Showing posts with label Zero Waste. Show all posts
Showing posts with label Zero Waste. Show all posts

Sunday, 5 January 2014

Hari 1: Pesan Lingkungan? Titipkan pada Seniman (Mengenang Slamet Gundono)



Ketika tadi pagi iseng baca timeline twitter, menemukan kabar bahwa Slamet Gundono telah berpulang. Saya kemudian googling dan menemukan beritanya di 1, 2, 3

Ingatan langsung melayang ke akhir tahun 2007. Saat saya dan tim YPBB menjadi tim Zero Waste Event di acaranya tahunan UPLINK di Tugu Proklamasi (Tuprok) Jakarta. Selama sekitar seminggu kami memfasilitasi proses pengelolaan sampah di kegiatan tersebut dengan jalan meminimalkan sampah dari awal (perwakilan tim sudah merapat bareng panitia beberapa bulan sebelum kegiatan) dan juga mengajak pengunjung dari awal untuk memisahkan sampahnya. Cerita tentang keseruan mengelola event tersebut kapan-kapan saya ceritakan.

Narsis dulu bareng tim inti Bandung, sebagai yang paling cantik :)
(selain kami ber-5 ada puluhan relawan Jakarta juga yang terlibat)
Mohon maaf kalau mukanya  lalusuh, karena ini hari kepulangan kami ke Bandung setelah satu minggu bertugas. 

Tim ZWE - Tuprok 2007: Hari, Ardi, Mocha, Anil, Dody (ki-ka)

Balik lagi ke cerita tentang Slamet Gundono. 

Di acara tersebut, kami dapat kesempatan untuk menyelipkan pesan lewat berbagai jalur tentang pengelolaan sampah dan terutama ajakan kepada pengunjung untuk aktif memisahkan sampah dari awal. Salah satu jalur yang bisa diakses adalah para talent pengisi panggung. Dan salah satu seniman yang tampil di panggung adalah grup wayang suketnya Slamet Gundono. 

Saya awam terhadap seniman-seniman (kecuali yang lalu lalang di TV dan itupun gak semua hafal). Tapi kemudian mendapatkan gambaran sekilas bahwa dia seniman yang cukup diperhitungkan dan menggunakan pertunjukan wayang sebagai media penyampaian kritik-kritik cerdasnya. Gak terlalu paham juga sih, tapi ya cuek aja hehehe. Di sela-sela mas Slamet check sound, saya berkesempatan ngobrol sebentar tentang poin-poin yang ingin disampaikan.  Sebentar tuh, beneran sebentar. Gak lebih dari 10 menit dan kemudian saya diminta untuk menuliskan poin-poin penting pesannya.  

Slamet Gundono (alm) saat check sound di acara tahunan UPLINK - 2007

Sesudah diskusi tersebut, saya balik lagi ke kesibukan utama yaitu mengelola relawan dan perangkat lainnya di dalam sistem Zero Waste Event. Dan sama sekali gak kepikir tentang bagaimana si pesan tentang pengelolaan sampah itu akan disampaikan lewat pagelaran wayang nanti malam. 

Malamnya saya nonton wayangnya dan sambil harap-harap cemas menanti sisipan pesan pengelolaan sampah. Dan taraaaaaaa.....di tengah cerita, tiba-tiba ada cerita yang dimainkan oleh salah satu pemain yang menceritakan bahwa sampah itu memang perlu dikelola dan dipisahkan. Lupa persisnya bagaimana itu disisipan, yang pasti itu gak terlalu ketara sebagai pesan sponsor. Nyampur dengan jalan cerita yang ada. Ih, keren! 

Suasana Pertunjukan Wayang di acara tahunan UPLINK - 2007
Tampak Slamet Gundono (alm) saat menjadi dalang di acara tahunan UPLINK 2007

Jadi selain MC acara yang sepanjang minggu bolak-balik sampaikan pesan sponsor: "Mari pisahkan sampah yang anda dihasilkan pada 20 titik pemisahan sampah yang ada di area Tuprok" dan juga aneka media komunikasi lainnya,  mas Slamet melengkapi proses reminder itu lewat pertunjukannya. Yeay, hebat!


