Saturday, 23 May 2015

Rarakitan dan Diculik Pak RT!

Beberapa minggu yang lalu, saya dan beberapa teman tugas ke lapangan menyebar kuisioner di daerah Pangalengan.

Apa yang seru di Pangalengan? Keasyikan yang pertama adalah kita nginepnya pinggir situ Cileunca. 


Keren kaaaan? Kalau motonya lebih jago lagi, bisa kaya pemandangan di kalender

Bangun tidur - buka tenda - taraaaaa langsung pemandangan keren!

Sempat juga main rakit pas istirahat. Tepatnya si rakit dilepas dan kemudian kita didorong ke tengah danau tanpa punya bekal dayung. Rameeee barijeung sieun ga bisa balik dan juga sieun titeuleum. Makaning gak bisa berenang. 

Ini pas rakitnya mulai dilepas (dok: Gundil)

Ini pas di tengah lagi kukulibekan (dok: Gundil)

Kukulibekan tapi sempet keneh foto-foto 

Pokonya akhirnya bisa sampai lagi ke darat walaupun si sayah mah bagian cicing weh di tengah. Da kalo duduknya geser-geser, bisa perahunya ga seimbang. Dan juga sieun karena gak bisa berenang hahaah. 

Besoknya bagian petualangan kedua: kita berempat diculik pak RT! Diculik pakai tanda petik yah. Karena pada seneng juga sih diculik hehehhe.. Ketika akan menyebar kuisioner, kita diajak dulu mengenal kondisi di sekitar wilayah RT tersebut.

Dari area yang dihuni oleh penduduk, kemudian diajak melihat perjalanan sampah yang ada di sungai. 

Sampah itu kemudian numpuk di sini

dan juga sampah ngagupluk di situ



Dilanjut nyebrang jembatan yang sudah mulai reyot


Ternyata nyambung ke bukit-bukit (Dok: Tiwi)


Pemandangan sekitar bukit (Dok: Tiwi)

Mau kemanakah kita? Saatnya diculik dan menemukan hal-hal menarik sepanjang jalan. 

Pipa air dari gebog pisang!

Mata air! Jernih pisan

Kontras banget ketika sudah mulai banyak campur tangan manusia. Sampah dimana-mana!

Untuk kepentingan pembangkit listrik, air dibendung dan sebelumnya disaring dulu supaya tak ada sampah

Dan sampahnya ditumpuk sampai membentuk "daratan" baru (dok: Tiwi)

Kemanakah air itu kemudian menuju? Dia dialirkan ke pipa-pipa besar yang dibuat menurun untuk memanfaatkan energi gravitasinya. Lumayan leklok tuur menuruninya. Seru-seruuuu!

Pipa dengan tangga seribu (lebih dari seribu kayanya)


Belum selesai aksi penculikan, pak RT membawa kami ke Curug Ceret. Mengapa dinamakan demikian? Karena airnya mencepret-cepret sehingga ceret kena ke orang yang disekitarnya. Lelah karena perjalanan panjang langsung hilang rasanya berganti dengan kesegaran yang ditawarkan oleh curug ini. 

Curug dari kejauhan

Dipandang dari arah bawah! Ceret alias ciprat-ciprat air!

Itu kami was-was! Soalnya tugas kuisioner masih banyak dan malah diculik. Tapi pak RT menjamin jam 1 akan dimulai proses kerja ngejar kuisioner. Ternyata tanpa diduga (dan pasti sudah diskenariokan oleh-Nya), muncullah mobil tebengan. Kalau engga, kami harus naik lagi tangga yang banyak itu untuk motong jalan. Dilanjut jalan kaki rada banyak lagi, sampailah kami ke lokasi warga lagi. 

Beres petualangan ulin hari ini!

Kapan lagi kita diculik pak RT? 
(diculik tapi kalahkah atoh hehehehe)




Thursday, 14 May 2015

Belanja di Portugal Yuk!

Dari obrolan di grup whatsApp alumni SMP sekitar dua minggu yang lalu, saya menemukan cerita menarik terkait kemasan makanan di Portugal. Dalam tulisan ini, saya berkolaborasi dengan Rizki alias Cimot sebagai narasumber. Lebih tepatnya: saya merapikan celotehan di grup tersebut ditambah dengan hasil wawancara dengan Cimot. 

