Sunday, 15 March 2020

Identitas Diri dan Hiatus Bekerja

Ada yang pernah nonton film ini ga? Film Romance is a Bonus Book. Saat nonton film, saya ga pernah ngapalin nama asli pemainnya, dia pernah maen di film apa dan bahkan suka lupa weh pernah nonton film apa aja. Tapi yang diingat adalah kesan-kesan pentingnya.

Di film ini, isu yang menarik, yang diangkat adalah tentang betapa sulitnya orang yang sudah tidak lama bekerja di ruang publik. Setelah sekitar 7 tahun fokus mengurus anak, rupanya banyak hal yang tak lagi dia tahu. Padahal dulunya dia wanita pekerja di dunia periklanan.

Perkembangan jaman sudah begitu pesat. Sampai sesederhana istilah jenis minuman yang disingkat, yang semua orang di tempat kerjanya, itupun menjadi pelik buatnya. Bahkan pola pikirnya masih berkutat di pola kerja lama. Seperti hanya saat dia masih bekerja sebelum menikah dulu.

Tertatih-tatih mempelajari pola kerja dan pekembangan jaman, termasuk yang paling penting adalah membangun kepercayaan diri dan merasa dirinya penting dan dapat melakukan hal yang bermakna, menjadi hal yang menarik untuk ditonton.

Sambil nonton film ini, saya jadi teringat setidaknya 2 hal. Pertama saya teringat teman kerja saya yang begitu terampil berbicara di depan umum, lalu akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja karena mengurus kedua anaknya. Berhenti bekerja kira-kira 2 tahun, namun ternyata bisa membuat dirinya tidak percaya diri lagi untuk berbicara di depan umum. Sampai-sampai dia ikut pelatihan public speaking demi membangun kemampuannya lagi. Yang asalnya jago ngomong banget itu teh.

Saya pikir, hal tersebut seperti halnya keterampilan lainnya. Bila tidak dilatihkan atau dipergunakan rutin, ya akan agak sulit untuk melakukannya lagi. Tapi fenomena ini ternyata jadi fenomena yang berulang. Setidaknya saya temui di teman saya dan juga di film tsb.

Hal lain yang menarik tentang kepercayaan diri adalah tentang identitas. Dulu saya pernah diceritain tentang reaksi ibu-ibu di kampung yang malah pada ketawa-ketawa sendiri saat diminta saling memanggil nama aslinya saat pelatihan. Padahal pan itu namanya sendiri. Tapi rupanya itu pengaruh setelah sekian lama dipanggil "mamahnya Dodi" alias diidentikkan dengan nama anak atau "Ibu Budi" alias diidentikkan dengan nama suami, membuat mereka asing dengan namanya sendiri. Atau bahkan dirinya sendiri.

Di film itu itu juga diceritakan betapa tokoh utamanya merasa bangga karena di tempat kerjanya dipanggil namanya sendiri. Bukan perkara panggilannya sih menurut saya. Tapi merasa memiliki eksistensi dirilah yang membuatnya memiliki keberartian dalam hidupnya.

Ini baru nonton episode-episode awalnya. Entah selanjutnya ada hal menarik apa lagi. Selalu ada insight yang kepikiran saat nonton. Tapi seringkali tidak dituliskan tea.

Yuk nonton lagiii~



1 comment:

  1. Yg 2 tahun aja begitu ya, apalagi saya yg udah 10 tahun 😂 udah amnesia bgt kyknya inih

    ReplyDelete