Sumber foto: Dokumentasi YPBB
Tulisan ini dipublikasi di sini


Monday, 21 January 2013

Hari ke 20: Bukan Sekedar Nostagia!

Momen apakah yang biasanya mempertemukan kita dengan teman-teman lama? 

Makan bareng? Buka puasa bersama? 
Acara reuni angkatan? 
Outbond bareng? 
Tanpa sengaja bertemu di event salah satu teman? (misalnya nikahan)
Sama-sama ikut seminar terkait profesi?

Macam-macam momen yang bisa mempertemukan. Tapi kegiatan yang paling khas dari semua itu adalah ngobrol. Biasanya berisi tukar kabar tentang si ini dan si itu sambil mengingat masa lalu. Bercerita tentang kejadian-kejadian yang dulu sempat berkesan. Seputar itulah. 

Bila yang dikenang adalah saat-saat yang menyenangkan, rasa senangnya itu langsung kerasa. Kalau yang dibicarakan saat-saat yang ngebetein, yang langsung kerasa juga betenya. Ada juga yang lama gak ktemuan dan mengalami CLBK *cieee. Ada juga yang "pamer" (ini nih bagian yang paling bikin males). Ada juga yang kemudian jadi nemu celah kerja sama. 

Buat saya, acara reuni bisa juga jadi tempat pamer yang positif! Pamer gaya hidup yang ramah lingkungan tea heheeheh. Mulai dari melakukan aksi-aksi pribadi pengurangan sampah (bawa misting, tempat minum dan juga sampai di kondangan ketika bersama teman pun menggunakan peralatan-peralahan tersebut! Lihat ceritanya di sini). Sampai akhirnya di suatu acara buka puasa bersama 2011, dicoba diterapkan konsep Zero Waste Event. Karena kalau acara reuninya di luar, adaaaaaa aja sampahnya! Mulai dari tissu, sedotan, kadang juga gelas plastik jus, kadang juga kalau di foodcourt ada kemasan makanan yang dari plastik (seperti wadah sambel dari plastik sekali pakai dkk). 

Yeah, pada intinya tujuan dari konsep Zero Waste Event adalah berusaha supaya acara reunian gak nyampah. 

Penerapan konsep ZWE ini bukan hanya pada hari H saja. Temen-temen saya itu sudah disms konfirmasi supaya gak lupa untuk datang ke acara dan juga gak bawa tissu (tapi diganti sapu tangan). Pengadaan makanan dan minuman dikelola oleh saya dan 1 teman. Aktivitasnya mulai dari memesan makanan (termasuk brief ke produsen timbelnya), pinjam perabot zero waste (gelas, piring lidi dan sendok). Tapi tetap dibuka peluang juga untuk bawa makan sendiri. Asalkan tetap mendukung tema acara: sebisa mungkin gak bawa makanan dari luar yang nyampah. Saya buka kesempatan "konsultasi" kalau-kalau ada yang bingung: apakah jenis makanan yang akan dibawa nyampah atau enggak. 

Ketika hari H, memang ada sedikit kecolongan-kecolongan. Tapi tak apa lah, kan memang baru model perdana. Walaupun ada yang tetap bawa tissu, tapi teman saya itu sempat bilang: "Aduh maaf ya Anil, saya pakai tissu". Paling tidak, mulai ngeuh bahwa sebenarnya tissu itu adalah sesuatu yang perlu mulai dikurangi. 

