Wednesday, 17 June 2015

Timbulan? Sampah?

Pengalaman seru yang baru dilewati kemarin adalah ikutan jadi tim yang ngukur timbulan sampah. Ceritanya begini, RW 9 Kelurahan Sukaluyu sedang mengikuti program Kawasan Bebas Sampah. Apakah itu?




Targetan utama dari program tersebut adalah: jumlah sampah dari wilayah tersebut di akhir program (akhir tahun 2015) sudah berkurang. Nah, untuk tahu berkurang atau tidaknya, tentunya perlu ada data awal dan dan akhir yang jelas dari jumlah sampahnya. Tujuan lain dari pengukuran adalah sebagai dasar untuk merencanakan kegiatan yang akan dilakukan untuk mengurangi sampah yang ada. Maka dari itu dan sehingga, tim YPBB, alias tim pendamping untuk RW 9 bersama dengan warga untuk mengukur data awal jumlah sampah di wilayah tersebut. Saya gabung juga di tim pendamping tersebut.

Ada banyak diskusi panjang di balik acara pengukuran timbulan sampah tersebut. Tapi mari kita cerita hari hore-hore yang telah dilewati kemarin sajalah :)

Warga yang diajak jadi responden berjumlah 51 KK dari itung-itungan idealnya 43 KK saja. Sisanya untuk cadangan kalau ada data yang eror.

Jadi kegiatan dimulai dengan mengangkut sampah yang sudah dipisah oleh warga dari rumahnya masing-masing. Mereka menyimpan sampah di depan rumahnya masing-masing. Sampah dibawa oleh kader menuju lokasi penimbangan. Sampah-sampah yang belum terangkut karena kadernya berhalangan, dibantu diangkut oleh tim YPBB.


Contoh sampah yang sudah dipisah dari awal oleh warga

Sampah warga diminta dalam 4 hari - HANYA 4 HARI SAJA (2 hari kerja dan 2 hari libur) - untuk memisah sampahnya dari rumah masing-masing. Idealnya sih (menurut standar SNI) pengukuran jumlah sampah dilakukan selama 8 hari berturut-turut. Tapi karena keterbatasan sumber daya, wayahna weh 4 hari saja. Keresek yang berlabel telah dibagikan terlebih dahulu ke warga.

Contoh label di kresek, supaya memudahkan proses pengambilan dan penimbangan

Dilema banget nih soal keresek zzz. Karena dalam proses pengukuran timbulan sampah ini diperlukan:

51 KK x 4 hari x 4 jenis sampah = 816 lembar kresek.

Nanti kita lanjut lagi cerita tentang nasib si kresek yang jumlahnya meratus tersebut. Kita lanjut dulu cerita di awal yah.

Setelah sampah terkumpul, lalu dilakukan proses pengecekan pada setiap kresek yang terkumpul. Cerita yang terjadi aneh-aneh. Dimulai dari ada warga yang gamau simpan sampah organisnya ("nanti bau ah") sehingga akhirnya dia hanya mengumpulkan 3 kantong keresek saja. Lalu yang bikin heran, beberapa warga banyak banget sampahnya. Curiga ada proses-proses cuci gudang. Padahal melalui proses briefing satu persatu ke warga sudah diinfokan bahwa sampah yang dikumpul dan dipisah adalah sampah yang benar-benar dibuang pada hari tersebut. Info tersebut juga diperkuat oleh selebaran yang siap ditempel di rumah masing-masing. Asumsinya, kalau anggota keluarga yang dibrief tidak atau kurang dipahami penjelasannya oleh anggota keluarga lain, ada penjelasan tertulis yang bisa dibaca oleh siapapun.

Cerita yang lebih "seru" lagi adalah saat kita menemukan penempatan sampah-sampah yang bukan pada tempatnya.


Kresek kuning adalah sampah kebun. Tapi karena di kebunnya mungkin ada kemasan AMDK, akhirnya nebeng juga di kresek kuning :)

Di tempat non organis yang berpotensi di daur ulang pada nyampur sama kemasan warna-warni padahal di lapak manapunnn, tak ada yang terima itu barang


Yang bikin pening lainnya adalah: di banyak sampah organis dapur dan sisa makanan, biasanya bercampur dengan plastik-plastik. Dengan bermodal sarung tangan, dipisah-pisah tuh plastik demiiii data timbulan sampah yang valid untuk perjenisnya. Gak kepoto proses misahin yang jorok-jorok begitu karena boro-boro moto heheeheh.

Dan ada juga yang nemu uang!

Maksudnya uang-uangan heheheheh. 20 rebu buat anjang-anjangan :) 

Paralel dengan proses pengecekan tersebut berjalan proses penimbangan sampah untuk setiap orang perjenis sampah dan pencatatannya. Supaya hasilnya akurat, kami "menculik" timbangan ini untuk beberapa jam saja heheh.



Seluruh aktifitas ini dikerjakan dalam waktu sekitar 2 jam. Setelah penimbangan selesai, sebenarnya sampah bisa langsung disatukan saja ke roda sampah. Tapi mengingat upaya yang telah dilakukan untuk memisahnya (baik upaya warga dan upaya para pendamping), dilakukanlah pemanfaatan sampah tersebut. Setiap sampah diperlakukan berbeda.


Sampah kebun dimasukkan ke dalam lubang sehingga akhirnya bisa terkompos. Ada upaya yang ruarrrrbiasa untuk menggali lubang ini karena tanahnya berisi barangkal. Lubang tidak ditutup dulu karena masih ada 3 hari tersisa untuk proses memasukkan sampah kebun lainnya.


Proses saat menuangkan sampah kebun ke dalam lubang

Untuk sampah organis, sebenarnya bisa saja dibuatkan lubang, namun masih bisa dimasukkan ke dalam biodigester yang ada di kantor.

Calon penghuni biodigester YPBB!

Sampah non organis yang berpotensi untuk didaur ulang, dikumpul jadi satu dan akan disimpan di gudang milik warga (mereka nyebutnya jam sampah) dan nantinya akan dijual ke pemulung.

4 karung sampah yang potensial didaurulang

Sampah residu alias sampah yang gak bisa diapa-apain direlakan saja dibuang ke gerobag sampah. Inilah sampah yang sebenarnya, yang akhirnya masih harus memadati TPS dan TPA.


Residu hanya yang berkresek merah. Bawahnya sudah penuh dari awal

Begitulah aktivitas 1 ronde pengukuran timbulan sampah yang telah dilakukan hari Selasa kemarin (16 Juni 2015). Masih ada 3 ronde lagi, Mudah-mudahan proses di 3 ronde selanjutnya bisa lebih mudah.

Oh iya, balik lagi ke dongeng kresek yang jumlahnya meratus tadi!
Setengahnya kami tarik lagi yaitu sampah non organis yang potensial didaur ulang dan sampah kebun. Karena kereseknya relatif cukup bersih dan tidak terlalu sulit untuk dibersihkan. Perjuangan selanjutnya adalah mencuci dan mengeringkannya sehingga siap dipakai ulang.




Kita pada nyerah dulu deh untuk kresek merah (sampah residu) dan kresek putih (sampah organis). Basah dan beberapa udah jijay pisan. Inilah selemah-lemannya iman untuk memaksimalkan penggunaan kresek yang telah ada.

Demikian cerita untuk hari ini. Berminat untuk belajar dan mencoba beberapa aktivitas dalam pengukuran timbulan sampah? Yuk gabung hari Kamis (18 Juni 2015), Sabtu (21 Juni 2015) dan Minggu (22 Juni 2015) mulai jam 9-12.

Dapet salam ceria dari tim hore pengukuran timbulan sampah ronde 1


Saturday, 23 May 2015

Rarakitan dan Diculik Pak RT!

Beberapa minggu yang lalu, saya dan beberapa teman tugas ke lapangan menyebar kuisioner di daerah Pangalengan.

Apa yang seru di Pangalengan? Keasyikan yang pertama adalah kita nginepnya pinggir situ Cileunca. 


Keren kaaaan? Kalau motonya lebih jago lagi, bisa kaya pemandangan di kalender

Bangun tidur - buka tenda - taraaaaa langsung pemandangan keren!

