-oleh. Area penjualan oleh-oleh pun menjadi berkembang untuk melayani kebutuhan tersebut.

Nah, terkait dengan oleh-oleh, saya akan berbagi beberapa foto oleh-oleh yang sempat mampir ke area kantor yang didapatkan dari berbagai daerah. Untuk kenyamanan semua pihak, tidak akan disebut nama si pemberi oleh-olehnya.

Berburu dan meramu ke Lampung ternyata ini oleh-olehnya.


Oleh-oleh dari Lampung ini datang dari 2 orang yang berbeda. Tapi kalau diamati baik-baik, kopi yang diberikan, mirip pisan. Berarti kopi merk itu memang khas banget sebagai oleh-oleh dari lampung. Sama merknya maupun ukurannya. Kemasannya juga pastinya sama yaitu plastik (apa alumunium foil ya?). Plastik yang akhirnya jarang dipakai ulang dan juga tidak didaur ulang. Artinya nyampah. Sejauh ini tampaknya para produsen kopi belum menemukan cara alternatif kemasan selain plastik. Yang saya temukan di Bandung, ada kopi Aroma yang berkemasan kertas. Mungkin ide tersebut bisa ditiru. Walaupun belakangan, kopi Aroma yang berbungkus plastik tersebut, sudah dibungkus dengan plastik juga.

Kemasan sambelnya, kalau telaten nyuci, bisa dipakai ulang. Kemasan lain-lainnya, biasanya sih dibuang begitu saja, karena sudah tidak bisa diapa-apakan.

Sekarang mari kita jalan-jalan ke Bali!


Mari perhatikan foto yang bawah. Ada gantungan kunci. Kalau gak salah bahannya dari kayu. Tapi teutep aja nyampah karena diplastikin lagi. Plastik pembungkusnya bening, mungkin agak mending karena bisa didaur ulang. Tapi kalau pembeli diberi pilihan untuk: gantungan kunci bisa pilih mau dikemas/tidak, mungkin itu akan membantu mengurangi sampah dari awal.

Pada gambar yang atas terdapat sate lilit pada wadah biru. Itu namanya sate lilit. Enak, nyam-nyam. Sampahnya hanya gagang sate yang bisa membusuk dalam waktu lama. Kata yang ngoleh-ngolehin, sate dibeli dalam jumlah banyak dan dari awal memang dibeli pakai wadah misting besar, supaya mudah dimasukkan ke dalam koper dan baunya tidak menyebar ke dalam koper. Suka deh dengan pengemasan sate lilitnya :)

Kedua oleh-oleh Bali tersebut, memiliki kesamaan yaitu sama-sama ada pie susunya. Pie susu ini kayanya lagi jadi trend oleh-oleh. Tapi kemasannyaaaaaa, dibungkus plastik satu-satu. Pemilihan kemasan ini (katanya) dengan alasan supaya gak kena debu dan juga supaya si bagian vlanya gak kering. Plastiknya bisa didaur ulang karena plastiknya bening. Asalkan plastik pembungkusnya dipisah sejak awal. Tapi kalau saya ke Bali kapan-kapan, dan ada produsen pie susu yang punya cara cerdas mengemasnya pakai kemasan non plastik, kemungkinan itu bakal lebih saya pilih.

Kemasan kopi Aceh ini berkemasan plastik bening. Kalau kita telaten memisahnya dari awal, paling tidak bisa didaur ulang dengan jalan dikasi ke mamang pemulung dalam keadaan bersih. Mudah-mudahan ke depan ada yang jual dalam bentuk kilo-kiloan dan kita bawa misting dari Bandung :)

Kopi Aceh

Kemasan berkilau warna-warni ini udah ampun banget. Tak bisa didaur ulang. Kalau gak percaya, tanya deh sama semua pemulung, gak ada yang mau terima. Jadi kalau ada alternatif oleh-oleh yang berkemasan plastik bening dan juga berkemasan lainnya yang masih bisa didaur ulang atau dipakai ulang, kemasan-kemasan seperti ini bisa menjadi pilihan terakhir sebagai oleh-oleh.

Oleh-oleh dari Jepang

Oleh-oleh dari Jerman

Kalau gak salah dari Spanyol

Kalau kita selalu bersiap dengan tas kain, mungkin salak dari Jogja ini bisa kita dapatkan tanpa sampah plastik sama sekali. Kulit salaknya tidak termasuk sampah dong karena bisa dikompos. Dengan catatan, beneran dikompos sendiri, karena kalau diberikan ke mamang-mamang sampah saja, kemungkinan besar tidak didaur ulang. Kecuali kalau yakin bahwa pengelolaan sampah organis di daerah anda memang sudah mencakup pengomposan juga. 

Oleh-oleh dari Jogja
Yeah, demikianlah adanya keadaan peroleh-olehan yang ada di sekitar kita. Karena banyak sampahnya, bukan berarti kita gak boleh membawa oleh-oleh. Tapi kemasan pembungkus bisa menjadi salah satu aspek yang dipertimbangkan saat memilih oleh-oleh. 

Semakin kita sadar bahaya plastik dan juga kemasan-kemsan lainnya yang menimbulkan aneka penyakit berjangka panjang, mudah-mudahan justru memicu semangat kita untuk: 
  • mencari oleh-oleh yang paling gak nyampah (#ZeroWaste) dari aneka pilihan yang tersedia (sebagai konsumen)
  • membiasakan diri membawa #ZeroWaste kit di dalam tas (sebagai konsumen)
  • meluncurkan alternatif produk oleh-oleh yang tanpa sampah (sebagai produsen)
Jadi, mana oleh-oleh #ZeroWaste buat saya? 


No comments:

Post a comment