Dan di hari H pada happy juga karena ada beberapa doorprize yang dibagikan (padahal dibeli dari uang iuran makanan juga heheeh) Tau kan, apa isinya? Pastinya perabot pendukung gaya hidup zero waste dong! Lupa lagi hadiah detilnya, kalau gak salah ada sapu tangan dkk. Yang murah-murah, tapi dicoba dimaknai dengan disisipi "surat cinta" yang menjelaskan penyebab doorprize itu diberikan. Misalnya begini:  
Sapu tangan ini bisa dipakai berulang kali (asal dicuci tentunya) untuk menggantikan beberapa peranan tissu. Misalnya untuk mengelap mulut. Kalau tissu kan sekali pakai, dan akhirnya nyampah deh. Kalau sapu tangan ini, paling tidak bisa dipakai 50 kali.  
Kemudian surat cinta itu dibacakan ke semua. Nyelip-nyelipin unsur kampanye-nya dimana-mana lah heheeh 

Acara buka puasa tersebut tetap berjalan standar. Mengenalkan cerita kehidupan masing-masing dan aktivitas ngobrol-ngobrol lainnya. Tapi mudah-mudahan (paling tidak) dalam seumur hidupnya, temen-temen saya pernah merasakan berada di acara reunian yang Zero Waste!

Sayangnya saya tidak mendokumentasikan pernakpernik di acara tersebut. Tapi cuma menemukan 1 foto barbuk nih! Lihat deh lingkaran hitam di pojok kiri. Berhubung tempat reuniannya kantor yang tidak punya banyak gelas, akhirnya dipakai gelas plastik yang bisa dipakai ulang. Pinjam dari YPBB. Sendok-sendoknya kalau gak salah pinjem dari rumah. 

koleksi Ati Kurniasih

Mungkin masih ada beberapa orang yang mengatakan, berpikiran atau tanpa sadar berpikiran: ngapain juga reunian kalau yang diomongin kebanyakan masa lalu? 

Hmm, kalau saya sih yakin bahwa hubungan silaturahmi perlu dijaga terus dengan siapapun. Termasuk dengan teman-teman yang jarang bertemu. Kalau bahasa agamanya sih, silaturahmi akan mendatangkan rizki. Modal sosial itu perlu terus dikembangkan. Itu menurut bahasa yang lebih umum. 

Dan yang pasti, dari contoh di atas, saya bisa menyusupkan kampanye gaya hidup zero waste di acara reunian tersebut :) 



Tuesday, 15 January 2013

Hari ke 14: Jadi, kemana Perginya Budaya #Reuse Kaca?

Pernah denger istilah tukang beling?

Kalau saya sih dengernya tahun-tahun dulu. Tukang beling adalah mamang-mamang yang suka keliling-keliling untuk cari botol-botol bekas dari kaca. Salah satu alat penukarnya selain uang adalah ciki kiloan. Tujuannya sih sepertinya untuk dijual lagi. Persisnya gimana? Saya juga gatau. Dulu kan belum kenal isu lingkungan, jadi ya gak sebegitunya penasaran juga dengan kelanjutan kisah si botol setelah diberikan.

Proses paling akhir pakai botol kaca di keluarga adalah saat beli sirop. Dan itupun jarang. Dilakukan bukan karena sadar lingkungan atau peduli isu kesehatan. Tapi karena gada pilihan sirop yang pakai botol plastik mungkin.

gambar dari sini


Trus yang sempat rutin di keluarga (sebelum 2008an), di saat orang-orang mulai meninggalkan kebiasaan untuk memakainya, kita masih beli kecap pakai botol kaca. Mungkin gak jadi aneh kalo kita jadi tukang baso ato tukang mie. Tapi kita pakai merek yang rada bonafid lah yaitu Borobudur.

