Sunday, 28 April 2019

Budaya Ngopak di Sumedang

Lebaran sebentarrrr lagi~

Pada tau lagu itu kan? Ya memang lebaran masih lama. Puasanya aja belumm. Tapi betapa sebagian orang mulai mikirin puasa, lebaran dan berbagai aspek yang terkait di dalamnya. Iklan di TV aja udah mulai ada sirop-sirop dan temen-temennya kan?

Salah satu persiapan lebaran di lembur Sumedang adalah ngopak. Bukan beli opak atau ngemil opak! Tapi bikin opak!

Di lembur saya (ciee punya lembur) Nangkod, salah satu tradisi yang mulai ditinggalkan adalah budaya ngopak. Biasanya saat ada event istimewa, mereka akan bikin opak sebagai bahan hidangan maupun sebagai bahan kiriman dan berbagi. Event istimewa itu bisa berupa kegiatan syukuran, nikahan dan sejenisnya atapun lebaran!

Tapi seperti yang saya katakan di awal, budaya ini mulai ditinggalkan. Daripada repot-repot membuat opak, beberapa mulai ambil jalan pintas dan membeli opak yang sudah jadi. Padahal tradisi ini unik!

Salah satu bahan yang membuat opak jadi gurih adalah kelapa. Kelapa ini biasanya bukan hasil beli tapi ambil di pohon langsung. Pohonnya dari mana? Bisa ambil punya sendiri ataupun minta punya tetangga. Kejadiannya sih kemarin minta sama tetangga yang masih saudara. Tidak ditukar dengan uang, tapi nanti ditukar dengan opak yang sudah jadi. 

Kupas-kupas kelapa!

Ketan yang digunakan bisa beli di pasar, tapi bisa juga beli melalui jalur lain. Kemarin ketan dibeli lewat kakak ipar yang harganya agak miring, tapi dibeli langsung dari petaninya dan digiling. Ketan tersebut sehari sebelumnya direndam.

Yang unik lagi, ada semacam ketua pelaksana dalam kegiatan ngopak ini. Dia yang sehari sebelumnya sudah merendam ketan dan memastikan segala bahan ngopak telah tersedia. Dan masih diberi bonus jemur opaknya sampai tuntas. Orang seperti itu diperlukan untuk memastikan kualitas opak dan tuntasnya kegiatan ngopak. 

Ketan lalu dicampur dengan kelapa dan diproses dulu, ditumbuk sehingga siap dibentuk. 

Nutuan!
Sesudahnya sudah menanti beberapa ibu-ibu (beberapa diantaranya nenek-nenek) yang siap mencetak adonan tersebut menjadi opak. Ibu-ibu ini datang dengan sukarela tanpa dibayar. Mereka membantu proses pencetakan opak dan bahkan membawa ayakan besar dari rumahnya untuk menempatkan opak yang telah dicetaknya.

Awalnya dibentuk bulat-bulat
Kegiatan mencetak diawali dengan menggiling adonan. Lalu dibentuk bulat-bulat. Supaya hasilnya cukup seragam, digunakanlah tutup botol sirup. Botol sirup sebagai cetakan adalah inovasi masa kini. Pada generasi sebelumnya, dibuat tanpa cetakan, namun katanya tetap bisa dihasilkan bentuk yang cukup seragam.

Inovasi juga terjadi pada tahap selanjutnya yaitu tahap mendatarkan adonan bulat-bulan menjadi tipis layaknya opak yang biasa kita temui. Bila dulu digunakan alat pengepres yang dibuat dari kayu, saat ini cukup digunakan piring sehingga kegiatan cetak-mencetak jadi semakin mudah dilakukan. 

Pengepres opak

Piring sebagai pengepres opak
Opak yang sudah dicetak lalu tinggal ditempelkan di ayakan besar. Disusun rapi supaya cukup banyak opak yang bisa ditempel. Itulah sebabnya diperlukan banyak ayakan dan tidak perlu setiap orang memilikinya. Setiap pemilik ayakan dengan senang hati meminjamkan miliknya saat ada tetangga yang ngopak.

Tempel opak di ayakan!

Tahap selanjutnya adalah menjemur opak-opak tersebut sampai kering. Semua tentu bahagia bisa matahari bersinar terang di hari tersebut sehingga pekerjaan bisa selesai dalam sehari. Namun bisa belum benar-benar kering, besoknya proses penjemuran bisa dilanjutnya. 

Jemur Opak!
Kalau belum kering, opak biasanya dimasukkan ke dalam rumah sehingga tidak kehujanan ataupun kecipratan air hujan. 

Rumah tiba-tiba semarak opak!
Dan seluruh proses ngopak ini didukung oleh banyak pihak. Ini hanya sebagian yang terdokumentasikan. Setelah beres ngopak lalu peserta ngopak dijamu makan bersama. Nanti setelah opaknya kering, para peserta ngopak akan dibagi sedikit opak. Tentunya ini bukan upah karena jumlahnya tak seberapa. Tapi lebih kepada ungkapan terima kasih karena sudah mempercepat selesainya proses ngopak.

Sebagian peserta ngopak
Adakah tradisi seru lainnya jelang puasa dan Lebaran? Mari berbagi!

4 comments: