Sunday, 1 April 2018

Memasuki Dunia "Berbeda" dari Membaca


PELACUR. Sebuah profesi yang seringkali dibenci, tapi diberantas segimananya juga tetap ada. Istilah lain yang disematkan ke mereka kadang WTS alias wanita tuna susila atau PSK alias pekerja seks komersil (ada emang ya, kerjaan yang ga komersil? hehe), ada juga istilah-istilah lain yang bukan berupa singkatan misalnya lonte. 


Proses saya berinteraksi dengan isu dan apalagi para pelacur sangatlah minim. Dulu sempat tinggal sebulan di belakang area pelacuran pas jaman KKN. Penasaran, tapi akhirnya hanya sempat masuk satu kali ke salah satu "warung" dan itupun di siang hari dalam rangka sebar kuesioner sosial ekonomi. Dan sambil wawancara pemilik warung, saya sambil penasaran-penasaran tea pengen noong "ada apa sih di dalam arena pelacuran teh".

Kalau tampak luarnya, seperti warung tempat berjualan. Tapi jualannya minimalis. Yang heboh adalah saat menjelang sore saat eteh-eteh dangdan mulai ngajajar  
Eteh-eteh tersebut pada duduk manis di kursi bambu depan warung masing-masing menanti konsumen. Teman-teman lelaki saya apa pernah mencoba "icip-icip"? GATAU TAH. Yang pasti tiap kita (kita tuh maksudnya kalau saya dibonceng sama salah satu teman lelaki) mau masuk ke area tempat tinggal si eteh kadang menawarkan jasanya.

Pertemuan kedua dengan pelacur berlangsung saat seminggu menjalani masa live in di salah satu kampung miskin perkotaan, di Jakarta. Pas jaman baru-baru lulus kuliah. Itu kampung isinya macem-macem dan beberapa budayanya baru saya kenali. Mulai dari orangtua yang pagi-pagi nganter pakai motor beberapa anaknya ngamen, pulang ke rumah, santai, lalu sorenya jemput. Lalu budaya nonton dan denger musik keras-keras, padahal yaaaaaa itu pemukiman padat. Yang ditonton musik dangdut dan India, yampoooon! Anak-anak yang tukang jajan. Orangtuanya ngeluh ga punya uang, tapi frekuensi jajannya luwarrrbyasak! Banyaknya tikus gede-gede seliweran di dalam rumah dll dkk. Oh iya, sama ditambah bonus "diincer" sama salah satu mamang di lapak sampah. Sampai disamper-samper ke rumah tiap hari. Oh masa lalu~ 

Kesimpulannya, rasanya saya ga betah. Hidup terasa berjalan begitu lambat. Seumur hidup baru kali itu merasa "pengen pulang ke rumah". Biasanya kalo nginep dimanapun, anteng weh.

Untuk mempelajari pola hidup warga di lokasi itu, saya perlu banyak-banyak ngobrol dan mengamati. Termasuk kalau bisa mengikuti beberapa kegiatan masyarakat, bila memungkinkan. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah nongkrong di warung. Kalau kebetulan ada yang nyambung, ya ngobrol. Kalau engga, ya diem aja mengati. Saya pernah duduk bareng aja sama 1 perempuan yang masing muda. Pas ditanya kerjaanya apa, sambil cengar-cengir dia bilang kalau dirinya lonte. NAH SAYA GA TAU ITU APA-AN. Terus ya ahirnya ngobrol yang umum-umum aja.
Di kampung tersebut juga tinggal beberapa waria. Ga pernah ngobrol juga sih. Tapi karena rumahnya dempet-dempet dan rumah yang saya tinggali cukup dekat dengan kamar mandi umum, jadi suka denger obrolan mereka pas lagi antri. Termasuk "centil-centilnya" pas lagi nyanyi sambil mandi kedengeran. 


  • Sisanya? Kayanya saya ga pernah berinteraksi sama pelacur. Kalaupun pernah bareng, mungkin saya terlalu polos dan ga sadar lagi bareng dia 😉. 



  • Nah, di @ipusnas, saya menemukan 1 buku yang memaparkan hasil disertasi terkait dengan pelacur. Membaca buku ini mengajak saya memasuki area Kramat Tunggak sebagai dunia yang saya tak ketahui, yang menawarkan cara pandang baru. Banyak data seliweran di buku ini. Kadang beberapa saya baca cepat aja (mumet juga kan liat data ini itu sekian persen terus-terusan) dan biasanya saya lebih senang baca bagian deskripsinya atau penafsirannya. Yang menarik pada buku ini, mulai dari awal pengenalan medan, pengambilan data sampai ke pemaparan hasil, terasa maksimal. Observasi awal aja sampai "menyamar" jadi murid di area kelas pembinaannya Depsos. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Yang diwawancara bukan hanya pelacurnya saja, tapi sampai ke pemilik tempat pelacuran dan bahkan pelanggan. Peneliti bahkan sampai punya "asisten" yang profesi aslinya pelacur. Hal tersebut bisa memuluskan jalan saat pengambilan data dan juga bayangkan betapa si pelacur itu mau bela-belain bantu peneliti disamping tetap menjalani pekerjaan utamanya. Bagian yang cukup heboh juga adalah saat peneliti mencoba menyelami perasaan para pelacur tersebut dengan mencoba menginap 1 malam di area pelacuran. WOW! totalitas pisan. Padahal saat itu dia sudah bersuami dan beranak. Bahkan sampai suaminya datang menitipkan peneliti ke ibu pemilik warungnya.

  • Endang Rahayu Sedyaningsih penulisnya. Membaca buku ini, memancing saya untuk mengetahui "siapakah dia?" Dan saya baru tahu setelah googling. Rupanya peneliti sudah meninggal karena kanker paru-paru dan dulu sempat bikin heboh karena diduga sebagai "antek" Amerika namun malah diangkat jadi menteri kesehatan. Hasil penasaran itupun mempertemukan saya dengan 1 buku lagi yang ditulisnya yaitu Untaian Garnet Dalam Hidupku. Sungguh berbeda dengan buku "Perempuan-Perempuan Kramat Tunggak" yang begitu terstruktur buku ini berisi cerita tentang kesehariannya, dari masa muda sampai berkeluarga, sisi-sisi personal yang terkait dengan pekerjaan, sampai perasaan dan pemikirannya saat hari-hari terakhir hidupnya. Buku tersebut ditulis saat masa sakit mulai datang. Saat telah divonis kanker. Yang saya bayangkan saat membaca buku ini adalah EDUUUNNN sakit segitu parah aja masih bisa menghasilkan 1 buku. 

Mau baca juga? Gatau di toko buku masih ada ataukah tidak. Yang pasti di ipusnas ada beberapa bukunya yang bisa dipinjam secara gratis. Mari meluncurrrrr~

2 comments:

  1. Belum pernah masuk ipusnas. Mau coba lah. Dulu jaman kuliah pernah konsen dengan isu transgender. Sampai ikut seminarnya, hehe. Dan benar, lingkungan membentuk wawasan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayuhayu. Lumayan ipusnas nih buku-bukunyaa~

      Delete