Jaman saya masih suka dapet tugas belanja ke pasar: cara belinya adalah sbb:
1) dari rumah bawa botol kosong bekas beli sebelumnya. Dalam keadaan bersih dan kering.
2) Kemudian dibawa ke pasar.
3) Hanya 1 jongko yang masih jual kecap dengan cara tersebut yaitu di jongkonya tante telur. Nama yang aneh kan? Dijuluki demikian kayaknya karena telur yang dijual sama si tante (yang sebenernya udah ampir nini-nini ini) bagus-bagus.
4) Harganya cuma lebih murah dikit kalo gak salah, dibanding kalo kita gak bawa botol bekas.
5) Tapi saat itu saya mendukung banget aksi beli kecap dengan sistem tukar botol. Biar gak nyampah.

Nah, tapi sekarang kecap yang menclok di rumah, kemasannya udah dalam kemasan plastik refill tea. Belum nyempetin ngobrol lagi sama orang rumah kenapa jadi berubah kebiasaan.  Tapi mungkin juga sistem dagang kecap tersebut dan dengan merk itu emang udah punah. Kan, terakhir aja cuma 1 pedagang yang jual se-pasar Antri Cimahi!

Fenomena lain yang berkaitan dengan botol kaca, saya udah gak pernah denger lagi istilah tukang beling disebut-sebut. Yang ada, istilah pemulung dan lapak. Dugaan saya: si botol kaca ini kah murah banget, jadi males banget deh si tukang pulung jaman ayeuna ngumpulinnya. Harganya murah! Coba aja cek ke lapak/pemulung, pasti mereka sepakat dengan pernyataan saya tadi.

Dan tren: meninggalkan kebiasaan pakai botol kaca ini menyebar. Sekarang hotel-hotel dan tempat makan pun (restoran dan cafe) mulai jarang menyediakan AMDK berbotol kaca. Keterangan yang saya dengar, katanya si produsen AMDK yang paling kondang (si AQ*A) sudah tidak memproduksinya lagi. Entah apa alasannya. Nanti cari tau ah! .

gambar dari sini


Walah, padahal si kaca ini lebih ramah lingkungan dibanding plastik, lebih aman secara kesehatan untuk makanan (dibandingkan bila menggunakan plastik), dan bisa dipakai berulang kali pula.

Jadi, kemana Perginya Budaya #Reuse Kaca? 

Saturday, 12 January 2013

Hari ke 12: Yuk ikut Belanja #ZeroWaste !

Belakangan ini, sering banget denger orang mengeluh tentang masalah sampah di kota Bandung.

"gak diangkat-angkat sampahnya, ampe ngebludag di jalanan"
"bau..hiiiii"
"ini sampah harus digimanain segini banyaknya?"
  la la la bla bla bla

Tapi kalo ngomongin masalah sampah, ujung-ujungnya akan balik lagi ke perilaku kita.
Kenapa begitu?

Karena si masalah sampah itu bermula dari perilaku si penghasil sampah. Siapakahh diaaaaa? Ya kita sendiri.

Jadi pembicaraan tentang masalah sampah akan sampai juga pada perilaku kita saat akan membeli barang, saat membeli barang, saat menggunakan barang, dan saat memperlakukan barang setelah tidak dipakai.

Tapi tenangggggg...walopun kondisi sekitar kita tidak kondusif, kita PASTI bisa melakukan sesuatu untuk turut menyelesaikan masalah sampah. 

Kita mulai dari tahap belanja yuk!
Yuk ikut Belanja ZeroWaste!

Bawa dulu stok kantong-kantong yang bisa dipakai ulang ah! Jadi acara belanja kita kali ini tidak menghasilkan sampah baru berupa keresek-keresek dan plastik-plastik.


untuk belanja bisa pakai tas kain/tas karung

Siap berangkatttttt? 
Lets goooo!

Di acara masak-masak, biasanya ada acara goreng-goreng kan? Kalau kita tengok di pasaran biasanya tersedia aneka macam produk minyak dengan aneka kemasan. Yang paling oke untuk pengurangan sampah yang mana cobaaaaa? Lihat dari kanan ke kiri. 