Cimot adalah teman se-SMP yang saat ini sedang bekerja di perusahaan multinasional di Portugal. Perusahaan ini yang terletak di Setubal, Portugal. Cimot tinggal di sebuah apartemen di pusat kota Setubal. Kota ini terletak di 60 km sebelah selatan ibukota Lisbon.



Dimanakah Portugal itu? Untuk mengingatnya, mari kita lihat di peta berikut.





Tukang makanan di daerah Cimot tinggal bertebaran dan tersedia untuk setiap waktu makan. Pagi, siang ataupun malam selalu ada. Tapi Cimot lebih memilih sering masak karena masak adalah salah satu hobinya. Masak juga katanya bisa lebih murah dan menekan pengeluaran, Dan yang terpenting adalah: dengan masak sendiri, bisa memastikan kehalalannya. Maklumlah, di Portugal Islam hanya dianut oleh sekitar 0,47% penduduk saja. 

Dengan penganut Islam yang minoritas tersebut, tentunya tidaklah mudah untuk menemukan makanan dengan stamp halal. Namun bukan berarti tidak ada. Portugal sendiri memiliki badan sertifikasi halal yang bernama Instituto Halal de Portugal. Badan ini memberikan sertifikasi halal terhadap produk-produk lokal. Di supermarket ada tersedia daging sapi, dan daging unggas ( ayam atau kalkun ) dengan stamp halal dari Instituto Halal de Portugal.

Terkait masak-memasak, Cimot menceritakan pengalamannya ketika berbelanja untuk memasak baso. Letak pasar cukup dekat dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 5 menit. Terkait jalan kaki, walaupun hampir semua warga Portugal memiliki mobil, masih banyak yang suka berjalan kaki untuk keperluan yang jaraknya dekat, atau menggunakan alat transportasi umum. Kondisi ini terjadi kemungkinan karena harga BBM sangat mahal ( sekitar 1.7-1.9€ ) belum lagi tarif parkir yang bisa mencapai hampir 1€ per jam.

Jarak pasar yang relatif dekat ini, sebenarnya 11-12 dengan jarak rumah saya ke pasar terdekat. Tapi isi dalam pasarnya beda banget hehehe. Kalau lihat dari gambarnya tampak bersih. Keren!


Bagian depan pasar

Cewe rambut panjang ini tukang buahnya. Keren pan?
*ceuk Cimot kurang lebih gitu heheheeh*

Kondisi di lapak ikan yang tampak bersih dan enakeun

Ikan-ikan yang pikabitaeun


Kondisi di lapak tukang daging


Teman-teman di grup langsung memberikan pandangan positif terhadap pasar yang diceritakan. Kebanyakan mereka menyoroti aspek kebersihan dan kenyamanan pasar yang bila  dibandingkan dengan pasar di Bandung dan sekitarnya, bagaikan bumi dan langit alias beda banget!

Ada 1 gambar yang kemudian membuat saya penasaran. Amati baik-baik gambar di bawah ini dan coba hitung berapa orang yang bawa tas kain sendiri. 




Beberapa orang tampak membawa tas kain kan ya? 

Nah, dari gambar tersebut saya coba tanya ke Cimot.Ternyata, di Portugal, membawa tas kain atau kemasan makanan adalah sebuah "keharusan". Contohnya ketika beli sayur, karena agak basah dan perlu pakai keresek, maka Cimot bawa tas kresek sendiri. Reuse dari kresek yang sudah ada. 





Pamer dulu baso made in Cimot. Nyam!

Mengapa membawa tas kain atau kemasan makanan adalah sebuah "keharusan"? Karena keresek di sana tidak ada yang gratisan tapi perlu dibeli seharga 10 sen - 50 sen atau dengan kurs 1€ = 14.000 rupiah, maka harga tas kresek di Portugal sekitar 1.400 hingga 7.000. Lumayan nguras dompet kan ya? Bayangkan, berapa uang yang perlu dikeluarkan bila dalam sekali belanja digunakan 5 keresek baru! 5 keresek itu seperti kalau kita belanja di mini/supermarket di Bandung! Sabun dipisah, telur pisah, makanan kotakan dipisah, sayur dipisah, semua dipisah. Belum lagi pembeli di Bandung beberapa rewel ingin mendobel kresek belanjaannya. 

Mengapa harga kresek di Portugal mahal? Salah satu teman Cimot, mengatakan bahwa harga kresek di Portugal sangat mahal karena harganya tidak hanya mencakup harga kresek, tetapi juga ditambahkan untuk retribusi pengolahan limbah plastik.

Gambaran prosesnya, bahan makanan akan ditimbang di timbangan elektronik sehingga hasilnya lebih akurat. Sepanjang pengalaman Cimot, dia tidak pernah menemukan timbangan analog di toko kecil (semacam warung) sekalipun. Di Portugal juga ada undang undang yang mengatur bahwa pedagang wajib menginformasikan harga barang per satuan ( €/kilo atau €/liter ) kepada konsumen.

Setiap selesai transaksi di pasar, pedagang hanya akan memberikan barangnya saja. Tidak ada penjual yang otomatis memberikan kresek. Kalau mau kresek, ya harus beli. Itupun tidak semua pedagang menjual tas kresek ini. Kondisi yang sudah umum ini pada akhirnya membuat para pembeli mau tidak mau perlu membawa tas/keresek sendiri. Contohnya seperti Cimot yang membawa perangkat tas selendang dan kreseknya saat akan membeli sayur di pasar. 

Kresek reuse dan tas (pakai versi selempang biar tampak muda cenah) 

Ini gambaran kondisi di luar sana yang membuat warganya (yang sudah sadar/belum terhadap kelestarian lingkungan) mau tidak mau akan ikut berusaha mengurangi penggunaan kresek dari awal. Sistem membuat mereka menjadi seperti itu. 

Terkait kebiasaan mengurangi sampah kemasan dari awal, rupanya tidak hanya terjadi pada kresek saja. Tetapi ini terjadi juga pada kebiasaan membawa misting saat akan membeli makanan. Namun hal ini tidak umum dilakukan, karena biasanya penjual menyediakan kemasan makanan khusus untuk take away.




Cerita dari Pasar Portugal ini, sedikit banyak memberikan gambaran pada kita bahwa pengurangan sampah dalam upaya pemulihan kondisi lingkungan adalah sesuatu yang NYATA dan BISA DILAKUKAN selama ada niat yang cukup kuat untuk menjalankannya. Dalam hal ini ada 2 aspek yang berperan yaitu aspek peraturan (yang dijalankan) dan juga kesadaran warganya. 

Setelah mampir sejenak ke Pasar di Portugal, yuk kita balik lagi ke Bandung..... 

Kota Bandung belum memiliki aturan (yang dijalankan) seperti di Portugal dalam hal penggunaan kemasan kresek dan kemasan lainnya. Sebenarnya secara umum UU no 18 tahun 2008 sudah mencakup upaya pengurangan kemasan plastik (dan kemasan berbahaya lainnya) dari awal. Namun tampaknya di Indonesia perlu perjalanan yang panjang untuk merincikannya ke dalam peraturan-peraturan yang lebih teknis di daerah dan juga upaya yang panjang untuk membangun kesadaran warganya. 

Namun jangan putus asa! Mari kita berproses sesuai porsi masing-masing. Secara individu kita dapat melakukannya. Karena kalau hanya mengandalkan urusan kebijakan beres di Indonesia, bisa lama (pisan) prosesnya. Mari kita lakukan dengan prinsip 3M-nya Aa Gym tea: mulai dari yang terkecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang. Contoh paling gampang, saya terbiasa membawa zero waste kit (seperti misting, tas kain dan tumbler). Dan saya lihat, aktivitas pencegahan sampah dari awal itupun mulai dilakukan oleh segelintir warga Bandung. 

Proses penyadaran bagi masyarakat dan advokasi kebijakan perlu berjalan bersamaan. Keduanya perlu waktu dan proses. Beberapa organisasi lingkungan di bandung dan juga banyak elemen masyarakat lainnya sekarang memulai upaya kampanye di 2 aspek tersebut. Ada yang bergerak di aspek kebijakan dengan membuat petisi seperti yang dilakukan oleh GIDKP. Mereka memperjuangkan peraturan yang bertujuan untuk mengurangi dan mencegah dipakai kantong plastik dengan cara stop memberikan kantong plastik gratis. Silakan bisa diintip dan didukung  di siniEdukasi terhadap pengurangan sampah dari awal pun menjadi fokus kampanye yang sedang dilakukan oleh YPBB (tempat saya beraktifitas beberapa tahun ini). Beberapa tahun terakhir ini, YPBB pun mulai memasuki aspek kampanye kebijakan seperti terlibat dalam penyusunan masterplan persampahan kota Bandung dll. 

Demikian cerita hari ini :) Punya cerita keberhasilan dalam pengelolaan sampah kota? Yuk berbagi juga cerita anda!


Sumber foto: koleksi pribadi Cimot (kecuali foto peta) 

Saturday, 2 May 2015

Malu sama Kucing

Jadi anak baik gaboleh menangis
Malu sama kucing
Meong-meong-meong


Pada pernah denger lagu itu kan? Yang belum sempet denger, silaken play di bawah ini :)



Itu lagu yang sempet ngehits beberapa waktu yang lalu. Nah, lagu ini menggambarkan kedekatan hubungan kucing dengan manusia. Anak kecil aja udah diajarin malu sama kucing hehehe.

Terkait dengan itu, saya jadi inget jaman kecil. Salah satu cita-cita saya adalah ingin menjadi pengurus kucing! Hahaha. Beneran! Sempat bikin dan memakai name tag dari kertas dan pake penitik. Tulisan di name tag nya: PENGURUS KUCING. Ditulis pakai pulpen. Gatau kenapa, kepikiran dan tiba-tiba melakukan hal semacam itu.

Di rumah, sejak kecil memang banyak kucing. Pada jaman kejayaannya, kucing di rumah sampai belasan ekor. Itu kucing kampung semua. Mereka bebas datang dan pergi. Tapi karena selalu dikasi makan secara rutin, ya mereka balik lagi semua ke rumah. Rasanya dulu seru punya banyak kucing. Sampeka ngajajar pada makan berjamaah. Ga kebayang, dulu berapa biaya yang dikeluarkan buat beli ikan kucing. Piringnya pakai piring seng. Sehingga kalau ada acara makan yang piringnya pakai piring seng, saya langsung kebayang bahwa "itusih piring kucing".

foto diambil dari sini


Tadi buka-buka bentar album foto jaman kecil. Dan menemukan 1 foto lagi unyek-unyekan sama kucing.

Album fotonya sempet kehujanan dan eta aurattt! Gpp lah ya, da masih di bawah umur

Ya memang, kucing sangat dekat dengan keseharian kita. Sekarang di rumah hanya ada 1 kucing. Selalu ada sepanjang waktu kayaknya. Sebelum kucingnya mati, biasanya kucing pengganti sudah datang. 

Kucing tuh emang binatang yang cocok jadi peliharaan di rumah karena bisa diunyek-unyek. Ini dia kucing yang sekarang eksis warawiri di rumah. Tepatnya ini kucing peliharaan ade dan tapi ahirnya semua orang di rumah merasa memilikinya. Gendut pisan. Namanya Bubu. 





Fenomena baru terkait kucing jaman sekarang paling tidak ada 3. 

Pet shop
Sekarang mulai menjamur pet shop. Mulai dari jualan kucingnya, pakannya, mainannya, pasir buat BAB, sabun mandi bahkan bajunya. Dulu sih, karena kucingnya pun kucing kampung, cukup dikencar dan makanannya pun dibelikan asin/atau ikan di warung. Pet shop ini sekarang mudah ditemui di kawasan perkotaan. 

Salon kucing
Tadi googling bentar dan sekilas melihat ada jasa salon yang bisa dipanggil, ada yang kucingnya bisa diantar jemput dan ada yang seperti salon biasa alias, kucingnya yang dateng ke salon. Apa saja aktivitas persalonan tersebut? Ada mandi, sisir, potong kuku dl. Aya-aya wae dan tentunya ada sejumlah uang yang perlu dialokasikan khusus oleh para pemilik kucing jaman sekarang. 

Menjamurnya perkucingan di medsos
Beberapa akun di instagram bahkan khusus memuat tentang tampang lucu si kucing. Ini dipermudah dengan mudahnya akses internet dan juga kamera yang biasanya sudah tertanam di smartphone. Sekarang cukup jepret dan upload. 




Punya pengalaman menarik saat mengurus kucing? Mari berbagiii :) 

Saturday, 25 April 2015

#kerjabakti Menanam Pisang di balik Café-Cafean KBU


Yang orang Bandung, mungkin mengenal poster ini




Ya! Ini semangat yang disebar oleh Walikota Ridwan Kamil untuk kegiatan beberes kota. Dalam rangka mau KAA. Event seharian (PP dan tanpa menginap) yang menguras banyak energi warga sekota-eun. 

Di kabupaten sebelahnya, tepatnya di Kabupaten Bandung, di area yang dikenal sebagai Kawasan Bandung Utara, tepatnya di area Sekepicung, dilakukan juga kegiatan #kerjabakti pada tanggal 19 April 2015. Yang pasti bukan ikut-ikutan sama kang Emil. Di daerah sini sekelompok warga yang tergabung dalam organisasi Passer sudah terbiasa #kerjabakti dalam berbagai macam hal.

Yang unik adalah: mereka kebanyakan “mantan preman”, pake tato-tatoan tapi kebanyakan beralih menjadi saroleh dan kemudian bermanfaat bagi warga sekitar. Cerita tentang Passer nanti belakangan ya. Ini sebagian anggota Passer yang ikut #kerjabakti. Yang lain tidak ada di TKP karena kebagian tugas mencari dan mengambil tunas pisang. 




Kegiatan perdana mereka yang saya ikuti adalah #kerjabakti Menanam Pisang di balik Café-Cafean KBU. Semua berasal dari sumber daya anggota Passer. Mulai dari tenaga untuk bebersih lahan, tenaga untuk ambil dan angkut tunas pisang, udunan biaya konsumsi dan lahan yg digarap milik keluarga kang Kunye. Sampai saat masih gratis bisa dipergunakan.

Ini jalan menuju ke area tanamnya. Mudun dan ngos-ngos-an pas naek.



Lahan yang bisa digarap sebenarnya cukup luas. Lahan yang katanya pengen dibuat menjadi pertanian terpadu adalah lahan yang berumpak-umpak. Akan mulai digarap bulan dan tahun selanjutnya. Lahan ini adalah lahan gamblung. Maksudnya, lahan yang tidak diolah alias diantep. Sudah 15 tahun dibiarkan.  


Teu bisaeun motona. Pada intinya berumpak-umpak ke bawah.


Dan ini lokasi yg sedang digarap untuk ditanami pisang, tepat bersebelahan dengan rumahnya kang Kunye.



Kegiatan diawali dengan bebersihin lahan. Pake arit, pacul, golok milik masing-masing.


Arif, salah satu relawan Passer, ikut sibuk ngarit.  



Setelah mulai bersih, kegiatan dilanjut dengan macul untuk bikin lubang-lubang yg akan ditanami tunas pisang.




Jarak antar lubang katanya sekitar 1 meter. Atau diukur kira-kira pakai panjang tangan.


Jarak tanam


Saat ini, tanahnya relatif subur. Jadi pupuknya cukup ditaburi abu bakaran daun-daun dan ranting.

Aduh blurrrrrr 


Yang pembersihan lahan dan juga nyangkul bisa banyak tangan.Tapi yg bagian nyecebkeun pohon special. Hanya dipegang 1 orang saja yang sudah terbiasa supaya peluang jadinya besar.



Kemudian acara dilanjutkan dengan masak di kebon. Kompor gas yang di dapur sampai ditarik supaya masaknya rame-rame di kebon dan tak menyendiri. Rupanya acara masak di kebon, baru kejadian pertama kali. Keluarga kang Kunye pun belum pernah. Passer juga blm pernah




Dan ditambah dengan bikin hawu dadakan.



eta peda beuleum ngadadahan pemiarsa!


Taraaaaa! Inilah belasan tunas pisang yang sudah mulai ditanam





Sekarang saat yang dinanti-nanti! Makan liwet berjamaah. Sebenernya saya sudah cukup sering ngaliwet dan makan pakai alas daun pisan. Yang beda adalah kegiatan ngeliwetnya live di kebon dan juga nu ngeunah pisuuuunn dan bikin ketagihan adalah si nasi dikasi minyak jelantah bekas goreng asin. Eta juara pisan!
*lupakan bahaya kolesterol dkk hahaahha



Ini masih pose sopan. Beberapa menit kemudian ganti pose: makan sambil jongkok. Ngikutin pose bapak-bapak yang lain. Walhasil makan banyak dan berasa gak kenyang-kenyang


Yuk, kapan-kapan ikut #kerjabakti lagi di area Sekepicung bersama teman-teman Passer!  






Friday, 27 February 2015

Beli Saos tapi #ZeroWaste

Saos sambel dan saos tomat adalah beberapa benda yang wajib hadir di dapur sebagai perangkat masak-memasak. Di rumah suka dipakai jadi coelan bakwan ataupun jadi bumbu masak untuk nasi goreng, tumis dan sebagainya. Peranannya kurang lebih seperti kecap,

Kemasan saos sambel ini bermacam-macam. Yang lazim ditemui di warung-warung biasanya berupa sachet (ini paling banyak dibeli juga kayanya oleh orang-orang Indonesia yang pada ketagihan kemasan kecil) dan botol plastik.


bukan iklan, seketemunya gugling (sumber dari sini)
 

Kemasan lainnya seperti kemasan refil berbahan plastik dan botol kaca biasanya jarang tersedia di warung dan hanya bisa ditemui di super/minimarket. 

Karena saos sambel ini merupakan kebutuhan yang rutin dipakai, mau tidak mau perlu mulai dipikirkan kemasan terbaik yang tidak merusak lingkungan. 

Kalau sachet sih, alhamdulillah sudah tidak pernah pakai. Walaupun saya dulu pengedar sachet saos sambel. Jaman baheula itu mah, pas jaman dagang roti isi sosis. Jadi tiap orang yang beli roti sosis dapat bonus saos sachet. Layanan lah pokonya itu mah, biar konsumen bahagia. Teu kapikiran bahwa itu teh artinya saya ikut berkontribusi menambah jumlah sampah kota. Padahal rotinya sudah tanpa kemasan karena saya bawa dalam misting-misting besar. Sambal dalam botol plastik dulu digunakan di rumah. Tapi itu dulu. 

Terahir saya rutin beli saos sambel dalam botol kaca. Perlu punya uang lebih banyak karena (rasanya) lebih mahal dibanding beli botolan plastik atau sachet. Gak pernah ngitung bener-bener, cuma yang kepikir saat saos mulai sedikit di dapur adalah: saya perlu keluar uang rada banyak (gak bisa cuma punya maratus atau seribu) dan perlu pergi ke mini/supermarket untuk membelinya. 

Rasanya udah gagah deh kalau pakai botol kaca. Karena botol tersebut bisa dipakai ulang untuk kepentingan lain. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya menemukan metode baru yang tidak menghasilkan jajaran botol kaca baru di rumah. Punya botol banyak-banyak teuing juga da buat apa.

Saya mencoba membeli saos sambel di pasar. Sebagian pedagang di pasar menyediakan saos sambel dalam kemasan jerigen.


Foto dari sini
  

Gak langsung berhasil. Pertama kali coba, secara pede saya membawa botol kaca bekas saos sambel ke pasar.




Ternyataaaaaa, karena pedagang yang saya temui tidak menyediakan corong untuk memasukkan saos ke dalam botol. Padahal timbangannya sudah timbangan elektrik yang bisa lebih presisi (bisa me-nol-kan wadah).

Kali itu, berhubung stok saos di rumah abis, akhirnya di kesempatan pertama tersebut, saya "terpaksa"  beli saos pakai plastik bening. (Saya beri tanda petik pada kata terpaksa karena sebenernya saya gak gitu-gitu amat butuh sambel. Cuma males weh bolakbalik deui ke pasar. Di situ saya kadang saya merasa hoream heheheh) 

Di kesempatan selanjutnya, barulah saya sukses! Dari rumah akhirnya bawa misting. Sebenernya bisa juga ya bawa corong (baru kepikir saat ngetik tulisan ini). 

Ini beberapa gambar kesuksesan tersebut :) 

misting yang sudah berisi saos sambel


lalu saos dituangkan ke dalam botol menggunakan corong

dari 1 misting hasilkan 2 botol saos dan sisa sedikit di botol jam

Tapi kisah sukses harusnya gak berhenti di situ. Karena saya harus naik kelas. Katanya saos sambel mengandung bahan-bahan aditif yang kurang baik untuk kesehatan, misalnya pengawetnya, pewarnanya dkk. Begitulah isi sebagian konten dari pelatihan bahaya zat aditif YPBB. 

Sehingga saya juga mulai nyetok sambel terasi juga. Bikin sendiri, jadi yakin pisan gak pake pengawet dan pewarna yang berbahaya. Walaupun terasinya sih entah heheeh. 


sambel rumahan

Stok saos sambel tetap tersedia dan namun sekarang mulai dihadirkan juga alternatif lain yaitu sambel rumahan. Yuk makan bareng :) 


lalab sambel, nyam-nyam!









Friday, 20 February 2015

Sesuatu dalam Pikiran Kita!

Pernahkan pada suatu masa saat anda sekolah dulu, ada trend bekel minum pakai botol AMDK bekas?

foto dari sini

Saya pernah mengalami masa itu! Lupa tepatnya, tapi itu terjadi pas jaman SD. Sebagian anak di kelas bekel minum dan pakai botol amdk bekas. Dan saya juga ikut-ikutan. Itu sebagian cerita waktu dulu dan saat pada masanya "bekel-minum" dipandang wajar. 

Kebiasaan itu rasanya masih berlanjut. Bahkan sampai kuliah. Dengan botol minum yang bervariasi. Bahkan jaman kuliah pun sampai saya sempet jualan tumbler.

Dulu tujuan bekal-membekal lebih kepada menghemat uang. Karena pada waktu itu saya gak punya uang saku. Hanya punya uang dari tabungan sebagai sisa-sisa perjuangan uang lebaran. Proses jualan tumbler dan misting,  itu jelas-jelas tujuannya adalah mencari uang tambahan karena uang dari masa ke masa selalu saja kurang. 

Sekarang, alias 2015 ini, saya masih juga ngebekel minum. Dari penampakan luar, perilakunya masih sama seperti dulu: saya rutin bawa bekal minum dan pakai tumbler yang bervariasi. Mengapa tumblernya bervariasi? Satu masa biasanya hanya punya 1 tumbler. Gonta-ganti karena tumblernya sering ketinggalan dan akhirnya dianggap hilang. 


Tumbler yang sedang dipakai saat ini (statusnya lagi ketinggalan di tukang fotocopyan)

Perilaku dulu dan sekarang bisa tampak sama, namun mulai ada sesuatu dalam pikiran saya yang kemudian membuatnya menjadi lebih bernilai. Sekarang saya masih tetep bekal minum untuk menghemat uang. Tapi ada nilai tambahnya: saya ngebekel minum karena mendapatkan cara pandang baru dari pengetahuan dan pengalaman baru tentang pentingnya upaya pengurangan plastik sekali pakai dari awal!

Sumber cara pandang baru itu didapat dari dari aneka pelatihan di YPBB dan diskusi informal/formal terkait. Bonus lain: sekarang banyak aneka media yang didesain cukup menggugah sehingga berbagai pemikiran mulai berkeliaran di otak. Aneka hal baru tersebut akhirnya mendorong cara pandang baru saat melakukan kebiasaan lama (yang beberapa diantaranya sejalan dengan upaya pengurangan sampah dari awal).  


Sunday, 1 February 2015

Terkesan Judes dan Mau-Makan-Anak-Kecil?

Pas bongkar-bongkar file di laptop, nemu file ini!



Gak usah diklik dan dicoba baca, karena emang bukan buat dilihat. Itu adalah 1 file yang berisi rangkuman tentang si anil dari sudut pandang orang lain.

Lupa dibikin tahun berapa. Yang pasti jaman pakai HP nokia yang cuma bisa sms dan telpon (sebelum 2014). Ceritanya dulu bikin survey lucu-lucuan ke beberapa orang yang dikenal (banyak sih, ada mungkin 100 orang). Survey dilakukan via sms. Kurang lebih pertanyaannya: apa sih sisi positif dan negatif si anil?

Dan jawabannya kemudian didokumentasi di file word. Yang saya bahkan sampe lupa pernah nyalin hasil angket tersebut.

Kebayang leukleukna! Mulai dari sms-in satu-satu, trus bacain jawabannya dan kemudian nyalin manual jawaban dari para pamiarsa. Helllowwww, meni rajin dan kepikiran bikin begituan. Saya sampe heran sendiri pas baca ulang filenya.