Sempat juga main rakit pas istirahat. Tepatnya si rakit dilepas dan kemudian kita didorong ke tengah danau tanpa punya bekal dayung. Rameeee barijeung sieun ga bisa balik dan juga sieun titeuleum. Makaning gak bisa berenang. 

Ini pas rakitnya mulai dilepas (dok: Gundil)

Ini pas di tengah lagi kukulibekan (dok: Gundil)

Kukulibekan tapi sempet keneh foto-foto 

Pokonya akhirnya bisa sampai lagi ke darat walaupun si sayah mah bagian cicing weh di tengah. Da kalo duduknya geser-geser, bisa perahunya ga seimbang. Dan juga sieun karena gak bisa berenang hahaah. 

Besoknya bagian petualangan kedua: kita berempat diculik pak RT! Diculik pakai tanda petik yah. Karena pada seneng juga sih diculik hehehhe.. Ketika akan menyebar kuisioner, kita diajak dulu mengenal kondisi di sekitar wilayah RT tersebut.

Dari area yang dihuni oleh penduduk, kemudian diajak melihat perjalanan sampah yang ada di sungai. 

Sampah itu kemudian numpuk di sini

dan juga sampah ngagupluk di situ



Dilanjut nyebrang jembatan yang sudah mulai reyot


Ternyata nyambung ke bukit-bukit (Dok: Tiwi)


Pemandangan sekitar bukit (Dok: Tiwi)

Mau kemanakah kita? Saatnya diculik dan menemukan hal-hal menarik sepanjang jalan. 

Pipa air dari gebog pisang!

Mata air! Jernih pisan

Kontras banget ketika sudah mulai banyak campur tangan manusia. Sampah dimana-mana!

Untuk kepentingan pembangkit listrik, air dibendung dan sebelumnya disaring dulu supaya tak ada sampah

Dan sampahnya ditumpuk sampai membentuk "daratan" baru (dok: Tiwi)

Kemanakah air itu kemudian menuju? Dia dialirkan ke pipa-pipa besar yang dibuat menurun untuk memanfaatkan energi gravitasinya. Lumayan leklok tuur menuruninya. Seru-seruuuu!

Pipa dengan tangga seribu (lebih dari seribu kayanya)


Belum selesai aksi penculikan, pak RT membawa kami ke Curug Ceret. Mengapa dinamakan demikian? Karena airnya mencepret-cepret sehingga ceret kena ke orang yang disekitarnya. Lelah karena perjalanan panjang langsung hilang rasanya berganti dengan kesegaran yang ditawarkan oleh curug ini. 

Curug dari kejauhan

Dipandang dari arah bawah! Ceret alias ciprat-ciprat air!

Itu kami was-was! Soalnya tugas kuisioner masih banyak dan malah diculik. Tapi pak RT menjamin jam 1 akan dimulai proses kerja ngejar kuisioner. Ternyata tanpa diduga (dan pasti sudah diskenariokan oleh-Nya), muncullah mobil tebengan. Kalau engga, kami harus naik lagi tangga yang banyak itu untuk motong jalan. Dilanjut jalan kaki rada banyak lagi, sampailah kami ke lokasi warga lagi. 

Beres petualangan ulin hari ini!

Kapan lagi kita diculik pak RT? 
(diculik tapi kalahkah atoh hehehehe)




Thursday, 14 May 2015

Belanja di Portugal Yuk!

Dari obrolan di grup whatsApp alumni SMP sekitar dua minggu yang lalu, saya menemukan cerita menarik terkait kemasan makanan di Portugal. Dalam tulisan ini, saya berkolaborasi dengan Rizki alias Cimot sebagai narasumber. Lebih tepatnya: saya merapikan celotehan di grup tersebut ditambah dengan hasil wawancara dengan Cimot. 

Cimot adalah teman se-SMP yang saat ini sedang bekerja di perusahaan multinasional di Portugal. Perusahaan ini yang terletak di Setubal, Portugal. Cimot tinggal di sebuah apartemen di pusat kota Setubal. Kota ini terletak di 60 km sebelah selatan ibukota Lisbon.



Dimanakah Portugal itu? Untuk mengingatnya, mari kita lihat di peta berikut.