Kemasan gelas plastik, plastik bening dan botol hampir dapat dipastikan terbuang ke tempat sampah. Kecuali kalau kita rajin mencucinya (ih, susah kali ya nyucinya dan butuh sabun banyak) maka akan bisa kita berikan ke lapak untuk didaurulang. Yang paling juara pastinya adalah minyak berkemasan jerigen! Jerigen masih bisa dipakai lagi dalam waktu panjang karena tebal bahannya. 

Kita akan masak menu apa? 
Hmmm, saya usul ada menu tahu yaaaa..

Gimana ya cara beli tahu tanpa sampah plastik bening maupun keresek? Biasanya kan dikemas pakai plastik seperti ini. Hadeuh! Nyampah plastik kalo begini sih :(




Ayo semangat! Karena kita punya misting (kotak makanan) sebagai alternatif penggantinya! 




Jangan lupa masukkan si misting ini ke dalam tas yang sudah kita bawa :) 



Bumbu-bumbu jangan lupa! Wadahnya yang lebih kecil aja.  




Sepertinya kumpul-kumpul asik juga kalau sambil ngopi. 

Pakai kopi sachet? Owwwww tidak. Intip deh resiko ini itu nya di rangkuman #twitZW -nya @ypbbbdg di sini. 

Sekarang kita pilih saja kemasannya yang lebih besar. Si kemasan kertas juaras 1 sedangkan kemasan plastik tetap juara dua. Kertas kan masih bisa didaurulang. Plastik berkilau diapakah nantinya? Kebanyakan berakhir di tempat sampah!



Ada yang gak suka kopi? Ayo deh kita pilih teh yang paling bebas dari sampah. 

Saya pilihkan yang no 2 ya. 
Soalnya yang no 1 kan nanti sampah kertasnya banyak karena dikemas satuan. Belum lagi si kartonnya juga dilapis plastik bening. 
Yang no 3 lumayan oke sih. Teh tubruk kan bungkusnya ya cuma 1 kertas saja. Tapiiiiiii, itu kenapa coba produsennya "iseng" ngasi plastik? ckckckck 




Belanja makanan udah, bumbu juga udah, untuk minumannya juga udah. Eh, nanti kita bakal cuci-cuci piring. Jadi pilih kemasan sabun cuci yang terbesarrrr (kalo ada sih, beli yang lima liter.Tapi ya belum ada sih). 




Alternatif lain, bisa beli sabun cuci yang literan. Jadi kita bawa wadah bekasnya kemudian tinggal masukin sabun cuci dari galonnya. Emang ada? Ada dong! Ini contohnya :) 


foto koleksi Tini MF

Mari kita sudahi belanjanya ya :) 

Terbukti kan, dengan aktivitas belanja tersebut banyak hal yang bisa dilakukan. Mulai dari diri sendiri untuk mulai menyelesaikan masalah sampah :) 

Mari #ZeroWaste - kan acara belanja kita!

*Nantikan edisi selanjutnya: Yuk Dateng ke Makan-Makan #ZeroWaste !



Friday, 11 January 2013

Hari ke 10: Cangkir vs A-Em-De-Ka

Kayaknya enak nih minum kopi atau teh dulu ya :)
Nih saya suguhi temen-temen dengan secangkir teh hangat dulu sebelum tulisan pagi ini dimulai

gambar dari sini


Gimana rasanyaaaa?
*daya imajinasinya perlu tinggi untuk menjawab pertanyaan barusan karena susah euy ngirim teh hangat beneran pake media blog hehehe.