Dari beberapa hal positif negatif versi orang-orang tersebut, saya bakal bahas beberapa yang unik. Buat lulucuan ajasih, tapi mudah-mudahan berguna buat refleksi juga.


terkesan judes dan mau makan anak kecil

Judesnya sih okelah. Pada saat tertentu saya emang suka hereng. Tapi yang gak habis pikir adalah, kok bisa-bisanya dianggap mau-makan-anak-kecil? Seserem apa sih saya dulu? hahahhaha.
Kayanya ada pengaruh dari konspirasi orang-orang dewasa juga sehingga saya dianggap seperti itu.

Contoh real: Bu Tini kalau nyuruh anaknya supaya gak nyampah, suka bilang: "nanti dimarahin sama mbak anil loh". Dan pas ada acara IYCS, saya sekamar bareng sama anak bu Tini itu. Dan anaknya dieeeeem aja. Diajak ngobrol ge anteng weh. Fantasi dia kayanya: "takut sama mbak anil". Ampun deh bu tiniiiii.

Belum lagi si Rahyang. Pas anaknya Melly ini itu, tiba-tiba dong ditakutin dengan kata-kata: "Nanti dimasukin ke takakura loh sama teh Anil".

Kebayang gak takakura? Itu kan kecil dan buat buang sampah organis (sisa-sisa makanan). Trus anak kecil mau dimasukin ke situ? Gimana caranya? Saya aja gak pernah kebayang. Tapi itu kenapa si Rahyang bisa sampai ngomong kaya gitu coba?

Konspirasi orang dewasa ini mah: sampai saya dianggap mau-makan-anak-kecil


terlalu sibuk jadi gak bisa diajak jalan2

Nah! saya juga heran dengan anggapan ini. Dulu (kan ini ceritanya periode sebelum 2014), tawaran jalan-jalan atau maen-maen atau acara reramean macem ondangan, suka dateng pada saat ada kerjaan. Kebeneran aja sih. Misalnya undangan kawinan: banyaknya sabtu minggu. Dan sabtu minggu biasanya (dulu) suka ada kegiatan pelatihan dan kawan-kawannya di YPBB. Dan karena itu jadi muncul kesan hese diajak jalan-jalan.

Padahal di YPBB, dari dulu sampai sekarang, saya dikenal suka maen-maen. Kerjaan biasanya pada gak beres, kecuali yang ada kaitannya sama maen-maen dan interaksi sama orang.

Jadi yagitulah. Kesan yang ditangkap orang lain ternyata beda dengan kenyataannya. Tergantung interaksi yang terjadi seintens apa dan pada sisi yang sebelah mana.


gak suka belanja dan cuci mata di mall/ supermarket

Nah! ini ada benarnya. Pada intinya suka lieur kalo mau beli-beli sesuatu dan milih-milih. Pengennya mah tinggal make tapi enakeun. Tapi emang saya gak kaya cewe-cewe pada umumnya yang senang liat printilan kecil-kecil dan liat baju satu-satu sampe muter-muter. Lebih ke hal yang fungsional aja. Walopun sekarang mulai belajar juga sih mengembangkan sisi ini.


SOP banget alias kaku

Dulu cenderung iya. Tapi makin ke sini, justru makin kelihatan sifat aslinya yang buyatak, acak.
Jadi itu dulu yah. Kalau terkait kaku, itu kayanya lebih kepada sifat: gamau susah. Kalau ikuti cara lama (alias kaku dan gak melakukan cara baru) itu cenderung akan merasa aman. Sekarang di kerjaan malah cenderung: senang melakukan hal-hal yang seharusnya gak dilakukan alias gada di jobdesk utama (ngetiknya sambil nyengirrrr)


gak kawin2

Beberapa orang menulis tema ini. Plisdeh. hahhaha.
Dulu emang gak pernah kedengeran cerita bahwa si anil pacaran. Boro-boro gelagat mau nikah.
Niat mah niat, tapi masih kurang kuat meureun niatnya baheula mah. Sekarang kondisinya udah beda. Ada kemajuan dikit (besar ketang). Mudah-mudahan pada dapet ondangan (atau minimal pemberitahun) tahun 2015 ini yah. Bismillah. Aminin sodarasodari :)