Tukang makanan di daerah Cimot tinggal bertebaran dan tersedia untuk setiap waktu makan. Pagi, siang ataupun malam selalu ada. Tapi Cimot lebih memilih sering masak karena masak adalah salah satu hobinya. Masak juga katanya bisa lebih murah dan menekan pengeluaran, Dan yang terpenting adalah: dengan masak sendiri, bisa memastikan kehalalannya. Maklumlah, di Portugal Islam hanya dianut oleh sekitar 0,47% penduduk saja. 

Dengan penganut Islam yang minoritas tersebut, tentunya tidaklah mudah untuk menemukan makanan dengan stamp halal. Namun bukan berarti tidak ada. Portugal sendiri memiliki badan sertifikasi halal yang bernama Instituto Halal de Portugal. Badan ini memberikan sertifikasi halal terhadap produk-produk lokal. Di supermarket ada tersedia daging sapi, dan daging unggas ( ayam atau kalkun ) dengan stamp halal dari Instituto Halal de Portugal.

Terkait masak-memasak, Cimot menceritakan pengalamannya ketika berbelanja untuk memasak baso. Letak pasar cukup dekat dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 5 menit. Terkait jalan kaki, walaupun hampir semua warga Portugal memiliki mobil, masih banyak yang suka berjalan kaki untuk keperluan yang jaraknya dekat, atau menggunakan alat transportasi umum. Kondisi ini terjadi kemungkinan karena harga BBM sangat mahal ( sekitar 1.7-1.9€ ) belum lagi tarif parkir yang bisa mencapai hampir 1€ per jam.

Jarak pasar yang relatif dekat ini, sebenarnya 11-12 dengan jarak rumah saya ke pasar terdekat. Tapi isi dalam pasarnya beda banget hehehe. Kalau lihat dari gambarnya tampak bersih. Keren!


Bagian depan pasar

Cewe rambut panjang ini tukang buahnya. Keren pan?
*ceuk Cimot kurang lebih gitu heheheeh*

Kondisi di lapak ikan yang tampak bersih dan enakeun

Ikan-ikan yang pikabitaeun


Kondisi di lapak tukang daging


Teman-teman di grup langsung memberikan pandangan positif terhadap pasar yang diceritakan. Kebanyakan mereka menyoroti aspek kebersihan dan kenyamanan pasar yang bila  dibandingkan dengan pasar di Bandung dan sekitarnya, bagaikan bumi dan langit alias beda banget!

Ada 1 gambar yang kemudian membuat saya penasaran. Amati baik-baik gambar di bawah ini dan coba hitung berapa orang yang bawa tas kain sendiri. 




Beberapa orang tampak membawa tas kain kan ya? 

Nah, dari gambar tersebut saya coba tanya ke Cimot.Ternyata, di Portugal, membawa tas kain atau kemasan makanan adalah sebuah "keharusan". Contohnya ketika beli sayur, karena agak basah dan perlu pakai keresek, maka Cimot bawa tas kresek sendiri. Reuse dari kresek yang sudah ada. 





Pamer dulu baso made in Cimot. Nyam!

Mengapa membawa tas kain atau kemasan makanan adalah sebuah "keharusan"? Karena keresek di sana tidak ada yang gratisan tapi perlu dibeli seharga 10 sen - 50 sen atau dengan kurs 1€ = 14.000 rupiah, maka harga tas kresek di Portugal sekitar 1.400 hingga 7.000. Lumayan nguras dompet kan ya? Bayangkan, berapa uang yang perlu dikeluarkan bila dalam sekali belanja digunakan 5 keresek baru! 5 keresek itu seperti kalau kita belanja di mini/supermarket di Bandung! Sabun dipisah, telur pisah, makanan kotakan dipisah, sayur dipisah, semua dipisah. Belum lagi pembeli di Bandung beberapa rewel ingin mendobel kresek belanjaannya. 

Mengapa harga kresek di Portugal mahal? Salah satu teman Cimot, mengatakan bahwa harga kresek di Portugal sangat mahal karena harganya tidak hanya mencakup harga kresek, tetapi juga ditambahkan untuk retribusi pengolahan limbah plastik.