Teh hangat dan manis seringkali menjadi media yang pas untuk menemani kegiatan ngawangkong atopun membuka hari. Kalau kita bertamu pun, teh hangat menggambarkan keramahan tuan rumah. Kenapa kehangatan? Tuan rumah mulai dengan proses menyediakan air hangat. Kalau jaman sekarang tinggal cuuuuurr dari dispenser.

gambar dari sini

Tapi kalau kita mundur beberapa tahun ke belakang, masih banyak tuan rumah yang memang nyetok air hangat di dalam termos. Pastinya melalui proses pemanasan air sebelumnya (pakai kompor gas/minyak tanah). Harapannya, kapanpun tamu datang, selalu tersedia air hangat untuk menyuguhinya. Kurang niat gimana coba? heheh

termos jadul 

Akan bener-bener kerasa kehangatan tuan rumahnya juga bila teh dibikin oleh tuan rumah dan bukan atas jasa pembantu.

Heheheh, jadi pengen disuguhi teh hangat full service beneran deh jadinya.

Nah, ini kenapa saya tiba-tiba ngabulatuk tentang teh hangat dan juga sebagai sajian buat tamu? Saya balik tanya dulu nih:
Kapankan terakhir temen-temen bertamu dan diberi sajian teh manis hangat dalam cangkir? 

Kalau saya sih sudah cukup jarang. Yang paling sering (dan rupanya sedang trend) saat ini di ruang tamu sudah tersedia A-Em-De-Ka.


Tujuannya mungkin masih sama. Ingin tamu yang datang ke rumah dapat terlayani dengan baik. Prosesnya jadi sangat praktis. Gak perlu masak air, gak perlu punya termos air hangat, kompor maupun dispenser. Gak perlu repot-repot melangkah ke dapur dan gak perlu cape-cape cuci piring. Itu kalau bicara keuntungannya.

Apakah ada dampak negatifnya?
Sebelum ngobrol ke bagian itu, mau share dulu data bahwa konsumsi AMDK di Indonesia yang ternyata memang meningkat dari tahun ke tahun.

 dari sini

Dampaknya apa? Pastinya jadi banyak sampah dari kebiasaan baru ini. Saya sebut baru karena kalau dari pengalaman, jaman dulu kecil sih belum umum dilakukan. Kalau biasanya cangkir untuk menyuguhi tamu dapat dipakai ulang (dicuci-dikeringkan-dipakai lagi-berulang-ulang), gelas AMDK ini akhirnya berakhir di tempat sampah. Bisa dipakai ulang dulu sih, tapi ujung-ujungnya kalau sudah tidak bisa dipakai, akhirnya berakhir di tempat sampah juga. Bisa didaur ulang juga sih, karena memang kemasan ini diterima di banyak lapak.

Sehingga kebanyakan orang akan bilang begini: "Tapi kan gelas plastiknya bisa didaur ulang dan juga bisa dibuat aneka kerajian."
Ya ya ya..pendapat tersebut sah-sah saja.

Tapi reduce (alias mengurangi dari awal) merupakan prioritas pertama dalam upaya pengurangan sampah sebelum reuse dan recycle. Dan kalau teman-teman sempat nonton film Addicted to Plastik/Story of Stuff/The Age Of Stupid, mungkin temen-temen akan berpikir beberapa kali untuk (akhirnya) menyuguhi tamu menggunakan AMDK. Jangankan sampai proses daur ulangnya, saat pengambilan bahan baku plastikpun sudah menimbulkan banyak masalah. Minyak bumi. Iya itulah bahan baku plastik.

Mudah-mudahan penasaran dengan film-film tersebut :) Sedikit ulasan filmnya bisa diintip di sini dan sana.

Oke, selamat cari/download filmnya dan juga silakan memilih apakah mau menyuguhi tamu dengan Cangkir atau A-Em-De-Ka.
*jangan lupa sambil sruput teh hangat khayalan hadiah dari saya :)



Sunday, 6 January 2013

Hari ke-5: Yuk Membuat "Kolase" Reuse dalam Hidup Kita!


Reduce, Reuse dan Recycle. Itu slogan indah yang sering kita dengar untuk kampanye lingkungan.Dan tiba-tiba saya inget sama lagu 3R keren yang sampai dibikin dalam berbagai versi. Kita intip dulu lagu-nya Jack Johnson ini yuk!

Dalam pelaksanaannya, apakah slogan ini juga indah untuk dilakukan?
Kali saya bahas bagian kecil saja dulu ya, terkait REUSE pakaian.

Coba perhatikan baik-baik gambar di bawah ini.


Orang yang di dalam foto tersebut memang hanya satu orang. Dia adalah David Sutasurya, salah satu aktivis lingkungan kondang di kota Bandung. Kalau penasaran pengen intip-intip, bisa juga tengok profilnya yang ditulis oleh bunda Maria Hardayanto (yang ini aktivis kondang juga di Bandung dan Kompasiana) di sini.

Sekarang perhatikan lagi baik-baik setiap baju yang digunakan David pada kolase foto di atas.
Nah kan, teman-teman bisa lihat kalau ternyata ada beberapa baju sama yang dipakai David pada kolase tersebut. Padahal foto tersebut dikorehan (dikorehan = dicari-cari) dari kumpulan foto tahun 2007an-2012.
Dari yang saya kenal selama ini (kurang lebih sekitar 7 tahun), David selalu menggunakan baju-bajunya sampai titik darah penghabisan.

Simak deh deskripsi menarik yang dibuat oleh Bunda berikut ini tentang David:
Direktur yang saya temui bertubuh tinggi, tampan, sama sekali tidak buncit, berpakaian bersih tapi sangat sederhana bahkan sudah tua hingga nampak lubang lubang kecil diatas pundaknya, berponsel kuno dan duduk lesehan, menuangkan isi pikirannya ke laptop yang terkadang harus digoyang-goyang ketika layarnya tiba tiba mati karena dia membeli laptop tersebut second-hand alias bekas pakai.

Kata-kata "hingga nampak lubang lubang kecil diatas pundaknya" itu memang benar-benar kenyataan!

Sumber baju tersebut pun, kebanyakan barang lungsuran dari saudara-saudaranya. Budaya lungsur-melungsur ini sebenarnya budaya yang umum kita terapkan. Tapi entah kenapa sekarang semangat tersebut mulai luntur. Prinsip reuse (gunakan kembali suatu barang) benar-benar David terapkan dalam keseharian. Pakai selama mungkin suatu barang demi untuk menghemat penggunaan barang baru, demikianlah prinsip yang dianutnya. Prinsip ini bukan hanya dia terapkan pada penggunaan baju saja, tapi juga pada barang-barang lainnya.

David adalah salah satu bukti nyata Reuse yang Bukan Sekedar Slogan. 

Pagi ini saya iseng narsis juga membuat kolase foto diri. Foto-foto ini diambil secara acak di rentang 2-3 belakangan pada berbagai kegiatan yang diikuti (1 foto mewakili 1 kegiatan). Dan pemilihan fotopun tanpa maksud memilih-milih yang lagi pakai baju/kerudung yang sama. Yang diambil adalah foto yang kelihatan jelas bajunya dan tidak perlu proses crop yang tidak terlalu banyak.

Yeah! Ternyata banyak baju yang sama. Baju hijau bahkan sampai ledeh/bladus + bagian tangannya sudah  meletek-meletek!

Moga saya pun bisa sekonsisten David dalam menerapkan prinsip reuse ini dalam keseharian. Kalau bisa sih lebih konsisten hahaha. Yuk membuat "kolase-kolase" Reuse dalam hidup kita!

*ucapan terimakasih khusus ditujukan kepada para fotografer (relawan-relawan hebat dan staf keren YPBB). Tanpa kerajinan kalian memotret event, 2 kolase foto ini tidak akan terwujud :)

Tuesday, 1 January 2013

Hari ke-1: Apa Hubungannnya Senam Hip-Hop & Kampanye?