Gambaran prosesnya, bahan makanan akan ditimbang di timbangan elektronik sehingga hasilnya lebih akurat. Sepanjang pengalaman Cimot, dia tidak pernah menemukan timbangan analog di toko kecil (semacam warung) sekalipun. Di Portugal juga ada undang undang yang mengatur bahwa pedagang wajib menginformasikan harga barang per satuan ( €/kilo atau €/liter ) kepada konsumen.

Setiap selesai transaksi di pasar, pedagang hanya akan memberikan barangnya saja. Tidak ada penjual yang otomatis memberikan kresek. Kalau mau kresek, ya harus beli. Itupun tidak semua pedagang menjual tas kresek ini. Kondisi yang sudah umum ini pada akhirnya membuat para pembeli mau tidak mau perlu membawa tas/keresek sendiri. Contohnya seperti Cimot yang membawa perangkat tas selendang dan kreseknya saat akan membeli sayur di pasar. 

Kresek reuse dan tas (pakai versi selempang biar tampak muda cenah) 

Ini gambaran kondisi di luar sana yang membuat warganya (yang sudah sadar/belum terhadap kelestarian lingkungan) mau tidak mau akan ikut berusaha mengurangi penggunaan kresek dari awal. Sistem membuat mereka menjadi seperti itu. 

Terkait kebiasaan mengurangi sampah kemasan dari awal, rupanya tidak hanya terjadi pada kresek saja. Tetapi ini terjadi juga pada kebiasaan membawa misting saat akan membeli makanan. Namun hal ini tidak umum dilakukan, karena biasanya penjual menyediakan kemasan makanan khusus untuk take away.




Cerita dari Pasar Portugal ini, sedikit banyak memberikan gambaran pada kita bahwa pengurangan sampah dalam upaya pemulihan kondisi lingkungan adalah sesuatu yang NYATA dan BISA DILAKUKAN selama ada niat yang cukup kuat untuk menjalankannya. Dalam hal ini ada 2 aspek yang berperan yaitu aspek peraturan (yang dijalankan) dan juga kesadaran warganya. 

Setelah mampir sejenak ke Pasar di Portugal, yuk kita balik lagi ke Bandung..... 

Kota Bandung belum memiliki aturan (yang dijalankan) seperti di Portugal dalam hal penggunaan kemasan kresek dan kemasan lainnya. Sebenarnya secara umum UU no 18 tahun 2008 sudah mencakup upaya pengurangan kemasan plastik (dan kemasan berbahaya lainnya) dari awal. Namun tampaknya di Indonesia perlu perjalanan yang panjang untuk merincikannya ke dalam peraturan-peraturan yang lebih teknis di daerah dan juga upaya yang panjang untuk membangun kesadaran warganya. 

Namun jangan putus asa! Mari kita berproses sesuai porsi masing-masing. Secara individu kita dapat melakukannya. Karena kalau hanya mengandalkan urusan kebijakan beres di Indonesia, bisa lama (pisan) prosesnya. Mari kita lakukan dengan prinsip 3M-nya Aa Gym tea: mulai dari yang terkecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang. Contoh paling gampang, saya terbiasa membawa zero waste kit (seperti misting, tas kain dan tumbler). Dan saya lihat, aktivitas pencegahan sampah dari awal itupun mulai dilakukan oleh segelintir warga Bandung. 

Proses penyadaran bagi masyarakat dan advokasi kebijakan perlu berjalan bersamaan. Keduanya perlu waktu dan proses. Beberapa organisasi lingkungan di bandung dan juga banyak elemen masyarakat lainnya sekarang memulai upaya kampanye di 2 aspek tersebut. Ada yang bergerak di aspek kebijakan dengan membuat petisi seperti yang dilakukan oleh GIDKP. Mereka memperjuangkan peraturan yang bertujuan untuk mengurangi dan mencegah dipakai kantong plastik dengan cara stop memberikan kantong plastik gratis. Silakan bisa diintip dan didukung  di siniEdukasi terhadap pengurangan sampah dari awal pun menjadi fokus kampanye yang sedang dilakukan oleh YPBB (tempat saya beraktifitas beberapa tahun ini). Beberapa tahun terakhir ini, YPBB pun mulai memasuki aspek kampanye kebijakan seperti terlibat dalam penyusunan masterplan persampahan kota Bandung dll. 

Demikian cerita hari ini :) Punya cerita keberhasilan dalam pengelolaan sampah kota? Yuk berbagi juga cerita anda!


Sumber foto: koleksi pribadi Cimot (kecuali foto peta) 

Saturday, 2 May 2015

Malu sama Kucing

Jadi anak baik gaboleh menangis
Malu sama kucing
Meong-meong-meong


Pada pernah denger lagu itu kan? Yang belum sempet denger, silaken play di bawah ini :)



Itu lagu yang sempet ngehits beberapa waktu yang lalu. Nah, lagu ini menggambarkan kedekatan hubungan kucing dengan manusia. Anak kecil aja udah diajarin malu sama kucing hehehe.

Terkait dengan itu, saya jadi inget jaman kecil. Salah satu cita-cita saya adalah ingin menjadi pengurus kucing! Hahaha. Beneran! Sempat bikin dan memakai name tag dari kertas dan pake penitik. Tulisan di name tag nya: PENGURUS KUCING. Ditulis pakai pulpen. Gatau kenapa, kepikiran dan tiba-tiba melakukan hal semacam itu.

Di rumah, sejak kecil memang banyak kucing. Pada jaman kejayaannya, kucing di rumah sampai belasan ekor. Itu kucing kampung semua. Mereka bebas datang dan pergi. Tapi karena selalu dikasi makan secara rutin, ya mereka balik lagi semua ke rumah. Rasanya dulu seru punya banyak kucing. Sampeka ngajajar pada makan berjamaah. Ga kebayang, dulu berapa biaya yang dikeluarkan buat beli ikan kucing. Piringnya pakai piring seng. Sehingga kalau ada acara makan yang piringnya pakai piring seng, saya langsung kebayang bahwa "itusih piring kucing".

foto diambil dari sini


Tadi buka-buka bentar album foto jaman kecil. Dan menemukan 1 foto lagi unyek-unyekan sama kucing.

Album fotonya sempet kehujanan dan eta aurattt! Gpp lah ya, da masih di bawah umur

Ya memang, kucing sangat dekat dengan keseharian kita. Sekarang di rumah hanya ada 1 kucing. Selalu ada sepanjang waktu kayaknya. Sebelum kucingnya mati, biasanya kucing pengganti sudah datang. 

Kucing tuh emang binatang yang cocok jadi peliharaan di rumah karena bisa diunyek-unyek. Ini dia kucing yang sekarang eksis warawiri di rumah. Tepatnya ini kucing peliharaan ade dan tapi ahirnya semua orang di rumah merasa memilikinya. Gendut pisan. Namanya Bubu. 





Fenomena baru terkait kucing jaman sekarang paling tidak ada 3. 

Pet shop
Sekarang mulai menjamur pet shop. Mulai dari jualan kucingnya, pakannya, mainannya, pasir buat BAB, sabun mandi bahkan bajunya. Dulu sih, karena kucingnya pun kucing kampung, cukup dikencar dan makanannya pun dibelikan asin/atau ikan di warung. Pet shop ini sekarang mudah ditemui di kawasan perkotaan. 

Salon kucing
Tadi googling bentar dan sekilas melihat ada jasa salon yang bisa dipanggil, ada yang kucingnya bisa diantar jemput dan ada yang seperti salon biasa alias, kucingnya yang dateng ke salon. Apa saja aktivitas persalonan tersebut? Ada mandi, sisir, potong kuku dl. Aya-aya wae dan tentunya ada sejumlah uang yang perlu dialokasikan khusus oleh para pemilik kucing jaman sekarang. 

Menjamurnya perkucingan di medsos
Beberapa akun di instagram bahkan khusus memuat tentang tampang lucu si kucing. Ini dipermudah dengan mudahnya akses internet dan juga kamera yang biasanya sudah tertanam di smartphone. Sekarang cukup jepret dan upload. 




Punya pengalaman menarik saat mengurus kucing? Mari berbagiii :) 

Saturday, 25 April 2015

#kerjabakti Menanam Pisang di balik Café-Cafean KBU


Yang orang Bandung, mungkin mengenal poster ini




Ya! Ini semangat yang disebar oleh Walikota Ridwan Kamil untuk kegiatan beberes kota. Dalam rangka mau KAA. Event seharian (PP dan tanpa menginap) yang menguras banyak energi warga sekota-eun. 

Di kabupaten sebelahnya, tepatnya di Kabupaten Bandung, di area yang dikenal sebagai Kawasan Bandung Utara, tepatnya di area Sekepicung, dilakukan juga kegiatan #kerjabakti pada tanggal 19 April 2015. Yang pasti bukan ikut-ikutan sama kang Emil. Di daerah sini sekelompok warga yang tergabung dalam organisasi Passer sudah terbiasa #kerjabakti dalam berbagai macam hal.

Yang unik adalah: mereka kebanyakan “mantan preman”, pake tato-tatoan tapi kebanyakan beralih menjadi saroleh dan kemudian bermanfaat bagi warga sekitar. Cerita tentang Passer nanti belakangan ya. Ini sebagian anggota Passer yang ikut #kerjabakti. Yang lain tidak ada di TKP karena kebagian tugas mencari dan mengambil tunas pisang. 




Kegiatan perdana mereka yang saya ikuti adalah #kerjabakti Menanam Pisang di balik Café-Cafean KBU. Semua berasal dari sumber daya anggota Passer. Mulai dari tenaga untuk bebersih lahan, tenaga untuk ambil dan angkut tunas pisang, udunan biaya konsumsi dan lahan yg digarap milik keluarga kang Kunye. Sampai saat masih gratis bisa dipergunakan.

Ini jalan menuju ke area tanamnya. Mudun dan ngos-ngos-an pas naek.



Lahan yang bisa digarap sebenarnya cukup luas. Lahan yang katanya pengen dibuat menjadi pertanian terpadu adalah lahan yang berumpak-umpak. Akan mulai digarap bulan dan tahun selanjutnya. Lahan ini adalah lahan gamblung. Maksudnya, lahan yang tidak diolah alias diantep. Sudah 15 tahun dibiarkan.  


Teu bisaeun motona. Pada intinya berumpak-umpak ke bawah.


Dan ini lokasi yg sedang digarap untuk ditanami pisang, tepat bersebelahan dengan rumahnya kang Kunye.



Kegiatan diawali dengan bebersihin lahan. Pake arit, pacul, golok milik masing-masing.


Arif, salah satu relawan Passer, ikut sibuk ngarit.  



Setelah mulai bersih, kegiatan dilanjut dengan macul untuk bikin lubang-lubang yg akan ditanami tunas pisang.




Jarak antar lubang katanya sekitar 1 meter. Atau diukur kira-kira pakai panjang tangan.


Jarak tanam


Saat ini, tanahnya relatif subur. Jadi pupuknya cukup ditaburi abu bakaran daun-daun dan ranting.

Aduh blurrrrrr 


Yang pembersihan lahan dan juga nyangkul bisa banyak tangan.Tapi yg bagian nyecebkeun pohon special. Hanya dipegang 1 orang saja yang sudah terbiasa supaya peluang jadinya besar.



Kemudian acara dilanjutkan dengan masak di kebon. Kompor gas yang di dapur sampai ditarik supaya masaknya rame-rame di kebon dan tak menyendiri. Rupanya acara masak di kebon, baru kejadian pertama kali. Keluarga kang Kunye pun belum pernah. Passer juga blm pernah




Dan ditambah dengan bikin hawu dadakan.



eta peda beuleum ngadadahan pemiarsa!


Taraaaaa! Inilah belasan tunas pisang yang sudah mulai ditanam





Sekarang saat yang dinanti-nanti! Makan liwet berjamaah. Sebenernya saya sudah cukup sering ngaliwet dan makan pakai alas daun pisan. Yang beda adalah kegiatan ngeliwetnya live di kebon dan juga nu ngeunah pisuuuunn dan bikin ketagihan adalah si nasi dikasi minyak jelantah bekas goreng asin. Eta juara pisan!
*lupakan bahaya kolesterol dkk hahaahha



Ini masih pose sopan. Beberapa menit kemudian ganti pose: makan sambil jongkok. Ngikutin pose bapak-bapak yang lain. Walhasil makan banyak dan berasa gak kenyang-kenyang


Yuk, kapan-kapan ikut #kerjabakti lagi di area Sekepicung bersama teman-teman Passer!