Wah, udah lama gak blog-blog-an. Sebelumnya sempat nulis beberapa konten yang terkait hejo-hejoan alias lilingkunganan di sini. Pilihan lapak nulis tersebut tujuannya sih supaya peluang diliat lebih besar. Dan jadi semangat nulis lagi karena pas perdana mejeng di sana langsung tiba-tiba HL (intip di sini deh. Yang komen dan baca banyak bangeeeettt :) 

Nah, sekarang mau nulis lagi ah. Sebagai tulisan perdana untuk menjawab tantangan #30HariBercerita. 

Jadi ceritanya begini: 
Singkat kata singkat cerita, hari sabtu kemarin saya senam bareng sepupu. Jadi ketika beberes rumah, ditemukanlah CD dan DVD senam. Ada Vicky Burky dan juga senam hip-hip (gatau siapa artis senamnya karena orang luar negeri). Kalau Vicky Burky sih, jadi keingetan jaman suka iseng-iseng ikut senam waktu SMP. Sekolah siang dan pagi-pagi sapu dan ngepel rumah. Senam bareng Vicky Burky dan pas iklan langsung tancap gas ngepel lagi hehehe. Nah akhirnya kita milih senam hip-hop aja deh. Sebagai info yang kurang penting: sampai detik ini, video tersebut masih aja diputer di tempat jualan DVD Gramed Merdeka. 

Mulailah kita senam-senam ceria dan sok jagoan. Wah, ini sih bukan cape tantangannya, tapi LEMOT hahahha. Gerakannya selalu mulai dari contoh-contoh hitungan lambat dan kemudian berlanjut dengan gerakan serupa dengan penambahan kecepatan. Begitu terus-menerus. Jadi yang keinget banget adalah: bingungnya ngikutin gerakan yang cepet dan gonta-ganti. Nah, sekarang pada kebayang kan maksud dari tantangan mengalahkan KELEMOTAN :) 

Akhirnya saya nyerah duluan. Terasa makin lemot soalnya. Gerakan makin kompleks. Ini senam juga penuh ketawa-ketawa karena ngetawain kelemotan kita dalam ngikutin gerakan. Nah, pas detik penyerahan tersebut, ternyata kelihatan bahwa kita sudah senam selama 40 menit. Wuih pantesan kita udah mulai pada tepar dan akhirnya nyerah, rupanya emang udah lumayan lama durasinya. Yang mengherankan, kita gak segitunya ngerasa cape. Padahal itu bukan waktu yang sebentar untuk gerak-gerak dan senam-senam. 

Yah bgitulah kira-kira dongeng senam hip-hopnya. Jangan tanya: berapa kilo berat badan yang hilang ya hehehe...cuma senam sekali sih, dampaknya pasti belum keliatan. 

Nah, coba lihat lagi judul tulisan ini. Katanya senam hip-hop ada hubungannya kampanye. Loh, apa hubungannya? Hubungan antara kedua hal tersebut saya temukan saat ngahuleng di angkot. 

Saat senam, rasa cape tidak terlalu kerasa. Diduga karena olahraga dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Musiknya asyik dan senamnya pun enakeun. Sampai-sampai yang dirasakan lebih ke: LEMOT-LEMOT ASYIK! Badan gerak dan segar dengan cara asyik. 

Nah, kerjaan saya saat ini berkutat dengan per-kampanye-an. Tepatnya kampanye terkait perubahan gaya hidup organis atau ramah lingkungan. Nah, rasanya teori yang dipakai untuk kampanye akan lebih asoy kalau pakai teori dasar senam hip-hop! Jadi tanpa terasa, orang mulai merubah gaya hidupnya dan bukannya terbebani dengan perubahan itu, tapi justru merasa asyik. Ih, keren gak tuh hasil penghulengan di angkot? heheheheheh. 


Sebagai penutup, silaken liat video ide kampanye keren yang dulu sempat diperlihatkan oleh Sano. Ini memperlihatkan betapa kreatifnya sebuah tim untuk kampanye mengajak orang naik tangga dibanding eskalator.